NovelToon NovelToon
Buronan Cinta 'Pak Komisaris'

Buronan Cinta 'Pak Komisaris'

Status: sedang berlangsung
Genre:Dark Romance / Cinta Terlarang / Enemy to Lovers
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Elprasco

Kehidupan Rafan sebagai komisaris polisi menjadi kacau balau setelah bertemu dengan gadis cantik bernama Myra.

Kriminal kejam yang selama ini ia cari, tak sengaja datang ke hadapannya menjelma bagai malaikat.

Bagaimana Rafan menahan diri agar tidak terseret pada kegilaan semata?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7 tahun lalu

Angin berembus liar, mempermainkan helai rambut gadis itu yang terikat tinggi. Myra berdiri tegak di tengah padang rumput luas, area privat yang menjadi saksi bisu latihan keras mereka selama ini. Balutan kemeja kuning longgar dan celana ketat hitamnya memberikan kesan kontras, ramping namun tampak tangguh.

"Pagi yang indah," gumam Myra, bibirnya melengkung tipis namun matanya sibuk memindai cakrawala. "Tapi kenapa dia belum datang?"

Menit merayap lambat. Rasa bosan mulai menggerogoti kesabaran Myra. Ia berjongkok, menopang dagu dengan tangan yang masih menggenggam bumerang. Ia memutar-mutar benda kayu itu dengan gerakan gelisah.

"Sial, kemana anak itu? Tidak biasanya dia terlambat," gerutu Myra. Matanya berkali-kali melirik ke arah rumah besar di ujung lapangan. "Padahal aku sudah menyiapkan senjata baru untuk dipamerkan."

Myra mendengus. "Apa aku harus menjemputnya? Ck! merepotkan saja."

Dalam puncak kekesalan, Myra melempar bumerang itu asal ke udara. Nasib buruknya bermain di waktu yang tidak tepat. Benda itu melayang tinggi, membelah angin, lalu tersangkut sempurna pada dahan pohon rindang yang menjulang tinggi di tepi lapangan.

"Argh, kenapa harus nyangkut, sih?!"

Myra berlari ke bawah pohon, meloncat-loncat kecil dengan tangan terulur, mencoba menggapai. Tubuhnya yang mungil tak cukup untuk menjamah dahan setinggi itu.

"Turun tidak! Jangan menyusahkanku!" teriaknya sambil mengacungkan telunjuk ke arah dahan, seolah benda mati itu bisa mendengar perintah.

Napasnya mulai terengah. Keringat tipis membasahi kening. Akhirnya, Myra menyerah. "Huft, biarlah. Nanti saja aku ambil. Lebih baik aku susul Yosep---biar dia yang kupaksa memanjat pohon ini."

Myra berbalik, langkah kakinya yang kecil namun tegas membawanya melewati pintu taman menuju interior rumah. Melewati dapur dan ruang santai dengan langkah terburu-buru, matanya terus mencari keberadaan sang Tuan Muda.

"Anak itu hilang ke mana, sih?" Mengernyit kesal, Myra berlari menaiki tangga.

Di lorong panjang yang sunyi, ia berpapasan dengan seorang pelayan. "Tunggu! Kamu melihat Yosep?"

Pelayan itu menunduk dalam, tak berani menatap mata Myra. "Tuan Muda sedang bersama Tuan Besar di ruang kerja, Nona."

"Ruang kerja?" Myra menduga-duga. "Kenapa dia tidak bilang kalau mau bertemu Ayah? Sia-sia aku menunggu di luar."

"Ya sudah. Pergilah," perintah Myra datar. Pelayan itu segera berlalu setelah memberikan hormat.

Myra mengepalkan tangannya. "Dasar sialan, beraninya membuatku menunggu."

Tap... Tap... Tap...

Hentakan sepatunya bergema di lorong sunyi. Myra membayangkan lantai itu sebagai wajah Yosep yang ingin ia injak. Myra berhenti tepat di depan pintu jati berukuran besar yang tidak tertutup rapat. Ada celah kecil di sana.

Myra mengendap, menjinjitkan kaki, dan mengintip ke dalam. Di sana, Amran dan Yosep duduk berhadapan. Tumpukan berkas dan hidangan ringan berserakan di meja, namun suasana di dalam terasa begitu berat dan menyesakkan.

Amran menyesap minumannya sebelum berbicara dengan nada bariton yang dalam. "Jika urusan dokumen ini sudah selesai, ada hal lain yang ingin kukatakan."

"Apa itu?" Yosep menutup berkasnya, wajahnya sedatar papan.

Myra menempelkan telinganya ke celah pintu, menahan napas agar tak ketahuan.

"Aku senang kamu lulus dengan nilai terbaik. Sekarang, saatnya kamu menerima tugas resmi dariku," ujar Amran dengan suara yang merendah, penuh wibawa sekaligus tekanan.

"Apa ini berhubungan dengan bisnis Ayah?"

"Iya. Setelah ini kamu harus melanjutkan sekolah di Amerika. Belajarlah bisnis di sana sebelum mengambil alih seluruh bisnis keluarga."

"Amerika?" Yosep tampak terkejut, suaranya sedikit meninggi.

"Semua sudah kusiapkan. Universitas, tempat tinggal, semuanya."

"Amerika?!" Jantung Myra serasa berhenti berdetak. Dadanya sesak. Bagaimana bisa pria tua itu memutuskan semuanya secara sepihak? Dan bagaimana dengan nasibnya di sini?

"Jadi, bagaimana keputusanmu?" Amran menatap lekat putra tunggalnya.

"Jika itu perintah ayah, maka akan kulakukan," jawab Yosep tanpa ragu.

BLAR! Dunia Myra seakan runtuh. Kecewa menjalar ke setiap sarafnya. Kenapa Yosep setuju begitu saja? Apa pendapatnya tidak berarti sama sekali bagi pria itu?

"Bagus. Aku sudah menyiapkan pengawal yang akan mengawalmu di sana. Ingat, tugasmu bukan hanya mengejar gelar, tapi menyebarluaskan pengaruh keluarga kita."

"Aku paham."

"Ya sudah, kamu boleh pergi. Jangan biarkan dia menunggumu terlalu lama," ujar Amran dingin, matanya melirik ke sela pintu tempat sepatu kecil Myra terlihat.

Yosep menoleh seketika. Tanpa suara, ia bangkit dan berjalan menuju pintu. Myra terjingkat mundur, meski terlambat. Pintu terbuka sepenuhnya.

"Apa tidak sekalian kamu masuk ke dalam? Biar kusiapkan teh untukmu," celetuk Yosep, nadanya sinis.

"Hh! Aku tidak dengar apa pun!" Myra berseru panik, wajahnya memerah karena tertangkap basah. Ia mundur perlahan saat Yosep melangkah keluar dan menutup pintu rapat-rapat.

"Mau ke mana?" Yosep menghentikan langkah Myra dengan satu tatapan tajam.

"Aku... aku baru datang, sumpah! Aku tidak dengar apa pun," imbuh Myra, mencoba memasang wajah polos meski jantungnya berdegup kencang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!