Bagaimana rasanya bila sedang berduka karena kehilangan laki-laki yang sangat kita cintai secara tiba-tiba, datang wanita asing dan anak kecil yang yang tidak kita kenal sama sekali mengaku sebagai istri dan anak suami kita yang telah meninggal dunia.
Dunia seakan runtuh saat itu juga.
Hancur. Pedih. Perih...
Rasa itulah yang kini bersemayam di palung hati Mikhaela Andisti. Kepergian Dion Sadewa, memberikan luka begitu dalam bagi Mikha. Ternyata laki-laki yang selalu menunjukkan rasa cinta padanya itu telah mengkhianatinya.
Bagaimana kelanjutan kisah ini ikuti terus ya. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian di setiap bab🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MEMINTA IZIN
Gerimis tipis menyambut kedatangan Mikhaela di depan Batu nisan bertuliskan nama Dion Sadewa.
Semalam Mikhaela sama sekali tidak bisa memejamkan matanya. Hingga ia memutuskan untuk mengunjungi Dion hari ini. Mikha sadar sejak tahun lalu ia tidak pernah lagi ke makam Dion, bahkan tidak pernah berdo'a untuknya.
Perasaan sakit begitu membekas di hati Mikha. Tapi setelah semuanya terungkap, justru perasaan bersalah menghantui Mikhaela.
Dengan langkah gontai dan mata yang sembab, Mikha duduk bersimpuh mengusap nama Dion. Aroma bunga kamboja seolah menusuk relung hati terdalamnya, mengingatkan pada luka yang selama ini ia pelihara dengan alasan yang salah. Sejak kematian Dion, prasangka buruk itu selalu menghantui pikirannya.
"M-as..." Mikha mengusap batu nisan itu dengan tangan yang gemetar. "Kenapa kamu diam saja saat aku menuduh mu? Kenapa kamu biarkan aku membenci diri mu sampai detik terakhir mu? Setidaknya datanglah dalam mimpi ku, beri petunjuk kepada ku, mas", ucap Mikhaela dengan suara lirih mengusap airmata yang jatuh menyentuh wajahnya.
Tangis Mikhaela kembali pecah di pusara suaminya. Ia menunduk dalam, membiarkan air matanya jatuh membasahi rumput di atas makam pria yang pernah sangat ia cintai sekaligus pernah ia maki dalam diam. Mikha merasa sangat berdosa karena telah mempercayai fitnah Tio dan sempat menganggap pengkhianatan Dion sebagai alasan untuk cepat-cepat berpaling dari cintanya pada Dion.
Bahkan, Mikha mengunjungi makam Dion hanya satu kali saja sejak ia meninggal. Ia begitu kecewa mengetahui Dion memiliki istri lagi tanpa sepengetahuannya. Sungguh ironis. Namun kini wanita itu merasa sangat bersalah pada suaminya. Ternyata semua manipulasi yang di lakukan saudara-saudara Dion demi harta.
Dari kejauhan nampak mobil Lexus berwarna hitam terparkir di bawah pohon. Didalamnya terlihat Dante yang duduk di bagian belakang menatap tajam kearah Mikhaela yang terlihat begitu hancur.
Lagi-lagi perasaan Dante bergemuruh panas. Ia sengaja tidak turun menampakkan dirinya namun cukup melihat dari kejauhan. Karena ia tahu, nyatanya Mikha masih belum bisa move-on dari Dion.
Dante tidak mau mengganggu Mikhaela yang saat ini sedang 'berbicara' dengan Dion. Nampak jelas kekecewaan di raut wajah laki-laki tampan itu. Ia memasang kacamata hitamnya. "Kita ke bandara sekarang, Rahmat!"
"Baik tuan Dante", jawab sopir pribadinya yang setia.
*
"Aku minta maaf, Sayang... Aku sangat mencintaimu, dan maafkan aku sempat ragu akan cinta mu pada ku," bisik Mikha lirih, meletakkan seikat bunga di atas makam Dion.
Di depan pusara Dion, Mikha menarik napas panjang. Wanita itu berdiri tegap. Isak tangisnya mulai mereda, berganti dengan senyuman getir yang tulus.
"Istirahatlah dengan tenang, mas Dion. Terima kasih sudah menjagaku dengan kesetiaan yang luar biasa. Sekarang... Izinkan aku untuk bahagia tanpa rasa bersalah lagi," bisiknya lembut sambil mengusap nisan itu untuk terakhir kalinya.
Senyuman terlukis dari sudut bibir Mikhaela. " Sekarang aku dekat dengan seseorang. Ia sangat baik pada ku dan putra kita Revan mas. Namanya Dante. Ia banyak berkorban membantu ku selama ini. Ia juga menjaga aku dan Revan dari mbak Nania dan Tio yang selalu menuntut harta peninggalan mu".
Mikhaela menarik nafas dalam-dalam. Sesaat memejamkan kedua matanya.
"Tapi Kamu jangan kuatir, kasih sayang ku untuk Revan tidak akan pernah berubah walaupun nantinya aku melanjutkan hidup bersama Dante".
"Izinkan aku memulai hidup baru mas Dion", ucap Mikhaela tersenyum.
Berbanding terbalik rasanya ketika tiba di pemakaman tadi. Kini ketika hendak pulang menuju mobilnya, Mikhaela merasa plong. Tanpa beban yang menghimpit dadanya.
...***...
To be continue