Tania Kartika harus menelan pil pahit saat alat tes kehamilan menunjukkan dua garis merah yang cukup jelas. Ia hanya bisa memejamkan mata, mengingat malam panas sebulan yang lalu bersama Lingga Perdana, sang mantan terjadi tanpa pengaman. Sungguh Tania tak menyangka hanya sekali melanggar, langsung jadi.
Bagaimana nasib Tania sekarang? haruskah ia menghilangkan janin ini, apalagi Lingga sudah menjadi suami dari seorang model? Beginilah nasib percintaan yang kalah akan strata sosial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NAJIS
"Maumu bagaimana, Ngga? Jangan mempersulit keadaan!" pinta Yovi dengan wajah sangar. Ia lelaki dewasa yang tak pernah neko-neko, bagi Yovi gak usah mencari masalah, cari ketenangan hidup itu susah.
"Bang, aku masih cinta sama Tania!" ungkap Lingga dengan menggebu. Ia tak menyangka Tania akan melaporkan apa yang ia kirim tadi malam.
"Bullshit urusan cinta, Ngga. Pikirkan Tania, kalau kamu memang sayang sama dia. Kamu belum tahu sadisnya papa bila keinginannya tak dituruti," Yovi kembali mengingatkan Lingga akan kuasa sang papa.
"Aku tahu, tapi Calista sendiri juga begitu, Bang. Dia akan mempertahankan kekasihnya di belakang pernikahan ini. Masa' dia boleh aku gak boleh?" protes Lingga tanpa pikir panjang.
Yovi tertawa muak pada sang adik. "Ya harusnya kamu cut hubungan mereka, kamu mau istri kamu terciduk skandal, dan menyeret nama kamu!"
"Kita sudah sepakat buat main aman, Bang. Aku yakin dia juga gak mungkin gegabah berhubungan dengan kekasihnya, pasti diam-diam juga!" Lingga masih ngotot, dan Yovi hanya menggeleng.
"Baiklah, suka-suka kamu. Saran Abang, satu patuhi pernikahan ini, jangan melibatkan Tania!" ucap Yovi tegas.
Sepeninggal Yovi dari apartemennya, Lingga semakin frustasi. Ia ingin memarahi Tania, tapi ia sadar apa yang dilakukan Tania hanya sebagai perlindungan diri agar tidak terseret skandal mereka nantinya. Sungguh kepala Lingga berat saat ini. Hati menggebu ingin bertemu dengan Tania, apa daya sang kekasih hati menolaknya mentah-mentah, mana main ancam lagi.
Lingga tidur entah sampai berapa jam, mata baru terbuka saat ponselnya berdering dan tertera nama Calista yang menghubunginya. "Apa?" tanya Lingga dengan suara beratnya.
"Ngga, disuruh pulang ke rumah mama kamu nih, jemput aku dong. Nanti kalau kita ke sana sendiri-sendiri, mereka curiga!" ucap Calista.
"Oke, aku jemput di mana?"
"Apartemen pacarku, nanti ke sana pakai mobilku saja," ucap Calista tanpa canggung menyebut apartemen sang kekasih.
"Hm," jawab Lingga sekenanya. Tak marah juga kalau sang istri malah bermalam di apartemen sang kekasih. "Perempuan macam apa yang dijodohkan sama gue ini," gumam Lingga kesal.
Setelah membersihkan diri dan naik taksi menuju ke apartemen kekasih Calista, Lingga hanya mengangkat alis, saat melihat penampilan Calista. Bercak merah di sekitar leher sang istri, Lingga tahu apa itu.
"Kiss marknya gak mau ditutupi dulu?" sindir Lingga saat keduanya sudah di dalam mobil. Calista hanya tersenyum canggung, sembari meringis dan berkata sori.
Keduanya terdiam selama perjalanan menuju rumah orang tua Lingga, karena Calista sendiri sibuk dengan ponselnya. "Tadi malam kamu tidur di mana?" tanya Calista.
"Apartemen," jawab Lingga singkat.
"Sama cewek kamu?" tanya Calista menyamakan seperti dirinya. Lingga tersenyum, dan melirik sinis pada Calista sebentar.
"Cewekku gak semurah itu, Dia sadar kalau aku adalah suami orang," sengaja Lingga mengucap sindiran pada Calista, karena baru semalam jadi suami istri saja, Calista sudah bermalam di apartemen sang kekasih, sampai ada bekas percintaan begitu.
"Kamu menyindir aku, Ngga?" tantang Calista.
"Emang kamu tersindir?" balas Lingga balik.
"Sedikit sih. Lagian aku sudah bilang dari awal kan, kalau aku bakal lanjut dengan kekasihku ini."
"Atur aja sebrengsek mungkin," jawab Lingga santai.
"Kamu ketus begini bukan karena cemburu sama kekasihku kan?" lelucon apa yang dilontarkan Calista ini, rasanya Lingga ingin menempeleng kepala sang istri agar sadar, bahwa tak seharusnya pernikahan suci dibuat permainan begini.
"Cemburu? Makanan jenis apa itu? Apalagi sama perempuan yang kayaknya bisa dipakai sama siapa aja," mulut level setan Lingga mulai keluar, dan Calista hanya melongo. Baru kali ini ada kata pedas merendahkan dirinya.
"Kamu sadar gak ngomong apa barusan? Meski aku bermalam dengan kekasihku, nyatanya aku hanya bermain bersama dia aja. Lagian dalam dunia kerjaku seperti ini, bukanlah yang baru. Aku termasuk perempuan yang sulit ditawar oleh uang demi popularitas."
"Wow, perempuan mahal berarti?" kembali Lingga menyindir Calista. Ia masih membandingkan dengan Tania, yang kegadisannya diambil oleh Lingga sendiri.
"Omongan kamu sekali gak nyelekit emang gak bisa!"
"Kalau memang kamu perempuan mahal, kegadisan kamu siapa yang ambil? Apakah kekasihmu sekarang?" tanya Lingga.
Jleb gak sih, Calista langsung terdiam. Wajah menantang dan tak terima direndahkan oleh Lingga tadi sirna, karena pertanyaan Lingga jelas menyentil harga dirinya. Tak mungkin Calista dengan bangga menjawab enggak, karena laki-laki yang menyentuhnya dulu adalah kekasihnya saat SMA, berbeda dengan sekarang.
"Gak bisa jawab?" tantang Lingga.
"Gitu bilangnya perempuan mahal, tak terima saat aku bilang kamu bisa dipakai siapa pun. Yang waraslah, Cal!"
"Cukup! Kamu gak berhak menilai aku seperti itu, karena aku yakin kamu tak sesuci ucapan kamu."
"Aku memang bukan pria baik-baik, tapi aku bukan pria yang mudah mempermainkan pernikahan. Aku masih berpikir puluhan kali untuk bermalam dengan kekasihku, tapi kamu, ah sudahlah, tak perlu dibahas. Sudah sampai rumah juga!" ucap Lingga santai.
Calista tak terima dipojokkan begini terus, mendadak dia badmood, dan terpaksa harus pura-pura mesra dengan Lingga. Mama Lingga sangat bahagia, memuji Calista sangat berlebihan. Bahkan beliau senang saat melihat jejak cinta di leher Calista.
"Setidaknya murahnya kamu bisa untuk mengelabui mamaku," bisik Lingga makin tajam menggores harga diri Calista.
Sekuat tenaga Calista menahan amarah, sejak dulu tidak ada yang menindasnya, tapi sekarang lihatlah, sang suami begitu lihai menguliti harga dirinya.
Makan malam didominasi petuah papa dan mama Lingga, sepasang pengantin baru ini hanya menjawab iya..iya saja. Tak mau menimpali berlebihan, karena baik Lingga dan Calista sangat muak di moment ini.
"Segera berikan cucu pada kami ya, Calista. Seperti istri Yovi, sehingga rumah kami akan ramai dan sering dikunjungi cucu," begitu pesan mama Lingga, dan hanya diangguki oleh Calista dengan senyum tipis.
Anak? Bagi Lingga tak mungkin ia mau menyentuh perempuan yang sudah dinikmati oleh pria lain. Terlebih Lingga sudah bertekad, pernikahan mereka tak akan lama. Menunggu saja Calista terlibat skandal yang mencoreng nama baik keluarga, dengan begitu Lingga akan mudah menceraikannya.
"Kalau kamu sampai hamil, jelas itu bukan anakku!" ucap Lingga saat keduanya berada di kamar lelaki itu. Keduanya diminta menginap malam ini.
"Tidak akan ada anak dari kekasihku maupun dari kamu, karena aku menganut childfree!" jawab Calista tegas, dengan tatapan tajam pada Lingga. Ia tak mau sering direndahkan oleh Lingga, dia tak mau dianggap lemah dan cengeng, hanya karena Lingga pintar memainkan omongan keji padanya.
"Bagus deh! Setidaknya aku tak perlu menyentuh kamu!"
"Jangan sejijik itu ke aku Lingga, siapa tahu suatu saat nanti, kamu ketagihan sama aku!" sindir Calista dengan mengibaskan rambutnya.
"Najis!" ucap Lingga ketus.
GO go Tania semangat