Aku mati karena terlalu percaya pada cinta dan persahabatan. Kini, aku terlahir kembali di dunia baru sebagai anak yang dibenci kerajaan. Mereka menyebutku sampah tanpa bakat? Silakan. Saat kalian memohon pada Dewa, aku melatih tinjuku untuk menghancurkan takhta kalian. Aku Arlan, dan kali ini, aku tidak akan membiarkan siapa pun hidup setelah mengkhianatiku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon naramas_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketenangan Sebelum Badai Didesa Oakhaven
Pagi itu, Desa Oakhaven masih diselimuti kabut tipis yang dingin. Suara kokok ayam hutan terdengar bersahutan, menandakan dimulainya siklus hidup yang monoton bagi penduduk desa. Arlan berdiri di depan jendela gubuknya yang kecil, menatap jalanan tanah yang becek. Kembalinya Arlan dari hutan setelah menghilang selama beberapa hari tidak disambut dengan hangat oleh penduduk desa. Sebaliknya, mereka menatap Arlan dengan ketakutan yang dibalut oleh kebencian. Kabar tentang jatuhnya Gort di tangan Arlan di pinggir sungai waktu itu masih menjadi topik pembicaraan hangat di setiap sudut kedai, namun tidak ada satu pun warga yang berani bertanya langsung kepadanya.
Arlan menarik napas dalam-dalam, merasakan udara pagi yang lembap masuk ke paru parunya. Sejak membuka Gerbang Ketiga di Puncak Gunung Es, sistem pernapasan Arlan telah berubah secara fundamental. Dia tidak lagi bernapas secara dangkal seperti manusia biasa. Setiap tarikan napasnya sekarang adalah proses penyerapan energi alam yang kemudian disaring oleh Gerbang Kehidupan untuk memurnikan sel-sel tubuhnya. Meskipun dia terlihat diam, di dalam tubuh Arlan sedang terjadi aktivitas luar biasa; aliran darahnya bergerak dengan ritme yang sangat teratur, perlahan-lahan memperbaiki sisa-sisa kerusakan akibat suhu ekstrem di pegunungan utara.
Di dapur kecil yang hanya berlantai tanah, Elena sedang sibuk memasak sup gandum. Aroma gandum murahan yang agak apek memenuhi ruangan, namun bagi Arlan, itu adalah aroma kenyataan yang harus dia hadapi saat ini. Dia melihat punggung ibunya yang terlihat semakin kurus. Elena telah bekerja terlalu keras untuk menopang hidup mereka di tengah boikot ekonomi yang dilakukan oleh kepala desa Gort. Penduduk desa dilarang menjual barang berkualitas kepada mereka, dan Elena hanya bisa mendapatkan sisa-sisa bahan makanan yang sudah hampir busuk dengan harga yang sangat mahal.
"Ibu, biarkan aku yang mengambil air ke sumur hari ini," ucap Arlan sambil berjalan menghampiri ibunya.
Elena menoleh dengan senyum yang dipaksakan. "Tidak perlu, Arlan. Kamu baru saja kembali dari hutan. Kamu harus banyak istirahat. Tubuhmu terlihat sangat lelah."
Arlan hanya menggeleng pelan. Dia mengambil ember kayu yang sudah bocor di beberapa bagian dan berjalan keluar gubuk. Dia tahu ibunya sedang berusaha melindunginya dari tatapan tajam orang-orang desa di sumur umum. Namun, Arlan justru butuh keluar. Dia butuh mengumpulkan informasi dan melihat sejauh mana musuh musuhnya merencanakan langkah selanjutnya. Di kehidupan lamanya sebagai Adit, dia belajar bahwa musuh yang paling berbahaya bukanlah mereka yang berteriak di depan wajahmu, melainkan mereka yang diam sambil menyiapkan jerat di belakang punggungmu.
Saat Arlan sampai di sumur desa, suasana mendadak menjadi sangat sunyi. Beberapa wanita yang sedang mencuci pakaian langsung menghentikan aktivitas mereka. Mereka berbisik bisik sambil menunjuk ke arah Arlan dengan tatapan yang penuh prasangka. Arlan mengabaikan mereka semua. Dia mulai menimba air dengan gerakan yang terlihat lambat dan lemah, sengaja menyembunyikan kekuatan fisiknya yang sebenarnya. Dia ingin dunia tetap melihatnya sebagai anak kecil tanpa berkah yang hanya memiliki sedikit keberuntungan saat melawan Gort.
"Lihat itu, si pengkhianat kecil sudah kembali," bisik seorang wanita dengan suara yang sengaja dikeraskan agar Arlan mendengar. "Kudengar dia menggunakan ilmu hitam di hutan. Pantas saja Tuan Gort sampai terluka."
"Benar sekali," sahut wanita lainnya. "Dewa tidak memberikan berkah padanya, jadi dia pasti menjual jiwanya pada iblis hutan. Kita harus berhati hati, jangan sampai anak-anak kita mendekati gubuk terkutuk itu."
Arlan terus menimba air dengan ekspresi wajah yang datar. Di dalam batinnya, dia justru merasa kasihan pada orang-orang ini. Mereka adalah sekumpulan domba yang hanya bisa mengikuti suara penguasa. Mereka tidak tahu bahwa ancaman sebenarnya bukan berasal dari dirinya, melainkan dari ketidakadilan yang selama ini mereka dukung dengan diam mereka.
Setelah embernya penuh, Arlan membawa beban air itu kembali ke rumah. Di tengah jalan, dia berpapasan dengan salah satu penjaga desa yang semalam terlihat sedang mengawasinya. Penjaga itu hanya berdiri bersandar di sebuah pohon besar, tangannya memegang tombak, namun matanya terus mengikuti setiap gerakan Arlan. Arlan menyadari bahwa pengawasan terhadap dirinya telah ditingkatkan. Ksatria bayangan kerajaan yang tewas di gunung pasti telah memicu alarm di ibu kota, dan sekarang desa ini sedang dipenuhi oleh mata-mata yang menyamar.
Sesampainya di gubuk, Arlan segera masuk ke kamarnya yang sempit. Dia mengunci pintu dari dalam dan mengeluarkan bahan-bahan kimia yang dia beli di Kota Oksis. Hari ini dia akan memulai proses Tempa Tulang. Ini adalah bagian dari persiapan untuk membuka Gerbang Keempat di masa depan, sekaligus untuk memperkuat wadah tubuhnya agar tidak mudah hancur saat menggunakan Gerbang Ketiga.
Arlan mengambil botol berisi cairan merkuri murni dan bubuk bunga matahari hitam. Dengan sangat hati-hati, dia mencampurkan bahan-bahan tersebut ke dalam sebuah mangkuk keramik kecil. Dia menambahkan sedikit darahnya sendiri ke dalam campuran tersebut sebagai katalisator. Cairan itu mulai bereaksi, mengeluarkan asap tipis berwarna ungu dan aroma yang sangat tajam.
Arlan duduk bersila dan mulai mengoleskan cairan tersebut ke titik-titik saraf di sepanjang tulang kering dan lengannya. Rasa sakit seketika menyerang. Rasanya seperti ribuan semut api sedang menggigit kulitnya dan mencoba masuk ke dalam sumsum tulangnya. Arlan menggertakkan gigi, menahan suara agar tidak terdengar oleh Elena di luar. Keringat dingin mulai bercucuran dari dahinya.
"Sakit ini adalah investasi," gumam Arlan dalam hati. "Tanpa tulang yang kuat, aku tidak akan bisa menahan kecepatan Gerbang Keempat nanti. Aku harus bertahan."
Dia memulai meditasi pernapasan batin, mengarahkan energi dari Gerbang Ketiga untuk membantu penyerapan ramuan tersebut ke dalam struktur tulangnya. Proses ini memakan waktu berjam-jam. Arlan merasakan bagaimana kalsium di dalam tulangnya perlahan-lahan menjadi lebih padat dan lebih keras. Ini adalah teknik penguatan tubuh yang sangat ekstrem dan terlarang bagi manusia biasa karena risikonya yang bisa menyebabkan kelumpuhan permanen jika aliran energinya sedikit saja meleset.
Setelah proses itu selesai, Arlan merasa tubuhnya sangat berat namun terasa jauh lebih solid. Dia membersihkan sisa-sisa ramuan di kulitnya dengan kain basah. Dia kemudian menyembunyikan kembali sisa bahan kimianya di bawah lantai kayu. Dia tahu bahwa dalam tiga bulan ke depan, rutinitas ini harus dia lakukan setiap hari agar fisiknya mencapai standar minimum untuk mengikuti ujian akademi kerajaan.
Sore harinya, sebuah pengumuman besar ditempel di balai desa. Arlan berjalan mendekat untuk membacanya. Pengumuman itu berisi tentang jadwal Ujian Masuk Akademi Ksatria dan Penyihir Kerajaan Astra yang akan diadakan di wilayah Oakhaven sebagai pusat seleksi daerah utara. Yang membuat Arlan menyipitkan mata adalah peraturan baru yang tertulis di bagian bawah: Setiap keluarga yang berada di bawah pengawasan kerajaan wajib mengirimkan setidaknya satu perwakilan anak berusia tujuh hingga sepuluh tahun untuk mengikuti ujian kelayakan hidup.
"Itu adalah jebakan," pikir Arlan. "Ujian kelayakan hidup hanyalah nama lain dari seleksi untuk melenyapkan mereka yang dianggap sebagai ancaman politik bagi kerajaan."
Arlan melihat Gort berdiri di dekat balai desa dengan tangan yang masih dibalut perban. Gort menatap Arlan dari kejauhan dengan senyum kemenangan yang sangat tipis. Gort berpikir bahwa dengan memasukkan Arlan ke dalam ujian akademi, dia telah menandatangani surat kematian Arlan secara resmi. Di akademi nanti, Arlan tidak akan menghadapi penjaga desa yang bodoh, melainkan para jenius berkah yang sudah dilatih oleh instruktur profesional.
Arlan tidak merasa takut. Justru senyum tipis muncul di sudut bibirnya. Dia sudah sangat merindukan tantangan yang sesungguhnya. Di kehidupan lamanya, Adit paling suka saat kompetitornya merasa sudah menang, karena di saat itulah mereka akan menjadi lengah.
"Kamu ingin aku ikut ujian itu, Gort?" batin Arlan sambil berjalan pulang. "Baiklah. Aku akan ikut. Tapi jangan salahkan aku jika nanti panggung ujian yang kalian siapkan justru akan menjadi pemakaman massal bagi para jenius kesayangan kalian."
Malam itu, Arlan kembali berlatih dalam kesunyian. Dia mulai menggabungkan gerakan-gerakan dasar Taijutsu dengan teknik pernapasan batinnya. Dia berlatih dengan sangat perlahan di dalam kamar yang gelap, memastikan tidak ada suara langkah kaki yang terdengar keluar. Gerakannya sangat halus seperti air yang mengalir, namun di setiap ujung serangannya tersimpan kekuatan yang sanggup meremukkan batu.
Dia terus berlatih hingga fajar kembali menyingsing. Arlan tahu bahwa waktu tiga bulan adalah waktu yang sangat singkat bagi orang biasa, namun bagi seseorang yang memiliki jiwa yang sudah ditempa oleh pengkhianatan dan kematian, tiga bulan adalah waktu yang cukup untuk menciptakan sebuah keajaiban yang akan menghancurkan tatanan dunia ini.
Ketenangan di Desa Oakhaven hanyalah sebuah ilusi. Di bawah permukaan yang sunyi, Arlan sedang membangun badai yang akan menyapu bersih siapa pun yang pernah menghina nama Vandermir. Dia sudah tidak sabar untuk melihat wajah-wajah sombong para bangsawan itu berubah menjadi penuh ketakutan saat melihat anak sampah tanpa berkah ini menghancurkan sihir mereka hanya dengan satu pukulan tangan kosong.