NovelToon NovelToon
Setahun Menjadi Pelayan Tuan Muda

Setahun Menjadi Pelayan Tuan Muda

Status: tamat
Genre:Mafia / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:369.1k
Nilai: 5
Nama Author: mama reni

Kaburnya Alana dari rumah justru menyeretnya ke dunia Arka, lelaki berkuasa yang menjadikannya pelayan sebagai ganti rugi sebuah insiden. Dia juga menjadi pengasuh dari ponakan Arka, anak dari Rafael.

Beberapa bulan kemudian Arka memutuskan untuk menikahi Alana hanya untuk melindunginya dari perjodohan orang tuanya.

Tanpa penjelasan Alana diusir oleh orang tua Arka. Beberapa saat kemudian, ia kembali dengan kehamilan di rahimnya, hinaan menjadi balasan, anak itu dituduh milik Rafael, abang iparnya Arka, mafia berdarah dingin.

Alana memutuskan selamanya pergi dari hidup Arka. Akhirnya dia kembali ke rumah Rafael, pria paling berbahaya yang justru menjadi pelindungnya.

Setahun kemudian, Alana memutuskan menikah dengan Rafael yang merupakan mantan abang iparnya Arka. Bagaimana perasaan Arka, dan apa yang akan terjadi selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Tiga Puluh Tiga

Arka masih berdiri kaku di tengah ruang tamu itu. Rahangnya tegang, matanya menyala, tapi suaranya kali ini justru lebih pelan, lebih berbahaya karena tenang.

“Sekali lagi aku tanya,” ucap Arka, menatap lurus ke Alana tanpa berkedip. “Kau mau ikut aku atau tetap di sini?”

Alana menelan ludah. Jemarinya masih saling menggenggam, tapi kini tidak lagi gemetar. Entah sejak kapan, mungkin sejak nama Revan disebut, mungkin sejak Rafael berdiri membelanya. Ada sesuatu di dalam dadanya yang mengeras. Bukan keras karena benci. Tapi karena keputusan.

“Aku tetap di sini,” jawab Alana.

Tatapan Arka berubah setipis bilah. “Kau yakin?”

“Aku yakin.”

“Jangan jawab karena merasa aman berdiri di belakangnya,” Arka mengangguk tipis ke arah Rafael.

Alana menggeleng pelan. “Saya menjawab karena ini pilihan saya, Tuan.”

Sunyi jatuh lagi. Kali ini lebih panjang.

“Mengenai hutang,” lanjut Alana, suaranya sedikit lebih lembut tapi tidak melemah, “Tetap akan saya bayar, Tuan. Dengan cara apa pun yang saya mampu. Tapi bukan dengan kembali ke sana.”

Rafael melirik Alana dan untuk pertama kalinya sejak percakapan itu memanas, sudut bibirnya terangkat tipis. Bukan senyum lebar. Tapi cukup untuk menunjukkan persetujuan dan kebanggaan.

“Kau sudah dengar jawabannya,” ujar Rafael tenang, menatap Arka. “Sekarang kau pasti tahu harus melakukan apa.”

Arka mengembuskan napas panjang. Dadanya naik turun. Amarahnya masih ada, jelas. Tapi ada sesuatu lain yang mengganggu, sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan yaitu penolakan Alana.

Arka tertawa pendek dan terdengar sumbang. “Baiklah, Alana,” ucapnya akhirnya. “Kalau ini pilihanmu … aku harap kau tidak akan pernah menyesal.”

Kalimat itu tidak diucapkan keras. Justru terlalu datar. Seperti janji buruk yang disimpan rapi.

Arka berbalik tanpa pamit lagi. Langkahnya tegas, menghantam lantai marmer. Pintu terbuka, lalu tertutup dengan bunyi yang tidak dibanting, tapi cukup keras untuk meninggalkan getaran.

Ruangan itu akhirnya bisa bernapas. Bu Sari duduk perlahan. “Astaga …,” bisiknya. “Tegang sekali.”

Alana baru sadar napasnya tercekat sejak tadi. Ia menarik udara panjang, lalu mengembuskannya gemetar. Kakinya sedikit lemas.

Rafael menoleh padanya. “Kamu tidak apa-apa?”

Alana mengangguk kecil. “Iya … hanya ....” Dia mengusap sudut matanya cepat, “Lega.”

“Keputusan berani,” kata Rafael.

“Takut juga,” jujur Alana.

“Keputusan yang benar biasanya memang datang bersama rasa takut,” jawab Rafael ringan.

Alana tersenyum tipis. Tapi jauh di dalam hatinya, ada satu nama yang bergema pelan yaitu Revan. Dan entah kenapa, perasaannya terasa tidak enak.

Sementara itu perjalanan pulang Arka terasa lebih panjang dari biasanya. Setir digenggam keras. Jalanan sore itu ramai, tapi suaranya seperti jauh. Yang terdengar justru kalimat Alana berulang-ulang.

Ada rasa ditolak yang menusuk, bukan sekadar ditolak sebagai majikan. Lebih personal dari itu, meski dia tak mau mengakuinya.

“Bodoh,” gumam Arka pelan. Entah untuk siapa. Lampu merah. Dia berhenti. Menatap lurus ke depan tanpa benar-benar melihat.

Kenapa jawaban itu mengganggunya? Entah karena kontrak, harga diri atau karena sejak awal, dia tidak pernah benar-benar menganggap Alana hanya “pekerja rumah".

Klakson belakang menyadarkannya. Lampu sudah hijau. Arka melaju lagi, kali ini sedikit lebih cepat.

— — —

Gerbang rumah terbuka. Satpam memberi salam. Arka hanya mengangguk singkat dan langsung memarkir mobil. Begitu pintu depan dibuka, suasana terasa berbeda.

Tidak ada suara TV. Tidak ada suara peralatan dapur. Tidak ada langkah kaki Revan berlari menyambut. Yang ada hanya wajah Bi Marni, pucat dan tegang, yang langsung berdiri dari sofa begitu melihatnya.

“Syukurlah Tuan Arka sudah pulang,” ucapnya cepat.

Alis Arka langsung berkerut. “Ada apa, Bi?”

“Revan, Tuan .…”

Jantung Arka langsung berdebar tidak enak. “Kenapa Revan?”

“Suhu badannya tinggi sekali dari tadi siang. Sudah dikompres, tapi belum turun.”

Arka tidak menunggu kalimat selesai. Tasnya bahkan belum diletakkan. Dia langsung berlari ke tangga. Langkahnya cepat. Ada rasa panik yang tidak dia suka, tapi tak bisa ia tekan. Pintu kamar Revan terbuka setengah.

Di dalam, Mama Ratna duduk di tepi ranjang. Baskom air dan handuk kecil di sampingnya. Wajahnya tegang, tidak lagi angkuh seperti biasanya.

Revan terbaring pucat. Rambutnya basah karena keringat. Napasnya agak cepat.

“Ma,” panggil Arka pendek.

Mama Ratna menoleh. “Akhirnya kamu pulang. Dari tadi dia panas.”

Arka mendekat cepat. Menyentuh dahi ponakannya itu. Panasnya membuat jantungnya jatuh.

“Ini bukan demam ringan,” ucap Arka.

Revan mengerang pelan. Bibirnya bergerak samar. “Mm … Mbak … Alana .…”

Tangan Arka menegang. Mama Ratna berhenti mengompres. “Sejak tidur dia menyebut nama itu terus.”

Arka menelan keras. “Kapan mulai panas?”

“Tadi siang. Habis bangun tidur dia lemas. Makan juga tidak mau.”

“Kenapa tidak langsung telepon aku, Ma?”

Mama Ratna terlihat berpikir sejenak. “Mama pikir bisa turun dengan kompres.”

“Ini tinggi sekali, Ma.”

Revan bergerak gelisah. Matanya setengah terbuka, kosong dan berat.

“Om Arka,” suaranya serak.

“Iya. Oom di sini.” Arka duduk, menggenggam tangan kecil itu. Terasa panas.

Revan meremas lemah. “Jangan … tinggalin .…”

Nada suara itu menusuk langsung ke dada.

“Om tidak ke mana-mana,” jawab Arka, lebih lembut dari yang ia kira bisa.

Mama Ratna memperhatikan dalam diam. Dua puluh menit kemudian suhu tidak turun. Bahkan terasa makin tinggi.

Arka berdiri. Keputusan sudah bulat.

“Kita harus ke rumah sakit.”

“Sekarang?” tanya Mama Ratna.

“Sekarang.”

Ia membuka lemari cepat, mengambil jaket kecil Revan. Bi Marni masuk membawa tas darurat yang sudah disiapkan.

“Tadi saya sudah siapkan ini, Tuan,” ucap Bi Marni.

“Terima kasih.”

Arka mengangkat tubuh Revan. Terasa ringan. Anak itu biasanya aktif, hangat, penuh gerak. Sekarang lunglai di pelukannya. Kepala kecil itu jatuh di bahunya.

“Oom …,” gumamnya lemah.

“Iya.”

“Mbak Alana mana .…”

Langkah Arka terhenti sepersekian detik. Dadanya seperti ditekan.

“Ada,” jawabnya singkat. “Nanti ketemu.”

Ia tidak tahu itu janji atau sekadar penenang.

Mobil melaju cepat membelah malam yang mulai turun. Lampu-lampu jalan memanjang seperti garis kuning kabur.

Revan di pangkuan Arka di kursi belakang. Bi Marni ikut menemani, terus mengompres dengan handuk kecil.

Napas anak itu panas terasa di kulitnya. Arka tidak suka rasa takut ini. Terlalu familiar. Terlalu mirip masa lalu yang tidak ingin ia sentuh.

“Cepat sedikit,” ucapnya ke sopir.

“Baik, Tuan.”

Revan mengigau pelan. Kata-katanya terputus. "Mbak ... mbak ... Alana ...."

Tangan Arka terkepal. Dia teringat Alana yang tak mau pulang. Dalam hatinya berkata, "Jika terjadi sesuatu pada Revan, kau yang harus bertanggungjawab!"

**

Sambil menunggu novel ini update bisa mampir ke novel teman mama di bawah ini. Terima kasih.

1
Surati
bagus ceritanya 👍🙏🏻 semangat thor 💪👍🥰
Kinara Widya
bagus sekali ceritanya..👍🏻👍🏻👍🏻
ina
hahahhaa
Ririn Nursisminingsih
alana kabur kok bawa aoa2 rugi dong
Erlinda Noviyani
qiwwqiwww 🤣
Gintania nia
selalu menarik
Reni Setia
makasih untuk novelnya dan bonus nya 😃
Mama Reni: Sama-sama
total 1 replies
Nani Te'ne
suka
Momcia
Dari pd manggil kak ke suami, lbh bagus mas atuh thor..atau Abang..
christina paya wan
selalu pertanyaan yg bodoh..
Bagong
biar si arka gila g punya keturunan,,,,,apalagi emaknya yg stresss itu,,,,,, trs dikekepin sama Celin
EembuL
Arka dan mama nya * T A I *
EembuL
buat nenek lampir itu tidur dirumah sakit sja.. 👊👊👊👊👊 buat dia tersiksa batin dan fisik
Lilis Yuanita
novelnya bgus tp kok dia apus q dh baca sebagian pdhl masih seru .. pria pilihan suamiku
Nethy Sunny
apa sih maunya c arka ini dulu sok2an mau lindungi pke nikah segala ehh kesininya dia malah gengsi ngakuin
Rina Arie
good
Kautami Firyati
kurang seru kalau tamat sekarang, aku ingin melihat kebahagiaan Arka yg sesungguhnya
Yulia
Ceritanya keren,top markotop pokonya 👍👍👍
antha mom
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
antha mom
makasih thor sukses selalu ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!