NovelToon NovelToon
Cinta Yang Kupaksa Kau Benci

Cinta Yang Kupaksa Kau Benci

Status: tamat
Genre:Konflik etika / Cinta Murni / Menikah dengan Kerabat Mantan / Tamat
Popularitas:141.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

“Kita cerai.”
Sepuluh tahun pernikahan hancur oleh satu kalimat dingin dari Kaisyaf. Pria yang dulu menunggu Ayza selama empat tahun.

Pria yang pernah menjadi rumahnya itu kini berubah menjadi orang asing. Ia jarang pulang, menjauh dari keluarganya, bahkan meninggalkan jejak yang seolah membuktikan bahwa ia memiliki wanita lain.

Namun Ayza tidak pergi. Ia bahkan rela dimadu asalkan suaminya tidak meninggalkannya.

Fahri, adik angkat yang diam-diam mencintai Ayza sejak lama, tak tahan melihatnya terus disakiti. Sementara Reza, mantan suami yang pernah kehilangan Ayza, kembali dengan penyesalan yang belum selesai.

Hingga kebenaran tentang Kaisyaf akhirnya terungkap, dan menghancurkan hati Ayza lebih dari pengkhianatan apa pun.

Kini Ayza harus memilih: tetap setia pada cinta yang telah pergi, kembali pada masa lalu, atau menerima seseorang yang sejak lama menunggunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33. Waktu yang Tidak Menunggu

"Fahri."

Nada suara Husain berubah lebih dalam.

“Kalau Om kasih tahu…kamu tidak bisa lagi pura-pura tidak tahu.”

Fahri tidak menghindar.

“Dari awal… saya memang tidak berniat pura-pura tidak tahu.” Jawaban itu lirih, tapi jelas.

Husain menatapnya lama, lalu mengangguk kecil. Seolah memutuskan.

“Dia sakit.”

Kalimat itu akhirnya keluar. Pendek, namun menghantam. Bukan kaget… tapi “terlambat sadar”.

Fahri tidak langsung bereaksi. Matanya tetap pada Husain.

“Paru-paru,” lanjut Husain nyaris seperti gumaman. “…stadium akhir.”

Tak ada yang bergerak atau pun bicara setelahnya.

Dan entah kenapa, potongan-potongan kecil mulai muncul di kepala Fahri.

Terakhir kali ia bertemu Kaisyaf di kantor. Wajahnya… lebih tirus dari biasanya. Kulitnya tampak pucat. Bukan sekadar kurang tidur.

Dan matanya… Fahri sempat memerhatikan itu. Ada sesuatu yang berbeda. Bukan lelah. Bukan tekanan kerja. Lebih dalam dari itu. Seperti seseorang yang… sedang menahan sesuatu sendirian.

Saat itu, Fahri sudah curiga. Sekarang, semuanya terasa masuk akal.

Otot wajah Fahri memegang perlahan. Namun suaranya, saat akhirnya keluar… tetap tenang.

“Sejak kapan, Om?”

Sorot mata Husain sempat bergeser. Bukan menghindar. Tapi… seperti mencari titik awal dari sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak sadar kapan dimulai.

"Om juga tidak tahu pasti.” Suaranya lebih rendah, tidak setegas sebelumnya. “Selama ini… dia memang mulai sulit dihubungi.”

Fahri diam. Kalimat itu… terasa familiar.

“Kadang diangkat. Kadang tidak,” lanjut Husain. “Kalau pun diangkat… selalu singkat.”

Fahri menunduk sedikit. Garis wajahnya menegang tipis. “Saya juga merasakan hal yang sama.”

Pengakuan itu keluar pelan. Seolah baru sekarang… ia benar-benar mengakuinya.

“Bukan cuma itu.” Husain sedikit menunduk.

“Kaisyaf… sudah lama tidak pulang ke rumah utama. Ayza juga.”

Fahri tidak menyela.

“Kemarin… Om dan tante ke sana.” Suaranya sedikit turun. “Alvian bilang… ayahnya sudah jarang pulang. Dan Ayza…” Husain berhenti. “…tatapannya berbeda.”

Fahri mengangkat sedikit pandangannya.

“Ada sesuatu yang ditahan." ucap Husain. "Tapi dia tidak bilang apa-apa.”

Potongan-potongan kecil… mulai menyatu.

Husain melanjutkan, “Om coba hubungi dia waktu itu.”

Fahri fokus sekarang.

“Yang angkat… bukan dia.”

"Siapa?”

“Seorang wanita,” jawab Husain. “Mengaku sekretarisnya.”

Fahri mengernyit tipis.

“Awalnya masih masuk akal.” Husain menarik napas. “Tapi... Tiba-tiba… terdengar suara pintu dibuka.”

Fahri tidak bergerak.

“Dan seseorang berkata…” lanjut Husain ss, “…‘Doctor, patient is critical.’”

Kali ini… tidak ada suara lain selain napas yang terasa lebih berat dari sebelumnya.

“Dan karena itu Om ke Pak Ridho,” gumamnya pelan. Bukan bertanya. Lebih seperti… menyimpulkan.

Husain mengangguk. “Dan sekarang… Om tahu jawabannya.”

Tidak ada dramatisasi aya penekanan. Justru itu… yang membuatnya terasa lebih berat.

Untuk beberapa lama… tidak ada suara apa pun. Bahkan napas pun terasa berat.

Fahri tidak mundur atau maju. Namun kali ini tatapannya goyah, sangat tipis. Hampir tidak terlihat.

Lalu—

“Dia tahu?” tanya Fahri akhirnya.

“Dari awal.” sahut Husain.

Satu kalimat itu… lebih menyakitkan dari sebelumnya.

Fahri menunduk sebentar. Lalu kembali menatap Husain. “Dan dia memilih diam?”

Bukan pertanyaan, lebih seperti… memastikan.

Husain tidak menjawab, karena tidak perlu.

Dada Fahri naik turun pelan. Namun kali ini… tidak serapi biasanya.

“Om…” Suaranya lebih rendah. “...Kak Ayza belum tahu, 'kan?”

Husain menatapnya. Lalu menggeleng pelan.

“Belum.”

Fahri menutup mata sejenak. Dan di situlah, beban itu benar-benar terasa.

Bukan sebagai bawahan, atau orang luar. Tapi… sebagai seseorang yang selama ini… ada di antara mereka.

Ia membuka mata kembali. Sorotnya berubah lebih tenang. Lebih dingin, dan... siap.

“Kita tidak punya banyak waktu, ya?”

Kalimat itu pelan, tapi tepat.

Jawaban tak kunjung datang. Namun kali ini… ia tidak sendirian memikulnya.

***

Siang itu, gerbang sekolah mulai lengang. Alvian berdiri di tempat yang sama. Menunggu.

“Al.”

Suara itu membuatnya menoleh.

Reza.

Kali ini… ia tidak kaget, tapi tetap tidak mendekat.

“Om Reza,” ucapnya pelan.

Reza tersenyum tipis. Tidak memaksa mendekat.

“Baru keluar?”

Alvian mengangguk kecil, tapi kakinya tidak bergerak.

Reza memerhatikan itu, lalu perlahan merogoh ponselnya.

“Om tadi ketemu sesuatu…” ucapnya santai. “Kayaknya kamu perlu lihat.”

Alvian mengernyit sedikit, tapi tetap diam.

Reza menampilkan layar ponselnya. Sebuah foto. Seorang pria… bersama wanita lain. Dekat. Terlalu dekat.

Alvian melihatnya, dan alisnya langsung berkerut.

“Abi...?”

Suaranya kecil, tidak yakin.

Reza mengulum senyum. Ia justru menghela napas pelan, seolah ragu.

“Kadang…” ucapnya seperti bergumam, “…orang dewasa punya masalah yang gak diceritakan ke anak.”

Alvian diam di tempatnya, tapi mendengarkan.

“Abi kamu… belakangan jarang pulang, 'kan?” Nada suaranya tetap ringan, seolah hanya bertanya biasa. “Tapi kamu gak pernah dikasih tahu kenapa.”

Alvian tetap menatap foto itu. Tangannya mulai mencengkeram tali tasnya.

Reza melanjutkan, suaranya tetap lembut.

“Bukan berarti Abi kamu jahat…” Ia berhenti sejenak. “Tapi… mungkin sekarang dia lagi sibuk dengan pilihannya sendiri.”

Kalimat itu… tidak langsung, tapi cukup.

Alvian menunduk sedikit. Perlahan… mundur setengah langkah.

Reza melihat itu, lalu menambahkan—

“Kalau suatu hari kamu butuh seseorang yang tetap ada…” Ia tersenyum tipis. “…Om ada buat kamu.”

Langkah Alvian berhenti, namun tubuhnya tidak mendekat. Justru semakin menjauh. Dan sebelum suasana berubah lebih jauh—

“Apa yang Kakak lakukan di sini?”

Suara itu datang dari belakang. Tegas.

Reza refleks menoleh.

Alvian juga. Wajahnya seketika berubah.

“Om Fahri!”

Ia langsung berlari, memeluk pria itu tanpa ragu.

Fahri menahan tubuh kecil itu dengan satu tangan. Matanya tetap lurus ke depan. Ke arah Reza.

Dingin.

Reza mengatupkan rahangnya.

Fahri melirik sekilas ke ponsel di tangan Reza.

Layar itu belum mati. Dan dalam satu detik… ia tahu, ini bukan kebetulan.

Fahri menghampiri, langkahnya terukur. Tangannya otomatis menarik Alvian sedikit ke belakangnya. Tatapannya jatuh ke ponsel di tangan Reza.

Foto itu… masih menyala.

Garis rahangnya menegang halus.

“Apa yang Kakak lakukan di sini?” tanyanya dingin.

Jawaban tak langsung datang dari Reza. Ia justru memandang Fahri dari atas ke bawah.

“Harusnya aku yang tanya,” balasnya santai. “Kamu ngapain di sini?”

Fahri tidak terpengaruh.

“Kak Ayza minta aku jemput Al.”

“Benarkah?” sudut bibir Reza tertarik tipis.

Alvian di samping Fahri menggenggam ujung bajunya. Diam. Tapi matanya bolak-balik menatap keduanya.

Fahri melangkah setengah langkah ke depan.

“Jangan dekati dia lagi.” Nada suaranya tidak tinggi, tapi jelas.

Reza mengangkat alis sedikit.

“Aku cuma ingin membuat Ayza bahagia.” Kalimat itu ringan, seolah wajar.

Fahri tersenyum, tapi tak sampai keata.

“Prinsip hidup kalian berbeda, Kak. Apa Kakak yakin… bisa membahagiakan Kak Ayza?”

Reza maju selangkah.

“Jadi kamu merasa prinsip hidupmu sama dengan dia?” balasnya dengan nada dingin. “Dan kamu yakin… kamu yang bisa membahagiakan dia?”

Alvian menoleh ke Fahri, wajahnya mulai bingung.

Fahri mengerutkan kening. “Apa maksud Kakak?”

Alvian menggenggam baju Fahri lebih erat.

 

...🔸🔸🔸...

..."Ada kebenaran yang tidak menghancurkan saat disembunyikan,...

...tapi justru menghancurkan saat akhirnya terungkap… terlalu terlambat."...

..."Yang paling berbahaya bukan kebohongan,...

...tapi kebenaran yang sengaja ditunda."...

..."Ada rahasia yang dimaksudkan untuk melindungi,...

...tapi justru menjadi alasan semua orang terluka."...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Anonim
Ternyata Reza mengikut Fahri dan keluarganya yang sedang berada di pantai. Benar-benar penguntit sejati.

Ayza ke toilet. Reza bergerak mendekati bangunan toilet.

Ayza keluar dari toilet - Reza sudah berdiri di depannya. Bikin Ayza terkejut.

Reza sudah mendengar Ayza berkata yang sebenarnya. Apa masih kurang jelas - masihkah mengharapkan sesuatu yang tak mungkin dia miliki kembali.
Hanima
😍👍🙏
Anonim
Reza sebagai pengamat sejati ketika mereka makan pagi. Dia tahu kenapa Fahri terlihat berwajah cerah.

Melihat interaksi atara Fahri dan Ayza. Mendengar Alvian memanggil Abi untuk Fahri.

Semua itu membuat dada Reza terasa semakin sesak.

Alvian mau mancing di pantai. Mereka bertiga menuju pantai.

Reza mau ngapain keluar rumah juga dengan mobilnya.

Ditanya Bundanya - jawabnya ada urusan sedikit.

Sepertinya Rahman was-was terhadap Reza. Tidak akan tinggal diam kalau Reza sampai mengusik keluarga Fahri.
Rea
iya aku bacanya jg loncat krn nangis terus
🌠Naπa Kiarra🍁: Berarti sedihnya sampai nggak kuat ya, Kak 🥹

Tapi bacanya jangan lompat-lompat, kasihan retensinya 😭 Kita sesama penulis pasti tahu rasanya lihat grafik tiba-tiba jungkir balik.

Ujung-ujungnya reward melambaikan tangan dari kejauhan: waalaikumsalam 😂

Yang tersisa cuma mata panda gara-gara sistem baca model kodok.😭
total 1 replies
ngatun Lestari
masyaalloh.... banyak liku" hidup yg jadi pelajaran
Dek Sri
terima kasih atas karyanya kak, semoga sukses selalu
🌠Naπa Kiarra🍁: Aamin. Terima kasih kembali KK 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
mery harwati
Terimakasih author 🙏
Sehat selalu ya 😍
🌠Naπa Kiarra🍁: Aamin. Terima kasih kembali KK 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
Sugiharti Rusli
kisah yang haru biru sih, semoga kisah baru yang juga sudah dibaca juga seru yah🥰🥰
Sugiharti Rusli
bahkan pada akhirnya Fahri mengakui perasaan yang dia punya ke Ayza setelah dia sah sebagai suaminya,,,
Sugiharti Rusli
karena mau menolak seperti apapun Ayza, kalo takdirnya berjodog dengan Fahri makanya memang ada jalannya melalui Alvian yang sangat menyayanginya,,,
Sugiharti Rusli
dan Fahri juga tidak pernah melampaui batasannya, bahkan setelah Kaisyaf wafat, dan pada akhirnya takdirlah yang meruntuhkan hati Ayza,,,
Sugiharti Rusli
bahkan mungkin dulu saat akhirnya Ayza berjodoh sama mendiang Kaisyaf, dia tetap ada bersama mereka sebagai adik mereka
Sugiharti Rusli
yah memang pada akhirnya memenangkan hati Ayza bukan karena ambisi buta sih,,,
Eliermswati
trma ksh thor untuk semua cerita nya, smngt dan sukses untuk karya mu selanjutnya, 😍😍😍y q msh penasaran pengen d lnjut tentang alvian gede dan ank ayza sm fahri sih
🌠Naπa Kiarra🍁: Aamin. Terima kasih kembali KK 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
Asih Prawawati
Terima Kasih Thour..
Terima Kasih...akhir cerita yang indah .
aku suka .
Bukan sekedar bacaan...yg perlu di baca .
Tapi lebih dari itu ..ada pembelajaran juga .
🙏🙏🙏🙏
🌠Naπa Kiarra🍁: Sama-sama KK 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
Dek Sri
saya sudah mampir kak
🌠Naπa Kiarra🍁: Iya, Kak. Makasih 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
Juriah Juriah
trimakasih kepada author Nana atas crita bagus nya ga krasa aku mengikuti jln crita kisah kehidupan Ayza hingga season 2 dan sudah tamat ..dan sy akan mencoba mengikuti crita yg baru terbit semangat trus buat crita baru yg lebih bagus dan sukses selalu 🙏
🌠Naπa Kiarra🍁: Aamin. Terima kasih kembali KK 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
tse
terima kasih ka. setiap ceritamu selalu banyak pengalaman berharga yang bisa kita ambil dalam memyikapi setiap masalah yang dtang dengan kepala dingin dan tidak terbawa emosi....
jadi penasaran apa kaka emang orangnya aslinya memang begini ya... ramah dan mudah memaafkan kesalahan orang lain...
🌠Naπa Kiarra🍁: Terima kasih banyak, Kak 🥹 Kalau soal aslinya, mungkin aku bukan orang yang selalu tenang atau selalu kuat.

Aku juga pernah marah, sedih, kecewa, dan terluka. Cuma aku percaya, kalau emosi dipeluk terlalu lama, yang sesak biasanya diri sendiri.

Mungkin karena itu aku lebih suka memahami dan pelan-pelan belajar mengikhlaskan 😊
total 1 replies
Fadillah Ahmad
Luar Biasa
🌠Naπa Kiarra🍁: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Fadillah Ahmad
Terima Kasih banyak Kak Nana... Karena kakak sudah menghibur Kami, para Pembaca 🙏😁
🌠Naπa Kiarra🍁: Sama-sama Kak 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!