Jennie Revelton (25) seorang penulis novel dewasa yang terkenal dengan fantasi sensualnya tiba-tiba mengalami writer’s block saat mengerjakan proyek terbesarnya. Semua ide terasa mati hingga seorang pria baru pindah ke unit sebelah apartemennya.
Pria itu adalah tipikal karakter novel impiannya: tampan, mapan, dewasa, dan terlalu sempurna untuk menjadi tetangga. Tanpa sadar Jennie menjadikannya bahan fantasi untuk menghidupkan kembali gairah menulisnya.
Namun semakin sering ia mengamati dan membayangkan pria itu, perasaan Jennie mulai berubah. Dia tak lagi ingin pria itu hanya hidup di atas kertas, tapi juga menginginkannya di dunia nyata.
Keadaan menjadi rumit ketika pria itu mengetahui bahwa dirinya adalah objek fantasi erotis dalam novelnya. Alih-alih marah atau menjauh, pria itu justru mengajukan sebuah penawaran tak terduga.
"Daripada hanya mengandalkan imajinasi, bukankah lebih nikmat jika kau bisa merasakannya langsung?" ~~Johan Alexander.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CHIBEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 - Launching Party
Jakarta dengan sifatnya yang cepat lupa mengubah skandal menjadi tren. Publik yang beberapa bulan lalu menghujat identitas "Lady Velvet" dengan kata-kata pedas, kini justru berbalik arah menyukai karyanya.
Efeknya luar biasa, banyak sponsor yang ingin bekerja sama dengan Jennie karena karyanya meledak dipasaran.
Malam ini adalah peluncuran resmi novel fisik Midnight Heat yang diadakan di sebuah galeri seni mewah di Jakarta Selatan. Nama pena Lady Velvet kini bersanding dengan nama aslinya tanpa ada rasa malu lagi.
Di ruang rias Jennie menarik napas dalam, gaun sutra berwarna champagne yang dia kenakan melekat sempurna, memberikan kesan elegan namun tetap menyimpan sisi berani.
Jemarinya yang biasanya lincah di atas keyboard kini sedikit gemetar saat dia membenahi anting-anting berlian pemberian Ibu Johan.
"Aku akan pingsan, Mas. Aku benar-benar akan pingsan," ucap Jennie saat melihat Johan berjalan ke arahnya.
Johan tersenyum kecil dan berjalan mendekat, dia meletakkan kedua tangannya di bahu Jennie dan menatap mata wanita itu melalui cermin.
"Kamu tidak akan pingsan, Sayang," suara berat Johan menenangkan detak jantung Jennie yang liar. "Kamu adalah wanita paling berani yang pernah aku kenal, dan malam ini adalah milikmu."
"Tapi dulu aku menulis tanpa ada yang tahu siapa dibalik nama pena Lady Velvet, dan sekarang ada lima puluh kamera wartawan yang menunggu di luar sana," balas Jennie berbalik dan meremas lengan Johan.
"Bagaimana jika aku salah bicara dan terlihat bodoh? Bagaimana jika aku terlalu gugup sampai suaraku hilang?"
Johan tersenyum tipis, sebuah senyum nakal yang sangat intim. Dia menunduk dan mendekatkan bibirnya ke telinga Jennie. "Aku punya cara untuk memastikan perhatianmu tidak tertuju pada wartawan."
Sepuluh menit kemudian peluncuran akhirnya di mulai, cahaya lampu kamera berpijar tanpa henti saat mereka berdua berjalan masuk.
Johan sama sekali tidak menjaga jarak, dia menggenggam tangan Jennie dengan sangat protektif, memberikan pernyataan kepada dunia bahwa dia adalah pendukung nomor satu Lady Velvet.
Manda sang editor yang kini tampak sepuluh tahun lebih muda berkat keberhasilan novel ini berdiri di podium.
"Mari kita sambut sang fenomenal, wanita dibalik kata-kata yang memikat hati kita semua. Jennie Revelton, alias Lady Velvet!"
Jennie merasa kakinya seperti jeli saat melangkah menuju panggung, riuh rendah tepuk tangan dan kilatan blitz membuatnya sedikit pening.
Namun tepat sebelum kakinya menapak tangga panggung, Johan menariknya sedikit mendekat seperti ingin membisikkan sesuatu.
Jennie pikir yang ingin diucapkan pria itu adalah kalimat penyemangat, tetapi yang keluar dari bibir Johan bukan yang dia pikirkan.
"Ingat posisi kita di sofa kemarin sore?" bisik Johan dengan suara rendah yang sangat serak. "Bagaimana kamu memohon agar aku tidak berhenti saat tanganku...."
Mata Jennie membelalak lebar, wajahnya yang tadi pucat karena ketakutan seketika tersiram warna merah padam yang pekat.
Jantungnya berdegup sepuluh kali lebih cepat karena kombinasi antara syok dan gairah yang mendadak muncul di waktu yang tidak tepat.
"Mas! Kamu..." Jennie menoleh dengan tatapan protes, tapi Johan hanya memeberikan kedipan nakal dan melepaskan tangannya, membiarkan Jennie naik ke panggung dengan pipi yang memerah.
Begitu Jennie berdiri di depan mikrofon, para wartawan langsung berbisik kagum. Wajah blushing Jennie terlihat luar biasa cantik di bawah sorotan lampu.
Jennie menarik napas panjang menatap ratusan pasang mata yang menunggunya. Dia melihat Manda yang bangga, dia melihat orang tua Johan yang duduk di baris depan tersenyum tulus ke arahnya, dan yang terakhir dia menatap Johan yang menatapnya dengan senyum kecil.
Jennie mulai berbicara, suaranya yang awalnya bergetar perlahan menjadi mantap.
"Terima kasih, terima kasih banyak untuk kehadiran Anda semua malam ini," buka Jennie. "Malam ini saya berdiri di sini dengan identitas asli saya adalah hal yang paling menakutkan sekaligus paling melegakan."
Jennie menjeda sejenak, matanya mulai berkaca-kaca. "Beberapa bulan lalu saya hampir menyerah, saya pikir duniaku telah berakhir karena skandal yang terjadi. Tapi malam ini begitu banyak orang yang membawa buku yang saya tulis, itu membuat saya sadar bahwa kata-kata memang punya kekuatan untuk menyembuhkan."
"Saya sangat bersyukur, bukan karena angka penjualan yang meledak, tapi karena kalian semua memilih untuk mempercayai saya. Kalian memilih untuk membaca tentang cinta, kerentanan, dan gairah yang tulus."
Jennie kemudian menatap Johan, "Dan untuk pria yang menjadi fondasi dari setiap kata di buku ini, terima kasih karena telah menjadi nyata daripada karakter fiksi yang pernah saya bayangkan."
"Terima kasih karena sudah mencintaiku bukan sebagai Lady Velvet yang misterius, tapi sebagai Jennie yang penuh dengan ketakutan dan kekurangan."
Tepuk tangan meriah membahana di seluruh ruangan, sponsor-sponsor yang hadir tampak puas. Mereka menyadari bahwa mereka telah menginvestasikan dana kepada sosok yang tepat.
Sesi tanya jawab berlangsung lancar, Jennie menjawab setiap pertanyaan dengan cerdas dan penuh humor.
"Apakah akan ada sekuel?" tanya seorang wartawan.
Jennie melirik Johan sambil tersenyum penuh arti, "Untuk sekarang masih belum terpikirkan, mungkin tahun depan saya akan kembali melakukan riset yang jauh lebih panas."
Setelah acara formal selesai, suasana berubah menjadi pesta ramah tamah yang santai. Manda menghampirinya dan memeluknya erat. "Jen! Angka penjualan jam pertama memecahkan rekor nasional!"
Jennie tertawa, merasa beban di bahunya benar-benar telah hilang. Dia berjalan menghampiri Johan yang sedang menunggunya di sudut balkon galeri yang tenang.
"Bagaiamana pidatoku?" tanyanya sembari menyenderkan kepalanya di bahu Johan.
"Sempurna," bisik Johan merangkul pinggang Jennie. "Meskipun aku lebih suka saat pipimu memerah karena bisikanku tadi."
"Kamu benar-benar nakal, Mas. Aku hampir lupa naskah pidatoku tadi, " balas Jennie diiringi tawa kecil lalu mencubit perut Johan pelan.
"Tapi hasilnya bagus, kan?" balas Johan mencium kening Jennie cukup lama. "Aku akan tetap di sini dan memastikan kamu tidak perlu takut lagi pada apapun."
Sekarang tidak ada yang perlu disembunyikan lagi, mereka resmi go publik!
Johan, pria yang awalnya hanya sebatas objek fantasi, pria yang hanya berani dia kagumi diam-diam, kini akan membangun masa depan dengannya di atas fondasi cinta yang jujur.
Bersambung