“Ibu … apa Ibu akan kembali menjemputku?”
Itu adalah kata-kata terakhir Lu Ming sebelum ibunya pergi dan tak pernah kembali.
Ditinggalkan di kota asing, ia tumbuh dengan harapan yang tak pernah padam—menunggu seseorang yang mungkin tak akan pernah datang.
Saat ia berumur 10 tahun, ia berhenti menunggu dan memilih mencari. Perjalanan itu membawanya pada satu tujuan: menemukan ibunya.
Namun ketika akhirnya ia bertemu … bukan pelukan hangat yang ia dapatkan, melainkan kenyataan pahit yang menghancurkan segalanya.
Apakah kebenaran yang begitu kejam itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Ini aku Lu Ming!
Lu Ming menghiraukan ujung pedang yang dingin itu. Ia menatap An Rou, matanya yang biasanya sedingin es kini berkaca-kaca, penuh dengan kerapuhan seorang anak kecil yang tersesat. "Ibu... ini aku. Lu Ming. Aku menunggumu di gerbang Kota Azure... aku menunggumu setiap hari selama dua puluh tahun. Aku... aku datang untuk menjemputmu pulang."
Suasana taman menjadi sunyi senyap, hanya suara gemericik air kolam yang terdengar. An Rou berdiri perlahan, wajahnya pucat pasi seputih bunga lili di sekitarnya.
Ada kilatan pengenalan di matanya, sebuah rasa bersalah yang sempat melintas sekejap, namun dengan cepat digantikan oleh ketakutan yang dingin, ketakutan akan status sosialnya yang terancam.
Jika rahasia tentang anak dari masa lalunya yang kumuh ini terbongkar, kedudukannya sebagai istri sah sang Jenderal Agung akan hancur. Putra-putranya yang mulia akan kehilangan hak waris dan menjadi bahan cemoohan.
An Rou mengeraskan hatinya, membungkus jiwanya dengan sutra keangkuhan. Ia menatap Lu Ming dengan tatapan asing yang lebih tajam dan lebih dingin dari pedang manapun di dunia ini.
"Aku tidak mengenalmu, Pengemis," ucap An Rou dengan nada datar yang menusuk tulang. "Penjaga, mengapa kalian membiarkan orang gila masuk ke kediaman ini? Usir dia sekarang juga sebelum dia menakuti anak-anakku dengan khayalannya."
"Ibu?" Lu Ming tertegun, dunianya benar-benar hancur menjadi debu. "Ini Lu Ming! Aku punya koin perunggu yang dulu kau cari dengan susah payah agar kita bisa makan... aku menyimpannya! Lihat!"
Lu Ming merogoh sakunya dengan panik, mengeluarkan kantong kain kotor berisi koin-koin perunggu berkarat. "Aku menabung ini selama sepuluh tahun untuk membelikanmu jubah sutra... Ibu, kumohon, lihat aku..."
"Cukup!" An Rou berteriak, matanya memancarkan kebencian yang dipaksakan untuk menutupi ketakutannya sendiri. "Putraku adalah pejuang hebat kekaisaran, calon pahlawan, bukan gelandangan hina sepertimu. Pergi! Jangan pernah menginjakkan kaki di sini lagi atau aku akan memerintahkan suamiku untuk mengeksekusimu tanpa pengadilan!"
Salah satu putra mudanya, merasa terhina, menendang dada Lu Ming hingga ia tersungkur ke tanah. Koin-koin perunggu yang telah Lu Ming jaga dengan nyawanya itu terhambur, jatuh berdenting di atas rumput hijau yang rapi dan mahal.
Lu Ming tidak membalas. Ia tidak melawan. Ia hanya menatap koin-koin itu, dua puluh tahun hidupnya, dua puluh tahun kesetiaannya kini berserakan seperti sampah tak berharga di bawah kaki orang-orang yang menganggapnya kotoran.
Lu Ming berdiri dengan perlahan, sangat perlahan. Ia tidak lagi menangis. Sesuatu yang sangat fundamental di dalam dirinya telah mati hari itu.
Harapan yang selama ini menjadi satu-satunya alasan jantungnya berdetak dan pedangnya berayun, kini telah layu dan membusuk di taman bunga lili yang indah ini.
Ia menatap An Rou untuk terakhir kalinya. Bukan dengan amarah, melainkan dengan kehampaan yang mengerikan, sebuah kekosongan yang sanggup menelan cahaya matahari.
"Aku selalu menunggumu, Ibu. Setiap malam di bawah hujan yang menggigilkan tulang, setiap pagi di tengah kabut yang menyesatkan. Aku selalu menunggumu, tapi kau tak pernah datang," ucap Lu Ming.
Suaranya tidak lagi serak, melainkan bergema dengan getaran Qi yang dahsyat, membuat bunga-bunga lili di sekeliling taman itu layu dan menghitam seketika.
"Ketika aku akhirnya menemukanmu, kau membuangku lagi demi sutra dan giok ini. Aku memang terlalu naif, tapi aku tidak membencimu. Karena untuk membencimu, aku harus terus mengingatmu."
Lu Ming membungkuk, memungut satu keping koin perunggu yang paling berkarat, lalu meremasnya dengan perlahan hingga koin itu hancur menjadi debu halus di telapak tangannya.
"Jika nanti aku mencapai puncak... jika nanti seluruh dunia harus berlutut di bawah kakiku... kuharap kau akan tetap mengatakan bahwa aku adalah orang asing. Agar rasanya tidak terlalu sakit saat aku harus melepaskanmu sepenuhnya dari jiwaku."
Lu Ming berbalik. Ia berjalan pergi menembus barisan penjaga yang kini gemetar ketakutan melihat aura gelap yang keluar dari tubuhnya.
Setiap langkahnya terasa berat, seolah ia sedang menyeret bangkai dari dua puluh tahun penantian yang sia-sia.
An Rou berdiri terpaku di paviliun, memegangi dadanya yang mendadak sesak luar biasa. Ia melihat punggung putranya yang kesepian itu menghilang di balik gerbang emas.
Air mata jatuh ke pipinya, namun ia segera menyekanya dengan kasar sebelum putra-putranya melihat.
Ia telah memilih dunianya, dan dalam proses itu, ia baru saja membunuh satu-satunya manusia yang mencintainya tanpa syarat.
Malam itu, di sebuah kedai kumuh di pinggiran ibukota, Lu Ming duduk sendirian dengan sebotol arak murah yang pahit.
Ia mengambil kuasnya, mencoba menulis satu bait terakhir, namun tangannya tidak lagi bisa bergerak. Tidak ada lagi puisi tentang kerinduan. Tidak ada lagi rima tentang cinta.
Hanya ada tinta hitam yang tumpah, membentuk noda gelap yang tak berujung seperti hatinya yang kini telah berubah menjadi lubang hitam yang dingin.
"Ibu..." bisiknya untuk terakhir kali, sebelum ia membakar seluruh gulungan kertas puisi masa lalunya. Ia membiarkan abunya terbang bersama angin malam yang menusuk, menandai lahirnya sang "Penyair Pedang Tanpa Jiwa" yang tak lagi memiliki rumah untuk pulang.