Tania Kartika harus menelan pil pahit saat alat tes kehamilan menunjukkan dua garis merah yang cukup jelas. Ia hanya bisa memejamkan mata, mengingat malam panas sebulan yang lalu bersama Lingga Perdana, sang mantan terjadi tanpa pengaman. Sungguh Tania tak menyangka hanya sekali melanggar, langsung jadi.
Bagaimana nasib Tania sekarang? haruskah ia menghilangkan janin ini, apalagi Lingga sudah menjadi suami dari seorang model? Beginilah nasib percintaan yang kalah akan strata sosial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MARAH
"Terimakasih dokter Salman," ucap Tania pelan, saat ini ia sudah berada di ruang perawatan dan diantar oleh Salman dan seorang suster, Tania baru tahu nama lelaki tersebut.
"Sama-sama, setelah ini saya pulang. Kalau kamu mau nitip sesuatu bilang saja," tawar Salman, namun Tania menggeleng. "Keluarga kamu untuk menemani kamu selama dirawat di sini?" tanya Salman sebelum keluar kamar.
Tania menggeleng. "Aku tinggal sendiri," jawab Tania tenang.
"Suami?" pada akhirnya Salman menyinggung perihal suami. Tania tersenyum tipis.
"Saya juga tidak punya suami," jawab Tania menguatkan diri. Salman menghela nafas pelan.
"Sebenarnya bukan kapasitas saya untuk bertanya, tapi kondisi kamu sedang hamil, dan kamu baru saja berniat ingin menggugurkannya, kamu perlu memberi tahu siapa bapaknya, agar bisa meringankan beban mental kamu!" petuah Salman ada benarnya. Namun, Tania hanya diam saja.
"Untuk saat ini saya tidak membutuhkan bapak anak ini dokter Salman, dan saya bisa sendiri," Tania kekeh dengan pendiriannya, bahwa sang bayi masih selamat, itu tandanya si bayi ingin hidup bersama dengan Tania.
"Baiklah, atur aja sebaik mungkin," ujar Salman kemudian, dan keluar kamar. Terlihat cuek, namun sebagai tetangga ia menitipkan Tania pada perawat.
Sepanjang perjalanan pulang, Salman masih kepikiran Tania. Kondisi belum stabil sangat rawan bila ditinggalkan sendiri, terlebih jiwa kepo Salman tentang siapa yang menghamili Tania sangat besar. Lelaki itu memandang rumah Tania yang sempat ia tutup sebelum ke rumah sakit. Salman menyandarkan kepalanya ke jok mobil, "Apa lelaki itu?" terka Salman ingin tahu.
Lingga sendiri nekad menemui Tania di rumah sakit, ia tanya ke resepsionis dan diarahkan ke kamar inap Tania, dengan mengaku sebagai saudara.
Tania yang baru saja ke kamar mandi terkejut saat pintu kamarnya terbuka. Pertemuan sebelumnya Lingga terlihat marah, tapi kali ini ia tak tega dengan perempuannya yang begitu lemah dan pucat.
"Sayang!" Lingga hendak mendekati dan membantu Tania, tapi ibu hamil itu menhentikan langkah Lingga.
"Aku bisa sendiri, tak perlu repot-repot perhatian sama aku," ujar Tania ketus. Lingga mengalah, ia tak mau membuat Tania semakin marah dengan kondisinya yang lemah. Ia memperhatikan perempuan itu mendorong tiang infus dan perlahan naik ke kasurnya.
Tak lama, Tania pun berbaring membelakangi Lingga. Pria itu hanya memejamkan mata, tak tega. Ia tak tahu Tania sekarang kesakitan, hati dan fisiknya. "Sayang, yang sakit mana?" Lingga masih terpaku, tak berani mendekati Tania. Ia hanya ingin memastikan kondisi Tania.
"Pulanglah, kamu di sini akan semakin membuatku sakit," ujar Tania. Ia tak mau Lingga sampai tahu keadaannya sekarang, makin ribet kalau dia tahu Tania hamil.
"Aku gak mau pergi. Aku mau menemani kamu, kamu pasti butuh sesuatu, dan aku bisa kamu andalkan Sayang!" Lingga sangat merasa bersalah, menuduh Tania sudah punya penggantinya. Nyatanya, malam ini di rumah sakit, Tania sendiri.
"Terserah!" jawab Tania, kemudian memencet tombol perawat. Lingga kesal setengah mati, ia tahu tujuan Tania memanggil perawat, dan benar saja setelah itu Lingga diminta keluar.
Lingga masih menunggu di luar kamar, biarkan dia menjaga Tanianya dari luar. Meski dingin dan harus tidur dengan duduk, Lingga tak masalah asal ia tahu kondisi Tania baik-baik saja.
Lingga juga mengirim pesan pada Yovi dalam beberapa hari ke depan, Tania tak masuk kerja karena dia dirawat di rumah sakit.
Kok kamu tahu? Tanya Yovi penasaran.
Aku sekarang di rumah sakit, Bang. Cuma aku gak boleh masuk, dia kelihatan banget benci sama aku. Terpaksa Lingga berkata jujur pada Yovi.
Tania waras, tapi kamu yang semakin gila. Masih saja mengejar dia. Yovi kembali mengingatkan tingkah laku Lingga, yang bahaya bagi Tania maupun bagi Lingga sendiri.
Bang, aku cinta sama dia.
Sinting.
Lingga kesal sekali, tak ada yang mendukung dirinya bersatu atau hidup bersama Tania. Terlebih sekarang ia harus menahan cemburu pada seseorang laki-laki yang akan masuk ke kamar Tania, dan Lingga tahu siapa laki-laki itu, tetangga depan rumah Tania.
Keduanya saling tatap dengan tatapan tajam dan dingin. Salman sengaja datang pagi, sekaligus karena ada jadwal praktik di IGD juga.
Lingga berdecak sebal saat lelaki itu masuk ke kamar inap Tania, tentu saja Lingga penasaran dengan apa yang mereka lakukan di dalam karena lelaki itu sudah lebih dari 10 menit masuk.
"Apakah dia suami kamu?" tanya Salman yang masih penasaran siapa bapak bayi yang dikandung Tania.
Tania hanya diam, "Kalau dia memang bapak dari bayi kamu, akan saya jelaskan bagaimana kondisinya, apalagi pasti ada efek obat penggugur pada kehamilan kamu nantinya, meski sudah teratasi, dan kondisi kamu yang stabil," ucap Salman layaknya seorang dokter pribadi.
"Dokter Salman tak perlu menjelaskan apapun dan kepada siapapun tentang kondisi saya. Saya tidak punya keluarga, termasuk suami. Kehamilan saya akan saya urus sendiri," ucap Tania membalas tatapan dokter Salman.
"Keras kepala!" cetus Salman lalu keluar kamar.
Lingga berdiri saat tahu Salman keluar. "Tunggu, bisa bicara sebentar dengan Anda?" pinta Lingga.
Salman hanya diam tak mengiyakan, tapi ia tetap berdiri beberapa langkah dari pintu kamar Tania. "Tania sakit apa?" tanya Lingga harus mengesampingkan ego nya sebagai kekasih Tania. Wajar ingin mengintrogasi lelaki itu terkait hubungan dengan Tania, tapi ia tak mau gegabah. Kesehatan Tania lebih penting.
"Apakah Anda keluarga Tania? Atau Suami Tania?" tanya Salman memastikan, masalahnya Tania juga kekeh bilang tak ada keluarga atau suami, tentu Salman tak bisa sembarangan menjelaskan kondisi pasiennya.
"Saya kekasihnya," jawab Lingga terpaksa. Salman terdiam sebentar, mendadak dia mengaitkan kehamilan Tania dengan status lelaki ini. Kemungkinan besar, kehamilan itu terjadi karena satu kesalahan. Pacaran terlalu bebas, begitu pikiran Salman.
"Nona Tania sudah berpesan untuk tidak memberitahukan kondisinya pada siapa pun, sudah tugas saya menyimpan rapat riwayat kesehatannya," ujar Salman lalu berbalik hendak pergi.
"Kamu siapa bisa seenaknya berhubungan dengan Tania?" emosi Lingga tak bisa dibendung. Salman menghentikan langkahnya kemudian berbalik menatap Lingga. Ia tersenyum meremehkan.
"Saya dokter di sini, dan kebetulan saja saya belum memakai jas dokter, karena jadwal praktik saya di mulai jam 8 pagi, permisi!" ujar Salman santai, dan Lingga makin kesal. Lelaki itu pasti lebih leluasa berdekatan dengan Tania, sedangkan Lingga hanya bisa menunggu tanpa ada kepastian soal sakitnya Tania.
Saat perawat mengecek kondisi Tania, Lingga pun mencari informasi namun jawaban perawat dan lelaki tadi sama, keep informasi kesehatan Tania.
"Brengsek, Tania. Sekeras ini kamu mau lepas sama aku," gumam Lingga, ia pun memaksa masuk biarlah kalau Tania marah.
"Puas kamu! Sengaja kamu membuat aku gila begini. Semalaman aku tidur di luar demi menjaga kamu, tapi apa? Baik dokter maupun perawat tak mau menjelaskan apapun tentang kamu. Kenapa kamu sekeras ini sih, Tania. Kamu sakit, kamu butuh aku. Persetan dengan Wijaya!" sentak Lingga sudah sangat menahan amarah. Sekarang siapa yang bisa sabar melihat kekasih hatinya lemah tak berdaya tapi memaksa terlihat baik-baik saja. Ditambah semua pihak menyembunyikan kondisi Tania. Lingga tak terima.
"Keluar. Aku tak mau berhubungan dengan suamu orang. Tolong hargai keputusanku, aku tak mau dunia memojokkanku sebagai pelakor."
"Calista juga sama, Tania. Berapa kali aku bilang, pernikahanku hanya status!"
"Keluar! Pintu di sana!" Tania bersikap dingin dan tak menatap Lingga sama sekali. Sudah cukup, dirinya saja yang menjadi korban kejamnya pelakor, jangan sampai dia jadi pelaku juga. Terlebih sekarang dia mengandung, ah dia tak mau anaknya mendapat karmanya.
GO go Tania semangat