''Semua laki-laki sama, termasuk kamu."
Duniaku hancur saat tahu Ayah punya keluarga lain. Malam itu juga, aku pergi meninggalkan rumah, kenangan, dan laki-laki yang paling mencintaiku tanpa satu pun kata pamit. Bagiku, cinta hanya sebuah kepalsuan.
Lima tahun berlalu, aku kembali sebagai wanita mandiri yang keras hati. Namun, takdir mempertemukanku lagi dengannya di sebuah persimpangan.
Dia tidak lagi mengejarku. Dia hanya memilih duduk di sampingku saat aku menangis, mendengarkan tanpa banyak tanya, dan menjagaku dari kejauhan.
Apakah aku sanggup membuka hati, saat bayang-bayang pengkhianatan Ayah masih menghantui? Bisakah aku berdamai dengan luka, jika memaafkan saja terasa begitu mustahil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Ibu terdiam, namun usapan tangannya di rambutku tidak berhenti. Sentuhannya begitu teratur, lembut, dan penuh kasih, seolah ia sedang mencoba menyatukan kembali kepingan hatiku yang hancur lewat ujung jemarinya.
Ibu tahu. Tanpa aku perlu berucap sepatah kata pun tentang apa yang kulihat di butik Wira Pratama tadi, Ibu bisa merasakan panasnya luka yang baru saja meledak di dadaku. Selama lima tahun ini, kami memang hidup bersama, tapi kami saling berakting. Aku berpura-pura menjadi wanita baja agar Ibu tidak merasa bersalah, dan Ibu berpura-pura tidak tahu bahwa setiap malam aku masih sering terjaga memikirkan pengkhianatan itu.
"Anakku yang malang..." bisik Ibu, suaranya bergetar menahan tangisnya sendiri. "Maafkan Ibu, Rana. Maaf karena membuatmu harus memikul beban seberat ini sendirian."
Aku menggeleng kuat di pangkuannya, isakanku semakin menjadi. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, aku membiarkan diriku benar-benar hancur. Aku tidak lagi peduli pada gincu merah yang luntur atau blazer mahal yang kini kusut. Semua tembok profesionalisme dan kemandirian yang kubangun dengan susah payah ternyata hanya topeng rapuh.
Selama ini, aku pikir aku adalah pelindung bagi Ibu. Aku mengunci rapat semua memori tentang Ayah, membuang semua barang pemberiannya, dan mengganti identitas kami hanya agar Ibu tidak perlu mengingat rasa sakit itu. Tapi malam ini, aku menyadari bahwa aku hanya sedang menunda ledakan. Aku tidak sedang sembuh; aku hanya sedang berlari di tempat yang sama.
"Rana benci Ayah, Bu... Rana benci karena dia terlihat begitu bahagia di sana," ucapku terbata-bata di sela isak tangis. "Kenapa dia tega membohongi kita selama belasan tahun? Kenapa kita harus dibuang seperti sampah saat dia membangun istana untuk orang lain?"
Ibu menarik napas panjang, lalu mengecup puncak kepalaku. "Dia tidak membuang kita karena kita tidak berharga, Rana. Dia pergi karena dia tidak cukup kuat untuk menghadapi kebenaran dalam dirinya sendiri. Jangan biarkan pengkhianatannya membuatmu merasa tidak layak dicintai."
Ibu terus memelukku sampai tubuhku lemas karena kehabisan tenaga untuk menangis. Ruang tengah itu menjadi saksi runtuhnya pertahanan terakhir Rana Anindita. Malam ini, aku bukan lagi asisten manajer yang disegani, bukan lagi wanita mandiri yang keras hati. Aku hanyalah seorang anak perempuan yang sedang meratapi kehilangan pahlawan pertamanya.
Ibu mengangkat daguku, menyeka sisa air mata di pipiku dengan ibu jarinya yang kasar. "Rana, luka itu seperti jahitan. Kalau kamu terus menutupinya tanpa dibersihkan, dia akan membusuk di dalam. Malam ini, biarkan dia terbuka. Biarkan dia berdarah. Setelah ini, kita akan menjahitnya lagi bersama-sama, dengan benang yang lebih kuat."
Aku menatap mata Ibu yang teduh. Di sana, aku tidak menemukan kebencian yang sama seperti yang kurasakan. Aku hanya menemukan kedamaian yang luas.
"Istirahatlah, Sayang. Besok kita mulai lagi," bisik Ibu.
Malam itu, aku tidur di kamar Ibu, meringkuk di sampingnya seperti saat aku masih kecil. Di luar, angin malam berembus kencang, namun di dalam sini, untuk pertama kalinya setelah lima tahun, hatiku merasa sedikit lebih ringan. Aku sudah berhenti berlari, meskipun aku tahu, besok pagi hantu-hantu itu—Farez, Bagaskara, dan Ayah—masih akan menungguku di persimpangan jalan yang sama.
Sinar matahari pagi menyelinap malu-malu melalui celah gorden, namun kepalaku terasa seberat batu. Saat aku membuka mata, rasa perih langsung menyengat—kelopak mataku membengkak, sisa dari badai air mata semalam yang menguras seluruh energiku. Tubuhku terasa sangat ringan sekaligus kosong, seolah beban yang kupikul selama lima tahun telah meluruh bersama isak tangis di pangkuan Ibu.
Aku terdiam sejenak di balik selimut, menatap langit-langit kamar Ibu. Tidak ada lagi amarah yang meledak-ledak seperti kemarin sore, yang tersisa hanyalah kelelahan yang luar biasa.
Namun, di tengah kesunyian itu, sebuah aroma yang sangat familiar merayap masuk ke dalam kamar. Aroma tumisan bawang merah, nasi goreng mentega, dan wangi teh melati yang mengepul. Itu adalah aroma "rumah" yang sesungguhnya. Aroma yang selalu mampu memanggilku kembali dari kegelapan mana pun.
Aku bangkit dengan perlahan, mencuci wajahku berkali-kali dengan air dingin untuk meredakan sembab, lalu melangkah menuju dapur.
Di sana, Ibu sedang sibuk membolak-balik nasi di atas wajan. Beliau mengenakan celemek bunga-bunga favoritnya, rambutnya dicepol rapi, dan wajahnya tampak jauh lebih segar dari dugaanku. Seolah kejadian emosional semalam tidak pernah terjadi, atau mungkin, Ibu sengaja menunjukkan ketegarannya agar aku tidak kembali goyah.
"Sudah bangun, Rana?" Ibu menoleh tanpa menghentikan gerakannya. "Duduklah. Ibu buatkan nasi goreng kesukaanmu. Jangan lupa minum air hangatnya dulu."
Aku menarik kursi makan, duduk dalam diam sambil menyesap teh yang masih panas. Uapnya membelai wajahku, memberikan ketenangan instan.
"Bu..." panggilku lirih.
Ibu meletakkan sepiring nasi goreng yang masih mengepul di depanku. Beliau duduk di hadapanku, menopang dagu dengan tangan, lalu menatapku dengan binar kasih yang tidak pernah pudar.
"Ibu sengaja tidak membangunkanmu lebih awal. Kamu butuh istirahat, Sayang. Hari ini, kalau kamu merasa belum siap ke kantor, tidak usah dipaksa," ucap Ibu lembut.
Aku menyuap nasi goreng itu perlahan. Rasanya tetap sama, hangat dan penuh cinta. "Rana harus tetap berangkat, Bu. Ada laporan yang harus diselesaikan. Tapi Rana janji, kalau sudah tidak kuat, Rana akan langsung pulang."
Ibu tersenyum, menyeka butiran nasi di sudut bibirku dengan ibu jarinya. "Jangan jadikan pekerjaan sebagai tempat pelarian lagi, Rana. Jadikan itu tempatmu berkarya. Pelarianmu harusnya ke sini, ke Ibu."
Aku mengangguk, merasakan setitik haru kembali mendesak di dadaku. Energi yang tadi pagi seolah hilang entah ke mana, kini perlahan mulai terisi kembali. Bukan karena motivasi karier atau ambisi sukses, tapi karena kekuatan sederhana dari tangan Ibu dan aroma dapurnya.
Saat aku bersiap mengenakan blazer abu-abuku lagi, aku melihat kacamata hitam di atas meja rias. Aku akan memakainya, bukan untuk terlihat sombong, tapi untuk menyembunyikan sisa 'perang' semalam.
Aku melangkah menuju garasi.