NovelToon NovelToon
Darah Ratu 1000 Tahun

Darah Ratu 1000 Tahun

Status: tamat
Genre:Romansa Fantasi / Perperangan / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Naomihanaaya

Seorang Raja Vampir yang kehilangan ratunya di medan perang, lalu menunggu 1000 tahun untuk menemukan reinkarnasi istrinya di dunia manusia. Namun ketika ia menemukannya kembali, sang ratu tidak lagi mengingat masa lalu mereka, sementara ancaman perang antara bangsa vampir dan manusia serigala kembali muncul.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naomihanaaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33 Kebangkitan

Pertarungan di tengah hutan itu telah mencapai titik yang tidak lagi bisa dikendalikan. Tanah yang sebelumnya menjadi pijakan kini berubah menjadi retakan panjang, seolah bumi sendiri tidak mampu menahan tekanan dua kekuatan besar yang saling berbenturan. Udara terasa berat, penuh dengan energi yang berdesakan, membuat siapa pun yang berada di sana sulit bernapas jika tidak memiliki kekuatan yang cukup.

Di pusat kehancuran itu, Edward dan Raja Serigala kembali saling berhadapan. Mata keduanya sama-sama menyala, dipenuhi tekad dan niat yang tidak bisa digoyahkan. Tidak ada lagi kata-kata yang perlu diucapkan. Semuanya telah jelas ini adalah pertarungan hidup dan mati.

Raja Serigala menyeringai lebar, memperlihatkan taringnya yang tajam. “Kau mulai terlihat lelah, Raja Vampir,” ucapnya dengan nada mengejek. “Atau… kau hanya menunggu waktu untuk jatuh?”

Edward tidak menjawab. Ia hanya menatap lurus ke arah lawannya, tubuhnya sedikit merendah, bersiap menghadapi serangan berikutnya.

Dan dalam sekejap Raja Serigala menghilang.

Serangannya datang tanpa peringatan.

DUAARR!!

Benturan keras terdengar ketika cakar tajam itu menghantam tepat di dada Edward. Kali ini, serangan itu berhasil menembus pertahanannya. Tubuh Edward terdorong mundur beberapa langkah, meninggalkan jejak retakan di tanah. Untuk sesaat, semua terasa hening.

Lalu, setetes darah mengalir dari sudut bibirnya.

Henry yang berada tidak jauh dari sana langsung menegang.

“Yang Mulia…!” suaranya tertahan, penuh keterkejutan.

Para vampir lainnya juga membeku sesaat. Pemandangan itu bukan sesuatu yang biasa. Edward—yang selama ini terlihat tak tergoyahkan kini benar-benar terluka.

Raja Serigala tertawa keras, suaranya menggema di seluruh hutan.

 “Akhirnya! Jadi kau memang bisa berdarah!” teriaknya penuh kemenangan.

Namun Edward tetap berdiri. Ia perlahan mengangkat tangannya, mengusap darah di sudut bibirnya, lalu menatapnya sejenak. Tatapannya berubah—lebih dalam, lebih gelap.

Dan saat itulah sesuatu bangkit.

Gelombang tak kasat mata menyebar dari tubuhnya, mengalir seperti arus yang mencari sesuatu. Ikatan yang selama ini tersembunyi, yang tertahan dalam diam—akhirnya bereaksi.

Ikatan itu menuju Alana.

Di dalam gua, Alana yang terbaring tiba-tiba menarik napas dalam. Tubuhnya menegang, jantungnya berdetak sangat cepat seolah ingin keluar dari dadanya. Kalung di lehernya bersinar terang, lebih terang dari sebelumnya.

“Alana!” Arlan langsung mendekat, menggenggam tangannya. “Apa yang terjadi?!”

Namun Alana tidak menjawab. Matanya terbuka perlahan, dan kali ini tidak ada lagi kebingungan di dalamnya.

Ingatan itu datang utuh tidak terpecah.

Ia melihat semuanya—masa lalu yang selama ini tersembunyi, kekuatan yang pernah ia miliki, dan identitas yang telah lama terkubur. Ia adalah sesuatu yang lebih dari sekadar gadis desa.

Namun di saat yang sama ia juga tetap Alana.

Perlahan, air mata jatuh dari sudut matanya. “Aku… ingat…” bisiknya pelan.

Arlan menatapnya dengan bingung. “Ingat apa?”

Alana menoleh padanya, tatapannya lembut namun dalam.

 “Semuanya.”

Ia perlahan bangkit.

Paman dan bibi mundur satu langkah, wajah mereka dipenuhi keterkejutan. Kakek hanya diam, menatap dengan tenang seolah semua ini sudah ia ketahui sejak awal.

“Alana…” bisik bibi.

Namun Alana tidak menjawab. Ia melangkah maju, melewati mereka semua. Arlan mencoba menahannya. “Jangan pergi! Di luar berbahaya!”

Alana berhenti sejenak, lalu menatapnya. “Aku tahu.”

“Kalau begitu kenapa kau tetap pergi?!”

Alana tersenyum tipis. “Karena aku tidak bisa membiarkannya sendirian.”

Jawaban itu membuat Arlan terdiam.

Alana melanjutkan langkahnya. Saat ia mendekati perisai, cahaya di sekitarnya berdenyut, lalu perlahan terbuka, seolah mengenalinya.

Ia keluar.

Dan di hadapannya medan perang itu terbentang Edward berdiri di sana masih tegak Namun, terluka Alana berjalan mendekat, langkahnya tenang namun pasti. Saat Edward merasakan kehadirannya, ia langsung menoleh.

“Alana…”

Suaranya pelan, hampir tak terdengar.

Alana berhenti tepat di depannya. Tanpa ragu, ia mengangkat tangannya dan menyentuh dada Edward—tepat di tempat luka itu berada.

Cahaya hijau muncul.

Hangat.

Tenang.

Luka itu perlahan menutup.

Darah berhenti mengalir.

Edward sedikit terkejut, matanya menatap Alana dalam. “Kau…”

Alana tersenyum lembut. “Aku tidak akan membiarkanmu terluka lagi.”

Raja Serigala yang melihat itu langsung menyipitkan matanya. Aura di sekitarnya berubah, menjadi lebih liar. “Menarik…” gumamnya. “Jadi kekuatan itu memang miliknya.”

Tatapannya penuh ambisi.

“Kalau begitu… aku akan mengambilnya darimu.”

Edward langsung berdiri di depan Alana, sedikit melindungi. Namun Alana tidak mundur. Ia berdiri di sampingnya.

Sejajar.

Edward menoleh padanya. “Kau tidak seharusnya berada di sini.”

Alana menatapnya tenang. “Aku memilih berada di sini karena, aku tidak mau kau terluka lagi,"

Keheningan sejenak tercipta di antara mereka.

Lalu Edward menghela napas pelan.

“Kalau begitu… tetaplah di sisiku.”

Alana mengangguk.

 “Selalu.”

Di sisi lain, Henry yang melihat kejadian itu perlahan melangkah mendekat. Saat ia berada cukup dekat, ia berhenti… lalu berlutut.

“Yang Mulia Ratu…” ucapnya dengan suara dalam dan penuh hormat.

Para vampir lainnya langsung menundukkan kepala, meskipun mereka tetap waspada terhadap serangan yang mungkin datang kapan saja.

Alana sedikit terkejut.

“Bangunlah, Henry. Ini bukan waktunya untuk itu.”

Namun Henry tetap menunduk.

 “Kembalinya Anda… adalah kehormatan bagi kami.”

Alana menatapnya sejenak, lalu berkata pelan, “Kita selesaikan ini dulu.”

Henry akhirnya berdiri kembali.

Di kejauhan, Raja Serigala tertawa pelan. “Semakin menarik… semakin layak untuk direbut.”

Sementara itu, jauh dari medan perang, beberapa peneliti dari kota masih berjalan di dalam hutan. Mereka membawa peralatan, mencoba menemukan sumber suara ledakan yang sejak tadi terdengar sampai ke desa.

“Aneh sekali… tadi suaranya jelas dari arah sini,” kata salah satu dari mereka.

Namun saat mereka melangkah lebih jauh, suasana justru terasa sunyi tidak ada tanda-tanda pertempuran tidak ada jejak hanya hutan yang tampak biasa.

“Apakah kita salah arah?” tanya yang lain.

Salah satu dari mereka menggeleng. “Tidak mungkin… ini pasti di sekitar sini…”

Namun tanpa mereka sadari mereka telah memasuki area yang dilindungi.

Perisai tak terlihat yang diciptakan Edward telah memisahkan dunia mereka dari kenyataan yang sebenarnya para peneliti masih berjalan di dalam hutan.

“Aku bersumpah tadi ada suara ledakan besar!” kata seorang pria.

“Ya, aku juga dengar… bahkan tanah terasa bergetar,” jawab rekannya.

Mereka berhenti sunyi terlalu sunyi.

“Ini… aneh…” gumam salah satu dari mereka.

Seorang wanita di antara mereka memeluk lengannya sendiri.

“Aku tidak suka tempat ini… rasanya seperti ada sesuatu yang mengawasi kita.”

“Jangan mulai,” kata pria lain, mencoba tenang. “Kita ini ilmuwan, bukan pemburu hantu.”

Namun tiba-tiba.angin berhembus dingin daun-daun bergerak langkah kaki mereka terasa menggema lebih keras.

“Apa kalian… mendengar itu?” bisik seseorang

“Mendengar apa?

“Seperti… suara…”

Mereka terdiam lalu lolongan jauh terdengar samar semua langsung menoleh.

“Itu… serigala?” tanya salah satu dengan suara gemetar.

“Tidak mungkin… jumlahnya terdengar banyak…”

Wanita tadi mulai panik. “Kita harus kembali.”

“Tunggu!” kata pemimpin mereka. “Kita sudah sejauh ini—”

“Tapi tidak ada apa-apa di sini!” potong yang lain. “Padahal suara tadi jelas dari arah ini!”

Mereka mulai saling berdebat.

“Aku tidak mengerti… ini seperti… sesuatu menyembunyikan sesuatu dari kita…” gumam salah satu dari mereka.

Tanpa mereka sadari mereka berdiri tepat di tepi perisai namun mata mereka tidak bisa melihat apa yang sebenarnya ada hanya hutan kosong sunyi.Namun penuh misteri.

“Aku tidak suka ini…” bisik wanita itu lagi. “Seperti… kita tidak diizinkan melihat sesuatu.”

Pemimpin tim menghela napas panjang.

“Kita mundur dulu. Ini tidak masuk akal.”

Mereka akhirnya berbalik Namun perasaan diawasi itu tidak pernah hilang.

Kembali ke medan perang Edward dan Alana kini berdiri berdampingan.

Menghadap Raja Serigala.

Angin berhembus pelan, membawa ketegangan yang semakin pekat.

Edward berkata pelan, “Kali ini… kita akhiri.”

Alana mengangguk. “Bersama.” Dan di detik berikutnya pertarungan kembali dimulai.

1
Naomi🌸
😘
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!