Rania Azarina Seorang manajer Brand Strategy di perusahaan ternama, ia sudah bekerja mati-matian demi kursi Direktur Regional. Sayangnya, tepat ketika garis finis sudah di depan mata, direksi mengumumkan syarat paling absurd dalam sejarah perusahaan: kandidat direktur harus memiliki kehidupan pribadi yang stabil—alias sudah menikah.
Masalahnya, Rania masih lajang.
Lebih parah lagi, pesaing terbesarnya adalah Gavin Mahendra—manajer Creative Campaign yang menyebalkan, terlalu santai, dan punya bakat alami membuat tekanan darahnya naik hanya dengan satu senyuman tengil.
Ketika keduanya sama-sama terancam kehilangan peluang promosi
sebuah ide nekat muncul, menikah kontrak.
Kesepakatannya sederhana. Menikah selama enam bulan, lalu bercerai setelah salah satu mendapatkan jabatan impian.
Tapi Bagaimana jika pernikahan palsu ini justru melahirkan perasaan yang terlalu nyata untuk diakhiri?
⚠️⚠️⚠️
DILARANG KERAS PLAGIAT ATAU COPY PASTE JIKA TIDAK INGIN KENA DENDA KARNA PELANGGARAN HAK CIPTA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Mi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 30 Pasangan Kontrak yang Terlalu Meyakinkan
Senin pagi.
Setelah tiga hari penuh teror keluarga—
akhirnya apartemen Gavin Mahendra terasa…
terlalu normal.
Yang justru mencurigakan.
Tidak ada papan Program Percepatan Cucu.
Tidak ada yoga pasangan.
Tidak ada tes kecocokan traumatis.
Karena—
Mama Ratna dan Mama Ambar akhirnya pulang tadi subuh.
Setelah meninggalkan sekitar dua puluh tujuh ancaman lanjutan.
Dan satu kalimat yang masih menghantui:
“Mama percaya progres kalian bagus. Jangan mundur.”
…
Mundur ke mana?
Mereka bahkan nyaris—
No.
Tidak.
Rania langsung menghentikan pikirannya sendiri.
Karena mengingat kejadian semalam—
di parkiran—
tatapan terlalu dekat—
dan nyaris sesuatu—
jelas bukan ide bagus untuk kesehatan mental.
Sama sekali bukan.
Ia keluar kamar sambil menarik rambut asal.
Masih mengantuk.
Masih sedikit malu.
Dan—
langsung berhenti.
Karena di dapur—
Gavin sedang membuat kopi.
Kaos abu-abu.
Celana rumah.
Rambut masih sedikit berantakan.
Tangan menggulung lengan.
Dan—
kenapa pagi-pagi harus kelihatan terlalu—
Tidak.
Fokus.
Gavin menoleh.
Diam sepersekian detik.
“…Pagi.”
Pendek.
Normal.
Terlalu normal.
Yang justru bikin canggung.
“…Pagi,” jawab Rania cepat.
Sunyi.
Canggung.
Sangat canggung.
Karena—
mereka belum membahas semalam.
Belum membahas fakta bahwa—
mereka hampir—
Nope.
Tidak.
Lupakan.
Gavin membuka kulkas.
“Kamu sarapan?”
Pertanyaan refleks.
Seperti biasa.
Dan anehnya—
terasa terlalu domestik.
“…Belum.”
Gavin mengangguk kecil.
Lalu—
tanpa tanya—
menggeser satu roti panggang ke arahnya.
“Jangan kopi doang.”
Boom.
…
Oh.
Refleks lagi.
Rania diam dua detik.
“…Kamu cerewet.”
“Belajar.”
Tatapan Gavin sebentar terangkat.
“…Dari kamu.”
Boom.
…
Bagus.
Jam tujuh pagi dan jantungnya sudah mulai tidak profesional.
—
Di kantor.
Semua terasa kembali normal.
Atau—
harusnya normal.
Kalau saja Kevin tidak punya terlalu banyak waktu luang untuk ikut campur hidup orang.
Kevin berhenti total saat melihat mereka masuk lift bersama.
Lalu—
melihat sesuatu yang sangat mencurigakan.
Gavin.
Membawakan kopi.
Dan—
tanpa lihat menu—
menyerahkan satu gelas ke Rania.
“Less ice.”
“Thank you.”
Refleks.
Natural.
Seolah sudah dilakukan seribu kali.
Kevin membeku.
…
Apa?
Sebentar.
Sebentar.
Tatapannya berpindah cepat.
Ke Gavin.
Ke Rania.
Ke kopi.
Ke Gavin lagi.
Lalu—
pelan.
Dengan ekspresi orang yang baru menemukan teori konspirasi nasional.
“…Pak.”
Gavin melirik datar.
“Hm?”
Kevin menunjuk kopi.
“Pak Gavin hafal pesanan Bu Rania?”
Sunyi.
Rania langsung membeku.
Gavin terlihat terlalu santai.
“Ya.”
Kevin menyipit.
“…Kenapa?”
“Saya bukan amnesia.”
Boom.
Kevin diam.
Namun—
radar gosipnya sudah aktif.
Karena—
sesuatu berubah.
Dan dia tidak suka tidak tahu.
—
Meeting direksi.
Ruangan penuh.
Laptop terbuka.
Orang-orang stres.
Lalu—
Rania datang terakhir.
Membawa setumpuk file.
Sedikit buru-buru.
Dan sebelum sempat menarik kursi—
Gavin sudah refleks berdiri.
Menarik kursinya keluar.
Natural.
Tanpa pikir panjang.
Tak ada yang bicara.
Satu ruangan.
Membeku.
Nisa perlahan mengangkat wajah.
Kevin berhenti mengetik.
Theo perlahan berkedip.
…
Apa barusan?
Rania juga membeku.
Karena—
Gavin baru sadar.
Oh.
Sial.
Kebiasaan rumah.
Namun terlambat.
Karena Kevin—
sudah tersenyum terlalu lebar.
“Wah.”
Nada penuh dosa.
“Domestic sekali pagi-pagi.”
“Diam,” jawab Gavin datar.
Theo menyipit.
Tatapannya pindah ke Rania.
Lalu Gavin.
“Kalian kelihatan sangat harmonis.”
…
Apa?
Rania berkedip.
“Maaf?”
Kevin Tersenyum.
“Bahasa simpelnya—”
Jeda dramatis.
“Kalian harus kelihatan kayak pasangan bahagia.”
Boom.
Hening.
Rania langsung menoleh ke Gavin.
Gavin memijat pelipis.
“Saya benci kantor ini.”
Namun—
Kevin belum selesai.
Karena selama dua jam—
ia menyaksikan sesuatu yang sangat tidak profesional.
Contoh satu.
Rania mengucek mata kecil.
Capek.
Tanpa lihat—
Gavin otomatis mendorong air mineral ke arahnya.
“Minum.”
Contoh dua.
Gavin terlalu fokus presentasi.
Belum makan.
Rania refleks menyela:
“Kamu udah makan belum?”
Sunyi.
Ruangan langsung menoleh.
…
Kamu.
Bukan Pak Gavin.
Bukan Sir.
Kamu.
Kevin pelan menutup laptop.
Berbisik pada Nisa.
“Saya nggak tahu mereka habis terapi pasangan atau kesambet cinta.”
Nisa.
“…Saya takut nanya.”
—
Siang hari.
Lunch tim direksi.
Harusnya formal.
Harusnya profesional.
Sayangnya—
Kevin ada.
Yang berarti tidak ada kata profesional.
Mereka duduk satu meja panjang.
Makanan mulai datang.
Dan entah sejak kapan—
Gavin dan Rania terlihat…
terlalu sinkron.
Gavin diam-diam menggeser makanan pedas menjauh.
Karena tahu Rania maag.
Rania otomatis memindahkan minuman dingin milik Gavin.
“Jangan.”
“Batuk kamu belum bener.”
Refleks.
Natural.
Tanpa sadar.
Sunyi.
Kevin perlahan menaruh sendok.
Nisa mengangkat alis.
…
Apa ini?
Kevin akhirnya tidak tahan.
“Oke.”
Menunjuk mereka.
“Saya mau tanya.”
“Kalian habis honeymoon emosional?”
Rania hampir tersedak air.
“Apa?!”
Gavin tetap makan.
“Kevin.”
“Saya serius!”
Kevin menunjuk dramatis.
“Pak Gavin tadi nyari Bu Rania tiga kali.”
“Bu Rania ngomelin Pak Gavin karna belum makan.”
“Kalian duduk terlalu dekat.”
“Kalian saling hafal makanan.”
Jeda.
Tatapan menyipit.
“…Ini cinta atau audit?”
Boom.
Sunyi.
Satu meja.
Hening.
Karena—
untuk alasan yang sangat menyebalkan—
mereka juga tidak tahu jawabannya.
Theo tanpa angkat kepala:
“Kalau performa tim naik, saya dukung cinta," ucapnya.
Rania langsung ambil minum.
Terlalu cepat.
“Kamu kebanyakan waktu luang.”
Kevin gas terus.
“Pak Gavin bahkan tadi ngelap saus di tangan Bu Rania.”
…
Membeku.
Rania perlahan menoleh.
“…Hah?”
Karena—
iya.
Barusan.
Tadi.
Tanpa sadar.
Gavin memang cuma ambil tisu lalu:
“Kena.”
Selesai.
Natural.
Seolah itu hal biasa.
Dan—
baru sekarang mereka sadar.
Oh.
Itu sangat tidak normal.
Tatapan Gavin sebentar ke Rania.
Lalu menjauh lagi.
Batuk kecil.
“…Refleks.”
Kevin langsung berdiri dramatis.
“NAH!”
“SAYA TAHU!”
“Kalian tuh sekarang vibes-nya—”
Ia menunjuk mereka cepat.
“—kayak pasangan nikah lima tahun!”
Untuk satu detik— meja makan terasa terlalu hening.
Karena—
anehnya—
tidak ada yang langsung membantah.
Rania ketawa kecil.
Lalu—
kepalanya mendadak teringat:
Lima tahun? Mereka bahkan mungkin nggak sampai satu.
Nisa menatap mereka bergantian.
Lalu—
pelan.
Lebih hati-hati.
“…Tapi memang kelihatan beda.”
Boom.
Dan—
untuk alasan yang sangat mengganggu—
kalimat itu terasa terlalu personal.
Karena mungkin—
memang ada yang berubah.
Sedikit.
Atau—
terlalu banyak.
Dan yang lebih buruk—
mereka mulai terbiasa.
Tanpa sadar.
Tanpa izin.
Seperti pasangan sungguhan.
Yang—
harusnya tidak terjadi.
Karena ini kontrak.
Kontrak.
Kon—
“Jujur ya.”
Kevin menyandarkan badan.
Nada lebih santai sekarang.
“…Kalau nggak tahu cerita kalian—”
Tatapannya pindah cepat.
Ke Gavin.
Ke Rania.
“—saya kira kalian nikah karena cinta.”
Boom.
Sunyi.
Gavin tidak langsung menjawab.
Jarang sekali—
ia bahkan tidak ingin membantah.
Kalimat itu terasa terlalu dekat.
Terlalu mungkin.
Dan terlalu menakutkan.
Tatapan Gavin perlahan naik.
Tepat ke arah Rania.
Yang—
untuk pertama kalinya—
Rania tidak langsung bisa membalas tatapannya.
Karena satu pikiran mendadak terasa terlalu keras di kepala:
Kalau orang lain aja mulai percaya…
kenapa ia mulai takut juga?
Apalagi Mama Ratna dan Mama Ambar.
Ceritanya bikin penasara.