" Dua puluh tahun terkurung. Sebuah pernikahan tanpa suara. Dan seorang pria yang lebih memilih diam dari pada berjuang.
Arumi mengira ia akan mekar setelah menikah. Ternyata , ia hanya berpindah ke sangkar yg lebih dingin. Ketika kehidupan hidup mulai mencekik dan suaminya tetap membatu, Arumi menyadari satu hal : Untuk bisa bernafas lagi, ia harus merelakan segalanya. Termasuk status yg selama ini di anggap suci."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon miss tiii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jebakan Madu di Aspal Panas
Arumi menatap foto Ibu Maryam yang terduduk lemas di trotoar. Tangannya sempat bergetar, namun ia teringat kata-kata Rendra: "Sudut fotonya terlalu bagus." "Adnan, Dania... aku tahu ini jebakan," ucap Arumi pelan namun tegas. "Tapi kalau aku tidak datang, mereka akan memviralkan foto ini dengan narasi 'Pengusaha Bumbu Sukses Telantarkan Mantan Mertua'. Itu akan menghancurkan brand kita."
Adnan berdiri, merapikan jasnya. "Aku tidak akan membiarkanmu pergi sendirian, Arumi."
"Jangan, Adnan. Kalau kamu ikut, Gavin akan tahu kita waspada. Biar aku yang datang, tapi..." Arumi melirik ke arah Dania dan Erick yang baru saja masuk. "Aku butuh 'perisai' yang tidak terlihat."
Dania langsung nyengir lebar, gigi putihnya terlihat. "Siyap, Mbak Bos! Aku bakal jadi bayanganmu. Kak Erick, keluarin motor-motor butut anak buah, biar nggak kelihatan kayak mobil mafia!"
Rendra menyahut sambil sibuk mengetik di tabletnya. "Secara sinematografi, ini namanya undercover mission. Aku bakal pantau lewat GPS ponselmu, Arum. Dan Kinan... sini sama Om Rendra, kita main game baru!"
Kinan memegang botol semprotan "ramuan jahe-cabe" barunya. "Ibu, kalau Om Abu-abu itu nakal, Ibu pencet tombol ini ya!"
...****************...
Lokasi: Depan Lapas Pusat
Matahari menyengat. Arumi turun dari taksi sendirian. Di seberang jalan, ia melihat Ibu Maryam yang tampak lemas. Namun, di sudut gedung, ia melihat pantulan lensa kamera—wartawan bayaran Gavin sudah siap memotret momen "Arumi Mengabaikan Mertua".
Arumi mendekat. Begitu ia sampai di depan Ibu Maryam, tiba-tiba sebuah mobil hitam berhenti mendadak. Dua orang pria berbadan tegap keluar, hendak menarik Arumi masuk ke mobil.
"Ibu Maryam cuma umpan, Mbak. Ikut kami sekarang!" bentak salah satu pria itu.
Ibu Maryam mendongak, wajahnya ketakutan. "Arumi... lari, Nak! Ibu dipaksa... mereka bilang kalau Ibu nggak begini, Baskara bakal disiksa di dalam!"
Tepat saat tangan preman itu hendak menyentuh bahu Arumi, suara raungan motor bebek knalpot brong terdengar dari segala arah. Sepuluh motor butut mengepung mobil hitam itu. Pengendaranya? Anak buah Erick yang menyamar jadi tukang ojek pengkolan.
Dania turun dari salah satu motor, melepas helmnya dan langsung melakukan tendangan terbang ke arah salah satu preman. BUGH!
"Heh, Curut! Mau culik kakak ipar angkatku ya?!" teriak Dania garang.
Di saat yang sama, Adnan muncul dengan mobil mewahnya dari arah berlawanan, memblokir jalan pelarian mobil hitam tersebut. Adnan keluar dengan wajah sedingin es.
"Gavin benar-benar tidak punya harga diri ya? Menggunakan wanita tua sebagai umpan?" suara Adnan menggema.
Preman-preman itu panik. Mereka mencoba masuk ke mobil, tapi ban mobil mereka sudah digembos oleh anak buah Erick dalam hitungan detik.
Arumi segera merangkul Ibu Maryam. "Ibu tidak apa-apa? Ayo, kita pergi dari sini."
Tiba-tiba, dari dalam mobil hitam itu, muncul sebuah tablet yang menyala. Wajah Gavin ada di sana melalui panggilan video.
"Bravo, Adnan. Refleksmu cepat sekali," suara Gavin terdengar santai dari balik layar. "Arumi, aku hanya ingin mengetes seberapa besar nyalimu. Ternyata, kamu lebih cerdas dari yang aku kira. Tapi ingat, ini baru pemanasan."
Rendra yang memantau lewat perangkat di mobil Adnan langsung membajak panggilan video itu. "Halo, Gavin! Secara estetika, akting anak buahmu 2/10. Terlalu kaku. Dan oh ya, video percobaan penculikan ini sudah aku kirim ke semua grup WhatsApp asosiasi katering. Karirmu di Singapura mungkin bagus, tapi di sini... kamu baru saja gali kuburan sendiri."
Wajah Gavin di layar langsung berubah kaku sebelum sambungan terputus.
...****************...
Kembali ke Ruko
Ibu Maryam sudah ditenangkan di ruang belakang. Arumi duduk lemas, sementara Adnan memberikan segelas air hangat.
"Terima kasih semuanya," bisik Arumi.
Dania masih emosi, ia menenggak air mineral sekali habis. "Mbak Arum, tadi itu seru banget! Aku beneran pengen jedotin kepala mereka ke tembok!"
Kinan berlari menghampiri Arumi, memeluk kakinya. "Ibu selamat! Berarti ramuan Kinan nggak perlu dipakai ya?"
"Simpan dulu buat nanti, Sayang," jawab Arumi sambil tersenyum kecut.
Adnan menatap Arumi dalam-dalam. "Gavin tidak akan berhenti. Dia sekarang terpojok karena video dari Rendra. Dia akan melakukan sesuatu yang lebih gila."
"Biarkan saja," sahut Arumi, matanya kini berkilat penuh keberanian. "Jika dia ingin perang bumbu, aku akan berikan dia rasa yang tidak akan pernah dia lupakan."
Rendra menjentikkan jarinya. "Itu kalimat yang badass! Secara narasi, ini adalah awal dari 'Kebangkitan Ratu Bumbu'. Dan Adnan... siap-siap ya, pengeluaran buat keamanan bakal membengkak!"
Adnan tersenyum tipis. "Berapa pun harganya, asal Arumi dan Kinan aman."