NovelToon NovelToon
Suamiku Dokter Dewa

Suamiku Dokter Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Penyelamat / Epik Petualangan
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sayap perak

Alvian Wira. Di panggung internasional, dunia mengenalnya sebagai Hades, Dokter Dewa, karena kemampuan medisnya luar biasa. Tapi setelah kembali ke Indonesia, dia hanya seorang dokter umum biasa yang mendirikan sebuah klinik kecil di pinggir kota.

Konflik kepemilikan tanah membawanya ke sebuah pernikahan dengan anak direktur rumah sakit terkenal, Clarissa Amartya. Dokter SpJP yang hanya ingin fokus dengan karirnya, tapi dipaksa menikah dengan ancaman mencabut izin prakteknya.

Clarissa yang dingin seperti kulkas, Alvian yang pecicilan dan suka menggoda. Dua kepribadian tinggal bersama, perlahan menumbuhkan perasaan.

Namun, ketika perasaan itu mulai tumbuh, masalah datang silih berganti, hingga mengungkap kebenaran tentang masa lalu Alvian. Tentang siapa dia sebenarnya, dan alasan kenapa dia menyembunyikan semuanya.

Apakah Clarissa bersedia menerima Alvian? Terlebih setelah mengetahui jika Alvian yang ia kenal selama ini, hanyalah topeng untuk menutupi identitas dan masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sayap perak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 : Petugas Palsu

Klinik Aditya Medika. Tebet.

Siang hari Alvian hanya duduk di kursi resepsionis sambil membaca koran. Sesekali menatap AC baru yang dikirim Clarissa, suaranya halus hampir tak terdengar. Sangat berbeda dengan kipas lama yang suaranya seperti traktor diesel mau membajak sawah.

Mbak Sari di depan lagi mengepel lantai. Tadi pagi hujan, membuat lantai penuh dengan lumpur yang ikut masuk saat pasien datang.

"Pelan-pelan Mbak ngepelnya. Nanti jatuh, saya juga yang repot."

Namun Mbak Sari tetap ngebut, dan dengan lagaknya berkata, "Tenang aja, Dok. Tidak mungkin jatuh, saya pakai sandal anti selip."

Alvian tak bicara lebih banyak. Sedangkan Mbak Sari perlahan telah membersihkan setiap lantai dari ujung ke ujung tanpa menyisakan sedikit pun jejak lumpur terlihat oleh mata. Bersih dan kinclong.

Saat itu, ponsel di saku Mbak Sari tiba-tiba bergetar. Sebuah telpon masuk, dan itu berasal dari Bu Minah.

"..."

Alvian yang tahu itu dari Bu Minah sontak menaruh koran dan mulai menyimak. Perubahan ekspresi yang ditunjukkan Mbak Sari saat bicara membuat Alvian memiliki firasat buruk. Namun Alvian tetap menunggu Mbak Sari mengakhiri telpon sebelum bertanya apa yang mereka bicarakan.

"Ada apa, Mbak?"

Mbak Sari mengelus dada sambil menyetabilkan nafas.

"Itu Dok. Bu Minah. Katanya tadi pagi ada orang BPOM datang ke rumahnya. Tanya soal obat vitamin."

Alvian masih tenang. "Terus? Bagus dong. Berarti BPOM-nya gerak cepat."

"Iya... tapi aneh, Dok. Kata Bu Minah, BPOM-nya cuma satu orang. Terus orang itu tidak pakai ID card dan bajunya juga... kayak preman, katanya. Tanya obat sambil marah-marah. Tuduh Bu Minah menyembunyikan obat."

Dua alis Alvian hampir menyatu. Tatapannya menjadi serius dan telapak tangannya terkepal.

"Bukan BPOM. Mungkinkah masih satu komplotan? Ambil obat, bersih-bersih?" Alvian bergumam. Diam dua detik, kemudian bertanya. "Lalu Bu Minah bagaimana?"

"Bu Minah ketakutan, Dok. Dia kasih strip obatnya, lalu orang itu langsung pergi."

Alvian ketuk meja. Tersenyum, kemudian menyandarkan tubuhnya sambil tangan di belakang kepala. Jadi bantal. "Mungkin itu petugas BPOM lagi nyamar, Mbak. Biar nggak ketahuan. Nggak buat heboh."

"Masa sih, Dok? Petugas kok nakut-nakutin ibu-ibu?"

"Ya... Mungkin lagi banyak pikiran Mbak. Maklum, petugas negara." Alvian berdiri. "Udah ah, jangan dipikir terus. Nanti ubanan. Mending buatkan saya kopi lagi. Yang ini kurang gula."

Mbak Sari mengerucutkan bibir lalu pergi ke belakang.

"Padahal gulanya sudah saya tambah dari biasanya. Masa sih masih kurang?"

Melihat Mbak Sari mendumal Alvian tersenyum sedikit sebelum kembali duduk.

Satu detik ekspresinya masih santai, satu detik kemudian menjadi serius dan tangan kanannya masuk ke saku, meremas patch H.D.

"Sudah mulai. Mereka mulai bergerak. Bu Minah yang pertama, selanjutnya, mereka akan datang ke target yang lain. Misalnya ...."

Alvian menatap ke luar jendela. Ada tukang bakso, tapi bukan Kang Ujang. Dia diam di depan klinik, gerak-geriknya mencurigakan.

___

Sementara itu di waktu yang sama, Clarissa pergi ke bengkel gang mawar. Tempat Alvian bilang memperbaiki motor beat karbunya yang mogok.

Bengkel kecil, sederhana, tapi terlihat rapi dan tertata. Lantai bersih, oli tidak beleber ke mana-mana.

Pak Yanto, 50 tahun, kaos kutang, sedang mengatur rantai.

Clarissa turun dari mobil, pakai kacamata hitam. Berjalan menghampiri Pak Yanto.

"Selamat siang, Pak. Bengkel Pak Yanto, ya?"

Pak Yanto tertegun sejenak melihat Clarissa. Bukan hanya penampilannya yang cantik, tapi juga karena dia baru turun dari mobil.

Bengkelnya tidak menerima kendaraan roda empat. Dia bisa memperbaiki motor, tapi tidak bisa memperbaiki mobil. Jadi dia heran kenapa Clarissa datang ke bengkelnya.

"Iya, Neng. Ada yang bisa dibantu?" tanya Pak Yanto sambil mencuci tangannya yang bekas pelumas.

"Pak, saya mau tanya. Kamis malam, tanggal 18, apa Bapak terima motor beat karbu, plat B 4512 XYZ. Katanya mogok, dititipkan di sini."

Pak Yanto garuk kepala. Terlihat berpikir. "Kamis... Beat karbu... Oh! Dokter lucu itu ya? Yang batik-batik." Dia tiba-tiba tertawa. "Iya, Neng. Masuk sini jam sembilan-an. Mogok, businya mati."

"Bapak benar-benar ingat itu jam sembilan?" tanya Clarissa, seolah berharap Pak Yanto salah ingat waktunya, dan Clarissa punya alasan untuk mencurigai Alvian sebagai orang yang mengirim pesan anonim.

"Iya, Neng. Soalnya saat dia datang itu saya sudah mau tutup. Jika lebih awal mungkin tidak perlu sampai menginap motornya."

Clarissa diam beberapa saat. "Pak, boleh saya liat notanya?"

Pak Yanto bingung, tapi tetap carikan nota di laci. "Nih, Neng. Tanggal 18-05-2026. Beat B 4512 XYZ. Busi + oli. 75 ribu. Lunas."

Clarissa foto nota itu. "Makasih, Pak."

"Ya, Neng. Sama-sama." Pak Yanto tanpa sengaja melihat ID Card yang menempel di blazer Clarissa. Kepalanya langsung mengangguk-angguk. "Oh.. Neng ternyata istri dokter lucu kemarin ya. Soalnya dia cerita istrinya juga dokter."

Ekspresi Clarissa menjadi datar. Berusaha memaksakan senyum. "Ah-ha-ha ... Dia cerita begitu, ya Pak?"

"Iya. Dia juga bilang istrinya cantik, tapi galak sedikit. Saya lihat-lihat Neng tidak galak sama sekali. Malahan lembut, dan sopan."

"..."

Clarissa tak bisa berkata-kata. Dia tahu Alvian orang yang mudah bergaul dan mulutnya lemes. Tapi tidak menyangka jika sifatnya masih sama bahkan itu kepada orang yang baru dikenal.

"Makasih Pak, saya pergi dulu."

Jika terus berada di sana Clarissa hanya akan lebih marah. Dia langsung balik ke mobil, kemudian berniat kembali ke rumah sakit. Dia sudah menyalakan mesin. Kakinya sudah siap menginjak pedal gas, sampai HP-nya bergetar dan sebuah pesan masuk dari Pak Dimas BPOM.

"Dok, update. Siska sudah ngaku disuruh orang namanya "Mas Bram". Dia selalu bertemu di parkiran B2 dan melakukan transaksi secara tunai. Tidak pernah lihat muka, pakai helm. Tambahan. Kemarin ada laporan dari beberapa warga yang mengaku didatangi petugas BPOM. Tapi mereka bukan bagian dari kami. Kemungkinan dikirim orang-orang di balik layar yang berusaha menghilangkan jejak. Dokter harus hati-hati. Bukan tidak mungkin Dokter juga akan menjadi target."

Clarissa membaca, dan kedua alisnya hampir menyatu.

Meskipun telah memperkirakan hasil seperti ini tetapi dirinya masih merasa tertekan dan takut jika harus berhadapan langsung dengan kelompok sindikat obat palsu. Tangannya gemetar.

"Siap, Prof. Terima kasih infonya."

Clarissa menarik nafas panjang. Kemudian teringat tentang Mbak Sari yang juga pernah menerima obat palsu di Rumah Sakit Harapan Kita.

Mbak Sari kerja di klinik. Sedangkan Klinik itu punya Alvian. Bukankah itu artinya Alvian bisa menjadi target?

Perasaan berkecamuk. Clarissa spontan mencoba menghubungi Alvian. Namun tidak ada jawaban yang membuat Clarissa semakin tidak karuan.

"Apa aku langsung ke kliniknya saja?"

Karena memang lokasi klinik Alvian tidak terlalu jauh dari bengkel Pak Yanto. Masih dalam satu kawasan, hanya berbeda gang.

"..."

Sebelum mengendarai mobil Clarissa mengirim pesan ke Maya terlebih dahulu jika dirinya akan kembali lebih lama. Baru setelah mendapat jawaban, dia mengencangkan sabuk pengaman. Pergi ke klinik.

___

Sampai di depan klinik Clarissa langsung turun dari mobil. Banyak sekali orang berkumpul. Otaknya langsung berpikir Alvian kenapa-napa.

"Minggir! Tolong beri jalan."

Clarissa masuk. Dengan panik membuka kerumunan, hingga akhir sampai di dalam.

Namun apa yang dilihatnya agak jauh melenceng dari bayangannya. Memang ada orang yang terkapar, dan tubuhnya penuh darah. Tapi orang itu bukan Alvian.

Alvian baik-baik saja di samping orang itu. Masih dengan jas dokter lusuhnya, juga stetoskop, melakukan pertolongan.

"Istri, kenapa kamu datang?"

Alvian mendongak, perhatiannya tertuju ke Clarissa.

Clarissa baru membuka mulutnya sampai suara orang di sekitar menjadi heboh.

"Dok! Pasiennya!"

"Oh iya, maaf." Alvian lupa sedang memberikan pertolongan. Dia tak lagi menghiraukan hal lain dan fokus pada korban tabrak lari tersebut.

1
Agos Widodo
mulai dapat musuh ini🤣🤣🤣🤣
Joni Walinton Butarbutar
mantap
Joni Walinton Butarbutar
keren
irawan muhdi
lanjut 🙏
Aang Reza
leng shui kapan di novelkan tor?
Teh Gelas: Dre*ame.. tanpa bintang. Judulnya "Kembalinya Sang Legenda" - Berbayar, sudah tamat.
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!