Ketika cinta harus dipisahkan oleh perjodohan orangtua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Reuni
Sukma masih terpaku, tak percaya setelah belasan tahun, ia bertemu kembali dengan cinta pertamanya. "Dimas!" bisiknya pelan.
Dimas mendekat, semua percakapan mereka sudah ia dengar dengan jelas.
"Bapak kenal dengan wanita ini?" tanya Angkasa, menunjuk Sukma yang kedua bola matanya hampir keluar.
Dimas diam. Ia masih fokus menatap Sukma dan Leya bergantian. Sejak awal melihatnya tadi, ia merasakan ada getaran yang berbeda saat melihat wajah Harleya.
"Dia anakku kan Sukma? dia Harleya kan?" tanya Dimas. Saat ini fokusnya tertuju sepenuhnya pada wajah sang putri yang sangat ia rindukan.
Leya juga diam. Ia sedang mencerna apa yang sebenarnya terjadi.
"JAWAB AKU SUKMA! DIA PUTRIKU KAN?" Dimas membentak Sukma yang sejak tadi hanya diam.
"Dia... dia...." Sukma terbata, ia bingung harus jawab jujur atau bohong.
"Apa dia ayah kandungku Ma?" kali ini Leya yang bertanya.
Sukma makin terpojok. Leya dan Dimas terus mencecarnya, menuntut penjelasan dan klarifikasi dari dugaan mereka yang semakin menguat.
"Iya! dia ayah kandung mu!" akhirnya Sukma menjawab dengan jujur. "Tapi dia pria yang tidak berguna Leya. Dia itu miskin, melarat! sebaiknya kamu jangan dekat dengan dia!" Sukma memegang tangan Leya, ingin menyembunyikan putrinya dibelakang tubuhnya.
Entah gejolak apa yang terjadi dalam dirinya. Padahal baru saja ia menghina Leya seperti seseorang yang tidak memiliki hubungan darah. Tapi sekarang, saat sang suami muncul... ia merasa tak rela, jika Leya mengenal ayah kandungnya.
"Papa!" Leya menghempas tangan Sukma dengan kasar.
Sukma mencelos, ia kembali ingin meraih tangan putrinya. Tapi Leya... sudah melangkah dekat dengan ayah kandungnya.
"Anak Papa! Harleya!" suara Dimas bergetar. Ia tak percaya, jika hari ini akan tiba.
Selama belasan tahun ia terus mencari keberadaan putrinya. Selama belasan tahun ia hidup sambil menahan rindu yang hampir tak tertahankan. Tapi sekarang, mereka sudah bertemu. Bertemu secara langsung dalam keadaan yang tidak diduga-duga.
"Papa!"
"Leya!"
Mereka berpelukan. Pelukan erat antara ayah dan anak yang tak pernah bertemu. Dulu, Dimas masih sangat ingat terakhir kali melihat Leya, saat putrinya itu masih bayi. Suara tangisnya, tangan mungil yang ingin meraihnya... masih melekat kuat dalam ingatannya.
Tapi sekarang... Putrinya sudah dewasa.
"Papa sangat merindukan kamu Nak! Belasan tahun Papa mencari kamu!" ucap Dimas, suaranya teredam dalam tangis haru penuh kerinduan mereka.
"Aku juga kangen sekali Pa! Dari dulu aku ingin tahu siapa Papa aku. Tapi wanita itu... dia tidak pernah mau memberitahu aku..." sahut Leya.
Rasanya sekarang ia tidak sudi lagi memanggil ibunya dengan sebutan Mama. Karena prilakunya sekarang, sama sekali tidak mencerminkan sikap seorang Ibu.
Mereka melepas pelukannya.
"Jadi Angkasa ini suami kamu Nak?" tanya Dimas, melihat Angkasa yang ikut terharu.
"Iya Pa! dia suami aku, suami yang paling luar biasa baiknya!" jawab Leya dengan bangga.
Dimas tersenyum. "Dunia sesempit ini ya?... ternyata selama ini menantuku bekerja di perusahaan milikku!"
Leya terkejut. "Perusahaan besar itu punya Papa? jadi bos baik yang selama ini Mas Angkasa ceritakan itu Papa kandungku sendiri?"
Mereka bertiga tertawa. Menertawakan hidup yang sangat konyol. Selama ini mereka berada ditempat yang dekat. Bahkan sangat-sangat dekat yang memungkinkan mereka bertemu lebih cepat. Tapi yang namanya takdir... selalu memiliki jalannya sendiri, hingga pada kesempatan inilah mereka baru bertemu.
"Jadi perusahaan besar yang baru dibuka itu milik kamu Dimas?" tanya Sukma tak percaya.
Ia masih ingat dengan jelas. Jika dulu, Dimas hanya mahasiswa miskin yang bekerja paruh waktu di cafe.
"Iya perusahaan itu milikku! Ada masalah?" jawab Dimas dengan tatapan dingin yang tidak pernah Sukma lihat seumur hidupnya. Bahkan saat ia memutuskan untuk bercerai dulu, Dimas masih menatapnya dengan penuh cinta dan harapan. Tapi sekarang, semua itu sudah sirna tak berbekas.
"Bukannya dulu kamu cuma mahasiswa miskin?" Sukma baru sadar, jika mobil yang Dimas naiki adalah mobil mewah limited edition yang baru keluar beberapa waktu lalu.
"Saat itu aku sedang diuji oleh Papaku sebelum penyerahan ahli waris keluarga Darmono padaku. Tadinya setelah aku lulus ujian, aku akan jujur padamu. Tapi ternyata... kamu malah lebih dulu menceraikan aku hanya karena ancaman dari Papa kamu. Padahal kalau kamu mau bertahan sebentar saja, kamu bisa menikmati seluruh kekayaan keluarga Darmono tanpa batas. Tapi sayangnya kamu tidak teguh pendirian dan gampang dipengaruhi orang lain!" jelas Dimas.
Sukma terdiam, ia menyesal tentu saja. Andai sejak awal ia tahu jika Dimas pewaris tunggal keluarga Darmono yang kaya raya. Mungkin ia akan bertahan, dan Papanya pasti merestui hubungan mereka.
"Kenapa kamu tidak menjelaskan semuanya lebih awal. Andai dulu kamu memberitahu aku identitas kamu yang sebenarnya... papa aku pasti tidak akan menentang hubungan kita!"
Dimas tersenyum smirk. Ia sudah bisa menduga, jika Sukma pasti akan mengatakan hal ini. "Justru itu aku sengaja tidak memberitahu kamu sejak awal. Karena aku tidak mau punya istri matre yang hanya mementingkan harta serta kedudukan. Hanya wanita tulus yang mencintai aku apa adanya yang pantas mendampingi aku,"
"Dimas... Aku..." Sukma ingin bicara. Tapi Dimas memberi isyarat untuk diam.
"Tidak perlu bicara panjang lebar lagi Sukma. Intinya kita hanya masa lalu. Dan sekarang aku ingin mengenal lebih dekat dengan putri dan menantuku! Ayo Leya, Angkasa kita pergi!" ajak Dimas.
Mereka bertiga masuk dalam mobil. Meninggalkan Sukma yang masih berdiri ditempatnya. Padahal usianya sudah tidak lagi muda. Tapi sifatnya, masih labil seperti anak remaja.
---
Mobil mewah itu melesat menuju ke apartemen Angkasa. Ya, Dimas ngotot ingin tahu dimana anak dan menantunya tinggal selama ini.
Di jalan mereka tidak diam saja. Dimas banyak bertanya bagaimana kehidupan Leya selama ini.
Leya bicara jujur apa adanya. Semua yang ia jalani dan ia rasakan, ia ceritakan semuanya ke sang ayah. Bahkan kisah rumit bersama Sukma juga mereka ceritakan.
"Kurang ajar!" Dimas memukul pahanya sendiri dengan kesal. "Jadi Pak tua itu masih tetap egois seperti dulu!" geram Dimas. Jika ia ingat bagaimana perlakuan Hardiman, rasanya ia ingin sekali melenyapkan pria tua itu dari muka bumi ini.
"Ya masih lah. Bahkan ya Pa, mereka sengaja menyabotase semua pengusaha yang mau kerjasama dengan Mas Angkasa. Andai waktu itu Papa gak terima Mas Angkasa, mungkin saat ini suamiku udah jadi supir taksi online mungkin. Karena dia sempat bilang, kalau gak ada perusahaan yang mau terima dia... jadi supir taksi online juga gak masalah!" jelas Leya, menceritakan kembali semuanya dengan menggebu-gebu. Karena rasa kesal yang masih bercokol kuat di dadanya.
Dimas melirik Angkasa yang duduk di bangku depan sebelah sopir. "Memangnya kamu gak malu dari pemimpin perusahaan jadi supir taksi online?"
"Enggak! apapun akan aku lakukan demi istri dan anakku. Selama aku masih ada, mereka gak boleh menderita!" jawabnya.
Dimas mengangguk. Sebagai sesama lelaki, ia tahu sebesar apa cinta dan tekad pria itu terhadap putrinya. Bahkan selentingan gosip di kantor yang mengatakan jika ada beberapa karyawati yang menyukai menantunya itu, tapi tidak ditanggapi olehnya... juga sampai ke telinganya.
"Bagus!" Dimas menepuk pundak Angkasa. "ternyata putriku gak salah pilih suami!" lanjutnya.
Leya bergelayut manja di lengan Papanya. Saat ini ia sangat bahagia, karena akhirnya ia bisa bertemu dengan ayah kandungnya yang selama ini juga merindukan nya dsn berusaha untuk mencari dirinya.