NovelToon NovelToon
Roda Kultivasi: Keturunan Terakhir Sang Reinkarnasi

Roda Kultivasi: Keturunan Terakhir Sang Reinkarnasi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Kultivasi
Popularitas:186
Nilai: 5
Nama Author: Girenda Dafa Putra

Langit tidak pernah lagi memerah sejak Harmoni tumbang. Yang tersisa hanya kelabu pucat, puing kuil, dan seorang pemuda bernama Ling Xu—berambut putih bercorak warna-warna aneh, berdiri di tebing tertinggi, menyaksikan lembah yang dulu suci kini dipenuhi tiang-tiang pancang ritual mengerikan.

Mereka menyebut diri mereka Ilahi Kedua. Tapi siapa sebenarnya mereka? Dan apa yang benar-benar terjadi pada sore ketika Harmoni runtuh? Ling Xu hanya memiliki mimpi buruk yang sama, luka yang tak pernah sembuh, dan ingatan tentang ibunya yang ia goreskan kembali setiap malam. Sementara ayahnya—yang pernah berkata "jangan benci"—kini tak lagi punya kepala untuk mengucapkannya.

Di tengah sunyi yang lebih mengerikan dari jeritan, Ling Xu merangkai ritual sendirian di atas altar ayahnya yang bersisa. Ia bersumpah. Bukan untuk berduka, tapi untuk bersiap. Tapi pertanyaannya tetap menggantung di angin yang bau anyir: apakah ia benar-benar sendirian?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Girenda Dafa Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketika Lintang Memilihnya

...Chapter 2...

Untuk waktu yang terasa seperti setengah mati, Ling Xu hanya bisa menatap Lintang Kemanusiaan yang berdenyut redup di udara—seperti mata bungsu semesta yang menatapnya dengan penuh tanya. 

Ia merangkak, siku-sikunya menggores batu basah, darah menetes membentuk jejak merah di belakangnya seperti kelopak-kelopak bunga yang layu sebelum mekar. 

“Aku benci ini,” desisnya di sela gigi yang menggigil, “tapi aku lebih benci jika mati sebagai pecundang.” 

Dengan susah payah ia mengulurkan tangan, jari-jarinya yang berlumuran darah hampir tak bisa menggenggam—namun begitu lintang itu menyentuh telapaknya, ia merasakan sesuatu yang aneh: bukan panas, bukan dingin, melainkan sebuah bisikan lembut.

“Kau boleh membenciku. Tapi jangan biarkan bencimu membutakan langkahmu.” 

Ling Xu mengepalkannya erat-erat, lalu berbisik pada kegelapan gua, “Aku tidak akan membiarkan siapa pun mengatur jalanku lagi. Aku akan menjadi kultivator terhebat—dan aku akan menemukan siapa dalang di balik pergiliran ibuku.”

Dan ajaibnya, dalam kurun waktu yang bahkan tak cukup untuk sekadar embun pagi mengering, tubuh Ling Xu berubah. 

Lintang itu larut ke dalam dadanya seperti setetes tinta jatuh ke dalam air jernih—menyebar, mengakar, lalu meledak menjadi seribu urat cahaya yang menjalar ke seluruh tulang dan dagingnya. 

Ia mendengar suara sesuatu yang retak, lalu tersambung kembali. 

“Apa—?” ucapnya setengah terkejut, ketika lukanya di siku dan pergelangan kaki menutup dengan sendirinya, meninggalkan bekas seperti urat-urat emas tipis di bawah kulit. 

Ia berdiri—benar-benar berdiri, tanpa rasa sakit, tanpa goyah. 

Di dalam benaknya, muncullah suatu pemahaman kabur.

Lintang Bawah Tingkat Kesatu. 

Ia tak tahu persis apa artinya, karena tak pernah ada yang mengajarinya soal hierarki kultivasi. 

“Baiklah,” gumamnya sambil mengepalkan tangan, merasakan Qi yang asing namun akrab mengalir di nadinya, “setidaknya aku tidak merangkak lagi.” 

Di luar gua, cahaya senja menyambutnya seperti seorang teman lama yang tak pernah ia kenal.

Ia berdiri di ambang mulut gua, menghirup udara yang kini terasa berbeda—lebih ringan, lebih tajam, seolah setiap molekul udara berbisik kepadanya tentang rahasia kecil semesta. 

Perkemahan Xuelan. 

Nama itu muncul entah dari mana, mungkin dari ingatan yang tertinggal oleh Lintang itu sendiri, mungkin dari naluri seorang dewi yang sedang belajar menjadi kultivator. 

“Tempat hunian,” ujarnya pelan, “aku butuh tempat berpijak sebelum aku bisa melangkah lebih jauh.” 

Tanpa ragu lagi—atau mungkin dengan ragu yang ia paksa mati—Ling Xu mengumpulkan Qi di telapak kakinya. 

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia terbang. 

Bukan seperti burung, bukan seperti dewa, melainkan seperti anak panah yang dilepaskan dari busur kemarahan.

Cepat, lurus, dan sedikit kacau. 

“Ah—!” pekiknya hampir terjungkal di udara sebelum menemukan keseimbangan. 

Rambut putih bercorak warna itu berkibar liar di belakangnya, dan di bawah sana, hutan-hutan berganti menjadi lembah, lembah berganti menjadi sungai, hingga akhirnya tampak dari kejauhan.

Perkemahan Xuelan, dengan pondasi bangunannya mirip perkemahan, tenda-tenda besar dari kulit binatang lintas semesta, dan api unggun yang menyala seperti mata-mata merah di kala senja.

Fhuuh!

Di wilayah yang dulu bernama Istana Seribu Tanduk—kini berganti menjadi Wilayah Yurisdiksi Merah, di bawah kuasa umat manusia—udara terasa seperti besi panas yang ditempa tanpa henti. 

Seorang lelaki berusia 24 tahun, Huan Zheng, melesat di antara puing-puing gerhana purba, jubahnya yang dulu biru langit kini compang-camping berlumuran darah hitam kehijauan. 

Di belakangnya, ribuan kultivator dari Pengadilan Tertinggi Kemanusiaan mengejar seperti kawanan serigala yang tak kenal lelah, dengan senjata-senjata berdenyut Qi dan mata yang haus akan pengakuan dosa. 

“Kaki Kemanusiaan!” teriak seseorang dari kejauhan.

“Jangan biarkan dia kabur—dia sudah dihukum mati oleh Yang Mulia Hakim Tertinggi!” 

Huan Zheng menggertakkan gigi, merasakan milyaran racun di dalam tubuhnya—vonis dari hakim tertinggi itu—bergerak seperti cacing-cacing kecil yang menggerogoti fondasi kultivasinya dari dalam. 

Setiap serangan balik yang ia luncurkan dahsyat, mampu merobek langit dan membelah tanah, tapi ribuan lawan tetaplah ribuan. 

“Kalian pikir aku akan menyerah?” desisnya sambil menangkis tiga pedang roh sekaligus.

“Kaki Kemanusiaanku belum goyang—tidak untuk kalian, tidak untuk racun sialan ini!”

Namun perlahan, lautan manusia itu mulai menunjukkan artinya. 

Bukan karena satu atau dua pukulan hebat, melainkan karena kelelahan yang menumpuk seperti pasir di jam kematian. 

Huan Zheng memang tak tersentuh oleh serangan langsung para antek—yang tertinggi di antara mereka hanya mencapai tingkat Kaki dan Perut Kemanusiaan, sementara ia sendiri telah berada di tingkat yang sama namun dengan fondasi yang lebih kokoh—tapi jumlah mereka terlalu banyak, dan racun di nadinya semakin mengganas. 

Setiap kali ia mengumpulkan Qi untuk serangan besar, rasa sakit seperti seribu jarum panas menusuk meridiannya. 

“Dia mulai melambat!” seru seorang wanita dari barisan depan. 

“Kepung dari kiri! Jangan beri dia ruang untuk bernapas!” 

Huan Zheng mencoba terbang lebih tinggi, tapi kedua kakinya seperti diikat batu-batu tak terlihat. 

Ia terjatuh, berguling di tanah kering, lalu terpental setelah sebuah serangan gabungan menghantam dadanya. 

Darah menyembur dari mulutnya—bukan merah, tapi kehitaman, tanda racun telah merusak organ dalamnya.

“Ah—!” erangnya, tubuhnya terpaksa terbaring telentang di atas hamparan bebatuan tajam, sementara langit di atasnya berputar-putar seperti kincir angin yang gila.

Dalam keadaan terbaring telentang itu, dengan luka-luka yang mengucurkan darah deras dari sekian puluh titik—lengan, paha, pinggang, bahkan kelopak mata kirinya—Huan Zheng masih bisa melihat bayangan-bayangan kabur dari para pengejarnya yang mulai membentuk lingkaran di sekelilingnya. 

Mereka berdiri seperti tembok daging dan besi, dan dari tengah kerumunan itu, sesosok pria berjubah merah menyala melangkah maju. 

Wajahnya dingin, bibirnya tipis, dan di tangannya tergenggam sebuah lencana berbentuk timbangan emas—lambang Pengadilan Tertinggi Kemanusiaan. 

“Huan Zheng,” ucap pria itu, suaranya tenang tapi menusuk seperti belati yang ditusukkan perlahan, “sudah saatnya kau mengakui kejahatanmu saat ini juga. Hakim Tertinggi telah menjatuhkan vonis—dan kau tahu, tidak ada yang bisa melawan vonis itu.” 

Huan Zheng tertawa kecil, meski tawa itu segera berubah menjadi batuk berdarah. 

“Kejahatan? Satu-satunya kejahatanku adalah... aku masih hidup setelah kalian mengusik keluargaku.” 

Pria berjubah merah itu menggeleng pelan. 

“Jika kau menolak, aku tidak bisa menjamin keselamatanmu di kemudian hari. Rasakan sendiri milyaran racun yang menggerogotimu—itu baru permulaan.”

Huan Zheng tertawa. 

Bukan tawa orang yang kalah, bukan pula tawa orang yang putus asa—melainkan tawa yang keluar dari dasar jiwa seorang yang telah melihat terlalu banyak kematian hingga tak lagi takut pada satu kematian lagi. 

Tawanya membesar, memenuhi langit kelabu di atas Wilayah Yurisdiksi Merah, bergema di antara puing-puing Istana Seribu Tanduk yang hancur, dan berlangsung selama dua belas detik penuh—cukup lama untuk membuat para antek Pengadilan Tertinggi Kemanusiaan saling berpandangan dengan kegelisahan yang tak bisa mereka sembunyikan.

“Ada baiknya kalian berkaca dulu,” ucap Huan Zheng akhirnya, suaranya yang tadinya parah kini berubah menjadi dingin yang memotong tulang, “sebelum menilai baik buruknya perbuatan seseorang. Apalagi orang yang kalian interogasi saat ini adalah salah satu dari tiga Roda Kultivasi—makhluk dengan tingkat kultivasi paling puncak di antara yang terpuncak.” 

Ia tersenyum, darah masih mengalir dari sudut bibirnya, tapi matanya menyala seperti dua bara api yang tak mau padam. 

“Selama bukan si nomor satu yang menantangku bertarung, maka siapa pun kalian—dari tingkat mana pun, bahkan dari ranah Kepala Kemanusiaan sekalipun—akan kujadikan mayat.” 

Bersambung….

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!