Malam sebelum pernikahan yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan Ambar berubah menjadi mimpi buruk saat ia memergoki Jayden, calon suaminya, berkhianat dengan Gea, adik tirinya sendiri. Alih-alih mendapat pembelaan, Ambar justru diusir dalam kehinaan oleh ayahnya yang menganggapnya "wanita kuno" dan tidak becus menjaga pria.
Di titik nadir kehidupannya, di atas sebuah jembatan kelam, Ambar bertemu dengan Baskara Mahendra, seorang pria di kursi roda yang nyaris mengakhiri hidup karena merasa tak berharga. Dalam sisa-sisa harga diri yang hancur, Ambar menawarkan sebuah kesepakatan nekat: sebuah pernikahan kontrak untuk saling menyelamatkan.
Ambar tidak tahu bahwa pria lumpuh yang ia selamatkan adalah penguasa tunggal keluarga Mahendra yang sangat disegani. Kini, tepat di jam yang sama saat mantan kekasih dan adiknya merayakan pesta mereka, Ambar siap kembali—bukan sebagai korban, melainkan sebagai istri dari pria yang kekuasaannya mampu meruntuhkan segalanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Lampu merah di atas pintu ruang operasi menyala dengan kejam, menandakan pertarungan hidup dan mati Ambar baru saja dimulai.
Di lorong rumah sakit yang dingin itu, suasana terasa mencekam.
Thomas berdiri tegak di depan pintu, menjaga area tersebut agar tidak ada satu pun semut yang bisa lewat tanpa izinnya.
Namun, perhatian semua orang—termasuk para perawat yang lewat—tertahan pada sosok pria yang berada di depan deretan kursi tunggu.
Baskara tidak lagi duduk di kursi roda.
Dengan napas yang masih memburu dan pelipis yang berkeringat, Baskara berdiri tegak.
Kedua tangannya mencengkeram erat sebuah tongkat penyangga kayu hitam dengan gagang perak.
Kakinya gemetar hebat, otot-ototnya yang sempat mati rasa kini berdenyut kencang, memberikan sensasi panas yang menyakitkan namun sekaligus melegakan.
Tekanan ekstrem dan lonjakan adrenalin saat merangkak di aspal jalan tol tadi seolah-olah telah "membangunkan" saraf-sarafnya yang tertidur paksa.
"Tuan, Anda sudah berdiri," bisik Thomas dengan nada tak percaya. Ini adalah sebuah keajaiban medis yang jarang terjadi.
Baskara tidak menjawab. Matanya yang tajam dan merah karena air mata tertuju lurus pada pintu ruang operasi.
Ia berdiri di sana bak menara yang kokoh, menolak untuk duduk meski rasa sakit menjalar dari pinggang hingga ujung kakinya.
"Aku tidak akan duduk sampai dia keluar dari sana dengan selamat," ucap Baskara, suaranya rendah namun penuh otoritas.
"Jika dia sedang berjuang di dalam sana untuk bertahan hidup, maka aku akan berdiri di sini menunggunya."
Setiap detik terasa seperti berjam-jam. Baskara merasakan setiap saraf di kakinya berdenyut seirama dengan detak jantungnya yang tak beraturan.
Ia teringat bagaimana Ambar memutar kemudi untuk menyelamatkan diri, bagaimana tubuh istrinya terhempas demi melepaskan diri dari Jayden.
"Bertahanlah, Ambar," bisik Baskara lirih, sambil menekan tongkatnya lebih dalam ke lantai marmer.
"Aku sudah bisa berdiri untukmu. Aku sudah bisa menjadi sandaranmu lagi. Jangan biarkan langkah pertamaku ini menjadi sia-sia tanpa ada kamu di sampingku."
Pintu ruang operasi tiba-tiba terbuka. Om Edward keluar dengan baju hijau bedah yang bercak darah, wajahnya tampak sangat lelah.
Baskara segera melangkah maju—langkah kaki yang nyata, meski dibantu tongkat—menghampiri sang paman dengan tatapan menuntut penjelasan.
Om Edward melepas masker bedahnya dengan helaan napas yang panjang.
Ia menepuk bahu Baskara dengan lembut, ada rona kelegaan di wajah pria tua itu.
"Operasinya berhasil, Baskara. Pendarahan di kepalanya sudah berhasil dihentikan. Ambar adalah wanita yang sangat kuat. Sekarang dia akan dipindahkan ke ruang perawatan intensif untuk observasi."
Mendengar itu, kekuatan yang menopang tubuh Baskara seolah menguap.
Ketegangan yang membuatnya mampu berdiri tadi mendadak runtuh oleh rasa lega yang luar biasa.
Ia menghela napas panjang, menutup matanya sejenak sambil membisikkan doa syukur yang tulus.
"Thomas, ambilkan kursi rodaku," perintah Baskara dengan suara yang melemah. Saraf kakinya mulai terasa protes setelah dipaksa bekerja melampaui batas di jalan tol tadi.
Tak lama kemudian, Gabby datang mendorong kursi roda perak milik Baskara.
Dengan bantuan Thomas, Baskara kembali duduk.
Gabby kemudian mengambil alih kemudi kursi roda itu, mendorong tuannya mengikuti brankar Ambar yang dibawa menuju ruang perawatan VVIP.
Begitu pintu kamar terbuka, aroma antiseptik yang tajam menyambut mereka.
Baskara meminta Gabby untuk memarkirkan kursi rodanya tepat di sisi ranjang.
Hatinya mencelos saat melihat kondisi istrinya. Ambar terbaring kaku, wajahnya yang biasanya ceria kini tampak pucat pasi.
Sebuah perban putih melingkar erat di kepalanya, menutupi luka operasi yang cukup besar.
Berbagai kabel monitor menempel di tubuhnya, memperlihatkan grafik detak jantung yang kini sudah mulai stabil.
Baskara mengulurkan tangan, mengelus jemari Ambar yang masih terasa dingin.
"Kamu hebat, Sayang. Maafkan aku karena terlambat melindungimu tadi," bisiknya dengan nada penuh penyesalan.
Ia menoleh ke arah Gabby yang berdiri di belakangnya.
"Gabby, pastikan semua biaya rumah sakit dan kebutuhan Ambar terpenuhi tanpa celah. Dan katakan pada Thomas, aku ingin penjagaan di depan pintu kamar ini diperketat dua kali lipat. Tidak boleh ada satu pun orang asing yang masuk tanpa izin pribadiku."
Gabby membungkuk hormat. "Baik, Tuan. Semuanya sudah diatur."
Baskara kembali menatap istrinya. Meski kepalanya terbalut perban dan matanya masih terpejam rapat, bagi Baskara, Ambar tetaplah wanita tercantik di dunia. Ia bersumpah dalam hati, bahwa saat Ambar membuka mata nanti, hal pertama yang akan dilihat istrinya adalah suaminya yang sudah kembali kuat dan siap menghancurkan siapa pun yang berani menyentuhnya lagi.
Ruangan VVIP itu tenggelam dalam keheningan yang menyesakkan, hanya menyisakan bunyi ritmis dari monitor jantung.
Baskara, yang tertidur dalam posisi duduk di kursi roda sambil menggenggam tangan istrinya, seketika tersentak saat merasakan jemari Ambar bergerak gelisah.
Kelopak mata Ambar bergetar hebat sebelum akhirnya terbuka perlahan.
Matanya yang sayu tampak kosong, berusaha mencerna cahaya lampu yang menusuk indra penglihatannya.
"Sayang? Ambar, kamu sudah bangun?" suara Baskara bergetar oleh kelegaan yang luar biasa.
Ia segera menegakkan duduknya, mendekatkan wajahnya dengan binar bahagia yang tak terbendung.
Namun, reaksi yang diterima Baskara justru membuatnya membeku.
Ambar tersentak mundur hingga punggungnya menabrak sandaran ranjang.
Matanya membelalak penuh horor, napasnya memburu dengan cepat.
Ia melihat Baskara seolah-olah sedang melihat monster yang paling mengerikan.
"K-kamu siapa?" suara Ambar parau, tersedat oleh isak tangis ketakutan yang mendalam.
"Apa Papa yang menyewa kamu untuk membunuhku? Iya?!"
Baskara terpaku. Senyumnya luntur seketika, digantikan oleh kerutan luka di keningnya.
"Ambar, ini aku, Baskara, suamimu. Apa yang kamu katakan?"
"Jangan mendekat!" teriak Ambar histeris.
Ia mencoba menutupi kepalanya yang terbalut perban dengan kedua tangannya yang gemetar.
"Tolong! Papa, maafkan Ambar! Ambar janji akan bekerja lebih keras lagi, jangan pukul Ambar! Jangan suruh orang ini membunuhku!"
Dalam benak Ambar yang kacau akibat trauma dan benturan hebat, garis waktu kehidupannya seolah terlempar jauh ke belakang.
Memori indah tentang pernikahannya dengan Baskara tersapu bersih, digantikan oleh kegelapan masa lalu saat Ayah Wijaya menyiksanya dan mengurungnya di ruang bawah tanah.
Bagi Ambar saat ini, setiap pria asing berpakaian mahal yang ada di depannya adalah ancaman yang dikirim oleh ayahnya.
Baskara merasakan jantungnya seolah diremas tangan tak kasat mata.
Ia ingin sekali merengkuh tubuh rapuh itu, namun setiap kali ia bergerak satu inci pun, Ambar menjerit semakin kencang.
"Thomas! Panggil Om Edward! Sekarang!" teriak Baskara tanpa melepaskan pandangan dari istrinya yang sedang meringkuk ketakutan.
Gabby dan Thomas segera masuk ke ruangan dengan wajah tegang.
Melihat Ambar yang kehilangan kesadaran akan identitas suaminya sendiri, Thomas hanya bisa berdiri mematung di ambang pintu, sementara Gabby menutup mulutnya tak percaya.
"Ambar, lihat aku, lihat mataku," bisik Baskara, suaranya kini melunak, mencoba memecah dinding ketakutan yang membelenggu pikiran istrinya.
"Tidak akan ada yang menyakitimu lagi. Papa Wijaya tidak ada di sini. Aku yang akan melindungimu."
Namun Ambar tetap menggelengkan kepala dengan histeris, air mata membasahi perbannya.
Ia terjebak dalam labirin masa lalu yang kelam, di mana kasih sayang hanyalah sebuah dongeng dan setiap orang yang datang adalah pembawa luka baru.
Om Edward masuk dengan wajah serius setelah memeriksa respons pupil dan saraf Ambar.
Ia menghela napas panjang sembari menatap Baskara yang masih tampak terpukul di kursi rodanya.
Di sudut ruangan, Ambar telah tertidur kembali setelah perawat memberikan obat penenang dosis ringan untuk meredakan histerianya.
"Ini bukan amnesia biasa akibat benturan fisik saja, Baskara," ucap Om Edward sambil menutup rekam medis Ambar.
"Secara medis, Ambar mengalami amnesia disosiatif yang dipicu oleh trauma berat."
Baskara menatap pamannya dengan tatapan menuntut penjelasan yang lebih jernih.
"Apa maksudnya, Om? Kenapa dia hanya ingat masa lalunya yang menyakitkan? Kenapa dia melupakan aku?"
Om Edward melepas kacamatanya, memijat pangkal hidungnya.
"Otak manusia memiliki mekanisme pertahanan diri yang luar biasa, namun terkadang kejam. Kejadian penculikan dan kecelakaan di jalan tol tadi terlalu mengerikan bagi mentalnya. Untuk melindunginya dari rasa sakit yang tak tertahankan itu, otaknya seolah-olah 'memutus sirkuit' memori terbaru."
"Dia kembali ke masa di mana dia merasa paling terancam—masa di bawah tekanan ayahnya," lanjut Om Edward.
"Baginya saat ini, dunia adalah tempat yang berbahaya, dan setiap orang asing adalah ancaman. Dia menghapus ingatan tentang kebahagiaannya bersamamu karena memori itu berdampingan erat dengan trauma penculikan yang baru saja terjadi."
Baskara mengepalkan tinjunya hingga kuku-kukunya memutih.
"Jadi, dia menganggapku sebagai orang suruhan ayahnya untuk membunuhnya?"
"Untuk saat ini, ya. Kamu adalah sosok pria yang kuat dan berkuasa, dan di ingatan masa lalunya, pria seperti itu hanyalah sumber penderitaan," jawab Om Edward lirih.
"Jangan dipaksa, Baskara. Jika kamu memaksanya untuk ingat, otaknya akan semakin tertekan dan dia bisa mengalami gangguan psikis yang lebih permanen."
Baskara memalingkan wajahnya ke arah Ambar yang terbaring lemah.
Hatinya hancur melihat wanita yang biasanya memandangnya dengan penuh cinta, kini menatapnya dengan ketakutan yang murni.
"Lalu aku harus bagaimana, Om? Membiarkannya ketakutan setiap kali melihatku?" tanya Baskara dengan suara serak.
"Sabar. Kamu harus memenangkan hatinya kembali, mulai dari nol. Jadilah sosok yang membuatnya merasa aman, bukan sosok yang menuntutnya untuk ingat. Kita akan melakukan terapi secara bertahap," saran Om Edward sebelum melangkah keluar ruangan.
Baskara terdiam dalam keheningan kamar VVIP itu. Ia menatap tongkat kayu yang ada di samping kursi rodanya.
Baru saja ia bisa berdiri untuk istrinya, kini istrinya justru tidak lagi mengenalinya.