Di atas karpet merah pertunangannya, Aeryn Valerine menyaksikan dunianya runtuh. Tunangannya berselingkuh dengan sang adik tiri, lengkap dengan rencana licik mencuri seluruh warisannya. Namun, Aeryn bukan wanita yang akan menangis di pojokan. Dengan gaun sutra yang memikat, ia melangkah tenang menghampiri Xavier Arkananta—sang CEO "Ice King" yang paling ditakuti.
"Nikahi aku, dan aku akan memberimu kekuasaan yang tak bisa dibeli uang," bisik Aeryn dingin.
Xavier menerima kesepakatan gila itu, tapi ia punya motif tersembunyi yang jauh lebih gelap. Saat dendam mulai terbalaskan secara elegan, Aeryn menyadari satu hal: Menikahi setan adalah cara terbaik untuk menghancurkan iblis. Tapi, bagaimana jika sang setan menginginkan lebih dari sekadar kontrak bisnis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puteri Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1
MAHKOTA YANG RETAK
Lampu kristal raksasa di ballroom Hotel Grand Astora memantulkan cahaya yang menyilaukan, seolah-olah berusaha menutupi kebusukan yang tersembunyi di balik kemewahan malam itu. Harum bunga lili putih dan sampanye mahal memenuhi udara, bercampur dengan suara denting gelas dan obrolan ringan kaum elit Jakarta.
Malam ini adalah malam milik Aeryn Valerine. Putri mahkota dari dinasti perhiasan Valerine Jewels itu tampak sempurna dalam balutan gaun silk berwarna sampanye yang memeluk lekuk tubuhnya dengan elegan. Rambut hitamnya disanggul modern, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajahnya yang tirus dan cantik jelita.
"Aeryn, sayang, kamu benar-benar terlihat luar biasa malam ini. Berlian di lehermu itu... apakah itu koleksi Eternal Rose yang baru?" puji Pak Sastro, seorang kolega bisnis ayahnya yang sudah sangat sepuh.
Aeryn tersenyum—senyum yang telah ia latih di depan cermin selama bertahun-tahun. "Terima kasih, Pak Sastro. Anda sangat jeli. Ini adalah salah satu prototipe yang akan kami rilis kuartal depan. Saya harap Anda menikmati acaranya."
Namun, di balik ketenangan itu, mata Aeryn menyapu ruangan. Mencari sosok Kaelan Dirgantara, pria yang seharusnya menyematkan cincin di jarinya dalam tiga puluh menit ke depan. Kaelan telah menghilang sejak sepuluh menit yang lalu, tepat setelah ia menerima sebuah pesan singkat.
Langkah kaki Aeryn membawanya menjauh dari kerumunan, menuju koridor sayap barat yang lebih sepi. Ia butuh sedikit udara segar, atau mungkin, insting desainer perhiasannya yang tajam sedang menangkap ada sesuatu yang "palsu" di udara.
Saat melewati ruang kerja pribadi keluarga yang terletak di ujung koridor, telinga Aeryn menangkap suara. Bukan suara bisikan bisnis, melainkan desahan halus dan tawa tertahan yang sangat ia kenali.
Aeryn berhenti. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang, bukan karena takut, tapi karena rasa jijik yang mulai merayap. Ia mendorong pintu kayu jati itu sedikit—hanya cukup untuk menyisipkan lensa kamera ponselnya.
Di dalam sana, di atas tumpukan sketsa desain koleksi terbaru Valerine Jewels yang seharusnya menjadi rahasia perusahaan, Kaelan sedang memeluk pinggang seorang wanita. Wanita itu bukan Aeryn.
"Kael, pelan-pelan... bagaimana kalau Kak Aeryn lihat?" Suara itu manja, tinggi, dan penuh kemenangan. Itu Bianca, adik tirinya.
Kaelan tertawa, suaranya terdengar begitu asing di telinga Aeryn. "Aeryn? Dia terlalu sibuk menyapa tamu-tamu membosankan di luar. Lagipula, setelah pertunangan ini sah, semua desain ini akan menjadi milik Dirgantara Group. Kita tidak butuh dia lagi, Bianca."
"Tapi kamu janji akan menceraikannya setelah setahun, kan? Aku tidak mau terus-menerus jadi yang kedua," rajuk Bianca sambil mengalungkan lengannya di leher Kaelan.
"Tentu saja, Sayang. Dia hanya batu loncatan. Begitu saham Valerine Jewels stabil di tanganku, aku akan membuangnya seperti sampah."
Aeryn berdiri membeku di balik pintu. Napasnya tetap teratur, tangannya tidak gemetar sedikit pun saat menekan tombol record pada ponselnya. Ia merekam setiap detik pengkhianatan itu, setiap kata-kata kotor yang keluar dari mulut pria yang selama ini ia kira adalah mitra hidupnya.
Ia tidak berteriak. Ia tidak menangis. Aeryn Valerine tidak dididik untuk membuang air mata pada pria murahan. Baginya, menangis adalah tanda kekalahan, dan Aeryn tidak pernah kalah.
Setelah merasa cukup, ia mematikan rekaman, menyimpannya di cloud pribadi, lalu memasukkan ponsel ke dalam clutch perak miliknya. Ia merapikan gaunnya, memastikan tidak ada satu pun helai rambut yang berantakan.
"Selamat menikmati sisa waktumu, Kaelan," bisiknya hampir tak terdengar.
Aeryn berbalik dan berjalan kembali menuju ballroom. Namun, ia tidak kembali ke panggung. Tujuannya adalah bar eksklusif di sudut ruangan yang remang-remang, tempat para pria paling berpengaruh biasanya menjauh dari kebisingan.
Di sana, duduk seorang pria sendirian. Pria itu memakai setelan tuksedo hitam yang dijahit sempurna, menyesuaikan dengan bahunya yang tegap. Ia menyesap whiskey dengan gerakan yang lambat dan penuh kendali. Xavier Arkananta. Pria yang dijuluki "Ice King" karena reputasinya yang dingin dan tangan besinya di dunia finansial.
Aeryn tahu, Xavier adalah saingan berat keluarga Dirgantara. Jika ada satu orang yang bisa meratakan kerajaan Kaelan dalam sekejap, orang itu adalah pria di hadapannya ini.
Aeryn melangkah mendekat, aroma parfum sandalwood dan black pepper yang maskulin mulai merasuki inderanya. Ia tidak ragu saat duduk di kursi tinggi di sebelah Xavier.
Xavier tidak menoleh. Suaranya rendah dan dalam, sedingin es kutub. "Bukankah seharusnya Anda sedang bersiap untuk pertunangan Anda, Nona Valerine?"
Aeryn memberi isyarat pada bartender untuk memberinya segelas martini. "Rencana berubah, Tuan Arkananta. Saya baru saja menyadari bahwa mahkota yang akan saya pakai malam ini ternyata retak."
Xavier meletakkan gelasnya. Ia menoleh perlahan, mata elangnya yang tajam menatap langsung ke dalam manik mata Aeryn. Ada keheningan yang mencekam di antara mereka, seolah-olah dunia di luar sana menghilang.
"Dan apa hubungannya itu denganku?" tanya Xavier datar.
Aeryn memiringkan kepalanya sedikit, memberikan senyum tipis yang mematikan. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Xavier, cukup dekat hingga ia bisa merasakan hawa hangat dari napas pria itu.
"Kaelan Dirgantara baru saja melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya," bisik Aeryn, suaranya halus namun tajam. "Dia pikir dia bisa mencuri masa depanku."
Xavier menaikkan satu alisnya, mulai merasa tertarik. "Lalu?"
Aeryn menarik napas dalam, aroma maskulin Xavier membuatnya merasa lebih berani. Ia menatap lurus ke mata pria itu, tanpa rasa takut sedikit pun.
"Ingin menguasai saham Dirgantara Group dalam semalam?"
Xavier terdiam. Untuk pertama kalinya, ada kilatan emosi yang tidak terbaca di matanya yang dingin. Ia memandang Aeryn seolah sedang menilai sebuah permata langka yang sangat berharga sekaligus berbahaya.
"Itu tawaran yang sangat spesifik untuk seorang calon pengantin," sahut Xavier dengan nada menyindir.
"Saya bukan lagi calon pengantinnya," tegas Aeryn. "Saya adalah mimpi buruknya. Dan saya butuh sekutu yang sama kejamnya dengan saya."
Xavier menyandarkan tubuhnya, memperkecil jarak di antara mereka. Atmosfer di bar itu mendadak menjadi sangat panas, penuh dengan ketegangan yang tak kasat mata. "Apa harganya, Aeryn? Kamu tahu aku tidak pernah melakukan apa pun secara gratis."
Aeryn tersenyum elegan. "Harganya adalah saya. Jadikan saya istrimu, dan aku akan membukakan pintu brankas Dirgantara yang selama ini kamu incar. Kita hancurkan mereka bersama, dengan cara yang paling elegan."
Tangan Xavier bergerak, jemarinya yang panjang dan kokoh menyentuh dagu Aeryn, memaksanya tetap menatapnya.
"Kau sedang bermain dengan api, Nona Valerine," gumam Xavier pelan.
"Saya desainer perhiasan, Tuan Arkananta. Saya sudah biasa bekerja dengan api untuk menciptakan sesuatu yang indah."
Xavier menatap bibir Aeryn sejenak sebelum kembali ke matanya. Sebuah senyum tipis, hampir tak terlihat, muncul di sudut bibirnya.
"Baiklah. Mari kita lihat seberapa panas api yang bisa kau buat."