NovelToon NovelToon
Gara-gara Cinta Yang Mendua

Gara-gara Cinta Yang Mendua

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor jahat / Pelakor / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Selingkuh / Cintapertama
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Dikhianati. Ditinggalkan. Dipisahkan dari anaknya.

Sekar kehilangan segalanya karena cinta yang mendua.

Saat ia bangkit dan menemukan dirinya kembali, seseorang dari masa lalu hadir, membawa kesempatan kedua yang tak pernah ia duga.

Tapi setelah semua yang terjadi
masih beranikah Sekar mencintai lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15

Malam itu, kamar Sekar gelap, hanya diterangi cahaya redup dari lampu tidur di sudut ruangan. Ponselnya masih menyala di tangannya. Ia menatap lama tulisan yang baru saja ia baca, kalimat demi kalimat seolah menembus sesuatu yang selama ini ia tahan rapat.

“Allah telah mendengar…”

Sekar menelan pelan. Dadanya terasa sesak, tapi berbeda dari biasanya. Bukan hanya karena luka, tapi karena ada sesuatu yang disentuh… sesuatu yang selama ini ia abaikan: tempat untuk benar-benar mengadu.

Ia meletakkan ponselnya perlahan di samping, lalu bangkit dari tempat tidurnya. Kakinya terasa berat, tapi ia tetap melangkah. Seolah ada yang menariknya, bukan keluar, tapi ke dalam dirinya sendiri. Usai berwudhu ia kembali.

Sajadah itu masih tersimpan rapi di lemari. Sudah lama… terlalu lama sejak terakhir kali ia benar-benar berdiri di atasnya dengan hati yang utuh. Tangannya sedikit gemetar saat membentangkannya. Sekar berdiri. Diam. Beberapa detik berlalu, tapi ia tidak langsung takbir. Karena tiba-tiba… semuanya terasa penuh.

Semua yang ia tahan. Semua yang ia diamkan. Semua yang ia kuat-kuatkan. Malam itu, semuanya seperti ingin keluar bersamaan. “Allahu Akbar…” Suaranya pelan. Hampir tidak terdengar.

Ia mulai shalat, tapi pikirannya tidak sepenuhnya fokus. Bayangan Sea muncul. Wajah kecil itu. Suaranya. Jarak yang kini terasa begitu nyata. Dan saat ia sampai di sujud, Sesuatu di dalam dirinya runtuh. Tangisnya pecah. Benar-benar pecah. Bukan tangisan yang ditahan seperti selama ini. Bukan air mata diam yang jatuh tanpa suara. Tapi tangisan yang dalam, yang keluar dari tempat paling sakit di hatinya.

“Ya Allah…” suaranya tercekat di antara isak.

Tangannya mencengkeram sajadah.

“Aku capek…”

Kalimat itu keluar begitu saja. Jujur. Tanpa dibuat-buat.

“Aku udah coba kuat… aku udah coba sabar… tapi aku capek…”

Air matanya membasahi sajadah.

“Aku nggak minta hidupku sempurna… aku cuma…” napasnya terputus, “…aku cuma mau anakku…”

Suara Sekar bergetar hebat.

“Jangan jauhkan dia dari aku…”

Ia menangis lebih keras, bahunya bergetar. Semua luka yang selama ini ia simpan sendiri, malam itu keluar tanpa sisa.

“Kalau aku salah… tolong perbaiki aku…”

“Kalau aku lemah… tolong kuatkan aku…”

“Kalau ini ujian…” suaranya hampir hilang, “…jangan biarkan aku kehilangan dia…”

Tangis itu berlangsung lama. Tidak terburu-buru. Tidak ditahan.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama… Sekar tidak mencoba terlihat kuat.

Ia benar-benar mengadu.

Dan di tengah isak yang perlahan mereda, ada sesuatu yang berubah. Bukan karena masalahnya hilang. Bukan karena jawabannya langsung datang. Tapi karena… ia tidak lagi merasa sendirian.

Sekar mengangkat wajahnya perlahan dari sujud. Air matanya masih tersisa, tapi napasnya mulai lebih teratur.

Kalimat yang tadi ia baca terlintas lagi di benaknya. Allah mendengar… bahkan sebelum kau selesai bicara…

Sekar menutup matanya sejenak. Untuk pertama kalinya, setelah semua yang ia lewati… ia merasa didengar.

***

Sekar duduk bersandar di tepi ranjang setelah doanya usai. Matanya masih basah, tapi dadanya tidak lagi sesak seperti sebelumnya. Ada ruang yang perlahan terbuka ruang untuk jujur, bahkan pada hal yang paling ia hindari: perasaannya sendiri pada Aji.

Ia menarik napas panjang, lalu berbisik pelan, seolah kata-kata itu hanya untuk dirinya dan Tuhan yang baru saja ia adukan segalanya.

“Dulu… kamu itu manusia favoritku.”

Suaranya tenang, tapi menyimpan sesuatu yang dalam.

“Aku nggak pernah main-main waktu menikah dengan kamu. Aku belajar mencintai kamu setelah kita halal… pelan-pelan, tapi sungguh-sungguh.”

Matanya kembali berkaca, tapi ia tidak menghentikan dirinya.

“Mataku cuma lihat kamu. Hatiku cuma isi kamu. Bahkan… duniaku waktu itu… ya kamu.”

Sekar tersenyum tipis. Senyum yang tidak lagi hangat, tapi juga tidak sepahit dulu.

“Sampai hari itu…”

Jeda.

Tangannya mengepal pelan di atas lututnya.

“…hari di mana aku tahu kamu curang.”

Kata itu keluar dengan berat. Bukan lagi ledakan emosi, tapi seperti luka lama yang akhirnya diakui.

“Curang yang bukan sekadar salah… tapi pengkhianatan yang kamu pilih dengan sadar.”

Ia menunduk. Air matanya jatuh lagi, tapi kali ini lebih tenang.

“Aku perempuan, Ji… mungkin banyak yang bilang aku harus memaafkan. Harus sabar. Harus menerima…”

Sekar menggeleng pelan.

“Tapi ada batas yang bahkan hati paling sabar pun nggak bisa lewati.”

Suaranya mulai bergetar, tapi tetap ia lanjutkan.

“Apa yang kamu lakukan… itu bukan cuma nyakitin aku. Itu melukai harga diriku… menghancurkan kepercayaanku… dan merusak sesuatu yang aku bangun dengan sepenuh hati.”

Ia menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan.

“Dan di detik aku tahu semuanya…”

Sekar menutup matanya sejenak.

“…di detik itu juga, sesuatu di dalam diriku mati.”

Sunyi.

“Cinta itu… yang dulu aku jaga mati-matian… hilang.”

Ia membuka matanya kembali, menatap kosong ke depan.

“Bukan karena aku mau berhenti mencintai…”

“…tapi karena kamu yang mematikan itu.”

Air matanya jatuh lagi, tapi tidak lagi liar.

Lebih seperti pelepasan.

“Aku nggak benci kamu sekarang…” lanjutnya pelan. “Tapi aku juga nggak bisa kembali jadi perempuan yang dulu mencintai kamu tanpa ragu.”

Sekar mengusap air matanya.

“Aku cuma… selesai.”

Kalimat itu sederhana. Tapi kali ini, tidak ada getaran. Tidak ada keraguan. Hanya kepastian yang lahir dari luka yang sudah terlalu dalam. Dan untuk pertama kalinya. Sekar tidak merasa kehilangan saat mengatakan itu.

***

Pagi itu terasa berbeda. Tidak ada lagi dada yang sesak tanpa arah, tidak ada lagi tangan yang gemetar karena takut menghadapi hari. Sekar berdiri di depan cermin lebih lama dari biasanya. Wajahnya masih menyimpan lelah, tapi ada sesuatu yang baru, ketenangan yang tidak rapuh.

Ia tidak lagi terlihat seperti perempuan yang hanya bertahan. Ia mulai terlihat seperti seseorang yang… siap bergerak. Ponselnya sudah ada di tangan sejak tadi, tapi kali ini ia tidak ragu. Tidak menunggu keberanian datang. Ia langsung menekan nomor pengacaranya.

“Selamat pagi, Bu Sekar,” suara di seberang terdengar profesional.

Sekar menarik napas pendek. “Saya… ingin mulai proses hak asuh anak saya.” Kalimat itu keluar dengan jelas. Tidak bergetar.

Ada jeda sebentar di sana, lalu percakapan berlanjut, membahas langkah, kemungkinan, risiko. Sekar mendengarkan dengan fokus. Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa kecil saat membicarakan masa depannya sendiri.

Setelah telepon itu berakhir, Sekar duduk diam beberapa saat. Bukan karena ragu. Tapi karena ia sadar ia baru saja melewati batas yang selama ini ia takuti.

Langkah pertama. Dan ia tidak mundur. Hari-hari berikutnya berubah menjadi lebih terarah. Sekar tidak lagi menunggu kesempatan. Ia menciptakannya. Ia mulai mencatat. Setiap hal kecil tentang Sea. Kesaksian Bu Meli dan Bu Ani. Kondisi sekarang dimana Sea tak lagi sekolah, bahkan perubahan cara Sea berbicara padanya.

1
Uthie
Duhhhhh...susah banget sihhh buat mereka bersatu nya 😭😭😭
Uthie
masih konflik soal Anak 😌
Uthie
Duhhhhh... konflik nya masih aja terus di urusan "Sea" melulu dehhhh.....
dan berulang terus kejadiannya.. dari Sekar di sakiti si Aji & Mila.. terus berusaha legowo demi kepentingan Sea.. dan terus aja MAU di manfaatin terus sama si Aji dan keluarga nya atas nama Sea.....
yg ada malah gampang di bodohin melulu 😤

Saat tersakiti, terus bangkit, tapi ujung-ujungnya mau aja terus di gituin lagiiii.... hadeuhhhh.. cape bacanya juga bolak-balik terus demi kepentingan nya Sea 🤦‍♀️🤣
Uthie
si Sekar emang nyeyel sihhh di kasih Tauin sama ibunya berulang kali selalu gak ada mau dengar nya 😤😡😡😡
Uthie
Sekar terlalu lembek.. gak bisa tegas 😤😡
Uthie
mantan kurang ajar itu 😡
Uthie
Ahhhhh.... Sekar-Sekar... kalau mahhhh kau akan masuk dalam lubang kehidupan di keluarga Toxic itu lagiii 😤😡
Uthie
Yaaa... Damar malah menjauh ☹️
Uthie
Yeayyyy

.Damar 🤩🤗
Uthie
Cieee😁
Uthie
cinta yg sejati kadang hadir bukan dr cover yg terlihat bagus di awal 👍😁
Uthie
semoga jodoh 👍😁🤗
Uthie
Bagusssss 👍👍👍👍
Uthie
Bagussss Sekar 👍😡
THAILAND GAERI
maaf Thor...aq nyesel baca novel,,Sekar bodoh ga ketulungan,,ga ada greget nya sedikit pun terlalu monoton..maaf ,,tp ini ide othor sendiri..selamat menulis novelnya
THAILAND GAERI
ni Sekar JD org kok goblok banget ya...lawan kek maki kek,,mana ada org diinjak diam aja..
Uthie
semoga si Aji nyesel dibuat nyesel melepas istri sebaik Sekar👍😡
Uthie
Langsung sukkkaa cerita genre Pengkhianatan yg selalu menarik disimak 👍👍👍👍👍👍👍
Uthie
kasian nya 😢
Uthie
dasar laki-laki yg bisa nya cuma mencari kebenaran untuk dirinya aja 😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!