NovelToon NovelToon
Cahaya Dibalik Kabut Ridokan

Cahaya Dibalik Kabut Ridokan

Status: tamat
Genre:Reinkarnasi / Fantasi / Time Travel / Tamat
Popularitas:454
Nilai: 5
Nama Author: Jilal Suherman

​Kang Han-jun adalah pria yang terbiasa diabaikan oleh dunia hingga sebuah truk mengakhiri hidupnya yang monoton. Namun, kematian bukanlah akhir. Ia terbangun di Kuil Kehampaan, sebuah titik antara dimensi Bumi dan Alura, di mana Planet Ridokan berada.
​Diberi kesempatan kedua oleh Sang Dewi sebagai penyeimbang dimensi, Han-jun dikirim ke Ridokan dengan satu misi: mengumpulkan 6 Prasasti Elemen sebelum Ras Iblis dari Benua Hitam menelan seluruh kehidupan. Meski dibekali kekuatan tanpa batas, Han-jun hanya ingin satu hal: hidup santai. Namun, takdir menyeretnya melintasi lima benua, membangun persahabatan yang tak terhancurkan, dan menghadapi kengerian dari tiga Dewa Iblis yang haus darah. Ini bukan sekadar perjalanan pahlawan; ini adalah kisah tentang pria yang mencari arti rumah di dunia yang asing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilal Suherman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Baja yang Dilebur dan Lahirnya Algojo Dimensi

Sinar matahari pagi menyusup melalui jendela kaca patri di ruang perawatan VIP Guild Petualang Valeria. Ruangan itu beraroma antiseptik dari daun herbal sihir, bercampur dengan wangi bunga matahari dari mana penyembuhan Erina yang terus mengalir tanpa henti.

Di atas dua ranjang kayu berseprai putih, Rino dan Richard terbaring dengan tubuh yang dibalut perban sihir. Luka bakar akibat api naga Level 115 bukanlah sesuatu yang bisa disembuhkan dalam semalam, bahkan dengan sihir High Elf sekalipun. Zirah merah Rino dan tombak es Richard telah hancur menjadi rongsokan, diletakkan di sudut ruangan sebagai saksi bisu pengorbanan mereka.

Di ambang jendela, bersandar dengan kedua lengan terlipat di dada, berdirilah Ajil.

Setelan Malam Abadi Kelas SS miliknya menyerap cahaya matahari pagi. Wajah pria berusia tiga puluh tujuh tahun itu tidak sedikit pun memancarkan senyuman atau kehangatan. Meskipun semalam ia telah mengakui kedua pria berbalut perban ini sebagai sahabatnya, wajahnya tetap sedatar permukaan gletser, dan matanya sekosong jurang yang tak berdasar. Bagi Ajil, mengakui sebuah ikatan tidak berarti ia harus membuang topeng es yang menjaga kewarasannya.

[SISTEM: Peringatan. Pemulihan HP Entitas 'Rino' mencapai 70%. Pemulihan HP Entitas 'Richard' mencapai 75%.]

Erina menarik napas panjang, memutus aliran cahaya hijau dari telapak tangannya. Keringat tipis menghiasi dahi pualamnya. Ia menoleh ke arah Ajil, tersenyum lembut. "Masa kritis mereka sudah lewat, Ajil. Dalam dua hari, sel-sel kulit mereka akan tumbuh kembali secara sempurna."

Ajil tidak membalas senyuman itu. Ia hanya mengangguk samar, melangkah mendekati meja kecil di antara kedua ranjang tersebut. Dari dalam Cincin Ruang Tak Terbatasnya, ia mengeluarkan dua buah mangkuk tanah liat yang mengepulkan uap panas, meletakkannya dengan suara thuk yang tegas.

Aroma gurih kaldu daging yang sangat pekat, dicampur dengan wangi lada hitam, bawang putih sihir, dan aroma khas sumsum tulang langsung memenuhi ruangan, menenggelamkan bau obat-obatan.

"Makan," perintah Ajil datar, suaranya sedingin angin musim salju. "Itu Sup Sumsum Naga Tanah. Kolagen dan kalsium murninya akan mempercepat regenerasi tulang kalian yang retak. Aku tidak punya waktu menunggu orang sakit terlalu lama."

Rino dan Richard, yang baru saja setengah sadar, buru-buru memaksakan diri untuk duduk. Meski sekujur tubuh mereka terasa kaku dan perih, mata mereka berbinar-binar menatap pria berjaket hitam itu. Nada bicara Ajil mungkin sangat kasar dan wajahnya tidak bersahabat, tapi mereka tahu harga sup di depan mereka ini bernilai puluhan keping emas murni, setara dengan gaji mereka selama setengah tahun.

"T-Terima kasih banyak, Tuan Ajil!" ucap Rino parau, tangannya yang dibalut perban gemetar saat mengangkat sendok kayu. Begitu kuah kental nan gurih itu menyentuh lidahnya, rasa hangat langsung menjalar ke seluruh pembuluh darahnya, memperbaiki jaringan ototnya yang rusak dari dalam.

Richard ikut menyuap supnya dengan mata berkaca-kaca. "Tuan... Anda semalam memanggil kami sahabat. K-Kami berjanji, nyawa kami ini adalah milik Anda. Kami akan menjadi pedang dan perisai yang tak akan pernah hancur lagi!"

Ajil menatap mereka berdua dengan mata kelamnya yang menyipit tajam. Tidak ada haru di wajahnya.

"Jangan salah paham," ucap Ajil dengan nada bariton yang begitu berat dan mematikan, membuat udara di ruangan itu sedikit turun suhunya. "Aku menyebut kalian sahabat bukan berarti aku akan memeluk kalian dan menangis bersama. Sebuah pedang dan perisai yang hancur di medan perang tak lebih dari rongsokan besi. Jika kalian benar-benar sahabatku, tugas kalian adalah bertahan hidup. Aku tidak akan membuang tenagaku untuk menggali kuburan kalian."

Mendengar kata-kata sedingin es itu, Rino dan Richard justru tersenyum lebar sambil mengunyah daging naga yang empuk. Mereka telah memahami cara pria ini berkomunikasi. Di balik wajah algojonya, ini adalah bentuk kepedulian terdalam dari seorang pria yang terlalu takut untuk kehilangan lagi.

"Siap, Tuan Ajil!" jawab mereka serempak, mengabaikan rasa perih di bibir mereka yang melepuh.

Setelah memastikan kedua pria itu memakan habis sup mereka, Ajil memutar tubuhnya menuju pintu. "Erina. Kita ke lantai bawah. Ada hal yang harus kuurus."

Erina mengibaskan rambut peraknya dengan bangga, melirik Rino dan Richard dengan tatapan yang seolah berkata, 'Lihatlah, hanya aku yang boleh berdiri di sisinya', sebelum melangkah anggun mengekor di belakang Ajil.

Lantai dasar Guild Petualang Valeria sedang berada dalam puncak keramaian siang hari. Berita tentang Ajil yang membelah Naga Api Neraka Level 115 sendirian telah menjadi legenda mutlak. Tidak ada lagi petualang yang berani memandangnya dengan tatapan meremehkan.

Saat Ajil dan Erina turun dari tangga kayu jati, seluruh aktivitas di aula raksasa itu membeku. Dentingan gelas bir berhenti. Para petualang bergeser merapat ke dinding, menundukkan kepala mereka dalam-dalam, memberikan jalan selebar lima meter untuk dilewati sang Pahlawan Kelas S.

Ajil berjalan tanpa menoleh ke kiri maupun ke kanan. Wajahnya tetap mengeras, seolah pujian dan rasa hormat dari ribuan orang ini tidak lebih dari suara angin berisik di telinganya.

Langkahnya terhenti tepat di depan meja kaca mahoni resepsionis.

Karin, yang sedang mencatat laporan misi, mendongak. Begitu mata birunya bertemu dengan sosok Ajil, seluruh ketegasannya sebagai staf Guild runtuh seketika. Rona merah sepekat saus stroberi menjalar dari leher hingga ke telinganya. Napasnya sedikit tertahan, dan tangannya secara refleks merapikan rambut pirangnya yang sudah rapi.

"S-Selamat siang, T-Tuan Ajil..." sapa Karin dengan suara yang sangat lembut, matanya berbinar-binar penuh pemujaan. "S-Saya sungguh bersyukur Anda selamat dari insiden naga kemarin... A-Apakah Anda lelah? S-Saya bisa membuatkan Teh Chamomile sihir untuk menenangkan s-saraf Anda...".

Sebelum Karin sempat menyelesaikan kalimatnya, sebuah tangan ramping berkulit pualam mengebrak meja kaca itu dengan suara Brak! yang elegan namun mematikan.

Erina mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Karin dengan sepasang mata zamrud yang memancarkan aura membunuh tingkat tinggi. Senyum sinis terukir di bibir sang High Elf.

"Dia tidak butuh teh murahanmu, Manusia," desis Erina, suaranya sangat merdu namun berbisa. "Sarafnya sudah sangat tenang karena ada aku yang menjaganya. Berhentilah menawarkan hal-hal yang tidak diminta, dan berhentilah menatapnya seperti anjing yang kelaparan. Wajah merahmu itu benar-benar mengganggu pemandangan.".

Karin menggigit bibir bawahnya. Harga dirinya tercabik, namun rasa cemburunya jauh lebih besar. Ia membalas tatapan Erina dengan rahang yang mengeras.

"Tugas saya adalah memastikan kebutuhan Petualang Kelas S terpenuhi, Nona Elf yang sombong," balas Karin, mencoba mempertahankan nada formalnya meski giginya gemeretak. "Jika Tuan Ajil menginginkan pelayanan Guild, saya yang akan memberikannya. Anda hanyalah rekan seperjalanannya, bukan pemiliknya."

"Oh? Berani juga mulut manusiaku ini," Erina menyipitkan matanya, udara di sekitar mereka mulai berputar oleh sihir angin yang tak kasat mata.

Ajil menghela napas panjang yang terdengar sangat dingin. Ia sama sekali tidak peduli dengan perang aura pembunuh antara resepsionis dan elf ini. Ia mengangkat tangan kanannya, meletakkan sebuah perkamen kosong di atas meja kaca, tepat di tengah-tengah tatapan tajam kedua wanita tersebut.

"Hentikan omong kosong ini. Aku di sini bukan untuk minum teh," ucap Ajil datar, memadamkan aura pertikaian itu seketika. Ia menatap Karin dengan mata kelamnya. "Aku ingin mendaftarkan sebuah kelompok resmi."

Karin terkesiap, buru-buru menarik perkamen itu dengan wajah yang masih memerah. Ia mengambil pena bulunya. "S-Sebuah kelompok? Tuan Ajil ingin membentuk Party? T-Tapi Anda selama ini selalu bertarung sendirian...".

"Tulis saja," perintah Ajil tak terbantahkan. "Nama Kelompok: Algojo Dimensi. Anggota: Ajil sebagai Pemimpin. Rino, Kelas A+. Richard, Kelas A. Dan..." Ajil melirik Erina dari sudut matanya, "...Erina."

Erina, yang tadinya sedang melotot pada Karin, tiba-tiba mematung. Mata zamrudnya membelalak. Pria berhati es ini... memasukkan namanya ke dalam kelompok resmi? Di dunia Ridokan, terdaftar dalam satu kelompok Guild berarti mengikat takdir dan berbagi hidup serta mati di mata hukum kerajaan. Jantung sang High Elf berdebar liar, rona merah tipis kini menghiasi pipi pualamnya. Ia tersenyum penuh kemenangan ke arah Karin.

Karin mencatat nama-nama itu dengan tangan yang sedikit gemetar, hatinya terasa sedikit perih harus menuliskan nama elf arogan itu tepat di bawah nama pria pujaannya. "B-Baik, Tuan. M-Menunggu sinkronisasi sistem..."

Karin menempelkan stempel sihir berlambang dua pedang bersilang ke atas perkamen. Cahaya emas berpendar dari kertas tersebut, lalu pecah menjadi partikel yang menyerap ke dalam cincin perak di jari Ajil.

[SISTEM: Notifikasi Jaringan Guild Valeria.]

[Pembentukan Kelompok Resmi Berhasil.]

[Nama Kelompok: ALGOJO DIMENSI]

[Peringkat Kelompok: S (Menyesuaikan dengan level Pemimpin)]

[Anggota Terdaftar: Ajil (Ketua), Erina, Rino, Richard.]

Ajil melihat layar hologram itu dengan wajah tanpa ekspresi. Mulai detik ini, setiap misi, hadiah, dan ancaman yang ia terima akan terhubung dengan ketiga orang tersebut. Pria yang dulunya ingin menjauh dari siapapun ini, perlahan mulai membangun pasukan kecilnya sendiri.

Tiba-tiba, dari arah tangga, Rino dan Richard berjalan pincang menuruni anak tangga. Mereka memaksakan diri turun dengan sisa tenaga, tubuh mereka masih dibalut perban yang tebal. Rino memegang sebuah tongkat penyangga, sementara Richard bersandar pada dinding.

"T-Tuan Ajil..." panggil Rino dengan napas tersengal, namun wajahnya dipenuhi kebanggaan saat melihat layar raksasa di Papan Guild yang menampilkan nama kelompok baru mereka. "A-Anda benar-benar mendaftarkan kami... Kami yang cacat ini..."

Ajil menoleh lambat. Matanya menatap kedua sahabat barunya itu dengan pandangan yang teramat dingin, seolah ia tidak memiliki simpati atas rasa sakit mereka. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku trench coat-nya.

Suasana Guild yang tadinya hening menjadi semakin senyap, menunggu reaksi sang dewa kematian.

"Baja yang paling kuat tidak dibentuk dari satu jenis logam yang murni dan bersih," ucap Ajil dengan suara bariton yang bergema ke setiap sudut aula, datar namun mengandung ketegasan absolut. Wajahnya tetap sekaku pahatan es, tak ada senyum, tak ada kehangatan yang terlihat secara fisik.

Ia memandang lurus menembus jiwa Rino dan Richard.

"Baja pembelah naga... diciptakan dari campuran logam-logam cacat yang dilebur bersama di dalam tungku penderitaan, dan dipukul ribuan kali oleh rasa sakit hingga mereka tak bisa dipisahkan lagi. Jika kalian memang baja yang kupilih... pastikan kalian tidak patah sebelum kita mencapai akhir."

Mendengar kata-kata itu, air mata kembali menggenang di mata Rino dan Richard. Mereka berdiri setegak mungkin meski tubuh mereka hancur, meninju dada kiri mereka dengan kepalan tangan kanan sebagai bentuk penghormatan tertinggi ksatria.

"Kami tidak akan patah, Tuan! Hidup mati kami untuk Algojo Dimensi!" seru mereka serempak, mengabaikan rasa perih di sekujur tubuh mereka.

Di balik meja resepsionis, Karin menatap pria itu dengan pandangan yang semakin memuja. Pria ini begitu dingin, ucapannya begitu kasar, namun di saat yang sama ia memiliki kharisma pemimpin yang mampu membuat legenda Kelas A berlutut menyerahkan nyawa mereka.

Erina berjalan mendekati Ajil, berdiri sangat dekat hingga bahu mereka bersentuhan. Ia menyenderkan kepalanya sedikit ke arah bahu pria berjaket hitam itu, sebuah gestur posesif yang terang-terangan ia tunjukkan di depan Karin.

"Kita punya kelompok sekarang, Pemimpin," bisik Erina merdu, tak menghiraukan tatapan tajam Karin. "Apa perintah pertamamu?"

Ajil memalingkan wajahnya, melangkah menuju pintu keluar Guild.

"Istirahat," perintah Ajil dingin. "Begitu luka mereka sembuh, kita akan memburu sisa Prasasti Dimensi. Dan aku akan membantai siapa pun yang menyembunyikannya."

Sang Algojo melangkah keluar, diiringi oleh tatapan ribuan petualang, rasa cemburu yang membara dari seorang resepsionis, dan bayang-bayang ketiga anggota barunya yang siap menenggelamkan Planet Ridokan demi jalan pulangnya.

1
Mr.Jeje
bilamana ada kesalahan tulisan mohon untuk memberi tahu saya sebagai author🙏
KETUA SEKTE PEMBASMI DEWA: manja banget, kalau udah nulis pake AI yang bener juga lah, di cek 100×
total 1 replies
Mr.Jeje
saya sebagai author, bila mana ada kesalahan kata atau kalimat, mohon saran dan kritik nya untuk para pembaca. sebelumnya saya ucapkan terimakasih banyak.🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!