"Aku jual diri demi 1 Miliar Emas, tapi aku TIDAK JUAL HARGADIRI!"
Lin Qingyan menerima pernikahan kontrak dengan pria lumpuh tak berdaya demi menyelamatkan keluarganya. Semua orang menertawakan dia, mengira dia akan hidup menderita selamanya.
Tapi siapa sangka? Di balik tubuh lemah itu tersembunyi sosok Raja Dunia yang paling ditakuti! Dan dia hanya tunduk pada satu wanita: Lin Qingyan!
Siapa berani meremehkan istri kontrak ini? Bersiaplah digilas habis! Karena aku bukan wanita biasa, aku adalah Ratu yang akan menguasai segalanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: Gema dari Dimensi Lain
# 📖 BAB 33: Gema dari Dimensi Lain
Deru mesin helikopter siluman *Viper-7* membelah kegelapan fajar di atas perairan Islandia. Di dalam kabin yang sempit, Lin Qingyan duduk terdiam, mendekap Qingyu yang tertidur pulas dalam balutan selimut hangat. Di sampingnya, Chenyu menatap jendela dengan pandangan kosong, memperhatikan gumpalan awan yang tampak seperti monster raksasa dalam remang cahaya.
Perpisahan di kapal pesiar tadi terasa seperti luka baru yang disiram cuka. Bayangan Beichen yang berdiri di dek, menatap mereka dengan mata yang tertutup kain kasa sementara tangannya mengeluarkan kristal darah hitam, terus menghantui pikiran Qingyan.
"Ibu," suara Chenyu memecah keheningan. "Apa orang-orang perak itu sangat jahat? Lebih jahat dari Kakek Agung?"
Qingyan menarik napas panjang, mencoba menstabilkan suaranya. "Mereka bukan jahat atau baik, Sayang. Mereka adalah sesuatu yang kita belum mengerti. Tapi Ayah akan memastikan mereka tidak akan pernah bisa menyentuh kita."
### 🧊 Benteng Es
Helikopter itu mendarat dengan guncangan halus di sebuah landasan pacu yang tersembunyi di dalam kawah gunung berapi mati yang tertutup es. Ini adalah *Svalbard Sanctuary*, fasilitas paling rahasia milik Phoenix yang dibangun lima ratus meter di bawah lapisan permafrost.
Saat pintu helikopter terbuka, udara dingin yang ekstrem langsung menyerbu masuk. Namun, yang membuat Qingyan merinding bukan suhunya, melainkan kehadiran seorang pria tua yang sudah menunggunya di sana. Pria itu mengenakan jubah abu-abu sederhana, dengan tato sirkuit kuno yang melingkar di lehernya.
"Selamat datang, Nyonya Gu. Saya adalah **Professor Aris**, kurator dari *The Ancient Archive*," sapa pria itu dengan suara yang terdengar seperti gesekan batu. "Kami sudah menyiapkan ruang isolasi frekuensi untuk putri Anda."
"Isolasi frekuensi? Apa maksudnya?" tanya Qingyan waspada, tangannya refleks meraba pistol di pinggangnya.
Aris menatap Qingyu dengan tatapan iba. "Darah yang mengalir di nadinya bukan sekadar cairan biologis. Itu adalah energi murni yang berasal dari struktur *Anomaly 0*. Jika kita tidak menyembunyikan tanda frekuensinya, *The Sentinels* akan melacaknya bahkan jika kalian berada di inti bumi sekalipun."
### 🌩️ Badai yang Berhenti Berdetak
Sementara itu, di tengah Samudra Pasifik, Gu Beichen berdiri di anjungan kapal *The Phoenix*. Ia telah melepas kain kasa dari matanya. Meskipun pandangannya masih sedikit kabur dan berwarna kemerahan, ia bisa melihat mereka.
Sepuluh sosok berjubah perak itu kini berdiri di atas air, hanya berjarak seratus meter dari kapal. Laut yang tadinya berombak besar mendadak menjadi tenang, seolah air pun takut untuk bergerak di hadapan mereka. Tidak ada suara mesin, tidak ada suara burung laut. Keheningan yang tercipta terasa sangat mematikan.
"Tuan Gu, senjata laser dan rudal kaliber berat sudah terkunci pada mereka," lapor Commander Phoenix melalui *earpiece*. "Tunggu perintah Anda."
Beichen melihat salah satu dari mereka mengangkat tangannya. Tanpa ada ledakan atau suara, seluruh sistem kelistrikan kapal pesiar itu mati total. Monitor padam, lampu mati, dan mesin raksasa itu berhenti berputar dalam sekejap.
"Jangan gunakan senjata manusia," kata Beichen datar. Ia melompat turun dari anjungan ke dek utama, berjalan perlahan menuju pagar kapal. "Mereka tidak terbuat dari materi yang bisa dihancurkan oleh ledakan."
Beichen menggores telapak tangannya lagi. Kali ini, ia membiarkan darah hitamnya mengalir deras ke lantai dek. Darah itu mulai bergerak sendiri, merayap menuju ke arah sepuluh sosok tersebut seolah mencari induknya.
"Kalian menginginkan ini?" tantang Beichen. Suaranya bergema, membawa kekuatan "Darah Naga" yang kini telah bangkit sepenuhnya. "Ambil dariku, jika kalian sanggup melewati neraka yang kubawa."
### 👁️ Penglihatan Qingyu
Di kedalaman benteng Islandia, Qingyu tiba-tiba terbangun. Ia tidak menangis. Matanya terbuka lebar, namun tidak menatap langit-langit ruangan. Matanya berubah menjadi putih murni, memancarkan cahaya yang memantul ke dinding-dinding es di sekitarnya.
Qingyan yang sedang berbicara dengan Professor Aris segera berlari ke arah anaknya. "Qingyu! Ada apa, Sayang?"
Tiba-tiba, dari mulut bayi itu keluar suara yang bukan suara manusia. Itu adalah suara frekuensi tinggi yang menyerupai ribuan bisikan digital. Dinding es di sekeliling mereka mulai menampilkan gambaran yang muncul dari pikiran Qingyu—sebuah visi tentang masa lalu yang sangat jauh.
Mereka melihat sebuah kota yang terbuat dari kristal hitam, jatuh dari langit dan tenggelam ke dalam samudera jutaan tahun yang lalu. Mereka melihat *The Sentinels* bukanlah penjajah, melainkan penjaga yang tertidur, dan manusia hanyalah parasit yang tanpa sengaja mencuri "baterai" kehidupan mereka.
"Nyonya, lihat!" teriak Aris sambil menunjuk ke arah monitor sensor.
Di layar radar, terlihat puluhan titik cahaya perak baru mulai muncul di seluruh belahan dunia. Segel yang pecah di markas klan bukan hanya melepaskan sepuluh penjaga, tapi membangkitkan seluruh pasukan yang selama ini bersembunyi di bawah kerak bumi.
"Beichen sedang melawan mereka sendirian di Pasifik," bisik Qingyan dengan wajah pucat. "Dia tidak akan bisa menang."
### 🏹 Kebangkitan Sang Permaisuri
Qingyan menatap tangan anaknya yang kecil, lalu menatap lencana perak milik Beichen yang ia genggam. Ia menyadari satu hal: selama ini ia selalu menjadi orang yang diselamatkan. Tapi kali ini, taruhannya adalah seluruh keberadaan keluarganya.
"Professor," kata Qingyan dengan nada yang sangat dingin dan mantap. "Kau bilang tempat ini adalah arsip kuno. Pasti ada senjata atau teknologi yang digunakan untuk mengunci mereka jutaan tahun lalu."
Aris ragu-ragu sejenak. "Ada... sebuah prototipe yang disebut *The Dragon’s Breath*. Tapi itu membutuhkan operator dengan kecocokan genetik sembilan puluh sembilan persen dengan subjek asli. Hanya Beichen yang bisa menggunakannya."
"Atau aku," sela Qingyan. "Aku telah mengandung ketiga anaknya. Darah mereka telah bercampur dengan darahku selama bertahun-tahun. Jika itu yang dibutuhkan untuk menyelamatkan suamiku, aku akan melakukannya."
Qingyan menoleh ke arah Chenyu. "Jaga adik-adikmu, Chenyu. Ibu harus pergi membantu Ayah."
Di tengah badai salju Islandia yang mengamuk, sebuah jet tempur khusus dengan logo Phoenix bersiap lepas landas. Lin Qingyan duduk di kursi pilot, bukan sebagai ibu rumah tangga, melainkan sebagai satu-satunya harapan bagi sang Naga yang sedang dikepung kegelapan.
Perang ini tidak lagi hanya tentang kekuasaan klan. Ini adalah perang untuk menentukan siapa yang berhak mewarisi bumi.
**BERSAMBUNG KE BAB 34**
- "Terima kasih sudah membaca sampai sini ya bestie! Sehat selalu dan semangat terus, love you all~ ❤️"
- "Setiap kata yang kutulis adalah cinta khusus buat kalian. Makasih udah mau nemenin cerita ini! 🥰✨"
- "Jangan lupa tinggalkan jejak ya, komentar kalian itu penyemangat terbesar buat Author! 📝💖"
- "Makasih sudah mampir di bab ini. Sampai jumpa di bab selanjutnya ya sayang! 🚀😘"