Dewi seorang istri yang di tinggal merantau suaminya Abi ke Kalimantan dan harus tinggal di kampung merawat mertua dengan uang kiriman seadanya dari sang suami, Dewi pun harus bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidup dengan sang mertua.
Hingga suatu ketika Dewi mendapati sebuah rahasia besar dari teman Abi, ternyata Abi diam-diam menikah lagi, hati Dewi hancur dan dia pun nekat ke Kalimantan untuk memastikan sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bundae safiq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Abi tertangkap
Anak buah Abi yang sudah berhasil mensabotase truk pun langsung melarikan truk itu ke tempat biasa mereka menampung bahan curian.
Tak berapa lama kemudian mereka pun sampai di tempat tujuan.
"Berhenti!" ucap Dira pada anak buahnya.
Truk pun berhenti, kemudian anak buah Dira pun segera berkumpul mengitari truk dan bersiap untuk membongkar muatan namun di saat tak terduga dari atas truk keluar beberapa orang yang bersenjata dan langsung menembakkan ke arah Dira dan anak buahnya.
Dooooorrrrr.....doooorrrrr....doooorrrrr!
"Awas bahaya mundduuuuuuurrrrrr!!!" teriak Dira pada anak buahnya.
Beberapa anak buah Dira sudah tumbang dan beberapa mau kabur namun dari arah belakang sudah menyusul lagi anggota polisi yang bersenjata lengkap.
Dooorrrr....dooorrrr...dooorrrr!
Suara tembakan terus menggema memberondongi Dira dan anak buahnya sampai mereka tumbang satu persatu.
"Tangkap mereka!!!"
Anak buah Dira pun langsung di borgol oleh para anggota polisi dan mereka pun segera di gelandang ke kantor polisi.
Sedangkan Truk yang di sabotase pun segera di bawa sebagai barang bukti.
"bos mereka berhasil di lumpuhkan!" ucap Jaka pada pak Safrudin setelah mendapat laporan dari pihak kepolisian, pak Safrudin pun mengangguk puas.
"Bagus...setelah ini giliran menantu sialan itu yang harus di tangkap!" ucap pak Safrudin sembari menyunggingkan bibirnya.
"Apa yang akan bos lakukan?" tanya Jaka penasaran.
"Apa lagi, tentu saja menunggu si berengsek itu di tangkap!" jawab Pak Safrudin dengan nada tinggi sembari menggebrak meja.
"Bos, apa nona Wulan..." Jaka tak melanjutkan kata-katanya.
"jangan kasih tau, biarkan saja dia tau belakangan supaya tidak mengganggu pekerjaan kita!" ucap pak Safrudin pada Jaka.
"Baik bos!" jawab Jaka yang kemudian langsung pergi meninggalkan ruangan pak Safrudin.
Tak berapa lama kemudian pak Handoko selaku pengacara pal Safrudin sudah tiba di kantor polisi guna mengurusi kasus pencurian yang di lakukan Dira dan anak buahnya.
"Bagaimana perkembangannya pak Polisi?" tanya pak Handoko pada petugas kepolisian yang bertugas.
"kami sudah melakukan introgasi pada mereka namun mereka masih belum mau mengaku!" jawab polisi tersebut pada pak Handoko.
"hemmm jadi begitu, apa boleh saya bertemu mereka?" tanya pak Handoko meminta persetujuan.
"Boleh, mari ikut saya!" ucap petugas polisi itu pada pak Handoko, merekapun segera pergi ke ruang introgasi, dan di sana sudah ada Dira dan juga beberapa anak buahnya yang masih bisa di introgasi, sedang yang luka parah masih meringkuk di tahanan.
"Katakan siapa yang menyuruh kalian!" ucap pak Handoko dengan tegas, namun Dira dan yang lainnya masih diam membisu dan membuang pandangan mereka.
"Baik...baiklah kalau tidak mau mengaku, anak dan istri kalian yang akan menanggung perbuatan kalian ini!" ancam pak Handoko pada mereka, sontak mereka pun langsung panik.
"Bedebah jangan sentuh keluarga kami pengecut!" teriak Dira yang nggak terima dengan ancaman pak Handoko.
"kalau begitu cepat katakan siapa dalang di balik perbuatan kalian ini!" ucap pak Handoko lagi dengan tegas.
"Cih...jangan mimpi!" ucap Dira yang masih melindungi Abi.
"Baiklah kalau kalian masih tidak mau mengaku!" kemudian pak Handoko pun mengambil hp nya dan menelepon seseorang.
"Halo!" terdengar suara perempuan yang tak asing lagi bagi Dira di seberang telepon.
"Nona Anita!" sapa pak Handoko.
"Oh pak Handoko, ada apa pak, ada yang bisa saya bantu?" tanya Anita istri Dira, sedang Dira saat ini mulutnya di sumpal dengan kain sehingga tak bisa berbicara dan hanya bisa mendengar percakapan pak Handoko bersama Anita.
"Ah tidak, saya hanya mengingatkan saja kalau besok kita ada janji temu, anda jangan lupa datang ya!" ucap pak Handoko sembari melirik ke arah Dira, Dira pun berontak dan menggelengkan kepalanya berusaha berteriak supaya Anita tahu ada dirinya di sana.
"Ah tentu saja pak, saya pasti datang tepat waktu!" jawab Anita dengan yakin.
"Ya sudah kalau begitu sampai ketemu besok!" jawab pak Handoko yang kemudian menutup sambungan teleponnya.
"Bagimana Dira, apa kamu masih belum mau menyerah, kalau tidak istri kamu besok yang akan membayar semua perbuatanmu itu, atau kamu ngaku dan kami bisa mengurangi hukuman kamu serta istrimu yang tak berdosa itu akan selamat!" ucap Pak Handoko memberikan pilihan pada Dira.
Bungkaman Dira pun di lepas dan dia pun langsung memohon pada pak Handoko.
"Jangan....jangan sakiti istriku!, baiklah aku akan mengaku, aku akan mengaku!" teriak Dira yang sudah panik.
Pak Handoko pun langsung bangkit dari tempatnya dan mendekat pada Dira kemudian langsung mencengkeram leher Dira.
"Abi tak akan bisa melindungi kamu dan keluargamu untuk apa kamu sampai segitunya melindungi pria berengsek seperti dia!" bisik pak Handoko di telinga Dira, mata Dira pun melotot, dia tak percaya kalau pak Handoko ternyata sudah tahu semuanya dan masih menyiksa serta mengancamnya.
"Kalau Anda sudah tahu kenapa enggak langsung tangkap saja dia, kenapa harus menyiksa kami seperti ini!!!" teriak Dira kesal.
"Hahahahaha...itu karena aku ingin kau kau dan kalian semua menderita dan tersika serta mendapatkan balasan yang setimpal dari kami, bagaimana hemmm apa kalian puas!!!" ucap pak Handoko dengan tatapan nyalang pada Dira.
"Ampun, ampuni kami, kami ngaku salah, kami hanya khilaf karena pak Abi memberikan kami kompensasi dua kali lipat dari biasanya!" aku Dira pada pak Handoko.
"Jadi sudah berapa lama kalian bekerja sama dengan Abi?!" tanya pak Handoko dengan tegas.
"Su...sudah hampir enam bulan terakhir, setiap pengiriman barang kami selalu beraksi sesuai perintah Bos Abi, dan kami masing-masing mendapat dua Juta sekali beroperasi!" jawab Dira dengan jujur dan berharap kalau dia mengaku maka mereka akan di bebaskan.
"Oh jadi dari awal memang sudah di rencanakan, lalu bagaimana dengan bagunan yang sudah jadi dan siapa saja yang terlibat?" tanya pak Handoko lagi.
"Bangunan yang sudah jadi masih terlihat bagus namun tak akan bertahan lebih dari lima tahun, dan mandor bangunan yang memberikan kami informasi serta jalan untuk mensabotase bahan bangunan yang di kirim" jelas Dira lagi.
Pak Handoko melirik pada petugas polisi yang ikut bersamanya, polisi itu pun mengangguk dan kamudian pak Handoko pun menyudahi introgasinya karena di rasa sudah cukup untuk bukti menangkap Abi.
Pak Handoko pun segera pergi meninggalkan ruang introgasi.
Dira dan anak buahnya di bawa kembali ke dalam sel, kemudian petugas polisi segera pergi menangkap Abi untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.
Saat ini Abi masih bersantai menikmati minumannya di sebuah bar yang ada di tengah kota bersama beberapa orang temannya.
"Hahahaha...ayo minum sepuasnya, pesan sebanyak-banyaknya aku yang traktir!" ucap Abi dengan bangganya.
"Wah-wah-wah kamu lagi banyak duit ya Abi?" tanya salah satu temen Abi.
"Hahahaha...sejak kapan seorang Abi itu jadi kere hah, Abi yang ini banyak Duitnya tau nggak!" ucap Abi yang masih sombong.
"Cih...numpang sama istri aja di banggain!" ledek teman Abi yang tak suka dengan sikap sombong Abi.
"Apa kamu bilang, cepat ulangi lagi!" teriak Abi marah, namun tak di hiraukan oleh temannya tersebut.
"Kalau nggak suka pergi sana!" usir Abi, tak berapa lama kemudian Hp Abi pun berdering, Abi buru-buru mengangkatnya.
"Halo!" sapa Abi.
"Bos gawat bos, Dira ketangkap bos mereka ada di kantor polisi!" ucap seseorang dari seberang telepon.
"Apaaaa!!!" Abi terkejut dan Hp nya pun terjatuh.
Braaaaakkkkkkk!
"Angkat tangan kalian kami tahan!!!"
cinta boleh wi gobloogg jangan