NovelToon NovelToon
SENJA TAK BERTUAN

SENJA TAK BERTUAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dokter / Penyelamat
Popularitas:139
Nilai: 5
Nama Author: Essa Amalia Khairina

Yasmin selalu percaya bahwa kerapuhannya adalah kutukan, hingga Arya datang membawa kepastian di bawah senja. Di sana, mereka mencuri satu petak langit untuk saling memiliki. Namun, ketika ikrar telah terucap dan senja mulai meredup, semesta seolah menagih kembali kebahagiaan yang mereka dapatkan.

Dan, ketika kegelapan itu datang...

Yasmin tersadar satu hal, mereka tidak sedang memiliki senja, hanya sedang meminjamnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TERBUAI

Yasmin menggeleng kuat-kuat, air mata mulai mengalir deras membasahi pipinya yang pucat pasi. Tubuhnya bergetar hebat, punggungnya semakin merapat ke daun pintu yang dingin, seolah berharap bisa menembusnya dan lari sejauh mungkin.

"N-nggak... Mas, tolong... keluar..."

​Seringai di wajah Tama lenyap, digantikan oleh tatapan dingin yang mematikan. Tanpa diduga, ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebilah pisau kecil. Bilahnya berkilau tajam di bawah cahaya lampu kamar, ujungnya yang runcing tampak begitu mengancam.

​Tama lalu menyodorkan pisau itu perlahan, membiarkan ujungnya yang tajam nyaris menyentuh dagu Yasmin yang gemetar. "Pilihannya cuma dua, Yasmin," desis Tama, suaranya rendah namun penuh ancaman yang mengerikan. "Kamu patuh padaku sekarang, dan kita bersenang-senang sebentar. Atau... kamu menolak, dan aku akan memastikan jejak di lehermu itu bukan satu-satunya tanda yang akan Arya lihat di tubuhmu saat dia pulang nanti. Aku tidak keberatan mengukir namaku di kulit mulusmu ini."

​Ancaman itu menghujam tepat di ulu hati Yasmin. Bayangan pisau itu merobek kulitnya, atau bayangan Arya yang akan melihatnya dalam keadaan bersimbah darah, membuatnya lumpuh oleh rasa takut yang amat sangat. Ia tahu Tama tidak main-main.

Pria ini mampu melakukan apa saja.

​Sambil menangis sesenggukan, Yasmin akhirnya terpaksa mengangguk pelan. Kepatuhan itu adalah bentuk keputusasaan terdalam yang pernah ia rasakan.

​Tama tersenyum puas, sebuah senyum kemenangan yang menjijikkan. Ia menarik kembali pisaunya, lalu menunjuk ke arah tumpukan pakaian yang tadi sempat ia acak-acak di atas tempat tidur besar milik Arya dan Yasmin.

​"Bagus," kata Tama, suaranya kembali santai namun tetap menuntut. Ia mengambil sepotong gaun tidur tipis berwarna merah marun dari tumpukan itu dan melemparkannya ke arah Yasmin. "Sekarang, pakai baju yang seharusnya kamu kenakan di depan Arya. Cepat!"

Yasmin melangkah dengan tungkai yang terasa lemas, jemarinya mencengkeram erat gaun tidur satin merah marun itu hingga buku-buku jarinya memutih. Setiap langkah menuju kamar mandi terasa seperti berjalan di atas paku panas. Ia bisa merasakan tatapan Tama yang tajam terus mengikuti setiap gerak-geriknya, seolah pria itu sedang menikmati penderitaannya.

​Begitu pintu kamar mandi tertutup, Yasmin segera menguncinya. Ia menyandarkan punggung pada pintu, napasnya memburu dan terputus-putus oleh isak tangis yang tertahan. Di depan cermin, ia melihat pantulan dirinya yang hancur—pucat, dengan mata sembab dan jejak kemerahan di leher yang menjadi pemicu badai pagi ini.

​"Maafkan aku, Mas Arya..." bisiknya lirih, suaranya pecah. ​Dengan tangan gemetar, ia mengganti pakaiannya. Bahan satin yang halus dan dingin itu menyentuh kulitnya, namun bagi Yasmin, pakaian itu terasa seperti duri yang menyiksa. Ini adalah gaun yang ia simpan untuk malam-malam istimewa bersama Arya, sebuah simbol cinta yang kini dinodai oleh paksaan pria di luar sana.

​Setelah beberapa menit yang terasa seperti selamanya, Yasmin akhirnya membuka pintu kamar mandi. Ia melangkah keluar dengan kepala tertunduk, membiarkan rambut panjangnya terurai menutupi sebagian bahunya yang terekspos.

​Begitu ia muncul, Tama yang sedari tadi bersandar di pinggiran tempat tidur langsung menegakkan tubuh. Matanya berkilat, menyisir penampilan Yasmin dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan kepuasan yang menjijikkan.

​"Cantik," gumam Tama, suaranya berat dan penuh intonasi yang membuat Yasmin ingin berteriak. "Pilihan yang tepat. Arya memang pria beruntung, tapi sayangnya, dia tidak ada di sini untuk melihat betapa indahnya istrinya dalam balutan satin merah ini."

Praaaang!

Suara denting logam terdengar nyaring saat Tama melemparkan pisau kecil itu ke atas lantai, seolah senjata itu tak lagi diperlukannya karena mangsanya sudah benar-benar terkunci. Tanpa peringatan, tangan kekar Tama menyambar pinggang ramping Yasmin, menarik tubuh mungil itu hingga menabrak dadanya yang keras.

​Yasmin memekik tertahan, namun suara itu segera hilang tertelan saat Tama melumat bibir ranumnya dengan kasar dan menuntut. Aroma parfum maskulin yang tajam—yang biasanya terasa asing dan mengancam—kini mengepung indra penciuman Yasmin, mengaburkan akal sehatnya yang tersisa.

​Awalnya, tangan Yasmin memukul-mukul dada Tama, berusaha mendorong pria itu menjauh. Ia ingin berteriak menyebut nama Arya, ingin lari dari sentuhan yang seharusnya ia benci ini. Namun, ada sesuatu yang gelap dan menyesakkan dalam dirinya; rasa hancur karena penolakan Arya pagi tadi, ditambah dengan ketakutan yang berubah menjadi pasrah yang aneh.

​Sentuhan Tama yang ahli dan dominan perlahan-lahan meruntuhkan pertahanan Yasmin. Ciuman itu bukan lagi sekadar paksaan, melainkan badai yang menyeret Yasmin masuk ke dalamnya. Tanpa ia sadari, tangannya yang tadi mengepal untuk memukul kini perlahan melemah, jemarinya meremas kemeja Tama, mencari pegangan agar ia tidak jatuh lunglai.

​Isak tangisnya masih terdengar di sela-sela pagutan mereka, namun penolakan itu perlahan memudar, tergantikan oleh sensasi asing yang membuatnya terbuai dalam rasa bersalah yang luar biasa.

​"Mas... jangan..." bisik Yasmin lirih di sela napasnya yang memburu, namun tubuhnya justru semakin merapat pada pria yang seharusnya menjadi musuhnya itu.

​Tama menyeringai di tengah ciumannya, menyadari bahwa ia telah berhasil mematahkan semangat Yasmin. Ia tahu, mulai detik ini, bukan hanya leher Yasmin yang menyisakan jejak darinya, tapi seluruh jiwa wanita itu kini berada dalam genggamannya.

****

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!