Nasib sial beruntun menimpa Kiara Masita, seorang siswi kelas 3 SMA yang energik. Setelah ditinggal pulang oleh sahabatnya, Kiara harus berjalan kaki di malam hari dengan ponsel yang mati total. Puncak kesialannya terjadi saat sebuah mobil mewah yang dikendarai oleh Abraham Wijaya (Bara) melindas ponsel kesayangannya hingga hancur berkeping-keping.
Pertemuan yang diawali dengan keributan di pinggir jalan ini memaksa Bara, seorang duda muda berusia 27 tahun sekaligus pengusaha sukses, untuk mengganti ponsel Kiara saat itu juga.
Dalam perjalanan pulang, suasana yang awalnya penuh perdebatan berubah menjadi negosiasi serius. Bara secara mengejutkan menawarkan sebuah kontrak pernikahan selama satu tahun kepada Kiara. Sebagai imbalannya, Bara menjanjikan fasilitas yang sulit ditolak rumah mewah untuk kedua orang tua Kiara, serta kehidupan yang terjamin dan serba mewah bagi Kiara sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menantang Bara
Genggaman tangan Bara mengeras di bawah meja. "Kelainan apa yang kau maksud?" tantangnya dengan suara rendah yang mengintimidasi.
"Saya tahu apa yang Om lakukan kemarin pada Kiara. Dilehernya ada tanda dan saya tau itu pasti ulah Om. Meski pun Kiara berbohong kalau itu digigit semut!"
Bara memejamkan mata sejenak. Rasanya ia ingin sekali berteriak bahwa Kiara adalah istrinya yang sah, namun masa depan pendidikan gadis itu masih menjadi pertimbangan utamanya.
"Tolong ya, Om. Berhenti memperlakukan Kiara seolah-olah dia istri Om! Sekali lagi Om berbuat sembarangan, hadapi saya!" Sean berdiri, menepuk dadanya dengan pongah.
"Oh, jadi kau menantangku? Baik. Kita serahkan semuanya pada Kiara. Biarkan dia yang menentukan siapa yang akan dia pilih di antara kita." Bara ikut berdiri, tubuhnya yang tegap dan matanya yang tajam membuat Sean tampak kecil.
"Kita? Jadi benar kan, Om hanya modus? Pura-pura jadi wali, tapi diam-diam jatuh cinta pada Kiara." Sean menghentakkan gelas susu stroberinya ke meja.
"Kalau kau kalah dan Kiara lebih memilihku, tolong... jangan menangis." Bara menepuk pelan pipi Sean, meletakkan beberapa lembar uang di meja, lalu melangkah pergi meninggalkan Sean yang terpaku kesal.
**
"Sean... kamu bolos ya? Kata teman-teman, kamu tidak ikut latihan basket."
Kiara menatap bingung ke arah Sean yang mengajaknya bertemu di halaman belakang SMA Pertiwi pada jam pelajaran terakhir. Sean tampak gelisah, tidak seperti biasanya.
"Ki, kita keluar sebentar yuk..." pinta Sean memelas.
"Ini kita sudah di luar, Sean." Kiara tertawa pelan, menunjukkan kepolosannya yang natural.
"Maksudku, ikut aku jalan-jalan."
Mata Kiara melebar. "Sean, kamu mengajakku bolos? Ya ampun, kamu kan kapten basket, masa memberi contoh tidak baik?"
"Hanya kali ini, Ki. Untuk merayakan anniversary kita. Kalau pulang sekolah, kamu pasti tidak akan diizinkan keluar lagi oleh Om-mu itu."
Kiara menimbang sejenak. Keinginan untuk bersenang-senang mengalahkan rasa takutnya. "Sebentar ya, aku beri tahu Melati dulu kalau kita mau bolos..."
"Jangan! Nanti Melati pasti lapor ke orang tuamu." Sean menarik lembut lengan Kiara menuju tembok belakang sekolah. "Kamu kan jago memanjat. Mobilku sudah terparkir di balik tembok itu. Ayo!"
Tanpa pikir panjang, Kiara setuju. Ia merasa sangat bersemangat. Lagipula, ini masih jam sekolah, Bara pasti sedang sibuk di kantornya dan tidak akan tahu.
"Aku contohkan dulu, nanti kamu ikuti ya." ucap Kiara penuh semangat. Ia justru yang memberikan tutorial memanjat tembok kepada Sean.
Tanpa mereka sadari, aksi nekat itu diawasi oleh seseorang yang langsung mengabadikannya lewat kamera ponsel.
"Kita mau ke mana?" tanya Kiara sambil menguncir rambutnya, secara tidak sengaja memamerkan bekas kemerahan di lehernya. Sean yang melihat itu kembali merasa dadanya sesak oleh amarah.
Ciiiiiiittt!
Sean mengerem mendadak, membuat kepala Kiara hampir terantuk dashboard.
"Kenapa, Sean? Lupa bawa dompet?" tanya Kiara khawatir. Isi dompetnya sendiri hanya tersisa sedikit, dan itu pun tertinggal di laci kelas.
"Tidak, Ki. Aku hanya ingat belum memberikan sesuatu untukmu tadi pagi. Merem sebentar, ya."
Kiara menutup matanya tanpa curiga. Sean mencoba melakukan apa yang gagal ia lakukan tadi pagi. Ia mendekatkan wajahnya perlahan, namun...
Hatzziiiii!
Kiara bersin tepat di depan wajah Sean. "Maaf, maaf Sean... hidungku tiba-tiba gatal sekali."
Sean menghela napas panjang, menyeka wajahnya dengan lesu. Hasrat romantisnya menguap seketika. "Ya sudah, kita lanjut jalan saja."
"Kamu mau ke mana sekarang?" tanya Sean lagi. Kiara sedang asyik membuka bungkus cokelat yang disediakan Sean.
"Ke kebun binatang saja yuk, mumpung dekat dari sini.” ajak Sean setelah melihat navigasi.
"Ah, tidak jadi. Siang-siang begini pasti panas!" Kiara meneguk air mineral hingga tandas. "Bagaimana kalau ke wahana permainan saja? Aku mau naik bianglala!"
Sean hanya bisa pasrah mengikuti keinginan kekasihnya yang sangat random itu.
**
"Halo, Pak Laksmana..."
Di tengah kesibukannya, Bara mengangkat telepon dari Pak Laksmana Permana, guru yang mengawasi disiplin di sekolah Kiara.
"Apa? Bagaimana bisa?" Bara menghentikan jemarinya di atas laptop. Yudha, asistennya, langsung menoleh penasaran.
"Benar itu Kiara?" Bara menyalakan pengeras suara.
"Benar, Pak Bara. Saya tidak mungkin salah lihat. Dari cara memanjatnya saja sudah terlihat kalau itu Kiara. Saya akan kirimkan fotonya."
Bara menggelengkan kepala. Istri kecilnya benar-benar tidak bisa diam sebentar saja.
"Dia bolos sendiri?"
"Tidak, Pak. Bersama Sean, kapten basket sekolah ini."
Bara mengertakkan gigi. "Pak Laks, saya rasa Sean itu pengaruh buruk bagi Kiara."
"Justru sebaliknya Pak, Sean itu anak baik, tapi sejak dekat dengan Kiara, dia jadi ikut-ikutan bandel." keluh Pak Laksmana.
"Bapak tahu mereka ke mana?"
"Wah, Kiara tidak pamit pada saya, Pak."
Yudha menahan tawa di depan Bara. Bara segera meminta Yudha melacak plat mobil Sean. "Yud, lacak semua CCTV. Cari ke mana arah mobil anak itu!"
Bara juga memerintahkan Yudha untuk mencari guru homeschooling. "Aku tidak akan mengizinkan dia sekolah di sana lagi. Dia butuh pengawasan ekstra!"
"Siap, Bos! Tapi Bos, yakin mau homeschooling? Nanti Kiara makin bosan di rumah." goda Yudha.
Bara tidak peduli. Ia segera berganti pakaian santai, begitu juga Yudha yang tiba-tiba memakai kaos bergambar boneka yang tampak konyol. Mereka segera menuju wahana permainan setelah titik koordinat mobil Sean ditemukan.
Di lokasi wahana, Kiara sudah berlari menuju bianglala. Ia melepas sepatunya sebelum naik.
"Kenapa dilepas, Ki?" tanya Sean bingung.
"Biar bianglalanya tidak berat, jadi bisa putarannya lebih kencang!" jawab Kiara asal.
Sean berjongkok, berniat memasangkan kembali sepatu Kiara ke kaki putih mulus gadis itu. Namun, teringat pesan Bara bahwa ia tidak boleh disentuh laki-laki lain, Kiara refleks menarik kakinya dan justru tidak sengaja menendang wajah Sean.
"Aduh! Sakit, Ki..." Sean mengusap bibirnya yang membengkak.
“ Aduh maaf, Sean. Aku nggak sengaja.” Kata Kiara menyesal.
Meski begitu, mereka tetap naik ke bianglala. Saat wahana mulai meninggi, Sean mencoba merayu. "Ki, dari atas sini semuanya indah. Tapi bagiku, hanya ada satu yang paling indah... yaitu kamu."
Tepat saat itu, Kiara menguap lebar. "Apa tadi, Sean? Aku tidak dengar."
Sean terdiam. Momen romantis itu hancur berantakan.
Di bawah, Bara sampai dengan napas memburu. "Cepat, Yud! Jalanmu lambat sekali seperti siput!"
"Sabar, Bos! Kita harus beli tiket dulu." Yudha malah asyik mengajak Bara berfoto di gerai dokumentasi sebelum mereka berpencar mencari Kiara.
Cukup lama Bara mengitari area yang luas itu, hingga ia mendengar suara lengkingan yang sangat ia kenal. Ia mendongak ke atas dan melihat Kiara sedang melambai riang dari kabin bianglala yang bergerak turun.
"Om Bara!" seru Kiara tanpa sadar.
Namun, begitu melihat ekspresi wajah suaminya yang sudah menegang dan dipenuhi aura kemarahan, Kiara langsung menciut dan bersembunyi di bawah bangku kabin.
semangat💪 crazyup