NovelToon NovelToon
Manual Book: Obsesi Tersembunyi Sang CEO Dingin

Manual Book: Obsesi Tersembunyi Sang CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / CEO / Mantan / Nikah Kontrak
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

"Zel, kita cuma nikah kontrak! Berhenti kirim kurir obat ke sekolah, aku malu sama guru-guru lain!"
Dazello Zelbarra, CEO dingin itu justru menarik Runa ke pelukannya. "Di catatanku, jam segini lambungmu mulai perih karena kamu lupa sarapan. Aku tidak peduli kamu malu, Runa. Aku hanya peduli kamu tetap hidup untuk melunasi kontrakmu padaku."
Runa Elainzica, guru honorer yang ceroboh dan pelupa, terpaksa menikahi mantan pacarnya, Dazello ‘Azel’ Zelbarra, demi menyelamatkan sekolahnya dari kebangkrutan.
Runa mengira Azel membencinya. Namun, ia tak pernah tahu bahwa di ponsel Azel terdapat aplikasi rahasia berjudul "Runa’s Manual Book". Sebuah catatan obsesif berisi ribuan detail tentang kebiasaan kecil Runa, pantangan makannya, hingga cara melindunginya saat badai datang.
Dunia mereka berbeda, tapi di buku catatan Azel, nama Runa sudah tertulis sebagai milik sahnya... selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Malam semakin larut, dan hanya suara ketikan keyboard laptop Azel yang memecah keheningan kamar. Cahaya biru dari layar memantul di wajahnya yang masih tampak segar meski jam sudah menunjukkan pukul satu pagi. Di atas ranjang, Runa terlihat tenang di balik selimutnya, namun ketenangan itu perlahan sirna.

Di balik matanya yang terpejam, Runa kembali ke masa lima tahun lalu. Masa di mana dunianya seolah runtuh dalam satu malam.

Dalam mimpinya, ia melihat dirinya sendiri berdiri di depan rumah sakit, memegang hasil diagnosa Ibunya yang menyatakan kanker stadium lanjut. Ia ingat rasa takut yang luar biasa, takut melihat Azel yang sedang meniti karier harus terbebani oleh kemiskinannya. Ia juga ingat bagaimana almarhumah Ibunya, dengan sisa tenaga terakhir, memperkenalkannya pada seorang wanita—cinta pertama ayahnya—yang diminta sang Ibu untuk menjaga keluarga mereka jika ia sudah tiada.

"Zel, kita putus. Aku nggak butuh kamu lagi," suara Runa dalam mimpi itu terdengar sangat nyata, sangat menyakitkan.

Nyatanya, di atas kasur, Runa mulai terisak. Tubuhnya berguncang kecil, dan keringat dingin mulai membasahi keningnya.

"Ibu... jangan pergi... Zel, maaf..." igau Runa. Suaranya pecah, penuh dengan rasa sesak yang selama lima tahun ini ia simpan rapat-rapat.

Azel langsung melepas headset-nya hingga terjatuh ke meja. Persidangan bisnis yang sedang ia pantau lewat Zoom ia tinggalkan begitu saja tanpa kata penutup. Ia menghambur ke sisi ranjang, jantungnya berdegup kencang melihat air mata yang terus mengalir dari sudut mata Runa yang masih terpejam.

"Runa? Runa, bangun!" Azel mengguncang bahu Runa pelan, tapi wanita itu justru semakin meringkuk, menangis tersedu-sedu dalam tidurnya.

Tanpa pikir panjang, Azel naik ke atas kasur dan menarik tubuh mungil itu ke dalam dekapannya. Ia memeluk Runa sangat erat, seolah-olah dengan cara itu ia bisa menyerap semua kesedihan yang sedang dialami istrinya.

"Sstt... aku di sini. Runa, bangun. Itu cuma mimpi," bisik Azel di telinga Runa. Tangannya mengusap punggung Runa dengan gerakan protektif yang luar biasa.

Runa tersentak bangun dengan napas tersengal. Begitu matanya terbuka, hal pertama yang ia rasakan adalah aroma maskulin Azel dan dekapan yang begitu hangat. Ia tidak sadar di mana ia berada, ia hanya tahu bahwa ia butuh pegangan. Runa langsung membalas pelukan Azel, menyembunyikan wajahnya di dada pria itu sambil menangis sejadi-jadinya.

"Zel... Ibu... Ibu yang minta aku putusin kamu... aku takut kamu malu punya mertua sakit-sakitan..." isak Runa terbata-bata. Semua rahasia yang ia pendam selama ini tumpah begitu saja karena pengaruh emosi mimpi buruknya.

Azel membeku. Pelukannya semakin mengerat hingga tidak ada celah di antara mereka. Matanya memanas mendengar pengakuan jujur yang selama ini ia cari jawabannya. Jadi, itu alasannya? Bukan karena Runa tidak mencintainya lagi, tapi karena Runa terlalu mencintainya hingga memilih menderita sendirian?

"Bodoh," bisik Azel, suaranya parau. "Kamu benar-benar bodoh, Runa Elainzica."

Azel menjauhkan sedikit tubuh Runa agar bisa menatap wajahnya yang sembab. Dengan ibu jarinya, ia menghapus air mata di pipi Runa dengan sangat lembut.

"Kamu pikir aku ini pria macam apa? Apa aku terlihat seperti orang yang akan meninggalkan wanitanya hanya karena ibunya sakit?" Azel menatap mata Runa dalam-dalam, kemarahannya hilang, berganti dengan rasa sakit yang amat sangat karena menyadari betapa berat beban yang dipikul Runa sendirian selama ini.

"Aku minder, Zel... Duniamu terlalu terang, dan aku... aku nggak punya apa-apa saat itu," Runa sesenggukan.

Azel menarik napas panjang, lalu ia mengecup kening Runa lama sekali. Kecupan yang penuh dengan janji dan penebusan dosa atas waktu yang terbuang.

"Dengar. Mulai sekarang, nggak ada lagi rahasia. Nggak ada lagi minder," ucap Azel tegas namun lembut. "Ibu tirimu adalah orang baik yang dipilih ibumu, dan aku berterima kasih padanya karena sudah menjaga ayahmu. Tapi untuk kamu... itu tugasku. Sampai kapan pun."

Runa mulai tenang, napasnya perlahan teratur meski sisa-sisa isakan masih terdengar. Ia bersandar di dada Azel, mendengarkan detak jantung pria itu yang kuat dan stabil.

"Zel, maafin aku ya..."

"Berhenti minta maaf. Sebagai hukuman karena sudah menyembunyikan ini selama lima tahun, malam ini kamu nggak boleh lepasin pelukanku," kata Azel dengan nada tsundere-nya yang kembali muncul, meski tangannya tidak berhenti mengelus rambut Runa.

Azel kembali merebahkan tubuhnya, membawa Runa ikut berbaring di sampingnya tanpa melepaskan pelukannya. Ia menarik selimut untuk mereka berdua. Malam itu, untuk pertama kalinya, Azel tidak butuh aplikasi catatan di ponselnya untuk tahu apa yang Runa butuhkan.

Runa membutuhkan keberadaannya, dan Azel berjanji pada dirinya sendiri bahwa tidak akan ada lagi badai—baik di luar maupun di dalam hati Runa—yang akan ia biarkan berlalu tanpa kehadirannya di sana.

1
Ayusha
ya ampun kirain aku yg kelewat baca beneran ke IGD. 😄
Ayusha
nyatet nya tar aja kenapa si jel, lg panik masih sempet2nya nulis /Facepalm/
Ariska Kamisa: 🤣🤣🤣🤣
kelakuan ajel emang...
total 1 replies
Ayusha
ya ampyuun sampe segitunya jel /Facepalm/
Ayusha: kalo aku di posisi Runa mungkin udh gila. gila karena ke absurdan Ajel, dan Ter gila2 Karena kebucinan nya 🤣🤣
total 2 replies
Ariska Kamisa
/Pray//Pray//Pray//Pray//Pray//Pray/
Ayusha
/Joyful//Joyful/
Ayusha
katanya kayak meluk kayu kering, emang masih naf su juga 🤣
Ariska Kamisa: emang dasar ajel mah bilangnya apa tapi kelakuannya apa 🤭🤭🤭
total 1 replies
Ayusha
balon kali terbang /Sob/
Ayusha
mantap jel, aku padamu 😍
Ariska Kamisa: ♥️♥️♥️♥️
total 1 replies
Nesya
dapat suami yang mencintai, mertua yang baik dan pengertian beruntung ny kamu runa, nikmati harimu runa waktunya bahagia
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Nesya
👍🏻👍🏻
Ariska Kamisa: terimakasih jempolnya kak♥️♥️♥️
total 1 replies
Ayusha
sa ae lu jel. melting kan gue 🤭
Ariska Kamisa: ♥️♥️♥️♥️♥️
total 1 replies
Ayusha
tinggal bilang "menikahlah denganku"
apa susahnya sih, pake alesan dijodohin segala 🤣
Ariska Kamisa: tsundere banget ya kak ...🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Ayusha
oke, tim cowok posesif dengan segala obsesi nya🤭
Ariska Kamisa: oke satu tim kita kak.. terimakasih banyak ♥️♥️♥️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!