NovelToon NovelToon
Saya Jokernya

Saya Jokernya

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Anak Genius / Tamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Sepuluh tahun lalu, keluarga Arlan hancur dalam semalam karena konspirasi korporasi besar "Vanguard Group". Orang tuanya dijebak sebagai pengkhianat negara dan tewas dalam kecelakaan yang diatur. Arlan kembali dengan identitas baru, "Joker"—seorang manipulator bayangan yang tidak membunuh dengan peluru, melainkan dengan menghancurkan reputasi dan mental musuhnya.
Di sisi lain, Elara, putri dari CEO Vanguard Group, adalah seorang detektif cerdas yang mencoba membersihkan nama kepolisian. Dia mulai mengejar Joker, tanpa menyadari bahwa pria yang dia cintai di kehidupan normal adalah sosok di balik topeng yang ingin menghancurkan ayahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Kartu As di Lengan

Ada sebuah pepatah lama di dunia jalanan: Cara terbaik untuk mengetahui apakah seseorang sedang memegang pisau di balik punggungnya adalah dengan memeluknya.

Pelukan Elara terjadi begitu tiba-tiba. Kedua lengannya melingkar erat di punggungku, wajahnya terbenam di dadaku. Beban tubuhnya bersandar padaku seolah struktur tulang kakinya baru saja kehilangan fungsi.

Selama tiga detik pertama, tubuhku mematung. Otot-otot bahu dan punggungku yang masih berdenyut nyeri akibat hantaman senapan dan serpihan beton di pasar Glodok satu jam yang lalu, kini menegang secara otomatis. Insting pertahanan diriku berteriak untuk mendorongnya menjauh, mengunci pergelangan tangannya, dan menetralisir ancaman.

Namun, aku menekan insting binatang itu dalam-dalam. Perlahan, aku mengangkat kedua tanganku dan membalas pelukannya. Aku mengusap punggungnya yang bergetar hebat, membelai rambutnya yang sedikit basah oleh embun pagi.

"Ada apa, El?" bisikku di puncak kepalaku, menyuntikkan nada khawatir dan kelembutan yang sangat terlatih ke dalam suaraku. "Kau aman di sini. Ada aku."

Elara tidak menjawab. Ia hanya memejamkan mata, napasnya tersengal di dadaku.

Namun, di detik kelima pelukan kami, aku merasakan sebuah perubahan yang sangat halus. Sebuah pergeseran atmosfer yang hanya bisa dideteksi oleh seseorang yang hidup berdampingan dengan bahaya setiap saat.

Getaran di tubuh Elara yang awalnya adalah isakan tangis keputusasaan, perlahan berubah menjadi kekakuan.

Lengan yang melingkari punggungku tidak lagi terasa seperti pelukan seorang wanita yang mencari tempat bersandar. Tekanannya berubah. Jari-jarinya mencengkeram kain kausku dengan sedikit terlalu kuat. Wajahnya yang terbenam di dadaku tidak lagi mencari kehangatan; napasnya terhenti sesaat, seolah ia baru saja menghirup sesuatu yang beracun.

Pikiranku berputar dengan kecepatan cahaya.

Aku baru saja menghabiskan dua puluh menit berdiri di bawah kucuran shower air dingin, menyikat kulitku dengan sabun antiseptik yang keras untuk menghilangkan noda darah prajurit bayaran Vanguard. Aku mencuci rambutku dua kali untuk mengusir bau debu dan mesiu.

Tapi aku tahu, bau kematian tidak pernah bisa dihilangkan sepenuhnya dengan air dan sabun.

Bau ozon dari korsleting listrik, bau logam dari tembaga darah, dan aroma asam dari mesiu yang terbakar selalu menemukan cara untuk meresap dan bersembunyi di pori-pori kulit. Bagi orang awam, bau itu mungkin akan tertutup oleh wangi sabun mandi. Tapi Elara bukan warga sipil biasa. Dia adalah detektif divisi pembunuhan. Hidungnya telah dikalibrasi untuk mencium aroma tempat kejadian perkara.

Dia tahu.

Kesadaran itu menghantamku seperti godam baja. Jantungku berdegup satu ketukan lebih keras.

Elara perlahan mengurai pelukannya dan mundur setengah langkah. Ia menundukkan wajahnya, mengusap kedua matanya dengan punggung tangan, berusaha menutupi apa pun yang baru saja melintas di dalam kepalanya.

"Maaf," suaranya terdengar serak dan jauh lebih dingin dari sebelumnya. Ia tidak menatap mataku. "Aku hanya... hari ini sangat kacau. Banyak hal buruk terjadi di kantorku. Kasus ini... kasus Setiawan... membuatku muak."

Ia berbohong. Pupil matanya yang melebar, ritme napasnya yang diatur secara paksa, dan cara tangan kanannya menggantung bebas di sisi paha kanannya—bersiap untuk meraih sesuatu di balik gaun atau tasnya—adalah bahasa tubuh yang tak terbantahkan.

Ia sedang berdiri di depan pria yang ia curigai sebagai monster pembantai kota, dan ia sedang berpura-pura tidak menyadarinya. Kami berdua kini berdiri dalam sebuah permainan Russian Roulette psikologis. Jika aku menunjukkan kepanikan, ia akan menarik senjatanya. Jika ia menunjukkan ketakutan, ia tahu aku bisa mematahkan lehernya sebelum tangannya menyentuh gagang pistol.

Aku memutuskan untuk mengikuti tarian ini.

"Kau terlihat sangat kelelahan, El," kataku dengan senyum lembut yang sama. Aku membalikkan badan, sengaja membelakanginya untuk mengambil dua gelas kosong dari rak dapur kecilku. Sebuah gestur yang menunjukkan bahwa aku 'tidak merasa terancam' olehnya. Padahal, melalui pantulan kaca jendela di depanku, aku mengawasi setiap pergerakan tangannya.

"Duduklah di sofa. Aku akan membuatkan teh kamomil. Kau butuh sesuatu yang hangat," tawarku, menyalakan teko pemanas air.

Elara berjalan pelan menuju sofa kulit di tengah ruangan. Ia duduk di ujung sofa, posturnya tegak, matanya terus menyapu sekeliling apartemenku. Ia melihat rak server raksasaku yang lampunya sengaja kumatikan, melihat meja kerjaku yang bersih dari kertas, dan melihat minimnya barang pribadi di tempat ini. Tempat ini lebih mirip sebuah pangkalan operasi (safehouse) daripada sebuah rumah.

"Kau benar-benar tidak memiliki banyak barang untuk seorang investor," gumamnya, matanya akhirnya berhenti pada punggungku saat aku menuangkan air panas ke dalam cangkir.

"Barang-barang fisik hanya akan membebanimu saat kau harus berpindah dengan cepat," jawabku santai. Aku berbalik, membawa dua cangkir teh yang mengepulkan uap, dan meletakkannya di atas meja kaca di hadapannya. Aku duduk di kursi tunggal tepat di seberangnya. "Atau dalam kasusku, aku hanya tidak suka mengumpulkan debu. Minumlah."

Elara mengambil cangkir itu dengan kedua tangan, membiarkan kehangatannya menjalar ke telapak tangannya. Ia menatap permukaan teh yang kecokelatan itu cukup lama.

"Arlan," panggilnya pelan. Ia akhirnya mengangkat wajahnya, menatap lurus ke dalam mataku.

Ada badai emosi yang berkecamuk di dalam sepasang mata cokelat gelap itu. Kesedihan, kemarahan, pengkhianatan, dan sebuah keputusasaan yang sangat dalam. Ia tampak seperti seseorang yang dunianya baru saja dibakar hingga rata dengan tanah.

"Ya, El?"

"Jika kau mengetahui bahwa seseorang yang selama ini kau percaya... seseorang yang membesarkanmu... ternyata adalah monster yang melakukan hal-hal mengerikan," suaranya bergetar pelan. Ia sedang membicarakan ayahnya, Darmawan Salim. Namun ia juga menggunakan kiasan itu untuk mengetes reaksiku. "Apa yang akan kau lakukan? Apakah kau akan melaporkannya pada hukum? Atau kau akan membunuhnya dengan tanganmu sendiri?"

Pertanyaan itu adalah sebuah pedang bermata dua. Ia sedang mencari tahu apa yang terjadi pada ayahnya, dan ia sedang mencari pembenaran atas apa yang kulakukan sebagai Joker.

Aku menyandarkan punggungku ke kursi, mengambil cangkir tehku sendiri.

"Hukum adalah alat yang cacat, Elara," jawabku pelan. Aku membiarkan sedikit warna asliku keluar. "Hukum dibuat oleh orang kaya untuk menghukum orang miskin yang mencuri roti, sementara orang kaya itu mencuri seluruh pabrik rotinya secara legal. Jika seseorang yang kau percaya mengkhianatimu dengan cara yang paling kejam... menyerahkannya pada hukum terkadang hanyalah sebuah penghinaan bagi rasa sakitmu."

Aku menatapnya tajam, menembus dinding pertahanannya.

"Jika aku berada di posisimu," lanjutku, "aku tidak akan mencari keadilan di ruang sidang. Aku akan mencari keadilan di abu sisa pembakaran kebohongan mereka. Terkadang, satu-satunya cara untuk membunuh monster, adalah dengan menjadi monster yang lebih menakutkan."

Mendengar jawabanku, aku melihat air mata kembali menggenang di kelopak mata Elara. Ia menelan ludah dengan susah payah. Jawaban itu mengonfirmasi setiap kecurigaan di kepalanya. Pria yang duduk di depannya ini bukanlah korban yang rapuh.

Namun, yang luar biasa adalah... ia tidak mencabut senjatanya. Ia tidak berteriak menuduhku.

Beban kelelahan fisik karena kurang tidur selama berhari-hari, ditambah dengan syok emosional karena mengetahui kebusukan ayah kandungnya dan mengetahui identitasku dalam waktu kurang dari empat jam, akhirnya menghancurkan ketahanan fisiknya.

Tangan Elara yang memegang cangkir perlahan turun. Ia menyandarkan kepalanya ke bantalan sofa. Kelopak matanya berkedip berat, mencoba melawan gravitasi, namun tubuhnya menolak untuk diajak bekerja sama.

"Aku sangat lelah, Arlan," bisiknya parau, nyaris tidak terdengar. Matanya tertutup separuh. "Duniaku berantakan. Semuanya kebohongan."

"Tidurlah, Elara," balasku dengan suara yang sangat lembut. "Dunia ini tidak akan kiamat jika kau menutup mata selama beberapa jam."

Dalam waktu kurang dari lima menit, napas Elara berubah menjadi ritme yang panjang dan teratur. Ia jatuh tertidur karena kelelahan yang ekstrem. Ia tertidur di sarang monster yang seharusnya ia tangkap. Entah ini adalah tindakan kebodohan absolut dari seorang detektif, atau ini adalah bentuk keputusasaan dari seorang wanita yang tak lagi memiliki tempat untuk pulang.

Aku berdiri dari kursiku dengan tanpa suara. Aku berjalan mendekatinya, mengambil cangkir teh yang hampir tumpah dari sela-sela jarinya, dan meletakkannya di meja. Aku melangkah ke kamar, mengambil sebuah selimut rajut yang hangat, dan menyelimuti tubuhnya hingga sebatas bahu.

Selama beberapa detik, aku berdiri menatap wajahnya yang tertidur pulas.

Logika liarku berteriak bahwa ini adalah kesempatan paling sempurna. Aku bisa saja menyuntikkan udara kosong ke dalam pembuluh darahnya, membunuhnya tanpa jejak, dan menghilangkan satu-satunya ancaman penegak hukum yang mengetahui identitasku. Vanguard akan mengira ia menjadi korban acak.

Tapi saat aku melihat kerutan sedih di dahinya, melihat bagaimana tangan kirinya masih mengepal bahkan dalam tidurnya... aku tahu aku tidak bisa melakukannya.

Bukan karena aku merasa suci. Tapi karena di dalam matanya tadi, aku melihat pantulan diriku sendiri sepuluh tahun yang lalu. Seseorang yang dunianya dihancurkan oleh Darmawan Salim. Elara bukanlah musuhku; ia adalah korban lain dari kekaisaran ayahnya.

Aku berbalik, meninggalkan Elara yang tertidur, dan berjalan menuju meja kerjaku. Waktu untuk bermain-main dengan empati sudah habis.

Aku menyalakan switch daya pada rak server di sudut ruangan. Enam monitor raksasaku menyala serentak, menerangi bagian ruangan ini dengan cahaya biru yang dingin.

Kejadian di pasar Glodok satu jam yang lalu membuktikan satu hal: Vanguard Group memiliki anjing pelacak siber yang sangat hebat. Mereka tidak datang ke Glodok secara kebetulan. Mereka berhasil melacak komunikasi anonimku dengan Rusdi. Mereka berhasil menyentuh kulit luar dari jaringan yang kubangun.

Darmawan Salim pasti sedang tersenyum puas di ruangannya sekarang, mengira bahwa ia berhasil menekan sang Joker, mengira bahwa ia mulai mengendalikan permainan.

Tapi kesombongan selalu menjadi kelemahan fatal bagi para raja.

Mereka lupa, atau mungkin tidak tahu, bahwa dalam permainan sulap yang melibatkan peretasan tingkat tinggi... jika kau berhasil meretas sistem lawanku, itu berarti kau harus membuka pintu sistemmu sendiri.

Aku tidak membangun server komunikasi dengan Rusdi untuk menyembunyikan diriku. Aku sengaja membangunnya dengan protokol enkripsi yang terlihat sangat rumit namun sebenarnya memiliki satu celah tersembunyi. Itu bukan sistem pertahanan. Itu adalah jaring laba-laba. Sebuah honeypot (perangkap siber).

Aku sengaja membiarkan tim siber Vanguard melacak pesan palsu itu menuju Glodok. Aku membutuhkan mereka untuk menggigit umpannya.

Dan saat mereka menggigit umpan itu, malware pelacak (trojan) yang kusisipkan di dalam kode enkripsi tersebut berhasil menyusup masuk kembali melalui jalur koneksi mereka. Menginfeksi server utama mereka. Membuka pintu belakang tanpa mereka sadari.

Aku mengetikkan baris perintah di keyboard dengan kecepatan brutal. Layar hitam dengan tulisan hijau berjalan cepat, memproses paket data yang berhasil dicuri oleh trojanku dari server bayangan milik Jenderal Sudiro.

"Mari kita lihat apa yang kau sembunyikan di bawah kasurmu, Jenderal," gumamku sambil memecah password terminal mereka.

Jenderal Sudiro adalah pilar logistik persenjataan Vanguard. Dari kematian Setiawan, Sudiro pasti sudah sadar bahwa ia mungkin menjadi target selanjutnya. Dan apa yang dilakukan seorang jenderal korup ketika markas utamanya terancam? Ia akan memindahkan asetnya yang paling berharga.

Layar monitor berkedip, menampilkan sebuah dokumen cetak biru dan jadwal logistik yang terenkripsi.

Sebuah senyum miring yang sedingin es terbentuk di bibirku saat aku membaca jadwal tersebut.

Malam ini, pada pukul sebelas malam, Sudiro akan memindahkan seluruh kargo ilegalnya—puluhan peti berisi emas batangan hasil pencucian uang, senjata api kelas berat yang tak terdaftar, dan dokumen operasional Vanguard—dari gudang penyimpanan sementaranya di Tanjung Priok menuju sebuah kapal kargo berbendera Panama yang sudah menunggu di pelabuhan.

Tiga truk lapis baja akan digunakan. Rute pengiriman telah dipetakan. Pengawalan akan dilakukan oleh pasukan bayaran yang sama dengan yang menyerangku di Glodok tadi.

Sudiro mencoba melarikan uang dan senjatanya dari kota ini sebelum sang Joker sempat datang. Ia mencoba menyelamatkan kekuatan tempurnya.

Aku menarik selembar kertas dari laci, menuliskan rute konvoi ketiga truk tersebut, lengkap dengan nomor pelat dan jadwal keberangkatannya. Aku melipat kertas itu menjadi dua bagian yang rapi.

Rencanaku berubah. Aku tidak akan mendatangi rumah Sudiro dan meracuninya di tempat tidurnya. Itu terlalu membosankan bagi seorang jenderal. Sudiro adalah pria yang mendewakan kekuatan militer dan logistiknya. Maka, aku akan menghancurkan kebanggaannya itu tepat di depan matanya.

Aku akan membakar konvoi kargo berdarahnya di tengah jalan raya, melumpuhkan seluruh kekuatan otot Vanguard Group, dan membiarkan Sudiro mati perlahan dalam keputusasaan karena tak lagi memiliki pasukan maupun uang untuk melindungi dirinya dari Darmawan Salim.

Aku bangkit dari kursi, berjalan mendekati sofa tempat Elara tertidur pulas. Tarikan napasnya begitu teratur, wajahnya terlihat jauh lebih tenang saat matanya terpejam dan terbebas dari beban kenyataan.

Aku meletakkan kertas berisi jadwal konvoi Sudiro itu di atas meja kaca, tepat di samping cangkir tehnya yang sudah dingin.

Sebagai seorang detektif kepolisian, Elara tidak memiliki bukti fisik untuk menangkapku hari ini. Tapi jika ia menemukan kertas ini saat ia bangun nanti, ia akan memiliki petunjuk tentang ke mana sang Joker akan menyerang malam ini. Ia akan tahu di mana letak konvoi senjata ilegal yang bisa digunakan untuk memenjarakan Jenderal Sudiro.

Mengapa aku memberikannya informasi ini? Mengapa aku memberikan keunggulan pada wanita yang memburuku?

Karena balas dendam yang sempurna tidak dilakukan sendirian di dalam kegelapan. Balas dendam membutuhkan saksi mata. Dan aku ingin Elara berada di sana malam ini. Aku ingin ia melihat langsung kebusukan ayahnya dan teman-temannya. Aku ingin melihat apakah ia akan memilih untuk menembakku demi lencananya, atau membiarkanku membakar dosa-dosa mereka.

Darmawan Salim mungkin berpikir ia sedang memburuku menggunakan pasukan tentaranya. Ia tidak sadar bahwa aku baru saja membuka pintu belakang rumahnya, menyusup ke dapur, dan mencuri semua pisaunya.

Aku mengambil kunci mobil dan mantel hitamku.

Di luar sana, mendung mulai kembali menutupi matahari pagi Jakarta.

"Permainan baru saja memanas."

1
Emi Widyawati
bagus bangeeetttt. cerita beda dengan yang lainnya. baca novel tapi serasa liat film. bagus banget Thor. lup u sak kebon 😘
Misterios_Man: banyakin likesnya dong biar popularitasnya naik, gratis kok hehehe.
total 2 replies
Ainun masruroh
semangat 💪
Misterios_Man: Ok kak nice dream ya,, jangan lupa ikuti novelnya heheh.
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!