CERITA MASIH ACAK-ACAKAN AKAN AUTHOR REVISI SATU PER SATU.
-DALAM PROSES REVISI -
Sejak kecil Rania hidup bersama keluarga yang telah mengadopsinya dari sebuah panti asuhan. Segala hal akan Rania lakukan agar keluarganya bangga terhadap Rania, termasuk mengorbankan perasaannya sendiri.
Sampai kakak tirinya divonis tidak bisa memiliki anak. Sejak itu Rania ditunjuk untuk menikahi suami dari kakak tirinya agar bisa memiliki keturunan. Tetapi dengan perjanjian setelah memberinya anak Rania akan diceraikan.
Apakan Rania menyanggupi permintaan kakak tirinya? atau Rania memilih untuk pergi menghilang dari keluarga yang telah mengadopsinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon slwarulla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 33 (revisi)
"vinoooo" Rania berlari menghampiri laki-laki yang sedang berkutat dengan handphonenya, ia mendongak lalu menangkap Rania yang berhambur ke pelukannya
Buru-buru, Vino melepasnya. Hey, dia baru ingat Vivi melarang-nya untuk melakukan skinsip dengan Rania.
"ih kok dilepas, aku kan kangen banget sama kamu. Udah lama kita gak ketemuan"
Vino mengacak-acak rambut Rania, "kita tuh bukan muhrim, gak baik sampai pelukan seperti tadi. Ditambah ini kan kantor suami kamu, kalau ada yang liat bahaya. Apalagi sampai ada yang bilang ke suami kamu, bisa abis aku" ucapnya walaupun didalam hati ia tidak ingin melakukan itu semua
"disini mana ada tahu sih aku istrinya Dimas. Orang-orang hanya menganggapku orang aneh, karena datang kekantor besar hanya memakai pakaian santai. Ditambah dengan perut yang mem- belendung kayak gini nih" Rania mengusap-usap perutnya
"aneh dari mana sih, cantik gini ko. Oh iya aku ada hadiah buat keponakan aku" Vino mengambil bingkisan dikursi belakang mobil dan memberikannya kepada Rania
"ih apa ini? boleh buka sekarang gak?"
"nanti aja dirumah, jadi sekarang mau kemana ibu Rania" tanya Vino menunggu Rania yang tampak berfikir
"melihat kamu ngasih perlengkapan bayi, aku jadi pengen belanja-belanja kebutuhan anak aku deh. Tapi memang kamu mau diajak belanja bareng, nanti ngeluh lagi" keluh Rania mengingat keluhan Vino saat mereka belanja bareng bersama Vivi
"permintaan ibu Rania akan saya laksanakan" ucap Vino dengan tegas membuat tawa Rania pecah
"apaan sih Vin. Oh iya, Vin sebelum ke mall x boleh gak kita mampir ke bakso tempat kita dulu suka makan. Tiba- tiba jadi pengen bakso, nih"
"ternyata ibu hamil begitu ya, suka tiba-tiba kepengen sesuatu" Rania mendengus
"kalau gak mau juga gak papa" jawab Rania dengan nada ketus
"siapa yang bilang gak mau, nanti kalau gak dituruti anak kamu ileran lagi. Aku sebagai om-nya harus mengatasi hal itu"
"terserah kamu deh"
.
.
.
.
Bakso sudah dihidangkan dihadapan mereka, tetapi tiba-tiba Rania tidak ingin memakannya. Melihatnya saja ia sudah enek.
Untuk menyampirkan hal yang tidak diinginkan, Rania menggeser mangkuk kehadapan Vino.
"ape nih"
"gak mau bakso, tiba-tiba kenyang" Rania hanya mengambil es campur yang dipesan oleh Vino.
Vino hanya menatap nanar es campurnnya yang telah dimakan oleh Rania.
"oh iya Omong-omong gimana sekretaris baru kamu? aku memilih Lia dari semua orang yang melamar. Entah kenapa dia terlihat sangat cocok sama kamu"
"kamu cariin aku istri apa sekretaris sih, pakai acara cocok-cocok segala. Perempuan yang kamu pilih bener-bener deh, ceroboh banget. Aku bentak sedikit, langsung nangis" Vino bergidik membayangkan sekretaris barunya itu, "mending kamu kemana-mana juga"
"dia itu perempuan yang perasaannya lembut. Gak hanya dia semua perasaan perempuan pasti lembut, semua orang juga kalau dibentak pasti nangis. Kamu kan bisa menasihati-nya dengan lembut"
"kamu, ada kok perempuan yang aku bentak gak nangis. Ingat gak sih, pertama kali kamu kerja. Kalau aku bentak bukannya nangis, malah semakin memiliki rasa semangat untuk belajar lagi. Nah aku mau sekretaris yang kayak gitu"
"jangan marah-marah gitu deh sama Lia" Rania menyeruput habis gelas jus alpukat, "Hati-hati, nanti jatuh cinta lagi"
"ogah"
.
.
.
.
"Vinooo, lihat deh lucu banget bajunya. Pas banget sepasang untuk laki-laki dan perempuan" Rania memegang baju dikedua tangannya, "duh kalau kaya begini bisa-bisa kalap"
Vino terkekeh, ia melihat keantusias-an Rania ketika memasuki toko-toko peralatan bayi. Bahkan dikedua lengannya, sudah tersampir beberapa totebag berisi peralatan makan bayi.
Setidaknya Rania dapat tersenyum, Vino rela untuk ber cape-cape ria mengikuti Rania yang kesana kemari, "Ran, istirahat dulu. Ingat lagi hamil, jangan sampai cape"
Rania berhenti memilih-milih baju, "oh iya kamu bener, aku gak boleh cape-cape" Rania membawa beberapa baju yang ia pilih dan menaruhnya dikasir
Setelah membayar baju tersebut, Rania menghampiri Vino yang menunggunya didepan toko.
"udah?"
Rania mengangguk, "belum puas sih sebenernya, tapi aku inget pesan Dimas kalau aku gak boleh cape- cape. Daripada ujung-ujungnya aku dimarahin, mending nurut deh"
Vino mengambil totebag yang Rania bawa, "iya ikuti saja perkataan suamimu itu, kalau memang demi kebaikan kamu juga"
"oh iya, Vin. Makasih banget loh udah mau nemenin aku buat belanja-belanja perlengkapan bayi"
"iya sama-sama, kalau ada butuh sesuatu dan suami kamu gak bisa menuhin permintaan kamu, jangan sungkan-sungkan untuk beri kabar aku"
"siap mantan bos" jawab Rania dan mendapat gelak tawa dari keduanya
😡😡😡😈😈😈
😡😡😡
😡😡😡
tokoh laki-laki.y juga gampang dibohongin pokok.y nambah beban pikiran dah
plis deh jangan goblok 😩 gak usah cari penyakit fokus aja ke karir Ama si kembar😑