NovelToon NovelToon
Se Atap Dengan Mantan Suami

Se Atap Dengan Mantan Suami

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mantan
Popularitas:39.9k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

Jasmine, menikah dengan Aksa adalah mimpi buruk yang ingin ia kubur dalam-dalam. Sebagai anak yatim piatu yang miskin, Jasmine hanya dianggap sampah dan pembantu gratisan oleh keluarga Aksa yang terpandang. Puncaknya, sebuah fitnah kejam membuatnya terusir dari rumah megah itu tanpa membawa sepeser pun uang.

Tiga tahun berlalu, Jasmine bertahan hidup sebagai Professional Housekeeper di sebuah agen elit. Tugas terbarunya adalah mengurus sebuah penthouse mewah milik klien misterius yang sangat menuntut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33

Matahari siang menyusup masuk melalui celah gorden, membuat Aksa perlahan mengerjapkan matanya. Hal pertama yang ia rasakan adalah beban hangat di dadanya. Ia tersentak pelan saat menyadari posisinya masih memeluk Jasmine dengan sangat erat.

Aksa melirik jam dinding di kamar itu. Jarum jam sudah mendekati pukul dua belas siang. Ia telah tertidur cukup lama karena kelelahan.

Dengan gerakan sangat hati-hati agar tidak membangunkan Jasmine, Aksa melepaskan satu tangannya untuk mengecek suhu tubuh wanita itu. Ia menempelkan punggung tangannya ke kening Jasmine.

"Syukurlah," bisiknya lega.

Panasnya sudah jauh menurun dibandingkan tadi pagi, meski kulit Jasmine masih terasa sedikit hangat. Napas Jasmine pun kini terdengar lebih teratur dan tenang.

Sadar akan posisinya yang masih tanpa atasan dan sangat dekat dengan Jasmine, Aksa segera turun dari ranjang.

Saat ia berdiri di samping tempat tidur, matanya tak sengaja menangkap pemandangan tubuh Jasmine yang masih terekspos tanpa atasan.

Aksa tertegun sejenak, tenggorokannya terasa kering. Namun, ia segera membuang muka, merasa bersalah jika terus memperhatikan Jasmine dalam kondisi seperti itu. Dengan tangan sedikit canggung, ia menarik selimut tebal itu hingga ke batas leher Jasmine.

"Istirahatlah, Jasmine," gumamnya pelan.

Aksa segera memungut kemejanya yang tergeletak di lantai dan memakainya kembali tanpa dikancingkan, lalu berjalan keluar kamar.

Aksa berdiri di dapur sambil merapikan kemejanya. Perutnya terasa lapar, dan ia sadar Jasmine juga belum makan sejak pagi.

"Kita bahkan belum sarapan," gumam Aksa pelan.

Ia ingat betul, Jasmine tidak suka bubur kalau lagi sakit. Dia selalu bilang rasanya hambar. Tapi, ada satu cara agar Jasmine mau makan, Aksa harus memasaknya sendiri dengan tambahan minyak wijen dan jahe, persis seperti dulu.

Aksa mulai mencuci beras dan memotong jahe. Tangannya sedikit kaku karena sudah lama tidak memasak.

Setelah bubur matang, Aksa menuangkannya ke mangkuk. Ia berharap masakannya kali ini bisa membuat kondisi Jasmine segera membaik.

Aksa berjalan perlahan menuju kamar sambil membawa nampan berisi semangkuk bubur hangat dan segelas air putih. Ia meletakkan nampan itu di meja nakas, lalu duduk di tepi ranjang.

"Jasmine, bangun..." bisik Aksa lembut sambil mengusap bahu Jasmine.

"Sayang, bangun sebentar."

Jasmine melenguh kecil, perlahan ia membuka matanya yang masih terasa berat. Kepalanya berdenyut nyeri.

"Pusing..." rintihnya pelan.

"Iya, saya tahu. Tapi kamu harus makan dulu, perutmu kosong sejak tadi pagi," bujuk Aksa.

Aksa kemudian bangkit menuju lemari pakaian. Ia mengambil sebuah kaos oblong milik Jasmine yang berbahan katun lembut agar Jasmine merasa lebih nyaman. Ia kembali ke arah ranjang, lalu menyodorkan kaos itu.

"Pakailah ini dulu. Kaosmu yang tadi sudah basah karena keringat," ucap Aksa sambil membuang muka.

Jasmine menerima kaos itu dengan tangan yang masih sedikit lemas.

"Makasih," jawabnya singkat dengan suara parau.

Aksa hanya mengangguk pelan, masih dengan posisi memunggungi Jasmine, memberikan privasi agar wanita itu bisa berganti pakaian dengan tenang.

Setelah Jasmine selesai berganti pakaian, Aksa kembali duduk di tepi ranjang. Ia mengambil mangkuk bubur yang masih mengepul, lalu menyendoknya perlahan.

"Ayo makan, sedikit saja," ucap Aksa sambil mengarahkan sendok ke bibir Jasmine.

Jasmine memalingkan wajahnya. "Nggak mau, Aksa. Mulutku pahit," tolaknya dengan suara lemah.

"Sedikit saja, Jasmine. Perutmu harus diisi supaya bisa minum obat," paksa Aksa tetap tenang.

"Aku bilang nggak mau ya nggak mau. Aku nggak suka bubur," jawab Jasmine lagi.

"Ini bubur buatan saya. Saya pakai jahe dan minyak wijen kesukaan kamu. Coba satu suap saja, kalau tidak enak boleh berhenti."

Jasmine terdiam sebentar, lalu perlahan menoleh. Ia melihat tatapan Aksa yang sangat memohon. Akhirnya, dengan terpaksa, ia membuka mulutnya dan menerima suapan itu. Rasa gurih dan hangat langsung menjalar di lidahnya, persis seperti rasa yang ia rindukan dulu.

"Gimana? Enak kan?" tanya Aksa lembut.

Jasmine tidak menjawab, namun ia tidak lagi menolak suapan kedua. Aksa tersenyum tipis melihatnya.

"Pintar. Habiskan ya, Sayang," bisik Aksa tiba-tiba.

Jasmine sempat tertegun mendengar panggilan itu. Jantungnya berdesir.

"Pelan-pelan saja makannya. Saya akan temani kamu sampai habis," lanjut Aksa sambil terus menyuapi Jasmine dengan penuh kesabaran.

Setelah beberapa suapan lagi, Jasmine perlahan menggelengkan kepala, tanda bahwa ia sudah tidak sanggup lagi menelan makanan. Aksa segera meletakkan mangkuk yang kini tinggal separuh itu kembali ke atas nampan.

Jasmine menatap Aksa dengan tatapan sayu, ada rasa bersalah yang tersirat di matanya.

"Maaf... maaf sudah merepotkanmu," bisik Jasmine lirih.

"Sama sekali tidak merepotkanku, Jasmine," jawab Aksa dengan suara berat dan tulus.

"Sekarang minum obatnya, lalu istirahat lagi ya?" tanya Aksa lembut.

Aksa mengambil mangkuk yang masih berisi setengah porsi bubur itu. Bukannya membawa nampan tersebut kembali ke dapur, ia justru duduk di kursi samping ranjang dan mulai memakan sisa bubur milik Jasmine dengan tenang.

Jasmine yang baru saja akan memejamkan mata, lantas mengurungkan niatnya. Ia memperhatikan Aksa yang menyuap bubur itu tanpa ragu.

"Kenapa dimakan?" tanya Jasmine dengan suara parau.

"Itu kan bekas aku... dan aku lagi sakit, nanti kamu ketularan."

Aksa menelan buburnya, lalu menatap Jasmine santai. "Daripada dibuang, sayang. Saya juga belum makan dari pagi karena panik mengurus kamu."

"Tapi kan bisa ambil yang baru di dapur," protes Jasmine pelan.

"Rasanya beda kalau makan bekas kamu. Lagipula, kalau tertular pun tidak apa-apa. Biar kita sakit bareng," jawabnya asal yang sukses membuat Jasmine terdiam.

"Sudah, jangan banyak tanya. Cepat tidur," perintah Aksa lagi.

Jasmine tidak membalas lagi. Ia menarik selimutnya hingga menutupi sebagian wajah.

Setelah menghabiskan sisa bubur, Aksa meletakkan mangkuk kosong itu di meja. Bukannya pergi, ia justru perlahan naik ke atas ranjang dan menyelinap di samping Jasmine, ikut bersandar di kepala ranjang yang sama.

Jasmine yang hampir terlelap langsung tersentak kaget. Ia membuka matanya lebar-lebar. "Aksa! Kenapa... kenapa ikut naik?" tanyanya dengan suara serak.

Aksa tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru menarik tubuh Jasmine agar lebih dekat dengannya, lalu menyandarkan kepala Jasmine di bahu bidangnya. Tangannya mengusap lengan Jasmine dengan gerakan lembut.

"Diamlah, suhu tubuhmu belum stabil. Saya hanya ingin memastikan kamu tetap hangat," bisik Aksa.

Aksa mencium puncak kepala Jasmine lama, seolah sedang menghirup aroma rambut wanita itu.

"Jasmine..." panggil Aksa lirih. "Kapan kita menikah lagi?"

Jasmine tertegun, napasnya seakan berhenti sejenak mendengar pertanyaan itu.

"Aku tidak bisa jika terus begini," lanjut Aksa dengan nada penuh kerapuhan.

"Hidup dalam ketidakpastian, melihatmu ingin pergi setiap waktu, itu menyiksaku. Aku ingin memilikimu seutuhnya, secara sah, agar tidak ada lagi alasan bagimu untuk menjauh."

Aksa menoleh, menatap dalam ke mata Jasmine yang masih terlihat sayu karena sakit. "Aku ingin kita kembali seperti dulu, tapi dengan aku yang jauh lebih baik. Katakan, kapan kamu siap?"

Jasmine terdiam cukup lama dalam pelukan Aksa. Ia teringat semua luka, air mata, dan rasa takut yang menghimpitnya selama ini. Namun, melihat sorot mata Aksa yang begitu penuh harap dan ketulusan pagi ini, hatinya mulai goyah. Ia merasa lelah jika harus terus berlari dan menghindar.

Apa salah jika aku mencoba sekali lagi? batin Jasmine.

Jasmine menarik napas panjang, lalu memberanikan diri menatap mata Aksa. "Aksa... apa kamu benar-benar mau menerima aku lagi? Dengan segala kekuranganku, dengan semua rasa traumaku?"

"Jasmine, bukan kamu yang aku terima, tapi aku yang memohon agar kamu mau menerimaku kembali. Aku tidak peduli dengan apa pun, asalkan itu kamu."

Air mata Jasmine jatuh perlahan. Kali ini bukan karena sedih, melainkan karena rasa lega yang luar biasa. Ia mengangguk pelan, sangat pelan, namun cukup bagi Aksa untuk melihatnya.

"Iya, Aksa. Aku mau," bisik Jasmine akhirnya.

Mendengar jawaban itu, binar bahagia langsung terpancar dari wajah Aksa. Senyum lebar yang tulus senyum yang paling indah yang pernah Jasmine lihat muncul di bibir pria itu.

Tanpa membuang waktu, Aksa langsung menarik Jasmine ke dalam pelukan yang sangat erat.

"Terima kasih, Jasmine... Terima kasih, Sayang," ucap Aksa berulang kali sambil menciumi puncak kepala Jasmine.

"Aku janji, kali ini aku tidak akan membuatmu menangis lagi. Aku janji."

1
Risa Virgo Always Beau
Wah Clarissa bakal di permalukan tuh
sunaryati jarum
Clarissa lebih baik sekutu dengan Aksa.Terus terang dan minta perlindungan padanya
olyv
nah benar g usah buang² tenaga buat meladani wanita gila itu tunggu aja kehancuran mu clarissa
olyv
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ kelakuan mu aksa
olyv
eh apaan ni aq ngakak 🤣🤣
olyv
Wkwkwkwk aksa g ada sopan² nya pd tuan rumah 🤣
olyv
hayoloh aksa nurut aja mau dapat restu g sih 🤣
olyv
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ aksa cebakur
olyv
Wkwkwk tanya² dulu aksa, bakal susah nih dapat restu kakak ipar 😁
Lilik Juhariah
kasihan juga Clarisa di tempat didikan yg salah, knp aku Melo banget ada anak yg nasibnya sprt clarisa
olyv
👍👍
olyv
nah itu lebih baik 😑👍
Oma Gavin
up rutin kak ceritanya bagus sayang kalau loncat" up nya
Redmi Nam
GK sabar liat Sonia ketangkep
Uning Sodik
duuuujh...
olyv
hhmm sabar y jasmine
olyv
astagah 🤣
Redmi Nam
thor up nya lama banget...
sekali up 1 aja
Lilik Juhariah
semangat kak
Lilik Juhariah
hemmm si emak tiri minta di pindah ke dunia lain kayknya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!