Santaka, anak dari pemilik pesantren besar di Solo—yang berprofesi sebagai chef pastry—terpaksa menikah dadakan dengan Nandini, tetangga sekaligus montir bengkel langganannya.
ini semua karena mereka tertangkap basah di mobil Santaka dalam kondisi mengundang fitnah.
"Gus Taka dan Dini tertangkap di mobil! Suaranya mencurigakan, apalagi baunya..."
Itu kesaksian pihak yang menangkap basah. Tak tanggung-tanggung, tiga orang jadi saksi.
Bisakah Santaka—gus yang lembut—menjadi imam bagi Nandini—montir bengkel yang keras?
Kini kehidupan Nandini bukan lagi tentang oli dan kunci inggris, tapi umat dan pesantren. Sanggupkah sang montir bengkel?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inna Kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
09 Bulan Madu
Nandini menarik ritsleting koper. Ia sudah selesai berkemas pakaiannya untuk bulan madu esok. Sebelumnya ia sudah merapikan kebutuhan Santaka.
Pakaian serta kebutuhan milik Nandini dan sang suami, dimasukkan ke dalam koper yang sama. Latihan nyata menjadi istri salihah, telaten mengurus suami. Terasa seperti ospek baginya.
Santaka tersenyum simpul. “Dhuh, istriku telaten tenan.”
“Opo tho Gus, ndak ada siapa-siapa juga. Jangan akting lagi. Ndak capek akting terus?” Nandini mencibir.
“Siapa yang akting, Mbak? Kan ini upaya saya bikin Mbak nyaman. Biar rasa cinta di antara kita bisa tumbuh. Ini tanggung jawab saya.”
Nandini menyelipkan kepalanya ke bawah bantal. Frustasi. Bukannya ia tak suka dengan perlakuan manis laki-laki. Ia bisa terjebak dalam hubungan beracun dengan Alex juga karena manisnya mulut dan sikap Alex.
Masalahnya hati Nandini belum rela dengan pernikahan ini. Hatinya belum menerima jika kini ia adalah istri seorang gus—yang walaupun ganteng—tapi bukan sosok yang ia idamkan sebagai suami.
Santaka menipiskan bibirnya. Istrinya ini hobi sekali menguji imannya. Aksi stress Nandini itu terlihat menggoda baginya. Menungging di kasur dengan kepala tersembunyi bantal.
Santaka memilih berwudu kemudian membaca mushaf. Berdoa, memohon kemudahan dari Allah agar ia bisa menjadi imam yang baik. Dan pastinya, meminta kelembutan hati istrinya. Bisa legowo dengan statusnya saat ini.
*
*
Santaka menarik kopernya menuju garasi mobil Ndalem. Nandini berjalan di sampingnya. Ia menengadahkan tangan kepada sang suami. Santaka mengernyitkan alisnya.
“Kenapa Mbak, mau minta jajan?”
“Ck, bukan. Biar saya yang panasin mobil. Please Gus, saya belum megang mesin berhari-hari. Hidup saya kosong Gus. Tolonglah saya...” Nandini bersikap dramatis.
Santaka tersenyum simpul. “Ada syaratnya. Mbak Dini boleh panasin mobil, tapi nanti Mbak Dini harus turutin permintaan saya. Gantian.”
Nandini memanyunkan bibirnya. “Segitunya tho Gus, perkara panasin mobil tok.”
“Yo wis, kalau ndak mau.” Santaka berjalan ke arah mobilnya.
Nandini memejamkan matanya. Gimana caranya aku bisa nyaman sama kamu, Gus, kalau apa-apa jadi modus?
“Iya, Gus Taka, kita tuker permintaan. Mana kunci mobilnya.” Dengan langkah menghentak Nandini menyusul Santaka.
Santaka tersenyum lebar. “Silakan, Mbak.” Nandini mengambil kunci itu dengan kasar. Mulutnya meruncing.
Nandini memutar kunci kontak. Berada di dekat mesin, membuat suntuknya agak menguap. Ia membuka kap mobil. Mengecek kesiapan mesin sebelum perjalanan ke tempat bulan madu.
Santaka memasukkan koper ke dalam bagasi. Ia menghampiri istrinya di depan mobil.
Ahsan yang melintas di dekat garasi, menghampiri Nandini. “Dini...”
Santaka mengerutkan dahi mendengar panggilan Ahsan terhadap istrinya. “Mbak Dini, Gus Ahsan. Tolong dijaga adabnya.”
Ahsan hanya tersenyum miring. “Enak ya Gus, mau jalan ada yang ngecekin mesinnya.
Fii amanillah Gus Taka, Mbak Dini.” Ahsan mengurungkan niatnya untuk mengajak ngobrol Nandini. Ada pawangnya. Pawang yang klemer-klemer.
Nandini tersenyum ke arah Ahsan. Santaka menggelengkan kepala. Ia selalu dianggap pemberontak hanya karena tidak mengajar di pondok.
Padahal ada sosok yang liar di dalam pondok, bahaya latennya lebih nyata. Sepupu Santaka, Ahsan.
*
*
Santaka melirik istrinya yang tampak sibuk mengunyah. Pipinya membulat. “Enak, Mbak?”
“Enak, Gus.” Nandini meringis sampai giginya terlihat. “Terima kasih ya, sudah bikinin bekel roti bakar seenak ini.”
“Saya bisa buatin itu buat Mbak selamanya. Itu tekad saya sejak awal bisa masak. Saya akan senangkan perut istri saya dengan keahlian saya.”
Nandini menunduk dan menggigit bibirnya. Ini lagi ngasih informasi apa ngerayu sih. Samar-samar kedengerannya.
Santaka menarik rem tangan mobilnya. Mereka telah tiba di tempat bulan madu. Tawangmangu.
Dari sekian banyak destinasi wisata, Danendra memberikan paket glamping bagi mereka. Sungguh pengertian—bagi Santaka—namun sangat mengerikan bagi Nandini.
“Masih muat makanan lagi ndak Mbak? Kita makan sate kelinci dulu.”
“Gas, Gus!” Dengan ceria, Nandini turun dari mobil. Santaka tersenyum.
Sate kelinci sukses menjadi pengikat mereka di pagi menuju siang itu. Santaka dan Nandini mengobrol ringan sambil mengunyah daging lembut binatang bergigi besar itu.
Obrolan mereka seputar Al Fatih, bengkel Surbakti dan toko kue Santaka. Topik umum saja namun suatu kemajuan bagi sepasang suami istri yang masih asing itu.
Setelah kenyang mereka menuju ke air terjun Grojogan Sewu. Ada lebih dari seribu anak tangga yang masih harus mereka titi.
Nandini dan Santaka menuruni anak tangga menuju air terjun. Tiba-tiba Nandini berseru, "ayo Gus, lomba, yang kalah joget depan Gus Yasa.” Nandini langsung berlari, mencuri start.
Santaka langsung mengejar istrinya. Mereka tiba hampir bersamaan, dalam derai tawa. Santaka menubruk tubuh Nandini.
“Dhuh, ini tempat luas, pake nubruk saya. Modusmu, Gus!” semprot Nandini. Santaka tergelak.
“Saya menang! Gus, joget ya nanti depan Gus Yasa. Pasti mukanya langsung kayak batu, kaku, liat Gus joget, hahaha...”
“Saya sengaja kalah. Saya ndak rela Mbak Dini joget depan laki-laki lain.” Santaka tersenyum simpul. Nandini mencebikkan bibir. Ia memalingkan wajahnya dari sang suami.
“Gus, saya copot rok ya. Repot tenan ini.” Nandini menggunakan rok panjang dan tunik. Satu set dari sekian set baju yang disediakan Lastri untuknya.
“Jangan... nanti saja di kamar.” Santaka tersenyum usil.
“Hihh... kenapa jadi ke kamar? Saya pake celana legging kok. Panjang. Jadi ketutup.”
Santaka menipiskan bibir. “Menurut Mbak Dini pakai legging di tempat umum, sesuai syariat ndak?” Nandini terdiam. Kepalanya perlahan menggeleng.
“Nah sudah tau kan alasannya apa. Jadi nanti saja kalau mau dicopot... di ka-mar.” Santaka tersenyum sambil mengangkat alisnya.
Nandini merengut. Kamar lagi. Ampun modusmu, Gus. Alimnya cuma depan orang, aslinya otaknya berkabut.
Jangan bayangkan tiket glamping yang diberikan Danendra adalah glamping di semacam villa. Kakak kedua Santaka itu memesankan paket Korean Glamping. Tidur di tenda modern.
Nandini melongo melihat tenda itu. Tempat tidurnya—yang langsung menjadi fokus utama Nandini— terdiri dari dua kasur tunggal disatukan. Ada dua bantal dan dua selimut. Tak ada guling!
“Gus Nendra, uangnya kurang apa gimana, ndak kuat nyewa glamping villa?” Nandini mencibir. Santaka terkekeh.
“Biar kita makin deket maksudnya, Mbak.” Santaka mengerlingkan netranya.
Nandini memutar bola matanya. Ia memilih keluar. Udara tenda terasa pengap baginya.
Karena modelnya adalah tenda maka buang hajat atau mandi menggunakan fasilitas umum. Santaka kukuh mengantar Nandini mandi sebelum Magrib.
Pria itu sudah mandi duluan. Nandini tadi asyik makan sisa roti bakar buatan Santaka.
“Saya bisa sendiri, Gus.”
“Ndak, takutnya nanti ada yang ngintip.”
Nandini mencebik. “Aman lah. Saya juga pasti cek cek dulu.”
“Ya ndak apa-apa. Lebih aman kalau ada saya,” tutur Santaka kalem.
“Malah saya khawatir, Gus yang ngintip.” Nandini memiringkan bibirnya. Santaka tergelak.
“Mbak, sampeyan baru kasih saya inspirasi.” Santaka menaik-turunkan alisnya.
Nandini mendelikkan matanya. Ia langsung berlari. Santaka mengejarnya sambil tertawa kecil.
Malamnya, Santaka membuatkan makan malam berupa mie instan rebus. Jangan bayangkan mie instan standar warmindo.
Dengan keahlian memasaknya, ia membuat racikan dari berbagai saus yang dibawa khusus dari rumah. Ditambah chili oil buatannya sendiri, cita rasa mie instan buatan Santaka adalah next level.
Nandini tersenyum tipis. Ia bagaikan putri yang dilayani oleh Santaka. Tak ada yang pernah memperlakukannya semanis ini.
Santaka menawari menyuapi Nandini. Alasannya sunnah. Nandini menolaknya. Alasannya, repot. Sungguh alasan yang sangat duniawi.
Hobi tenan sih, Gus, suap-suapan. Nandini risih. Santaka kadang-kadang mengelus bibirnya kalau menyuapi. Merinding Nandini dibuatnya.
Setelah selesai salat Isya di dalam tenda, mereka bersiap tidur. Nandini merengut. Tak ada guling bagai tak ada perisai pelindung dalam berperang.
“Kenapa tho Mbak?” Santaka menghamparkan selimut di kakinya. Udara Tawangmangu makin malam makin dingin.
“Ndak ada guling, Gus. Inget janji sampeyan, ndak ada begitu-begitu sampai saya siap.
Jadi jangan macem-macem ya malem ini. Dhuh, kasurnya sempit lagi.” Bibir Nandini mengerucut.
“Kalau pemanasan sebelum begitu, berarti boleh?” Santaka tersenyum usil.
“Boleh... boleh ditampar.” Nandini menjulurkan lidahnya. Santaka terkekeh.
Mereka akhirnya tertidur dalam balutan selimut masing-masing. Semakin larut, dingin semakin mengigit. Menelusup ke celah tenda.
Nandini membuka matanya. Ia terdiam. Ia merasa mendengar detak jantung halus di telinga kirinya.
Beban terasa melingkar diagonal dari punggung ke pinggul. Bantalnya empuk, empuk yang berbeda.
Mata Nandini mengerjap. Setelah kesadarannya pulih, ia terduduk cepat. Bagaimana bisa ia jadi tertidur di pelukan Santaka??
pas mau Unboxing ehhhh passa tamu tak diundang datang tanpa kodess 😤🤣🤣🤣 ditunda minggu depan yaaa Takaaa 😆
istri Gus Taka, te ou pe be ge te. aku padamu mb Dini... 😘😘
Rasainnnn kelennnn 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Rasain Ahsan, emang enak lihat bekas kemesraan Taka & Dini... ? suruh tuh abahmu belain kamu, agar Taka kena sanksi Krn bekas mesranya Taka+ Dini terlihat. biar semua sadar, siriknya si Mahmud+ Ahsan
g tidur ah, nungguin Ahsan + Yai Mahmud angkat kaki balik ke Magelang 😄😄
panaaaaassss nihhhh Ahsannn panass yaaaaa.... yaaa panassss dongggg pastinyaaaa 🤣🤣😏 Nandini ituu sama Santaka udah saling sayang saling cinta jadi otomatis saling menguatkan satu sama lainn.. kamuuu iriiiiii ? ya tentu sajaaaa, maka nikmati dg baikkkk wahai sampahhhh pondok 😏😏😏😤
semoga Gus Abi bijak dlm mensikapi. tendang aj Ahsan dr Al Fatih. biar dia penerus PP Al Irsyad aj