Luka pengkhianatan ibu membuat hati Anandara membeku. Sinta adalah satu-satunya "rumah" baginya. Namun, kehadiran mahasiswa baru bernama Angga memicu badai. Anandara rela memendam cinta demi Sinta, menciptakan kebohongan dan permusuhan yang menyayat hati. Mampukah persahabatan mereka bertahan saat rahasia terkuak, dan dapatkah Dimas menyembuhkan luka Sinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Bayang-bayang Masa Lalu
Akhir pekan seharusnya menjadi oase bagi para mahasiswa yang kelelahan setelah digempur tugas-tugas awal semester. Namun bagi Anandara Arunika, hari Minggu yang sepi di dalam mansion megahnya ini justru terasa seperti ruang isolasi yang mencekik.
Pak Dirga sedang berada di luar kota untuk meninjau proyek di Kalimantan, meninggalkan Anandara hanya ditemani oleh Bi Inah dan beberapa staf rumah tangga yang sibuk di area belakang. Rumah raksasa itu membisu, seolah menyerap seluruh energi kehidupan di dalamnya.
Di kamarnya yang luas, Anandara duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke arah layar laptop yang menampilkan tabel Excel. Pikirkannya tidak berada pada angka-angka debit dan kredit. Otaknya terus-menerus memutar ulang kejadian beberapa hari yang lalu di kelas Pengantar Akuntansi. Senyum Sinta, suara bariton Angga, dan tatapan penuh luka dari pemuda itu saat Anandara memakinya.
Setiap kali ingatan itu muncul, Anandara merasa ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungnya hingga ia kesulitan bernapas. Ia telah meminum pil pahit itu. Ia telah membunuh perasaannya. Namun mengapa rasa sakitnya tidak kunjung mereda? Mengapa dadanya justru semakin terasa seperti rongga kosong yang terus berdarah?
Tiba-tiba, suara ketukan pelan di pintu kamarnya membuyarkan lamunan kelam itu.
"Non Nanda?" Suara Bi Inah terdengar dari balik pintu berukir itu.
Anandara mengerjapkan matanya, mengatur kembali ekspresi wajahnya menjadi datar sebelum menjawab, "Ya, Bi? Masuk saja, pintunya tidak dikunci."
Pintu terbuka. Bi Inah, asisten rumah tangga paruh baya yang sudah bekerja sejak perusahaan Pak Dirga mulai bangkit, masuk dengan langkah ragu-ragu. Di tangannya, ia membawa sebuah kotak paket berukuran sedang yang dibungkus kertas cokelat rapi tanpa nama pengirim, hanya ada nama dan alamat rumah Anandara yang tercetak tebal.
"Maaf ganggu waktu belajarnya, Non. Ini ada paket dari kurir. Kata kurirnya buat Non Nanda, tapi nggak ada nama pengirimnya. Bapak kan lagi di luar kota, Bibi takutnya ini dokumen penting dari kampus atau apa, jadi Bibi langsung antar ke atas," jelas Bi Inah sambil menyodorkan kotak itu.
Anandara mengerutkan dahinya. Ia tidak memesan buku apa pun, dan teman-temannya tidak pernah mengirimkan paket tanpa memberitahunya lebih dulu.
"Terima kasih, Bi. Letakkan saja di meja," ucap Anandara.
Sepeninggal Bi Inah, Anandara berjalan menghampiri meja belajarnya. Ia menatap kotak cokelat itu dengan perasaan yang aneh. Ada insting waspada yang mendadak menyala di dasar otaknya, sebuah alarm primitif yang memperingatkannya akan bahaya.
Dengan tangan yang sedikit ragu, Anandara mengambil gunting dan memotong lakban yang menyegel kotak tersebut. Ia membuka penutup kardusnya.
Di dalam kotak itu, dilapisi bubble wrap yang tebal, terdapat sebuah kotak musik kayu vintage yang sangat familiar. Kotak musik berbentuk komidi putar kecil dengan ukiran kuda-kudaan yang catnya mulai mengelupas di beberapa bagian.
Napas Anandara seketika berhenti. Darah di sekujur tubuhnya seolah membeku menjadi bongkahan es dalam hitungan detik.
Itu adalah kotak musik miliknya. Kotak musik yang sering diputar oleh ibunya setiap malam untuk meninabobokannya saat ia masih berusia lima tahun. Benda itu hilang saat ibunya mengemasi barang-barang dan pergi meninggalkan mereka di malam badai jahanam bertahun-tahun yang lalu. Wanita itu membawanya.
Tangan Anandara mulai bergetar hebat saat ia melihat secarik kertas beraroma parfum Chanel No. 5 terselip di bawah kotak musik itu. Aroma parfum yang mengoyak memori traumatisnya dengan sangat brutal.
Dengan jemari yang gemetar dan napas memburu, Anandara membuka lipatan kertas itu. Tulisan tangan yang elegan dan bersambung menyapa matanya:
Anandara, putriku sayang.
Ibu tahu kamu memblokir nomor Ibu dan meminta sekolah merahasiakan semuanya. Tapi ikatan batin antara ibu dan anak tidak akan pernah bisa diputus oleh tembok apa pun. Ibu menyimpan kotak musik ini selama bertahun-tahun sebagai pengingat akan senyum manismu. Ibu dengar kamu kini kuliah di Universitas Pelita Bangsa. Ibu sangat bangga padamu.
Ibu akan terus mencoba, Sayang. Ibu tidak akan pernah menyerah sampai kamu mau memaafkan Ibu dan kita bisa berkumpul kembali. Ibu akan menemuimu lagi nanti. Ibu menyayangimu. Kertas itu terlepas dari genggaman Anandara, melayang jatuh ke atas lantai marmer.
Bruk! Anandara mundur beberapa langkah hingga punggungnya menabrak tepi ranjang. Ia kehilangan keseimbangannya dan jatuh terduduk di atas lantai. Tiba-tiba, udara di kamarnya yang luas terasa menguap habis. Dinding-dinding kamarnya seolah bergerak merangsek maju, menghimpitnya, mencekiknya hidup-hidup.
"Tidak... tidak mungkin..." racau Anandara dengan suara parau yang dipenuhi teror absolut. Ia mencengkeram rambutnya sendiri dengan kedua tangannya, menariknya dengan kuat. "Bagaimana dia tahu alamat rumah ini? Bagaimana dia tahu kampusku? Tidak... pergi! Pergi dari kepalaku!"
Luka lama yang selama ini ia tutup dengan logika dan plester keangkuhan, kini robek kembali. Bukan hanya sekadar robek, luka itu bernanah, membusuk, dan menyebarkan racun keputusasaan ke seluruh aliran darahnya. Bayangan ibunya yang tertawa di pelukan pria lain tumpang tindih dengan surat yang baru saja ia baca.
Wanita itu bukan manusia. Wanita itu adalah hantu yang menguntitnya. Monster yang tidak akan pernah melepaskannya. Tidak peduli setinggi apa pun tembok keamanan mansion ini, tidak peduli seberapa keras ia menolak, ibunya akan selalu menemukan cara untuk menerobos masuk dan mengacaukan kewarasannya.
Di saat yang bersamaan, rentetan stres emosional yang ia pendam selama beberapa hari terakhir—cintanya yang bertepuk sebelah tangan pada Angga, rasa cemburu yang menyiksa saat melihat Sinta tersenyum pada pemuda itu, dan rasa bersalah yang terus menerus menghantuinya—meledak bersamaan dengan trauma masa lalunya.
Otak jenius Anandara mengalami overload yang fatal. Logikanya hancur berantakan, dibajak sepenuhnya oleh kebencian pada diri sendiri.
Ibu akan terus mencoba, Sayang. Kalimat itu bergema di kepalanya.
"Aku adalah anak dari seorang pengkhianat," isak Anandara meraung dalam kesunyian kamarnya, air mata mengalir deras membasahi wajahnya yang seputih kertas. "Darahnya mengalir di nadiku. Aku sama egoisnya dengan dia! Aku hampir merebut Angga dari Sinta! Aku memiliki perasaan kotor ini di hatiku!"
Anandara merangkak mendekati meja, meraih kotak musik kayu itu dengan kasar. Ia menatap benda kenangan itu dengan rasa jijik yang luar biasa. Dengan sisa tenaga yang dipicu oleh amarah dan keputusasaan, Anandara membanting kotak musik itu ke lantai marmer dengan sekuat tenaga.
PRANG!
Kayu vintage itu pecah berkeping-keping. Mekanisme besi di dalamnya terlepas, berdenting memilukan. Kuda-kudaan kecilnya patah berserakan di atas lantai. Namun, menghancurkan benda itu tidak menghancurkan rasa sakitnya. Rasa sakit itu justru semakin membesar, menelannya ke dalam palung kegelapan yang tak berdasar.
Ia menatap pecahan besi pelatuk dari kotak musik itu. Benda itu bergerigi dan tajam.
Dalam keputusasaannya yang absolut, Anandara merasa hidupnya adalah sebuah kutukan. Jika ia terus hidup, ia tidak akan pernah bisa melarikan diri dari teror ibunya. Jika ia terus hidup, cepat atau lambat, darah pengkhianat di tubuhnya akan mengambil alih dan ia akan menghancurkan Sinta, satu-satunya orang yang ia sayangi, karena perasaan cintanya pada Angga yang menolak untuk mati.
Silsilah ini kotor. Rantai ini harus diputus, bisik iblis di dalam kepalanya, menawarkan sebuah solusi yang tampak sangat damai. Kematian adalah jalan keluar satu-satunya. Kematian adalah cara untuk melindungi ayahnya dan melindungi Sinta dari dirinya sendiri.
Anandara meraih serpihan besi tajam itu dengan tangan yang gemetar hebat. Ia menatap pergelangan tangan kirinya yang pucat, di mana pembuluh darah kebiruannya terlihat jelas. Matanya kosong. Jiwanya telah menyerah. Air matanya terus jatuh tanpa suara.
"Maafkan aku, Sinta," bisiknya di tengah isak tangis yang tertahan. "Lebih baik aku pergi sebelum aku menyakitimu. Berbahagialah dengan Angga. Tolong jaga ayahku."
Ia mendekatkan serpihan besi itu ke pergelangan tangannya. Ia menutup matanya, bersiap untuk menggoreskan garis akhir dari penderitaannya.
BRAAAK!
Pintu kamar Anandara didorong terbuka dengan sangat kasar hingga gagangnya membentur dinding dengan suara memekakkan telinga.
"NANDAAA!"
Jeritan histeris itu merobek atmosfer kamar yang dipenuhi hawa kematian.
Sinta berdiri di ambang pintu, napasnya memburu, dadanya naik turun dengan cepat. Gadis itu memang sudah berencana datang hari ini untuk mengajak Anandara belajar kelompok, dan Bi Inah mempersilakannya langsung naik ke atas. Namun, insting sahabat sejati yang selalu menuntun Sinta setiap kali nyawa Anandara terancam, membuatnya berlari menaiki tangga saat perasaannya mendadak tidak enak.
Mata Sinta membelalak horor melihat pemandangan di depannya. Sahabatnya duduk bersimpuh di lantai, dikelilingi pecahan kayu, wajahnya basah oleh air mata keputusasaan, dan tangannya sedang menggenggam serpihan besi tajam tepat di atas nadinya.
Sebelum otak Anandara sempat memproses kehadiran sahabatnya, Sinta sudah melesat seperti anak panah. Ia menerjang tubuh Anandara, menabraknya hingga mereka berdua jatuh berguling di atas karpet.
Besi tajam itu terlepas dari genggaman Anandara, terlempar ke sudut ruangan.
"Lo gila?! Lo mau ngapain, Anandara?!" teriak Sinta meraung, mencengkeram kedua bahu Anandara dan mengguncangnya dengan kasar. Air mata seketika meledak dari pelupuk mata Sinta. "Lo mau ninggalin gue?! Hah?! Jawab!"
Anandara yang berada di bawah kukungan Sinta, meronta dengan sisa tenaga yang ia miliki. Tangisannya pecah menjadi raungan yang luar biasa memilukan. Pertahanan Nyonya Es yang ia banggakan hancur lebur tanpa sisa.
"Lepaskan aku, Sin! Lepaskan!" jerit Anandara parau, memukul dada Sinta pelan, pukulan yang tak memiliki tenaga. "Biarin aku mati! Dia nemuin aku lagi, Sin! Ibuku nemuin aku lagi! Dia kirim barang itu, dia tahu kampusku! Dia hantu yang nggak akan pernah pergi!"
Sinta menoleh sekilas ke arah pecahan kotak musik dan sepucuk surat yang tergeletak di lantai. Ia langsung mengerti. Monster masa lalu itu kembali mengoyak kewarasan sahabatnya.
"Terus kenapa kalau dia tahu alamat lo?! Terus kenapa kalau dia tahu kampus lo?!" bentak Sinta menembus isakan Anandara, suaranya bergetar karena amarah dan rasa takut kehilangan yang luar biasa besar. Sinta melepaskan cengkeramannya dari bahu Anandara, berpindah memeluk tubuh rapuh itu dengan sangat erat, mendekapnya hingga tak ada jarak di antara mereka.
"Aku darah dagingnya, Sinta!" Anandara menangis sejadi-jadinya di pelukan sahabatnya, menenggelamkan wajahnya di bahu Sinta. "Aku mewarisi sifatnya! Aku ini pengkhianat! Aku akan nyakitin orang-orang di sekitarku! Aku akan nyakitin kamu, Sin! Kalau aku tetap hidup, aku pasti akan menyakitimu!"
Mendengar racauan keputusasaan itu, Sinta mengelus rambut Anandara dengan kasar, menciumi puncak kepala sahabatnya berkali-kali.
"Lo dengerin gue, Nanda!" Sinta menangkup kedua pipi Anandara yang basah oleh air mata, memaksa gadis jenius itu untuk menatap lurus ke dalam matanya yang menyalang penuh ketegasan. "Lo bukan ibu lo! Sampai mulut gue berbusa pun gue bakal terus teriak kalau lo bukan dia! Lo Anandara Arunika! Lo cewek paling jenius, paling kuat, dan sahabat paling setia yang pernah gue punya!"
"Tapi di hatiku ada perasaan kotor—"
"Gue nggak peduli!" potong Sinta dengan cepat, air matanya menetes jatuh ke pipi Anandara. Sinta tidak tahu perasaan kotor apa yang dimaksud sahabatnya—ia tidak tahu soal Angga—namun bagi Sinta, tidak ada satu dosa pun yang bisa membuat Anandara pantas mati. "Perasaan apa pun yang lo punya, ketakutan apa pun yang lo simpan, kita hadapin sama-sama! Lo ingat janji kita di atap sekolah dulu?! Kalau lo loncat, gue loncat! Kalau lo mati hari ini pakai besi sialan itu, gue bakal ambil besi yang sama dan mati di sebelah lo detik ini juga!"
Kata-kata Sinta, sumpah yang dibalut oleh pengorbanan dan kesetiaan buta itu, menghantam telak sisa-sisa kesadaran Anandara. Ancaman konyol itu selalu berhasil. Sinta selalu menggunakan nyawanya sendiri sebagai sandera untuk menahan Anandara tetap membumi.
Anandara menatap mata Sinta. Mata yang selalu tulus, mata yang selalu menjadi rumahnya, satu-satunya tempat di dunia ini di mana ia tidak dihakimi.
Perlahan, tubuh Anandara yang menegang dan meronta mulai melemas. Tenaganya terkuras habis. Napasnya tersengal-sengal. Ia menjatuhkan kembali kepalanya ke bahu Sinta, memeluk tubuh gadis ceria itu dengan sangat putus asa, seolah Sinta adalah pelampung terakhir di tengah samudra yang sedang mengamuk.
"Aku takut, Sinta... Aku sangat takut..." rintih Anandara sangat lirih, suaranya nyaris menghilang di antara isakan. "Tolong aku... Aku nggak mau jadi jahat."
Sinta mempererat pelukannya, ikut menangis tersedu-sedu melihat betapa hancurnya jiwa gadis yang selama ini terlihat begitu tak tersentuh di kampus. Nyonya Es itu hanyalah seorang anak perempuan yang terluka parah dan ketakutan akan bayang-bayangnya sendiri.
"Lo aman, Nanda. Ada gue. Gue di sini," bisik Sinta terus-menerus, mengusap punggung Anandara yang bergetar. "Dia nggak akan bisa nyentuh lo. Kalau dia berani datang ke kampus, gue yang bakal hadapin dia duluan. Gue yang bakal usir dia. Lo nggak sendirian lagi, Nan. Lo punya gue. Lo punya rumah."
Di dalam pelukan Sinta yang hangat dan dipenuhi oleh afirmasi cinta tanpa syarat, badai di kepala Anandara perlahan mulai mereda. Bau parfum Sinta yang menenangkan mengalahkan ilusi bau parfum ibunya. Detak jantung Sinta yang berdegup cepat menjadi metronom yang menstabilkan napas Anandara.
Selama hampir satu jam, mereka hanya duduk berpelukan di lantai kamar yang dingin itu, saling menangis, menyatukan rasa sakit dan mengobatinya dengan air mata.
Ketika tangisan Anandara akhirnya berhenti dan menyisakan napas yang teratur meski masih diselingi isakan kecil, gadis itu menyandarkan kepalanya di dada Sinta dengan lemas. Matanya yang sembab menatap nanar ke arah pecahan kotak musik yang berserakan.
Di detik itu, di dasar palungnya yang paling dalam, sebuah kesimpulan yang sangat kejam namun mutlak kembali mengeras.
Sinta baru saja menyelamatkan nyawanya untuk kedua kalinya. Sinta membuktikan bahwa ia rela mati demi melindungi Anandara dari hantu masa lalunya. Persahabatan ini terlalu suci, terlalu murni, dan terlalu mahal untuk dihancurkan oleh perasaan egois bernama cinta.
Jika Sinta rela menyerahkan nyawanya untukku, batin Anandara merintih pedih, sebuah ikrar darah yang ia patenkan di dalam hatinya. Maka menyerahkan perasaanku pada Angga untuknya adalah hal yang sangat kecil. Aku tidak akan pernah merebut kebahagiaan Sinta. Aku lebih baik mati daripada melihat air mata kekecewaan di mata sahabatku.
Malam itu, luka akibat teror sang ibu memang kembali bernanah, namun Sinta dengan sabar membersihkan nanah itu dan membalutnya kembali dengan kasih sayang. Dan bagi Anandara, kejadian ini menjadi segel abadi. Ia tidak akan pernah membiarkan dirinya jatuh ke pelukan Angga Raditya. Ia akan menjadi jembatan besi yang kokoh, rela diinjak dan kedinginan, asalkan Sinta bisa menyeberang menuju kebahagiaannya bersama pemuda bermata elang itu. Tidak peduli seberapa hancur hatinya nanti.
pengamat Senja_