NovelToon NovelToon
Immortal Legacy

Immortal Legacy

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Misteri
Popularitas:40.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Di Era Keruntuhan Surga, langit terbelah dan hujan darah mengubah dunia fana menjadi neraka. Para dewa telah kehilangan keseimbangan, melepaskan Bencana yang meruntuhkan sekte-sekte agung dan melahirkan Yao Aberasi pembawa maut.

Zeng Niu adalah seorang bocah desa dengan akar spiritual sampah. Ia tidak memiliki guru yang bijaksana, tidak ada klan besar yang melindunginya, dan takdir tidak memberinya keajaiban. Ketika hujan darah membasahi desanya dan mengubah segalanya menjadi monster buas, Zeng Niu harus menyaksikan seluruh penduduk desa, termasuk orang tuanya, dikoyak hingga tak bersisa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33: Dinding Kematian

Asap pembakaran dari Hutan Bambu Malam masih menghitamkan langit saat Zeng Niu melangkah kembali ke dalam keheningan Gua Penegak Hukum. Ia melemparkan sebuah kantong berlumuran darah yang berisi peta patroli dan Cincin Spasial milik Ma Dong ke atas meja batu Tetua Mo Yin.

Pria sepucat mayat itu membuka gulungan peta tersebut, senyum tipis yang membekukan darah mengembang di wajahnya.

"Bersih. Tanpa jejak Qi ortodoks, dan ditutupi oleh keliaran perampok fana," puji Mo Yin perlahan, suaranya menggema di dinding obsidian. "Kau membuktikan nilaimu, Bocah. Sebagai imbalannya, token ini milikmu."

Mo Yin melempar sebuah medali perunggu berukir tengkorak hewan. "Ini adalah akses ke Zona Dalam Lembah Hukuman. Tempat akademi membuang eksperimen monster mutasi yang gagal mati. Lakukan apa pun yang kau mau di sana. Tapi ingat, di sana tidak ada aturan. Jika kau dimakan, tidak ada yang akan memungut tulangmu."

Zeng Niu menangkap medali itu. Matanya berkilat. Inilah yang ia butuhkan. Ladang pembantaian pribadi untuk memuaskan rasa lapar Dantian berdarahnya.

Tiga hari kemudian, di kedalaman Zona Dalam Lembah Hukuman.

Kabut beracun setebal sup kental menutupi tanah yang dipenuhi tulang belulang raksasa. Bau kematian adalah satu-satunya hukum alam yang tersisa di tempat ini.

Zeng Niu duduk bersila di atas tanah berlumpur. Pakaiannya robek di beberapa tempat, memperlihatkan kulit keabu-abuannya yang dipenuhi luka cakaran baru. Di sekelilingnya, tergeletak tujuh bangkai Serigala Mata Darah Yao Aberasi tingkat menengah yang memiliki kekuatan setara Pengumpulan Qi Tahap 4.

Pertarungan baru saja berakhir. Zeng Niu tidak membersihkan darah yang melumuri wajah dan tangannya. Di dunia kultivasi yang sejati, kenaikan ranah tidak pernah semurah duduk santai di atas tikar giok dan menelan pil manis. Kenaikan ranah adalah penentangan terhadap Surga, sebuah proses yang sangat mahal, menyakitkan, dan tidak selalu berhasil.

Itu adalah serangkaian proses: Akumulasi, Pencerahan, dan Terobosan yang mempertaruhkan nyawa. Tanpa melewati salah satu tahap ini, seorang kultivator ditakdirkan menjadi debu.

Tahap Pertama: Menumpuk Qi

Di sekte ortodoks, proses Pengumpulan Qi sangatlah damai. Kultivator menyerap Qi langit dan bumi yang murni, mengalirkannya ke meridian mereka, dan membuka jalur energi satu per satu bagaikan aliran sungai yang membuka jalan di tanah lunak.

Namun, jalan kultivasi Zeng Niu adalah jalan iblis yang memakan Bencana.

Zeng Niu menggenggam tiga buah Inti Yao yang masih berdenyut dan berlumuran darah dari jantung serigala-serigala itu. Ia memutar Dantian berdarahnya, menyedot Qi kacau dan energi kematian murni dari bangkai-bangkai di sekitarnya.

Energi buas itu merangsek masuk ke dalam tubuhnya. Saat energi itu memasuki meridian Zeng Niu, rasanya bukan seperti air sungai yang sejuk, melainkan seperti ditusuk oleh ribuan jarum panas yang dilapisi racun. Zeng Niu mengertakkan giginya hingga gusi-gusinya berdarah. Otot-ototnya mengejang brutal, namun ia tidak menghentikan sedotannya. Ia terus mengumpulkan energi, mengubah kematian monster-monster itu menjadi bahan bakar hidupnya.

Tahap Kedua: Dinding Tak Terlihat

Setelah menyerap inti ketiga, Dantian Zeng Niu bergetar hebat. Qi merah kehitamannya telah mencapai kapasitas maksimal untuk Tahap 2. Namun, saat energi itu mencoba mendesak maju untuk membuka meridian utama berikutnya menuju Tahap 3, alirannya menabrak sebuah dinding tak terlihat yang tebal bak baja.

Itu adalah Kemacetan. Kepadatan meridiannya tersumbat total.

Qi kacau yang mendidih di dalam tubuhnya kini terjebak, berbalik menghantam organ dalamnya sendiri. Rasa sakit yang mematikan membuat pandangan Zeng Niu memutih. Jika Qi ini tidak bisa mengalir, tubuhnya akan meledak layaknya kendi tanah liat yang diisi magma.

Di dalam Lautan Kesadarannya, Lei Ling menatap pusaran mental Zeng Niu dengan tatapan dingin. “Berhenti, Bocah! Meridian fana-mu tersumbat oleh kekotoran energi kematian. Jika kau memaksanya sekarang, meridianmu akan hancur! Mundur dan cari pil pembersih tulang!”

Tahap Ketiga: Pencerahan.

Zeng Niu menolak mendengarkan roh pedang itu. Mundur berarti mencari jalan aman, dan jalan aman adalah kemewahan yang tidak dimilikinya.

Ia mencari pencerahan di tengah rasa sakit yang merobek kewarasannya. Mengapa meridiannya tersumbat? Karena energi kematian yang ia serap ini menolak diatur oleh hukum Qi kehidupan. Ia mencoba mendorong energi itu layaknya kultivator ortodoks. Itu adalah sebuah kesalahan.

Kematian tidak bisa didorong, batin Zeng Niu, sebuah kilatan pemahaman melesat di dalam jiwanya. Kematian hanya bisa menelan.

Pemahaman Dao miliknya bukanlah Dao Langit, melainkan Dao Kehancuran. Ia berhenti mencoba "mengalirkan" Qi tersebut. Sebaliknya, ia memutar Dantiannya secara terbalik, memerintahkan Qi berdarah itu untuk memakan dinding penyumbat di meridiannya sendiri. Ia menjadikan dirinya sendiri sebagai monster yang menelan batasan fana.

Tahap Keempat: Resiko Nyawa.

Pencerahan telah didapat, kini tiba saatnya eksekusi. Cara satu-satunya untuk menembus ini adalah memaksa Qi kacau itu mengalir dengan menghancurkan penghalang secara brutal.

Ini adalah pertaruhan hidup dan mati. Jika ia berhasil, ia akan naik ke ranah berikutnya. Jika ia gagal, meridiannya akan sobek dan rusak permanen, menjadikannya cacat seumur hidup yang bahkan tidak bisa mengangkat pedang.

Zeng Niu mengumpulkan seluruh Qi kacau di Dantiannya menjadi satu pusaran berbentuk jarum darah, dan menghantamkannya tepat ke dinding meridian yang tersumbat.

DUAAARR!

Ledakan teredam terjadi di dalam tubuhnya.

CRAAAK!

Beberapa pembuluh darah kecil di sekitar meridiannya pecah. Darah segar berwarna kehitaman menyembur keluar dari mulut Zeng Niu, membasahi jubah hitam dan tumpukan bangkai serigala di pangkuannya. Rasa sakitnya seolah tubuhnya dibelah dua menggunakan gergaji berkarat.

Tubuh Zeng Niu bergetar hebat. Lei Ling terdiam di lautan kesadarannya, terkejut melihat kekejaman pemuda ini pada dirinya sendiri.

Darah terus menetes dari bibir dan hidung Zeng Niu. Wajahnya sepucat mayat. Namun, tangannya yang bertumpu pada lutut tidak bergeser satu milimeter pun. Matanya yang setengah terpejam memancarkan tekad yang mengerikan.

Ia tidak berhenti. Ia menelan kembali darah yang menggenang di tenggorokannya, dan menghantamkan sisa Qi terakhirnya sekali lagi!

KREAAAK... PRANG!

Dinding tak terlihat di dalam meridiannya akhirnya hancur lebur!

Seketika itu juga, Qi merah kehitaman yang tadinya tersumbat membanjiri jalur energi barunya seperti bendungan yang pecah. Energi kematian dari bangkai monster di sekitarnya tersedot habis ke dalam tubuhnya dalam satu tarikan napas raksasa, mengubah bangkai-bangkai itu menjadi debu abu-abu.

Aura di sekitar tubuh Zeng Niu melonjak drastis. Dantiannya meluas dua kali lipat, dan kepadatan Qi di dalam tubuhnya kini terasa seberat air raksa. Angin berbau anyir bertiup kencang berpusat pada tubuhnya, menerbangkan debu tulang ke udara.

Zeng Niu perlahan membuka matanya. Pupilnya kini memiliki lingkaran merah tipis yang menyala dalam kegelapan. Ia menyeka darah segar dari bibirnya dengan punggung tangannya.

Ia berhasil. Menembus batas hidup dan mati di lautan bangkai, Zeng Niu resmi melangkah ke ranah Pengumpulan Qi Tahap 3. Di Era Keruntuhan Surga, setiap pijakan tangga kekuatan harus dibayar dengan tumpahan darah.

1
saniscara patriawuha.
gassssd pollllll...
eka suci
tingkat aja tinggi baru nyadar hewan peliharaan nya mati setelah seminggu😥 lanjuuut 💪
saniscara patriawuha.
sikattttt sudahhhhh
eka suci
gengsi sang putri setinggi langit cuma turun sebatas awan😄
Sang_Imajinasi: wajib,karna terlahir dengan sendok emas 🤭
total 1 replies
Sang_Imajinasi
Halo Para Reader.
Jika Kalian Suka dengan cerita ini mohon bantuan untuk beri rating bintang dan vote nya.. 🙏 Penilaian kalian sangat berharga bagi author tetap semangat untuk update cerita ini. TERIMA KASIH.... ✌️
Xiao Bar
lanjut
Xiao Bar
gas thor
saniscara patriawuha.
lanjoooottttt deuiiiii...
saniscara patriawuha.
gassdd pollll polllannn...
saniscara patriawuha.
gasssss pollllll....
Ardi Ansyah
putrinya sang asurah manani thor
Sang_Imajinasi: ada disini 🤭
total 1 replies
eka suci
lanjut petualangan 💪
eka suci
beberapa bulan ya💪
eka suci
2 bocah egois yg aneh😄
Sang_Imajinasi
Halo Para Reader.
Jika Kalian Suka dengan cerita ini mohon bantuan untuk beri rating bintang dan vote nya.. 🙏 Penilaian kalian sangat berharga bagi author tetap semangat untuk update cerita ini. TERIMA KASIH.... ✌️
Dzioon L L
Meleleh jantung
Xiao Bar
😍🤣🤣🤣🤣
Xiao Bar
lanjuttt
saniscara patriawuha.
gassssss pollllll
saniscara patriawuha.
gasssss pollllll...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!