NovelToon NovelToon
Nikah Paksa Gus Soft Boy Dan Cewek Bengkel

Nikah Paksa Gus Soft Boy Dan Cewek Bengkel

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Pernikahan Kilat / Cinta setelah menikah
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: Inna Kurnia

Santaka, anak dari pemilik pesantren besar di Solo—yang berprofesi sebagai chef pastry—terpaksa menikah dadakan dengan Nandini, tetangga sekaligus montir bengkel langganannya.

ini semua karena mereka tertangkap basah di mobil Santaka dalam kondisi mengundang fitnah.

"Gus Taka dan Dini tertangkap di mobil! Suaranya mencurigakan, apalagi baunya..."

Itu kesaksian pihak yang menangkap basah. Tak tanggung-tanggung, tiga orang jadi saksi.

Bisakah Santaka—gus yang lembut—menjadi imam bagi Nandini—montir bengkel yang keras?

Kini kehidupan Nandini bukan lagi tentang oli dan kunci inggris, tapi umat dan pesantren. Sanggupkah sang montir bengkel?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inna Kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

09 Bulan Madu

Nandini menarik ritsleting koper. Ia sudah selesai berkemas pakaiannya untuk bulan madu esok. Sebelumnya ia sudah merapikan kebutuhan Santaka. 

Pakaian serta kebutuhan milik Nandini dan sang suami, dimasukkan ke dalam koper yang sama. Latihan nyata menjadi istri salihah, telaten mengurus suami. Terasa seperti ospek baginya.

Santaka tersenyum simpul. “Dhuh, istriku telaten tenan.”

“Opo tho Gus, ndak ada siapa-siapa juga. Jangan akting lagi. Ndak capek akting terus?” Nandini mencibir.

“Siapa yang akting, Mbak? Kan ini upaya saya bikin Mbak nyaman. Biar rasa cinta di antara kita bisa tumbuh. Ini tanggung jawab saya.”

Nandini menyelipkan kepalanya ke bawah bantal. Frustasi. Bukannya ia tak suka dengan perlakuan manis laki-laki. Ia bisa terjebak dalam hubungan beracun dengan Alex juga karena manisnya mulut dan sikap Alex.

Masalahnya hati Nandini belum rela dengan pernikahan ini. Hatinya belum menerima jika kini ia adalah istri seorang gus—yang walaupun ganteng—tapi bukan sosok yang ia idamkan sebagai suami.

Santaka menipiskan bibirnya. Istrinya ini hobi sekali menguji imannya. Aksi stress Nandini itu terlihat menggoda baginya. Menungging di kasur dengan kepala tersembunyi bantal. 

Santaka memilih berwudu kemudian membaca mushaf. Berdoa, memohon kemudahan dari Allah agar ia bisa menjadi imam yang baik. Dan pastinya, meminta kelembutan hati istrinya. Bisa legowo dengan statusnya saat ini.

*

*

Santaka menarik kopernya menuju garasi mobil Ndalem. Nandini berjalan di sampingnya. Ia menengadahkan tangan kepada sang suami. Santaka mengernyitkan alisnya.

“Kenapa Mbak, mau minta jajan?”

“Ck, bukan. Biar saya yang panasin mobil. Please Gus, saya belum megang mesin berhari-hari. Hidup saya kosong Gus. Tolonglah saya...” Nandini bersikap dramatis.

Santaka tersenyum simpul. “Ada syaratnya. Mbak Dini boleh panasin mobil, tapi nanti Mbak Dini harus turutin permintaan saya. Gantian.”

Nandini memanyunkan bibirnya. “Segitunya tho Gus, perkara panasin mobil tok.”

“Yo wis, kalau ndak mau.” Santaka berjalan ke arah mobilnya.

Nandini memejamkan matanya. Gimana caranya aku bisa nyaman sama kamu, Gus, kalau apa-apa jadi modus?

“Iya, Gus Taka, kita tuker permintaan. Mana kunci mobilnya.” Dengan langkah menghentak Nandini menyusul Santaka.

Santaka tersenyum lebar. “Silakan, Mbak.” Nandini mengambil kunci itu dengan kasar. Mulutnya meruncing. 

Nandini memutar kunci kontak. Berada di dekat mesin, membuat suntuknya agak menguap. Ia membuka kap mobil. Mengecek kesiapan mesin sebelum perjalanan ke tempat bulan madu.

Santaka memasukkan koper ke dalam bagasi. Ia menghampiri istrinya di depan mobil.

Ahsan yang melintas di dekat garasi, menghampiri Nandini. “Dini...”

Santaka mengerutkan dahi mendengar panggilan Ahsan terhadap istrinya. “Mbak Dini, Gus Ahsan. Tolong dijaga adabnya.”

Ahsan hanya tersenyum miring. “Enak ya Gus, mau jalan ada yang ngecekin mesinnya.

Fii amanillah Gus Taka, Mbak Dini.” Ahsan mengurungkan niatnya untuk mengajak ngobrol Nandini. Ada pawangnya. Pawang yang klemer-klemer.

Nandini tersenyum ke arah Ahsan. Santaka menggelengkan kepala. Ia selalu dianggap pemberontak hanya karena tidak mengajar di pondok.

Padahal ada sosok yang liar di dalam pondok, bahaya latennya lebih nyata. Sepupu Santaka, Ahsan.

*

*

Santaka melirik istrinya yang tampak sibuk mengunyah. Pipinya membulat. “Enak, Mbak?” 

“Enak, Gus.” Nandini meringis sampai giginya terlihat. “Terima kasih ya, sudah bikinin bekel roti bakar seenak ini.” 

“Saya bisa buatin itu buat Mbak selamanya. Itu tekad saya sejak awal bisa masak. Saya akan senangkan perut istri saya dengan keahlian saya.”

Nandini menunduk dan menggigit bibirnya. Ini lagi ngasih informasi apa ngerayu sih. Samar-samar kedengerannya.

Santaka menarik rem tangan mobilnya. Mereka telah tiba di tempat bulan madu. Tawangmangu. 

Dari sekian banyak destinasi wisata, Danendra memberikan paket glamping bagi mereka. Sungguh pengertian—bagi Santaka—namun sangat mengerikan bagi Nandini.

“Masih muat makanan lagi ndak Mbak? Kita makan sate kelinci dulu.”

“Gas, Gus!” Dengan ceria, Nandini turun dari mobil. Santaka tersenyum.

Sate kelinci sukses menjadi pengikat mereka di pagi menuju siang itu. Santaka dan Nandini mengobrol ringan sambil mengunyah daging lembut binatang bergigi besar itu. 

Obrolan mereka seputar Al Fatih, bengkel Surbakti dan toko kue Santaka. Topik umum saja namun suatu kemajuan bagi sepasang suami istri yang masih asing itu.

Setelah kenyang mereka menuju ke air terjun Grojogan Sewu. Ada lebih dari seribu anak tangga yang masih harus mereka titi. 

Nandini dan Santaka menuruni anak tangga menuju air terjun. Tiba-tiba Nandini berseru, "ayo Gus, lomba, yang kalah joget depan Gus Yasa.” Nandini langsung berlari, mencuri start.

Santaka langsung mengejar istrinya. Mereka tiba hampir bersamaan, dalam derai tawa. Santaka menubruk tubuh Nandini.

“Dhuh, ini tempat luas, pake nubruk saya. Modusmu, Gus!” semprot Nandini. Santaka tergelak.

“Saya menang! Gus, joget ya nanti depan Gus Yasa. Pasti mukanya langsung kayak batu, kaku, liat Gus joget, hahaha...”

“Saya sengaja kalah. Saya ndak rela Mbak Dini joget depan laki-laki lain.” Santaka tersenyum simpul. Nandini mencebikkan bibir. Ia memalingkan wajahnya dari sang suami.

“Gus, saya copot rok ya. Repot tenan ini.” Nandini menggunakan rok panjang dan tunik. Satu set dari sekian set baju yang disediakan Lastri untuknya.

“Jangan... nanti saja di kamar.” Santaka tersenyum usil. 

“Hihh... kenapa jadi ke kamar? Saya pake celana legging kok. Panjang. Jadi ketutup.”

Santaka menipiskan bibir. “Menurut Mbak Dini pakai legging di tempat umum, sesuai syariat ndak?” Nandini terdiam. Kepalanya perlahan menggeleng.

“Nah sudah tau kan alasannya apa. Jadi nanti saja kalau mau dicopot... di ka-mar.” Santaka tersenyum sambil mengangkat alisnya. 

Nandini merengut. Kamar lagi. Ampun modusmu, Gus. Alimnya cuma depan orang, aslinya otaknya berkabut.

Jangan bayangkan tiket glamping yang diberikan Danendra adalah glamping di semacam villa. Kakak kedua Santaka itu memesankan paket Korean Glamping. Tidur di tenda modern.

Nandini melongo melihat tenda itu. Tempat tidurnya—yang langsung menjadi fokus utama Nandini— terdiri dari dua kasur tunggal disatukan. Ada dua bantal dan dua selimut. Tak ada guling! 

“Gus Nendra, uangnya kurang apa gimana, ndak kuat nyewa glamping villa?” Nandini mencibir. Santaka terkekeh.

“Biar kita makin deket maksudnya, Mbak.” Santaka mengerlingkan netranya. 

Nandini memutar bola matanya. Ia memilih keluar. Udara tenda terasa pengap baginya.

Karena modelnya adalah tenda maka buang hajat atau mandi menggunakan fasilitas umum. Santaka kukuh mengantar Nandini mandi sebelum Magrib. 

Pria itu sudah mandi duluan. Nandini tadi asyik makan sisa roti bakar buatan Santaka.

“Saya bisa sendiri, Gus.”

“Ndak, takutnya nanti ada yang ngintip.” 

Nandini mencebik. “Aman lah. Saya juga pasti cek cek dulu.”

“Ya ndak apa-apa. Lebih aman kalau ada saya,” tutur Santaka kalem.

“Malah saya khawatir, Gus yang ngintip.” Nandini memiringkan bibirnya. Santaka tergelak.

“Mbak, sampeyan baru kasih saya inspirasi.” Santaka menaik-turunkan alisnya. 

Nandini mendelikkan matanya. Ia langsung berlari. Santaka mengejarnya sambil tertawa kecil.

Malamnya, Santaka membuatkan makan malam berupa mie instan rebus. Jangan bayangkan mie instan standar warmindo. 

Dengan keahlian memasaknya, ia membuat racikan dari berbagai saus yang dibawa khusus dari rumah. Ditambah chili oil buatannya sendiri, cita rasa mie instan buatan Santaka adalah next level.

Nandini tersenyum tipis. Ia bagaikan putri yang dilayani oleh Santaka. Tak ada yang pernah memperlakukannya semanis ini.

Santaka menawari menyuapi Nandini. Alasannya sunnah. Nandini menolaknya. Alasannya, repot. Sungguh alasan yang sangat duniawi.

Hobi tenan sih, Gus, suap-suapan. Nandini risih. Santaka kadang-kadang mengelus bibirnya kalau menyuapi. Merinding Nandini dibuatnya.

Setelah selesai salat Isya di dalam tenda, mereka bersiap tidur. Nandini merengut. Tak ada guling bagai tak ada perisai pelindung dalam berperang.

“Kenapa tho Mbak?” Santaka menghamparkan selimut di kakinya. Udara Tawangmangu makin malam makin dingin.

“Ndak ada guling, Gus. Inget janji sampeyan, ndak ada begitu-begitu sampai saya siap. 

Jadi jangan macem-macem ya malem ini. Dhuh, kasurnya sempit lagi.” Bibir Nandini mengerucut.

“Kalau pemanasan sebelum begitu, berarti boleh?” Santaka tersenyum usil.

“Boleh... boleh ditampar.”  Nandini menjulurkan lidahnya. Santaka terkekeh.

Mereka akhirnya tertidur dalam balutan selimut masing-masing. Semakin larut, dingin semakin mengigit. Menelusup ke celah tenda.

Nandini membuka matanya. Ia terdiam. Ia merasa mendengar detak jantung halus di telinga kirinya. 

Beban terasa melingkar diagonal dari punggung ke pinggul. Bantalnya empuk, empuk yang berbeda.

Mata Nandini mengerjap. Setelah kesadarannya pulih, ia terduduk cepat. Bagaimana bisa ia jadi tertidur di pelukan Santaka??

1
Aisyah Virendra
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
pas mau Unboxing ehhhh passa tamu tak diundang datang tanpa kodess 😤🤣🤣🤣 ditunda minggu depan yaaa Takaaa 😆
Inna Kurnia: saaabaaar 😂😂
total 1 replies
Nanik Arifin
Sabara ya Gus.... Insyaa sekali lsg jadi, kan g lemah 🤭🤭
Inna Kurnia: joss yaa Kak Nanik 😂😂
total 1 replies
Nanik Arifin
kapok loe, yai sableng 🤣🤣🤣
istri Gus Taka, te ou pe be ge te. aku padamu mb Dini... 😘😘
Inna Kurnia: 🤣🤣🤣🤣🤣 yai baik kok 🤭🤭
total 3 replies
Aisyah Virendra
2 kataaaa...
Rasainnnn kelennnn 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Inna Kurnia: siaaap kakak, pantengin terus yaaa❤️🙏
total 5 replies
Nanik Arifin
kan... belain kesalahan Ahsan lagi... dah suruh yai Mahmud bawa pulang si Gus ganjen ke Al Irsyad Magelang lagi. bikin geregetan aj.
Rasain Ahsan, emang enak lihat bekas kemesraan Taka & Dini... ? suruh tuh abahmu belain kamu, agar Taka kena sanksi Krn bekas mesranya Taka+ Dini terlihat. biar semua sadar, siriknya si Mahmud+ Ahsan
g tidur ah, nungguin Ahsan + Yai Mahmud angkat kaki balik ke Magelang 😄😄
Inna Kurnia: tidur kak, apa mau ditemenin ahsan tidurnya?🤭😂
total 1 replies
Aisyah 3
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
panaaaaassss nihhhh Ahsannn panass yaaaaa.... yaaa panassss dongggg pastinyaaaa 🤣🤣😏 Nandini ituu sama Santaka udah saling sayang saling cinta jadi otomatis saling menguatkan satu sama lainn.. kamuuu iriiiiii ? ya tentu sajaaaa, maka nikmati dg baikkkk wahai sampahhhh pondok 😏😏😏😤
Inna Kurnia: 😂😂😂😂😂😂
total 3 replies
Aisyah 3
Mahmud kmu bosan hidup yaaa.... tancep paku nih palamu biar kek mbak kunti 😏😤
Inna Kurnia: wkwkw, serem kali si kakak 🤭😂
total 1 replies
Nanik Arifin
putramu yai Mahmud... 🤦🏻‍♀️ yg dlu sikapnya kau menangkan dr Gus Taka ( hg sptnya membuatTaka memiliki trauma) tetap aj kalah dr putra bungsu yai Mansyur
semoga Gus Abi bijak dlm mensikapi. tendang aj Ahsan dr Al Fatih. biar dia penerus PP Al Irsyad aj
Inna Kurnia: Ahsan kebanyakan maen motor, Kak Nanik, jadi masuk angin ampe ke pemikirannya 🤭❤️🙏
total 1 replies
Aisyah 3
Duh belibet kali lah ngomongnya... muak pulaaa 😏 tabok aja gin langsung pala nya Ahsan tuh.. geram banget, ciriciri manusia sampahhh nih 😤
Aisyah 3: gaskuy kak.. sebelum ganti akun, aku mau tidur 🤣
total 4 replies
Zafira Nisa
Bagus.. ceritanya menarik, GK pasaran
Inna Kurnia: alhamdulillah, semoga cocok sampai tamat ya Kak Zafira ❤️❤️

terima kasih untuk penilaiannya ❤️🙏
total 1 replies
Nanik Arifin
Abi atau Danendra ya tegur Ahsan ya... semoga mereka segera sadar & mendepak Ahsan. agar tak jd duri dlm daging di ponpes Al Fatih
Inna Kurnia: Sensornya pada lemah kalo sama sesama gus, sama Dini kenceng bgt ya kalau salah, ya Kak Nanik 🤭
total 1 replies
Aisyah Virendra
pliss deh tabok aja muka Ahsan dan bapakny.. gemes banget deh pen nyolok juga matanya jelalatan ke istri orang 😏😏
Aisyah Virendra: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 4 replies
Aisyah Virendra
dih... pimpinan pondok ko merokokny ngebut.. lagi pula merokok itu bagian dari pemborosan dan banyak mudhorotnya untuk kesehatan tubuh.
Inna Kurnia: 🤣🤣🤣🤣🤣 🤣🤣
total 11 replies
Nadia Zalfa
pngen lihat klu si polisi kena ujian mau gimana itu
Inna Kurnia: Hihihi, sabar ya Kak Nadia... nanti Sarah pelan-pelan makin... nyebelin, hehehhe... Sarah baik kok, asli 🤭❤️🙏
total 1 replies
Nanik Arifin
yg nunggu unboxing, unboxingnya bulan depan ya.... 🤭
Inna Kurnia: Biar saling mengenal dulu Kak Nanik, jd joss ntar 🤭❤️🙏
total 1 replies
Rian Moontero
mampiiirr😍
Inna Kurnia: Hi, Kak Rian, selamat datang. Semoga cocok ya sama cerita Santaka-Nandini. terima kasih ❤️❤️🙏🙏
total 1 replies
Aisyah Virendra
Diiihhh Ahsan jangan kira bisa ngerebut Dini dari Taka yaaa.. minta ditendang ke pluto kek nya 😏
Inna Kurnia: duh, jauh banget, Kak 🤣🤣
total 1 replies
Aisyah Virendra
duh jadi mesam mesem dewe 🤣🤣🤣🤣🤣 akhirnya Ahsan kena sentil Santaka 🫣
Inna Kurnia: aamiin ya Allah.❤️❤️🙏🙏
total 5 replies
Aisyah Virendra
bentar lagiiii ngintip unboxing Gus Taka n Nandini ah 🫣🤣🤣 seru kek nyaaa 🤏🤭
Inna Kurnia: ❤️❤️🙏🙏
total 5 replies
Aisyah Virendra
aihhhh mulai deh jurus Uler keketnya Syifa keluar.. katanya Ning tapi ko anuhh 🫣
Inna Kurnia: Ning juga manusia kak 🤭❤️🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!