NovelToon NovelToon
The Happy A Villain

The Happy A Villain

Status: tamat
Genre:Romantis / Misteri / TimeTravel / Chicklit / Tamat
Popularitas:350.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sisi Miring Petagon

Halo semuanya...
Ini karya novel pertamaku.

Isekai biasanya tertabrak mobil atau truk sedangkan aku cuma ketiduran. Aku Lisa Aspasa harus mengalami isekai. Aku terbangun dalam sebuah novel dimana tubuh inilah tokoh villiannya. Seorang villian dipastikan akan berakhir kematian. Kematian yang mengerikan bagi siapapun yang melihatnya.
Akankah aku bisa menghindari takdir kematian?
Akankah aku mendapatkan kebahagiaan?

Pada pertengahan perjalan jiwa pemilik asli tubuh ini datang.. apa yang ia inginkan? akankah dia mau membantuku atau sebaliknya?

Berlahan tapi pasti sesuatu yang tidak terungkap dalam novel mulai muncul kepermukaan...
Apakah itu?
Penasaran... langsung baca saja

27 Oktober 2020

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sisi Miring Petagon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33

WARNING TYPO BERTEBARAN

***

Melisa POV

Tanganku bergetar ketika aku memengang selembar kertas. Kertas daftar korban kecelakaan tragis yang terjadi lima tahun lalu. Kecelakaan yang menewaskan orang tua Olivia.

Aku mengeguk ludahku kasar dengan kakiku yang tak sanggup menompang tubuhku. Badanku lemas tak berdaya saat sebuah fakta terungkap. Aku tidak menyangka bahwa ibunya Melisa meninggal karena kecelakaan. Menurut dinovel dan ingatan Melisa menyatakan bahwa ibunya meninggal dalam keadaan sakit. Aku berlinang air mata dengan hati yang remuk berkeping-keping.

‘kenapa fakta kejam ini harus disembunyikan’pikirku dengan hati yang patah. Otakku tidak bisa membayangkan betapa mengerikannya kecelakaan itu. Badanku mengigil ketakutan ketika bayangan kematian yang tragis.

Butuh beberapa menit aku mengembalikan kekuatan mentalku. Aku melihat Melisa yang berada dialam bawah sadar. Dia seperti orang yang kehilangan arah dan tujuan.

Aku mengusap air mataku dengan kasar. Aku menarik nafas panjang kemudian mengeluarkannya. Aku membuka mulut dengan mata mengitimidasi. Tidak ada lagi mata penuh kelembutan yang biasa kuberikan kepada dua anak buah kesayanganku. Mereka terlihat terkejut dan ketakutan bersamaan.

“ Kenapa ibuku bisa berada didaftar kecelakaan padahal kata kalian ibuku meninggal karena penyakit?” kataku tajam.

Aku melihat mereka bukam seribu bahasa. BRAKK bunyi meja yang ditendang sekuat tenaga. Aku mendang meja sebagai pelampiasan amarah.

“ Katakan” perintahku membuat mereka menciut.

“ Ka.. kami tidak tahu mengenai kasus ini” kata Je takut.

“ Benar nona” kata Tris membenarkan perkataan Je.

Aku mengamati mereka secara detail dari atas sampai bawah. Mereka yang aku tatap menjadi salah tingkah. Aku menghelan nafas kasar dengan hati kecewa. Aku  mengambil chip didalam kotak.

“ Tris periksa gunting dalam kotak” perintahku

“ Je leptop” kataku kepada Je.

Tris segera memeriksa gunting secara menyeluruh. Sedangkan Je memberikanku leptop berwarna hitam. Aku membuka leptop kemudian memasangkan chip pada leptop. Aku mengamati isi dari chip yang disembunyikan Olivia.

Aku dan Je mengamati secara sesama dan menyeluruh. Setiap detail kami periksa tanpa ada yang terlewat. Aku merangkum isi chip dalam otakku.

Isi chip meliputi kematian perempuan dalam foto pada rumah kak Rayhan, kematian ibuku dan korban jiwa lainnya, kebakaran yang dasyat, dan mobil hitam yang dikendarai orang tua Olivia tampak aneh. Aku menghelan nafas kasar sekarang beragam pertanyaan bersarang dikepalaku terutama ‘mengapa polisi tidak mengusut tuntas kasus ini?’.

“ Nona gunting memiliki sidik jari dari anak bernama Olivia Triandara dan ada minyak rem yang mengering dan berusia sekitar 5 tahun lalu” kata Tris melaporkan. Aku memijat kepalaku yang berdenyut.

“ Bukankah ini aneh” kata Je membuka suara setelah diam seribu bahasa.

“ Memang sangat aneh... mobil pasangan Ricardo tampak kehilangan kontrol seperti remnya tidak berfungsi. Ada chip, data dan gunting yang disimpan ditempat tersembunyi oleh Olivia. Selain itu dugaan kita bertiga pasti mengarah kepada Olivia karena bukti yang kita temukan barusan” kataku menjelaskan yang disepakati oleh dua orang anak buahku.

“ Tapi itu tidak mungkin kalian pasti tahu tidak ada seorang anak yang tega membunuh orang tua yang telah melahirkan dan membesarkan tampa imbalan” kataku tidak mempercayai Olivia pelakunya. Namun hati kecilku mengatakan bahwa dialah dalangnya.

“ Anda benar nona” kata Tris menyetuju pemikiranku.

“ Kalau memang dia pelakunya berarti dia sakit jiwa” kata Je.

“ Aku harus berhati-hati dengannya” gumanku.

“ Kami akan mencari bukti tambahan untuk memperkuat argumen yang kita miliki. Aku akan mendapatkan informasi dan kesaksian dari keluarga korban dan masyarakat mengenai kejadian ini” kata Tris mengusulkan idenya.

“ Aku akan mendapatkan bukti dari Arjeno” kata Je mengalihakan perhatianku.

“ Apa kak Arjeno akan mengatakannya dia adalah boneka Olivia” kataku memperingatkan.

“ Menjebak boneka lebih mudah dibandingkan otaknya” kata Je dengan senyum misterius.

Aku membiarkan mereka bergerak sendiri. Sedangkan aku akan mengamati situasi dan kondisi. Aku fikir akan sangat berbahaya menyerang tanpa memiliki pengamatan dan strategi yang tepat.

DRETT DRETT DRETT bunyi ponselku yang manandakan sebuah panggilan masuk. Aku menerima panggilan dari

ayah.

“ Halo ayah” kataku menyapa dengan suara riang.

“ Halo putriku yang cantik... bisakah malam ini kita makan diluar?” tanya ayah.

“ Tentu saja bisa ayah... apa sih yang tidak untuk ayah tersayangku” kataku senang.

“ Kalau begitu pergilah ke butik Soya nanti akan ada supir yang menjemput” kata ayah menjelaskan membuatku binggung.

“ Mengapa harus pergi kebutik?” tanyaku

“ Karena ayah ingin melihat putri kesayangan ayah tampil cantik” kata ayah.

“ Baik ayah” kataku tidak pikir panjang.

Aku segera pergi dari rumah Je. Sebelumnya memberikan salam perpisahan singkat pada dua anak buahku. Aku segera menekan gas mobil hitamku menuju Butik Soya.

Aku melangkahkan kakiku masuk kedalam Butik Soya. Aku melihat beribu gaun mewah dan indah terpajang dietalase butik. Para karyawan menawarkan gaun terbaiknya pada para calon pembeli.

Seorang karyawan memintaku untuk mengikutinya. Aku diminta untuk memakai gaun panjang dengan lengan pendek. Gaun model terbaru dengan motif sederhana, elegan dan mewah. Motif yang dihias dengan emas, mutiara dan perak yang dibuat khusus untukku.

Selain mereka memakaikanku gaun mereka juga mendadaniku. Wajahku dipoles dengan lembut dan tipis. Wajahku terlihat lebih segar dan natural. Rambutku yang panjang disanggul modern dengan sedikit hiasan kepala untuk mempercantik penampilanku.

Aku keluar dari butik bagaikan seorang putri semua orang manatapku dan menggagumi kecantikanku. Aku disambut oleh seorang supir yang diperintah ayah. Supir tersebut membukakanku pintu masuk kedalam mobil hitam yang dibawanya. Aku masuk kedalam mobil kemudian memejamkan mata untuk tidur.

Aku tertidur lelap hingga supir mambangunkan dengan lembut. Aku terbangun dengan sedikit menguap. Aku keluar dari mobil hitam dengan berlahan.

Mataku terpukau dengan hiasan lampu yang dipasang diseluruh kapal pesiar. Aku sedikit membuka mulutku saat melihat kapal pesiar yang sangat besar. Kapal berwarna putih yang mendominasi.

Seorang pelayan memintaku untuk mengikutinya. Aku berjalan dibelakangnya dengan mata berbinar. Aku terpukau dengan interior kapal yang mewah dan fasilitas lengkap. Selain itu isi kapal pesiar ini sudah dihias dengan sangat cantik.

Aku berhenti disebuah pintu besar berlapis emas. Mataku silau melihat cahaya pantulan emas sungguhan. Aku berharap bisa membawa pulang emas ini kemudian menjualnya ‘aku akan kaya mendadak’.

Pintu besar terbuka dengan lebar menampilkan ayah dan satu keluarga yang bisa menjungkir balikan hidupku. Langkah kakiku berat untuk melangkah kedepan. Mataku membulat sempura dengan jatung berdetak cepat.

Berlahan aku mendekat ke meja makan yang sudah ada keluarga Elgartara dan ayah. Aku tersenyum canggung kepada mereka pasalnya baru pertama aku bertemu dengan keluarga Elgartara. Aku duduk didekat Elgartara dengan terpaksa karena tidak ada kursi lain.

Aku duduk diam mengabaikan pembicaraan yang terjadi didepanku. Aku fokus pada makananku. Aku memakan makananku tanpa minat.

“ Putriku makanannya apa tidak enak?” tanya ayah cemas.

“ Enak ayah” kataku dengan senyum dipaksakan.

Aku membenci situasi ini yang membuat Melisa semakin terlena. Melisa menginginkan kehangatan keluarga yang nyata bukan kehangatan semu. Kehangatan yang menghancurkan Melisa secara berlahan.  Tanganku berlahan mengepal dengan mata penuh amarah.

Kilatan kematian Melisa dan perlakuan Elgartara membuat emosiku naik. ‘Aku bukan orang jahat dan aku bukan

orang baik’ pikirku sambil menatap ibu Elgartara. Ibu Elgartara tampak menikmati jamuan makan ini dengan bahagia. Aku melirik Elgartara yang makan dalam diam.

“ Tante dan semuanya ada yang ingin saya sampaikan” kataku datar.

Aku menatap mereka satu persatu untuk mengamati ekspresi yang dikeluarkan. Ayah Elgartara berekpresi datar sama seperti Elgartara, Ibu Elgartara terkejut dengan nada suaraku sama seperti ayah.

“ Saya ingin mengakhiri pertunagan ini” kataku tegas. Mereka berekspresi sama yaitu terkejut kecuali Elgartara.

“ Mengapa sayang?” kata ibu Elgartara lembut. Aku ingin membuka mulut yang didahului Elgartara.

“ Karena kami akan menikah” kata Elgartara singkat dan jelas. Aku terkejut dengan perkataan Elgartara yang tidak masuk akal.

“ Benarkah.. kapan kalian akan melangsungkan pernikahan?” tanya ibu Elgartara antusias.

“ Apa kalian sudah mendaftarkan ke kantor KUA?” tanya ayah Elgartara yang semula diam.

“ Sudah... kami akan menikah setelah kami lulus” kata Elgartara.

“ Baguslah” kata ibu Elgartara bahagia. Ibu Elgartara menatapku dengan pandangan berbinar. Ibu Elgartara memengang tanganku dengan lembut.

“ Sebentar lagi Melisa akan menjadi menantuku” kata ibu Elgartara bahagia.

Aku membalas dengan senyum canggung. Aku tidak percaya dengan pendengaranku. Aku tidak menyangka bahwa Elgartara akan melakukan sejauh ini ‘rasanya aku mau tertawa akan hidupku yang menyedihkan’.

Mereka mulai mengobrol tentang bisnis. Aku meminum jus yang disiapkan. Aku meminat jus pare campur brokoli tanpa gula untuk menunggu acara makan selesai.  Aku meminum jus pare campur brokoli sampai tandas. Rasa  rasa pahit jus pare campur brokoli‘seperti hidupku pahit sekali’.

Acara makan malam sudah selesai. Aku meminta ayah untuk pulang namun ayah menolak. Ayah akan menginap dikapal pesiar bersama keluarga Elgartara untuk menghabiskan waktu bersama teman lama. Aku menuruti keinginan ayah dengan hati dongkol.

Aku berlahan berjalan keluar kapal. Aku menikmati semilir angin malam yang menerpa kulitku. Aku menatap kosong kearah laut yang luas. Tenangnya ombak membuat hatiku tenang. Amarah didada berlahan menghilang.

“ Masuklah disini dingin” kata seseorang yang aku tahu dia siapa.

“ Apa maksudmu” kataku datar.

Elgartara berjalan mendekatiku kemudian berdiri disampingku. Aku masih fokus pada laut. Sinar rembulan menyinari kami dengan cahayanya yang lembut.

“ Aku hanya melakukan apa yang ingin aku lakukan” kata Elgartara santai.

Aku menoleh menatap Elgartara yang dibalas Elgartara. Berlahan tanganku naik ketas. PLAKKK satu tamparan dariku mendarat dipipi Elgartara. Elgartara memengang pipinya yang nyeri.

“ Aku hanya melakukan apa yang ingin aku lakukan” kataku menirukan Elgartara.

PLAKKK satu tamparan lagi dariku mendarat dipipi Elgartara. Aku menatap Elgartara dengan tatapan amarah.

Air mataku keluar tanpa aba-aba. Aku merasa frustasi dengan semua yang terjadi. Aku hancur akan fakta kematian ibu Melisa yang menyedihkan ditambah perbuatan Elgartara. Semuanya membuatku sulit untuk bernafas. Selain itu aku tidak kuasa melihat kesedihan dan luka ditatapan Melisa.

Aku terhuyun kebelakan kemudian duduk dikursi yang disediakan. Aku menagis meluapkan perasaan yang tidak bisa disampaikan. Perasaan marah, sedih, binggung dan frustasi menjadi satu.

Berlahan Elgartara duduk bersimpuh. Tangannya yang besar memengang tanganku yang berada dipangkuanku. Elgartara meremas tanganku lembut seperti menyalurkan kekuatan. Aku menatap Elgartara dengan tatapan putus asa.

“ Mengapa kau lakukan ini?” kataku parau.

“ Aku hanya ingin bahagia” kataku lirih dengan nada putus asa.

Aku melihat sorot Elgartara yang lembut dan sedikit rasa bersalah. Elgartara mencium tanganku dengan lembut.

“ Izinkanku untuk membuatmubahagia” kata Elgartara memohon.

“ Tidak” kataku menolak dengan lirih.

“ Luka dihatiku sudah cukup dalam aku tidak bisa membiarkanmu menghancurkannya lagi. Hubungan kita sudah berakhir sama seperti rasa cintaku. Aku tidak kuat seperti dulu...” kataku lirih.

Aku melepaskan tanganku dari gengaman Elgartara. Aku mengarahkan tanganku kedadaku.

“ Rasanya sakit...” kataku memukul pelan dadaku.

“ Sakit sekali Elgartara... aku tidak kuat... aku tidak kuat bila harus mengulangi sebuah hubungan yang sama. Hubungan yang membuatku merasa tidak ada harganya” kataku putus asa.

“ Tidak Melisa bagiku kamu berharga” kata Elgartara lembut.

“ Diamlah... berhenti membual sesuatu yang palsu biarkan aku membuka mata untuk menerima kenyataan” kataku lirih dengan air mata yang mengalir deras.

“ Ini kenyataannya” kata Elgaratara menyakinkanku.

“ Kenyataan bahwa aku mencintaimu” kata Elgartara tulus.

“ Bohong.. kau adalah orang yang penuh kebohongan.. kau tidak pernah mencintaiku tapi Olivia, kau mendirikan perusahan HJ untuk menghancurkanku dan Keluargaku, kau...” kataku merancau.

Elgartara mengentikan perkataanku dengan cara memelukku dengan erat. Elgartara membisikan perkataan yang mampu membuatku diam.

“ Melisa lakukan apa yang ingin kamu lakukan asal kamu bahagia. Aku akan berusaha untuk menjaga, melindungi dan membuatmu bahagia walaupun kamu tidak mengingginkannya” kata Elgartara lembut.

Aku mencampurkan fakta dan isi novel kedalam pembicaraan. Aku merasa ketinggalan satu langkah dari Elgartara. Hal itu menambah daftar kekecewaan dan kesedihan pada hari ini.

Aku salah langkah dengan masuk kedalam cabang perusahan HJ. Perusahan HJ yang kupikir akan menjadi sekutu nyatanya musuhku. Kenyataan kematian ibu Melisa yang mengenaskan. Ditipu ayah yang kupercaya hingga aku harus berada disini. Terakhir perbuatan Elgartara yang menyeretku kejurang pernikahan.

Aku harus menenangkan pikiranku untuk membuat rencana. Aku tidak bisa lepas dari gengaman Elgartara dengan mudah. Aku harus mencari cela dan keuntungan untuk menyelamatkan hidupku.

Elgartara melepaskan pelukan saat ada seseorang yang menelfon. Aku ingin berdiri namun kepala Elgartara berada dipangkuanku. Elgartara melihat siapa yang menelfon. Kemudian Elgartara meletakan telfonnya tanpa mengangganya. Elgartara memposisikan kepalanya dengan nyaman dipangkuanku.

Aku kesal dengan tingkah Elgartara yang seperti anak kecil. Bunyi ponsel terus berdering membuatku penasaran. Aku mengambil ponsel Elgartara untuk melihat siapa yang memanggil.

Aku binggung dengan nama kotak yang ditulis Elgartara ’25 XI D’. Aku menyentuh icon hijau untuk melihat siapa yang memanggil. Aku penasaran dengan orang yang menelfon Elgartara malam-malam begini.

Aku terkejut saat melihat Olivia yang menelfon Elgartara. Aku melihat Olivia sama terkejutnya denganku. Senyum yang menghiasi wajahnya berlahan sirna. Sorot kesal terpancar dengan jelas. Aku melihat Olivia sedang memakai piyama berwarna biru dongker ‘warna kesukaan Elgartara’.

“ Hai Melisa... Elgarnya ada?” tanya Olivia lembut dengan tatapan benci. Sungguh tidak sinkron antara hati dan perkataan.

“ Mengapa mencarinya?” tanyaku angkuh.

“ Ada hal penting yang harus aku katakan padanya” kata Olivia lembut.

“  Hal penting apa?” tanyaku ketus

“ Maaf Melisa aku tidak dapat memberi tahumu karena kamu bukan anggota osis” kata Olivia tersenyum.

“ Prffff hahahaha aku tidak menyangka seorang Olivia yang dikenal pintar ternyata bodoh. Akan kuberitahu selama aku sekolah yang sama dengan Elgartara dan masih dalam ranah SMA berarti aku juga seorang anggota OSIS.” kataku menghina Olivia.

Api kemarahan berlahan membesar membuatku semakin semangat. Aku akan mengukur seberapa lama kamu mengunakan topeng munafik.

“ Aku tidak bisa mengatakannya karena ini harus langsung kepada ketua OSIS” kata Olivia menahan kesal.

“ Alasan... aku mulai ragu padamu... jangan-jangan sebenarnya kamu yang merayu Elgartara bukan Elgartara yang merayumu... atau selama ini vidio dan foto yang tersebar luas itu ulahmu” kataku menambahkan bumbu provokasi.

“ Tidak” kata Olivia panik.

“ Kalau tidak maka katakan kepentinganmu” kataku mendesak.

“ Aku membicarakan hasil persetujuan hutan musim boleh digunakan untuk camping” kata Olivia termakan perasaan marah.

“ Buktinya apa? jangan omong doang” kata menuang minyak kedalam api.

“ BAIKLAH” teriak Olivia dengan marah.

Aku senang mengetahui ternyata membuka topeng Olivia tidaklah sulit hanya butuh provokasi yang tepat. Olivia mengirimkan semua keperluan kemah dengan cepat. Aku tersenyum Olivia terjebak dalam permainan yang ia buat. Aku mematikan ponsel secara sepihak membiarkan Olivia melampiaskan kebodohannya dalam bentuk amarah.

“ Hebat” kata Elgartara memujiku membuatku binggung.

***

1
Ni Ketut Patmiari
Luar biasa
Hikam Sairi
mampir
Sulati Cus
bagus walaupun ada typo tp ak suka, sukses buat othor
Inonk_ordinary
wooooowww syukaaaaaa
Arshyla_17
Seru bgt deh... Semoga Slalu semangt ya author😊
est
suka
est
😭 aku sedih thor melisa ma cogan yg baik aja jgn ma di gara2 apa kek
Silvya Devy
Karyamu luarbiasa Thor. 😘😘😘😘
Fikayra
Sumpah ceritanya suka bikin nyesek tp aku suka banget alurnya. . aku bacanya smpe maraton 2hr dari awal sampe selesai sumpah banjir air mata, melisa bener2 wanita tangguh bahkan dy bisa jungkir balikin kehidupan elgartara dari yg gk paham akan kisah hidup melisa smpe sebuah kebenaran membuat penyesalan dihidup elgartara. .perjuangan elgartara dan melisa bener2 nguras emosi dan banjir air mata. .👍🏻👍🏻👍🏻
Hasan
maaf thor bukannya sewaktu sebelum menempati tubuh melisa tuh jiwa lisa lg mengambil s2 ya jd kok setelah menempati tubuh melisa yg seharusnya msh sekolah pinternya jd berkurang jauh ya? 🤔🤔
Ida Blado
org sakit hati yg stres itulah reyhan,,,kasihan kmu
Ida Blado
q pikir bkl bisa nampar reyhan dgn fakta,,,, ternyata mlh nangis bombay,,cemen
Ida Blado
lalu apa gunanya vidio yg tersebar itu kalau gk bisa jdi bujti,,, di sini keprofesionalnya si penulis di pertanyakan
Ida Blado
sukurin loe El,,, bahagia gue loe sakit hati 😂
Ida Blado
di sini mulai aneh,bagaimana bisa org udah mati masih menempati tubuhnya.melisa oke krn dia transmigrasi,,, lah melisa yg asli kn udah mati,kok masih nempatin tubuhnya,,,konyol
Ida Blado
cerita ini sebenernya bagus andai alurnya ttp stabil,,,,namun di part2 berikutnya sgt di sayangkan,dimana melisa yg di fitnah dn gk bisa m^nunjukan bukti alias banyak drama.terlebih jdi buronan dn perusahaan bpk'a bermasalah,,, nah di situpah alurnya amburadul jauh dri ekspektasi.
Eka Maulidia
p
Sri Rahayu
seruuu.....
Yaya Cici
seneng nya
Siti Nurain
👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!