Di abad 21 aku Anna Chandrawathi, wanita karir yang dihormati.
> Satu kedipan, aku terbangun di tahun 1980 sebagai "si jelek"—istri yang dibenci Jendral Chandra, dikurung 5 tahun di gudang tua, dinyatakan mati terbakar.
> Tapi aku nggak mati. Aku melahirkan.
> Putraku cerdas, ayahnya Jendral yang membenciku.
> Aku bisa saja pergi. Tapi pemilik tubuh ini menitipkan satu pesan: "Bersihkan namaku."
> Maka aku akan keluar. Menghadapi selir-selir haus kuasa, ibu tiri licik, dan suami yang menganggapku sampah.
> Sebab kali ini, yang terbakar bukan aku. Tapi mereka.
> *Yuk ikuti kisahku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon supyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chandra bego.
Bukan lagi nama baik. Bukan lagi selir-selir. Bukan lagi pangkat.
Yang ganggu pikiran Anna sekarang adalah niat buruk manusia. Hawa nafsunya. Racun yang nggak keliatan, tapi matiin pelan-pelan.
Chandrawati nggak mungkin diracun kalau nggak ada niat buruk. Nggak ada orang bangun pagi niatnya “hari ini aku racunin mertua”. Ada dendam, ada iri, ada setan yang dibisikin.
Chandra nggak mungkin segegabah itu sampai nggak nutup pintu, kalau nggak ada hawa nafsu. Nafsu bikin pinter jadi bodoh. Bikin Jendral jadi bocah SMP.
Mata Anna mandang kebun teh. Ijo, luas, damai banget. Anginnya nyapu muka, bawa dingin. Pengen rasanya balik ke abad 21. Ke lab, ke laptop, ke riset. Tempat yang logis, nggak ada drama selir, nggak ada pintu kebuka.
Tapi urusannya di sini belum selesai? Terus emangnya dia bisa balik? Ada portal? Ada tombol reset? Nggak ada.
Dia lirik Cikal yang ada di pahanya. Tidur, ngorok alus, ileran dikit. Bocah yang beneran ia hamilin 9 bulan. Yang ia lahirin sampai berasa mau mati, kontraksi 18 jam tanpa dokter. Yang ia besarin sekuat tenaga, jualan jamu, ngutang beras.
Nggak tega buat ia tinggalin. Kalaupun dimensi waktu kebuka, kalau ada pilihan pulang, dia berharap... nggak pernah balik. Dia mau di sini. Bareng Cikal. Sampe umur mereka berdua nemu abad 21 bareng-bareng. Tua bareng.
Dari jauh, mata elang perhatiin diam-diam. Di bawah pohon mangga, agak jauh dari gazebo. Pake caping bambu, nutupin hampir seluruh wajahnya. Baju lusuh, celana komprang. Kaya tukang becak beneran.
Ada kangen di mata itu. Ada rasa bersalah yang nggak bisa ditutupin caping.
Itu Chandra. Tanpa Anna dan Cikal sadari, Chandra nyamar jadi tukang becak. Ngikutin mereka seharian. Dari alun-alun, ke perpusda, ke tukang es krim, sampe pulang naik becak — dia yang ngayuh becak di belakang, pura-pura ngetem.
Dia liat banget. Tawa Anna sama Cikal yang lepas. Tawa yang mahal. Tawa yang keliatan lebih bahagia pas... dia nggak ada. Pas nggak ada dia, nggak ada Ratna, nggak ada pangkat.
Nusuk. Lebih sakit dari peluru.
Baru mau balik badan, mau hilang lagi ke pasar, tiba-tiba bahunya ditarik.
"Eh, ente ngapain ngintip-ngintip? Mau maling?" Suara berat. Pengawal rumah Rangga. Dua orang. Nggak kenal muka Jendral kalo lagi pake caping.
Chandra nggak ngelawan. Percuma. Dia diseret masuk. Kaya maling ayam. Naik ke lantai dua, ke ruang kerja mertuanya. Disuruh nunggu.
Di sana, Rangga udah nunggu. Duduk di kursi kayu, punggung tegak. Nggak kaget. Dari tadi liatin Anna dari jendela, liatin juga “tukang becak” yang nggak gerak dari bawah pohon mangga.
"Kamu cari apa ke sini?" tanyanya. Nggak noleh. Matanya tetep ke kebun teh. Ke cucunya.
Chandra jalan mendekat. Buka caping. Pelan. Naruh di meja. Rambutnya lepek keringetan. Wibawa Jendral tinggal 5%.
"Jemput anak dan istriku," ucapnya. Suaranya serak. Bukan perintah. Lebih kaya... mohon.
"Nggak," sahut Rangga. Tegas. Dingin. Baru sekarang dia noleh. Mata Komandan senior natap mata Jendral junior. "Dia, mereka, lebih bahagia sama saya. Pergi. Nggak usah kamu temui mereka lagi."
Piling ayah keluar. Pangkat mertua aktif. Nggak peduli bintang di pundak mantu.
"Rumah itu nggak aman buat mereka," lanjut Rangga. Tiap kata ditimbang. "Ada Ratna yang iri, dengki, pinter racun. Ada kamu yang... mesum. Nggak bisa jaga pintu, apalagi jaga anak-istri."
Pangkat mantu yang lebih tinggi tetep kalah sama pangkat mertua. Kalah sama kenyataan. Kalah sama fakta di lapangan.
Chandra cuma bisa nunduk. Diem. Nggak ada argumen. Mau bantah pake apa? Video CCTV?
"Kasihan Anna," ucap Rangga lagi. Nadanya berubah. Nggak marah. Kasihan. "Bisa-bisanya dulu dia suka banget sama kamu. Sampai rela nyebur ke kolam buat nyelamatin kamu. Padahal kamu benci dia."
Satu kalimat. Kaya palu godam.
Kebenaran 20 tahun lalu kebuka. Nggak sengaja.
"Maksudnya?" tanya Chandra. Kepalanya ngangkat. Bingung. Alisnya nyatu. Kolam? Nyebur?
Rangga hela napas. Panjang. Berat. "Aku ingat banget. 20 tahun lalu. Di rumah dinas lama, ada kolam ikan gede. Kamu umur 7 tahun, Anna 5 tahun. Anna buntutin kamu terus di tepi kolam. Kamu risih, ganggu. Kamu dorong dia, nggak sengaja, terus kamu sendiri yang kepleset. Jatuh. Ke kolam. Dalem."
Chandra diem. Otaknya muter, nyari file 20 tahun lalu. Buram.
"Gak banyak mikir Anna nyebur," lanjut Rangga. "Padahal usianya baru 5 tahun. Badannya kecil. Nggak bisa renang. Tapi dia nyebur. Narik kamu nggak bisa, kamu keabisan tenaga. Dia dorong kamu dari bawah. Pake kepala, pake bahu. Sampe kamu bisa pegangan pinggir kolam."
"Untung ada pengasuhnya Ratna di sana. Siti. Dia yang liat, langsung narik kamu naik. Kamu selamat. Batuk-batuk, nangis. Tapi Anna... Anna nggak muncul lagi."
"Pengasuhnya Ratna, Siti, langsung nyebur lagi. Nyelem. Liat Anna udah hampir kehabisan napas di dasar kolam. Biru. Matanya kebuka, tapi kosong."
Chandra masih mencerna. Napasnya ketahan. Dingin menjalar dari kaki sampe ubun-ubun.
"Liat Anna diangkat Siti, aku merinding sampe sekarang," suara Rangga turun, serak. "Gaun putih Anna, gaun ulang tahunnya, sobek. Bukan cuma kotor lumpur kolam. Tapi kotor darah. Dari hidung, dari dengkul yang kegores batu di dasar."
Puzzle 20 tahun lalu, yang selama ini buram, tiba-tiba nyatu di ingatan Chandra. Kilat.
Gaun putih. Air keruh. Tarikan lembut dari bawah. Suara bocah nangis manggil namanya: “Kak Chandaaa...”
Itu bukan Ratna. Yang dia kira Ratna nyelametin dia. Yang diceritain Rukmini sekeluarga. Yang bikin dia utang budi 20 tahun.
Itu Anna?
Jendral Chandra, yang nggak pernah gemeter di medan perang, sekarang lututnya lemes. Hampir jatuh.
jangan lupa like ya onty.
lnjut thor