Eldoria, yang berarti negeri kuno yang penuh berkah. Negeri yang dulunya selalu di sinari cahaya matahari, kini berubah menjadi negeri yang suram.
Ratusan tahun telah berlalu sejak peperangan besar yang menghancurkan hampir seluruh negeri Eldoria, membuat rakyat harus hidup menderita di bawah kemiskinan dan kesengsaraan selama puluhan tahun sampai mereka bisa membangun kembali Negeri Eldoria. Meskipun begitu bayang-bayang peperangan masih melekat pada seluruh rakyat Eldoria.
Suatu hari, dimana matahari bersinar kembali walau hanya untuk beberapa saat, turunlah sebuah ramalan yang membuat rakyat Eldoria kembali memiliki sebuah harapan.
"Akan terlahir 7 orang dengan kekuatan dahsyat yang dapat mengalahkan kegelapan yang baisa di sebut Devil, di antara 7 orang itu salah satu dari mereka adalah pemilik elemen es yang konon katanya ada beberapa orang istimewa yang bisa menguasai hampir semua elemen dari klan Es"
Siapakah ketujuh orang yang akan menyelamatkan negeri Eldoria?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzaleaHazel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33
Matahari sudah mulai naik ke tengah-tengah yang artinya sudah hampir siang hari. Hentah sudah helaan nafas berat yang keberapa Liz keluarkan, duduk sendirian di halaman belakang. Sangat sepi karena Theresa dan orangtuanya baru saja pulang pagi-pagi sekali, padahal mereka sudah menemaninya seminggu lamanya, tapi entah kenapa terasa sangat singkat. Menoleh ke dalam rumah, ternyata sama sepinya, ibunya mungkin sedang berada di kamar dan Ayahnya seperti sedang keluar. Lagi-lagi Liz menghela nafasnya, merasa sangat bosan. Anak itu bangkit dari duduknya, mengusap bajunya yang mungkin kotor karena debu. Melangkah masuk ke dalam rumah untuk pergi ke kamarnya, meraih tasnya dan kembali keluar.
Sebelum keluar dari rumah, Liz berjalan kearah kamar Acresia, mengetuk pintunya beberapa kali. "Ibu, aku pergi latihan dulu." Liz langsung pergi setelah berpamitan pada ibunya tanpa menunggu jawaban wanita itu. Lagipula Acresia tidak akan menjawabnya, karena itu Liz langsung keluar dari rumah.
Sebelum pergi, Liz lebih dulu pergi ke toko Gilbert, rasanya sudah lama sekali tidak bertemu pria itu dan semoga saja Evans juga berada di sana. Tiba-tiba saja Liz terkikik geli, pasti kedua Pamannya itu merasa khawatir padanya karena tidak pernah kelihatan selama seminggu ini.
Sedangkan Gilbert saat ini sibuk dengan pekerjaannya, saat lonceng tokonya berbunyi ia sama sekali tidak menoleh atau sekedar memeriksa siapa yang datang. Sudah seminggu ini bocah yang ia tunggu tidak pernah muncul, karena itu Gilbert sama sekali tidak tertarik memeriksa siapa yang datang ke tokonya karena takut akan kecewa lagi. Tapi begitu mendengar suara yang sudah seminggu ini tidak ia dengar membuat Gilbert langsung menoleh dengan cepat.
Liz sempat mengerutkan keningnya saat melihat Gilbert sama sekali tidak mengalihkan pandangannya kearah pintu, ia melangkah lebih dekat kearah pria itu. "Paman Gil." Panggilnya pelan.
Mendengar suara yang selama ini selalu ia nantikan membuat Gilbert langsung menoleh. "Liz, kau kemana saja selama ini? Apa kau baik-baik saja, bagaimana keadaanmu?" Memiloh meninggalkan pekerjaannya dan mendekati bocah itu.
"Paman, aku tidak apa-apa, tenanglah." Liz meraih tangan Gilbert karena pria itu memutar tubuhnya untuk memeriksa keadaannya.
"Hampir setiap hari kau datang ke sini, tapi selama seminggu tidak pernah datang berkunjung, jadi bagaimana Paman tidak khawatir padamu?" Gilbert menepuk kepala Liz beberapa kali, akhirnya bisa bernafas lega setelah melihat bocah ini baik-baik saja.
"Maaf karena membuat Paman khawatir. Sebenarnya aku merayakan hari ulang tahunku bersama keluargaku dan tidak sempat mengunjungi Paman." Liz juga merasa tidak enak karena membuat Gilbert khawatir padanya.
Perkataan Liz membuat Gilbert mengerutkan keningnya, bukankah hubungan Liz dengan orangtuanya tidak terlalu baik? Tapi ia segera menormalkan ekspresinya saat melihat bagaimana wajah ceria Liz saat menceritakannya. "Benarkah? Syukurlah kalau tidak terjadi sesuatu yang buruk padamu." Gilbert juga ikut tersenyum melihat Liz yang tampak bahagia menceritakan tentang pesta ulang tahunnya.
Liz mengintip ke belakang Gilbert. "Apa Paman sibuk? Kenapa sangat fokus sampai tidak menoleh kearah pintu saat aku datang?" Tanyanya penasaran, biasanya Gilbert selalu menoleh kearah pintu saat ia datang tapi tadi pria itu sama sekali tidak merespon.
Gilbert menghela nafas. "Paman sudah cukup kecewa seminggu ini karena selalu menatap kearah pintu berharap kau yang datang berkunjung." Cara bicaranya lebih terdengar seperti keluhan sampai membuat Liz terkekeh.
"Apakah Paman sangat merindukanku? Kalau begitu belikan aku makanan yang enak." Melihat reaksi Gilbert membuat Liz semakin ingin menggoda pria itu.
Gilbert mengusak gemas rambut Liz. "Dasar."
Jawaban dan tindakan Gilbert sama sekali tidak searah, walaupun terdengar seperti mengeluh tapi tetap di lakukan. Meninggalkan pekerjaannya dan mengajak Liz keluar dari toko untuk membelikan makanan yang enak untuk bocah itu.
...🍁🍁🍁🍁🍁...
Liz bersenandung kecil dalam perjalanan pulang, kini hari sudah mulai gelap. Niatnya untuk pergi latihan tidak jadi karena Gilbert menemaninya bermain dan mereka juga sempat mengunjungi Evans, karena itu Liz sangat senang hati ini. Langkah riangnya tiba-tiba berhenti saat melihat Acrus dan Acresia berada di halaman rumah, seperti sedang menunggu seseorang. Sedikitpun Liz tidak berharap jika mereka sedang menunggunya, takut akan rasa kecewa seperti yang biasa ia rasakan. Menggelengkan kepalanya, menghilangkan pikiran pikiran buruk yang sempat menganggu lalu kembali melangkah menuju rumahnya.
"Aku pulang." Entah sudah menjadi kebiasaannya atau apa, Liz selalu mengucap kata itu saat ia sampai di rumah walaupun tidak pernah ada jawaban sama sekali.
"Liz, ada yang ingin kami bicarakan denganmu." Ucapan Acrus membuat Liz menghentikan langkahnya.
Berbalik menatap sang ayah dengan alis berkerut. "Ingin membicarakan apa? Liz bertanya, terlibat jelas rasa bingung di wajahnya.
"Duduklah." Bukannya menjawab, Acrus melirik tempat duduk di hadapannya memerintahkan agar Liz duduk di sana.
Liz menurut tanpa mengatakan apapun, duduk tenang di tempat yang ayahnya tunjuk sebelumnya. "Ayah ingin membicarakan apa?" Entah kenapa perasaannya terasa tidak enak saat Acrus tiba-tiba ingin membicarakan sesuatu dengannya.
"Apa kau sering menggunakan sabitmu?" Tanya Acrus. Entah bagaimana pertanyaan itu keluar dari mulutnya dan membuat Liz sedikit terkejut.
"Rudeon? Tidak terlalu. Aku hanya menggunakannya untuk membangkitkan monster yang ingin ku jadikan Undead." Balas Liz, tadi sempat ada kerutan di dahinya karena Acrus tiba-tiba menanyakan tentang Rudeon.
"Apa kau masih berhubungan dengan pemilik toko itu?" Acrus kembali bertanya, tapi pertanyaannya kali ini membuat perasaan tidak enak yang di rasakan Liz semakin kuat.
"Maksud Ayah Paman Gilbert?" Tanya Liz, membuat Acrus mengangguk membenarkan jika memang Gilbert yang di maksud.
"Eung, aku baru saja pulang setelah bermain dengan Paman Gil dan juga Paman Evans, mereka juga sering membelikanku makanan enak. Tapi kenapa ayah tiba-tiba menanyakan hal itu?" Liz menceritakan sedikit tentang kedekatannya dengan Gilbert dan Evans, apa yang di katakan nya sempat membuat Acresia meliriknya mungkin karena tadi ia pamit pergi latihan tapi malah bermain dengan kedua pria itu, biarlah Liz tidak takut di marahi karena memang sudah biasa.
"Mintalah pemilik toko itu untuk membuatkanmu senjata baru." Ucap Acrus.
Liz mengerutkan keningnya. "Memangnya kenapa? Aku sudah memiliki Rudeon." Tentu saja ia merasa bingung kenapa ayahnya tiba-tiba bicara seperti itu.
"Lebih banyak senjata yang kau kuasai itu akan semakin baik untukmu, jadi mintalah padanya , pedang atau apapun itu." Acrus sama sekali tidak mendengarkan apanyang Liz katakan dan tetap memaksa anak itu agar memenuhi keinginannya.
"Tapi–" bahkan untuk menjawab saja Liz tidak bisa karena Acrus sudah menyelanya. Padahal ia sudah menguasai beberapa senjata, sering kali ia berlatih dengan pedang atau panah yang di buat dengan beberapa elemen miliknya tapi kenapa Acrus masih menyuruhnya melakukan itu.
"Apa kau mendengar apa yang ku katakan?!" Suara Acrus mulai meninggi, membuat Liz memejamkan matanya.
"Ya, aku mengerti. Kalau begitu aku masuk dulu." Ucap Liz, tanpa menunggu jawaban ayahnya ia langsung masuk ke dalam rumah.
Menutup pintu kamarnya cukup keras hingga menimbulkan suara dentuman, terang-terangan menunjukkan rasa kesalnya. Untuk pertama kalinya Liz melampiaskan emosinya, bahkan Acrus dan Acresia yang ada di halaman sampai terkejut mendengar dentuman pintu kamar Liz.
Duduk meringkuk memeluk dirinya sendiri, merasa kesal sekaligus muak karena tidak bisa membantah apa yang ayahnya katakan. Jika sudah seperti ini bagaimana caranya bicara pada Gilbert? Walaupun ia yakin jika pria itu akan dengan senang hati membantunya, tapi tetap saja Liz merasa tidak enak selalu merepotkan orang yang sudah sangat baik padanya.
selalu semangat thor ...