Gladys Chandra Wiguna atau biasa dipanggil Gadis adalah mahasiswi berbakat dari fakultas bergengsi Kota A. Wajah cantik dan sosok mungilnya menyembunyikan jiwa pemberani yang kuat.
Malam itu, saat ia pulang dari cafe, seorang pria memaksanya masuk mobil. Di dalamnya menanti Langit Mahesa seorang bisnis man yang memiliki perusahaan raksasa di kota A. Pria yang sudah memiliki istri, Bella Safira. Akankah Gadis kembali ke kehidupannya yang tenang? Ataukah cinta tak terduga tumbuh di antara mereka, menggoyahkan semua yang ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceriwis07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SMACKDOWN!
Gunawan mendatangi kediaman Anin.
Ia berjalan dengan langkah lebar penuh semangat setelah memarkirkan mobilnya. Namun saat matanya menangkap sosok wanita yang sedang berdiri di dekat kolam ikan, langkahnya seketika terhenti.
"Hah? Wanita itu...?" batin Gunawan terkejut.
Wajah itu terasa sangat tidak asing baginya. Dan saat ia memperhatikan lebih seksama, ia pun sadar.
'Ya ampun! Ini bukan wanita yang dulu sempat aku "beli" dari Mami Neni beberapa waktu lalu kan?!'
Rasa kaget dan senang bercampur jadi satu. Tanpa pikir panjang, Gunawan mendekati Gadis yang sedang asyik memberi makan ikan.
Dengan tiba-tiba ia memeluk tubuh mungil itu dari belakang!
"Hai cantik... akhirnya ketemu lagi!"
Namun...
BRUK!!
BYURRR!!!
Gadis yang kaget setengah mati langsung bereaksi cepat. Dengan teknik bela diri yang ia miliki, ia memutar dan membanting tubuh pria itu dengan mudah!
Tubuh besar Gunawan langsung terlempar dan jatuh tercebur tepat ke dalam kolam ikan!
GLEKK!! GLEKK!!
Air kolam memercik tinggi ke mana-mana. Ikan-ikan yang tadinya berkumpul makan pun kaget dan lari berhamburan ketakutan menjauhi tubuh besar yang mengganggu mereka.
Kejadian lucu dan kacau itu tidak luput dari pandangan Fajar yang berdiri di balkon lantai atas melihat semuanya.
Fajar tersenyum kecil, lalu ia bergumam pelan pada dirinya sendiri,
"Kakak... lihatlah. Anakmu sangat hebat dan kuat..."
"Dia ada di sini, tepat di depan kita semua. Sebenarnya aku ingin sekali memeluknya sebagai keponakanku sendiri, tapi rasanya... ini belum saatnya yang tepat untuk mengaku."
Melihat kejadian itu, Fajar langsung masuk ke dalam rumah. Tidak berselang lama, ia keluar lagi dari pintu samping bersama dengan Anin.
Saat Anin melihat apa yang terjadi, matanya langsung melotot kaget. Ia berlari kecil mendekati Gadis.
"Sayang! Kamu kenapa?!"
Dengan panik Anin membolak-balikkan tubuh Gadis, memeriksa seluruh bagian tubuh wanita itu takut ada yang terluka atau keseleo.
"Ada yang sakit di mana? Katakan sama Tante!" tanya Anin cemas sekali.
Gadis tersenyum tipis, lalu ia memegang lengan wanita yang ia tahu sekarang adalah ibu kandungnya itu.
"Aku tidak apa-apa kok, Tante..." jawab Gadis pelan.
Dalam hatinya, ia menatap Anin dengan pandangan yang sangat dalam. Ia ingin sekali rasanya memanggil wanita itu dengan sebutan Mama, tapi bibirnya masih terasa kaku dan berat. Hingga saat ini, kata Tante lah yang masih terucap sebagai pengganti rasa sayang itu.
Sementara itu, di kolam ikan...
Gunawan sudah berhasil berdiri dan naik ke tepi kolam. Badannya basah kuyup, baju dan celananya menempel di tubuh, rambutnya pun berantakan terkena air kolam yang keruh.
Ia mengelap wajahnya yang basah dengan kasar, lalu menatap tajam ke arah Gadis.
"HEH! WANITA GILA!" makinya keras. "WANITA TIDAK TAHU DIRI! MURAHAN!"
Ia menunjuk-nunjuk wajah Gadis dengan penuh emosi.
"Apa yang kamu lakukan hah?! Apa yang kamu lakukan pada ku?! Dan kenapa kamu bisa ada di sini?! Ini rumah adikku!"
Melihat anaknya diperlakukan kasar dan dimaki seperti itu, Anin langsung bertindak.
Dengan cepat ia menarik lengan Gadis dan membawanya berdiri tepat di belakang punggungnya. Ia menjadi tameng hidup, melindungi putrinya sendiri dari amarah kakaknya sendiri.
"APA YANG KAU LAKUKAN DI SINI, GUNAWAN?!" bentak Anin menantang.
"Hei! Apa aku tidak boleh main ke rumah adikku sendiri?!" balas Gunawan tak terima.
"TIDAK BOLEH! SEKARANG KELUAR! KAU TIDAK DIPERLUKAN DI SINI!" teriak Anin tegas tanpa ampun.
Tanpa mau mendengar jawaban lagi, Anin langsung menggandeng tangan Gadis dan berbalik pergi meninggalkan kakaknya itu begitu saja. Fajar pun mengikuti di belakang mereka dengan tatapan dingin.
Gunawan berdiri terpaku di sana, basah kuyup, malu, dan kesal bukan main. Kehadirannya sama sekali tidak dianggap!
Akhirnya dengan napas mendengus marah, ia pun memilih untuk pulang saja dengan keadaan yang sangat memalukan dan becek seperti tikus kena hujan!
Gadis duduk manis di hadapan Anin. Sementara Anin berdiri dengan tangan di pinggang, wajahnya masih terlihat bingung dan penasaran. Fajar duduk santai tepat di samping Gadis, siap mendengarkan cerita.
"Ada apa dengannya? Kenapa dia bisa kecebur kolam?" tanya Anin.
Gadis pun terkikik geli mengingat kejadian lucu barusan. Dengan santai ia mulai menceritakan semua kejadian masa lalu.
Ia bercerita tentang saat dirinya berada di tempat hiburan malam, tentang Mami Neni, dan tentang pria yang tadi basah kuyup itu yang dulu pernah membeli dirinya.
Dan yang paling penting, ia menceritakan bahwa dari situlah awal mula ia bertemu dengan Langit, sang kekasih yang kini mencintainya setulus hati.
Mendengar seluruh alur cerita itu, Anin hanya mengangguk-angguk pelan. Ia mulai paham kenapa wajah Gadis terlihat familiar bagi Gunawan, dan kenapa kejadian tadi bisa terjadi.
Di sisi lain, Fajar menatap Gadis dengan senyum bangga dan geli.
"Akhirnya kamu bisa mempraktikkan apa yang sudah kamu pelajari," puji Fajar, sambil terkekeh geli.
Fajar benar-benar tidak bisa menahan tawa. Ia terus terbayang-bayang melihat pemandangan tadi Gadis yang tubuhnya mungil, imut, dan terlihat kecil, tapi dengan mudahnya membanting dan membuat pria dewasa bertubuh besar dan gempal seperti Gunawan sampai terlempar masuk ke kolam ikan!
"Hahaha... keren banget sih keponakan gue!" gumam Fajar puas, tertawa sendiri sampai perutnya sakit mengingat kelakuan lucu itu.