Aiden "The Ghost" Volkov adalah definisi dari kesempurnaan yang mematikan. Sebagai raja mafia penguasa jalur perdagangan gelap Eropa, ia dikenal dingin, tak tersentuh, dan sangat mencintai keteraturan. Hidupnya adalah tentang strategi, senjata, dan keheningan.
Namun, tatanan hidup Aiden hancur berantakan saat ia bertemu dengan Ziva, seorang gadis Indonesia yang tinggal di luar negeri dan bekerja sebagai kurir makanan paruh waktu. Pertemuan mereka dimulai dengan bencana: Ziva secara tidak sengaja menabrak konvoi mobil baja Aiden dengan skuter bututnya, lalu malah memarahi Aiden karena "merusak spion estetiknya".
Ziva bukan cewek tangguh yang jago bela diri; dia hanyalah gadis dengan tingkat keberuntungan negatif dan mulut yang tidak punya rem. Di saat musuh-musuh Aiden menggunakan peluru, Ziva menggunakan ketidaksengajaan—seperti menjatuhkan vas kuno seharga jutaan dollar tepat di kepala pembunuh bayaran yang sedang mengincar Aiden.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Skuter Butut Melawan Lamborghini
Matahari Milan baru saja menggeliat dari ufuk timur, memantulkan cahaya keemasan pada permukaan marmer mansion Volkov. Namun, kedamaian pagi itu hancur berkeping-keping oleh suara preketek-preketek-dor! yang berasal dari halaman belakang. Suara itu bukan berasal dari senapan mesin, melainkan dari mesin "Si Merah Pemberani", skuter matic Ziva yang baru saja kembali dari bengkel modifikasi rahasia milik keluarga Volkov.
Ziva berdiri di samping skuternya dengan gaya pahlawan kesiangan. Skuternya kini tampak sangat kontras: bodi yang masih penuh lecet dan stiker bunga matahari yang memudar, namun kini dilengkapi dengan dua spion emas murni yang berkilau menyilaukan mata.
"Nah, gini dong! Ini baru namanya estetika mafia tingkat tinggi!" Ziva mengelus spion emasnya seolah itu adalah benda paling suci di dunia.
Aiden Volkov melangkah keluar dari pintu belakang mansion, mengenakan setelan kasual namun tetap terlihat sangat mahal. Ia berhenti tepat di samping sebuah Lamborghini Aventador hitam matte miliknya yang tampak seperti jet tempur darat.
Aiden menatap skuter Ziva, lalu menatap spion emasnya, dan akhirnya menatap Ziva yang mengenakan jaket kurir dengan helm retaknya. "Ziva, apa yang kau lakukan? Aku sudah bilang, hari ini kita ada urusan di sirkuit privat Monza untuk memantau pengujian mesin baru. Kau harus ikut di mobilku."
"Gak mau, Bang! Gue kangen sama Si Merah. Lagian, spion emas ini harus dapet vitamin D dari matahari biar makin berkilau. Lu pakai mobil peti mati lu aja, gue pakai Merah. Kita balapan sampai sana!" tantang Ziva sambil memakai helmnya yang bunyi klik-nya sudah tidak sempurna.
Aiden mengerutkan kening. "Balapan? Kau ingin membalap Lamborghini dengan... benda itu?"
"Jangan remehin Merah, Bang! Ini motor udah pernah lewatin banjir rob di Jakarta dan selamat. Lamborghini lu paling kalau kena genangan dikit langsung mogok kan? Ayo, kalau gue menang, lu harus traktir gue bakso urat di restoran paling mahal di Milan!"
Aiden terdiam sejenak. Ada percikan tantangan di matanya. "Dan jika aku yang menang?"
"Ya... gue bakal nurut sama lu selama seminggu tanpa protes. Gue bakal diem, nggak bakal ngomong 'seblak' atau 'estetik', dan gue bakal panggil lu 'Yang Mulia Don Aiden yang Paling Ganteng'."
Aiden tersenyum tipis—senyuman yang membuat para musuhnya gemetar, tapi kali ini penuh dengan rasa geli. "Kesepakatan yang menarik. Marco, buka gerbang!"
Marco berdiri di antara Lamborghini dan skuter butut dengan bendera kotak-kotak di tangannya. Wajahnya tampak seperti orang yang ingin mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai tangan kanan mafia.
"Tuan, ini sungguh tidak adil," bisik Marco. "Aventador memiliki 700 tenaga kuda. Skuter itu... saya ragu ia punya satu tenaga kuda yang sehat."
"Jangan remehkan faktor keberuntungan Ziva, Marco," jawab Aiden sambil memakai kacamata hitamnya.
Brummmm! Suara mesin Lamborghini itu menggetarkan tanah.
Pretek! Suara skuter Ziva mengeluarkan asap hitam yang menyengat.
"Satu... dua... TIGA!"
Lamborghini itu melesat seperti anak panah, meninggalkan jejak ban di aspal. Ziva tertinggal jauh di belakang, terbatuk-batuk karena asap knalpotnya sendiri. Namun, Ziva tidak menyerah.
"Ayo Merah! Jangan malu-maluin harga diri spion emas lu!" Ziva menarik gas hingga mentok.
Aiden melaju dengan kecepatan tinggi di jalanan pinggiran kota yang masih sepi. Ia bisa melihat skuter Ziva di kaca spionnya, yang tampak seperti bintik merah kecil yang terus menjauh. Aiden merasa kemenangan sudah di tangan. Ia mulai bersantai, menyalakan musik klasik di kabin mobilnya yang kedap suara.
Namun, Aiden melupakan satu hal: Milan bukan hanya tentang jalan raya lurus.
Di depan, terjadi kemacetan mendadak karena sebuah truk pengangkut anggur terguling. Jalanan tertutup total oleh botol-botol anggur dan petugas polisi. Lamborghini Aiden yang lebar dan rendah terpaksa berhenti total.
"Sial," gumam Aiden.
Tiba-tiba, suara preketek-preketek terdengar dari samping. Ziva muncul dari celah-celah sempit di antara mobil yang terjepit. Ia mengendarai skuternya dengan kelincahan seorang pemain sirkus, melewati trotoar, melompati tumpukan peti anggur, dan bahkan sempat melambai pada polisi yang melongo.
"Dah, Bang Don! Sampai ketemu di Monza!" teriak Ziva sambil tertawa lepas.
Aiden melihat Ziva melesat melewati kemacetan seolah-olah ia adalah hantu. Skuter butut itu memiliki satu keunggulan yang tidak dimiliki Lamborghini: kemampuan untuk "nyelip" secara ilegal.
Aiden tidak tinggal diam. Ia segera memerintahkan Marco via radio untuk meretas sistem navigasi dan mencari jalur alternatif. Aiden membanting setir ke arah gang sempit yang biasanya tidak dilewati mobil mewah.
Sementara itu, Ziva sedang menikmati kemenangannya dengan bernyanyi lagu dangdut keras-keras. "Cikini ke Gondangdia... gue menang, dia yang gila!"
Namun, "Si Merah" mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Mesinnya mulai panas. Ziva terpaksa menepi di sebuah air mancur kuno.
"Aduh Merah, jangan pingsan sekarang dong! Dikit lagi!" Ziva menyiram mesin motornya dengan air botol mineral.
Tiba-tiba, Lamborghini Aiden muncul dari arah belakang dengan suara raungan mesin yang mengerikan. Aiden menurunkan kacanya saat melewati Ziva. "Butuh tumpangan, Nona 'Bintang Satu'?"
Ziva melotot. "Curang! Lu lewat jalan tikus ya?!"
Aiden hanya memberikan senyum kemenangan dan melesat pergi. Namun, nasib sial Ziva rupanya menular. Saat Aiden melaju di jalur tikus tersebut, ia tidak sadar bahwa jalanan itu sedang dalam perbaikan. Sebuah gundukan aspal mentah membuat bagian bawah mobilnya yang rendah tergores keras.
KRAAAK!
Lamborghini itu tidak mogok, tapi Aiden terpaksa memperlambat kecepatannya karena takut merusak tangki bahan bakar.
Ziva, yang mesinnya sudah agak dingin, langsung tancap gas lagi. Ia melewati Aiden yang sedang melaju perlahan dengan tatapan mengejek. Ziva bahkan sempat bergaya freestyle dengan mengangkat satu kakinya.
Garis finish ada di gerbang sirkuit Monza. Aiden dan Ziva kini berada di jalan lurus terakhir. Lamborghini Aiden mulai mendapatkan kembali kecepatannya, sementara skuter Ziva sudah berada pada batas maksimal kekuatannya.
Jarak mereka semakin tipis. Aiden mulai menyalip Ziva. Ziva panik. Ia mencari sesuatu di tasnya—bukan senjata, melainkan bungkusan seblak yang tadi pagi ia beli diam-diam.
"Maafin gue, Bang Don! Ini demi bakso urat!"
Ziva membuka bungkus seblaknya yang penuh kuah merah dan aroma kencur yang menyengat. Dengan akurasi seorang pelempar granat, ia memeras kantong plastik itu ke arah kaca depan Lamborghini Aiden tepat saat Aiden hendak menyalipnya.
SPLASH!
Kaca depan Lamborghini yang hitam matte itu kini tertutup cairan merah kental dengan kerupuk lembek yang menempel di wiper.
"APA-APAAN INI?!" teriak Aiden di dalam mobil. Pandangannya tertutup total oleh aroma kencur dan pedas. Ia terpaksa menginjak rem mendadak karena kehilangan jarak pandang.
Ziva melesat melewati garis finish dengan suara knalpot yang meledak untuk terakhir kalinya sebelum mesin "Si Merah" benar-benar mati total tepat di depan pintu gerbang Monza.
Aiden keluar dari mobilnya dengan wajah yang sulit dijelaskan. Jas mahalnya selamat, tapi mobilnya berbau seperti warung pinggiran Jakarta. Ia menatap Ziva yang sedang duduk selonjoran di aspal sambil mengipasi wajahnya dengan helm.
"Ziva... kau menggunakan seblak sebagai senjata taktis?" tanya Aiden, mencoba menjaga nada suaranya tetap datar meski ia ingin tertawa sekaligus marah.
Ziva nyengir tanpa dosa. "Kan gue bilang, Merah punya kekuatan tersembunyi. Kekuatannya ada di doa dan bumbu dapur. Gue menang kan, Bang? Mana janji baksonya?"
Aiden menatap Lamborghini-nya, lalu menatap skuter Ziva yang kini spion emasnya tetap berkilau meski bodinya berlumuran asap. Ia menyadari sesuatu yang sangat penting hari itu: Hidup di samping Ziva berarti ia harus siap menghadapi segala hal yang tidak masuk akal, termasuk dikalahkan oleh skuter butut menggunakan senjata kuliner.
"Kau menang, Ziva," ucap Aiden akhirnya. Ia mendekat dan mengulurkan tangannya untuk membantu Ziva berdiri. "Tapi sebagai hukuman karena telah mengotori mobilku, kau yang harus mencucinya sendiri. Pakai tangan."
"Yah! Tapi habis makan bakso ya?"
"Iya, setelah kau kenyang."
Aiden menatap Ziva yang kini sedang mencoba membersihkan spion emasnya dengan ujung bajunya. Keheningan sirkuit Monza pagi itu pecah oleh tawa Ziva yang menular. Aiden menyadari bahwa ia tidak keberatan kehilangan martabatnya sebagai pembalap jika imbalannya adalah melihat Ziva sebahagia ini.
"Bang Don," panggil Ziva tiba-tiba.
"Apa lagi?"
"Spion emas ini kalau dijual bisa buat beli bakso segerobak nggak ya?"
Aiden menghela napas panjang. "Jangan pernah kau berani menjualnya, Ziva. Itu adalah pengingat bahwa seorang raja mafia pun bisa dikalahkan oleh gadis semprul dengan seblak di tangannya."
Ziva tertawa lebar, merangkul lengan Aiden tanpa rasa takut. Mereka berjalan menuju gedung utama sirkuit, meninggalkan pemandangan paling aneh di Italia: Sebuah Lamborghini berlumuran seblak dan sebuah skuter butut dengan spion emas murni yang bersinar di bawah matahari Milan.
Hari itu, Aiden belajar bahwa dalam hidup, kecepatan bukan segalanya. Terkadang, kau hanya butuh sedikit kegilaan dan banyak kencur untuk memenangkan perlombaan.