Tak kusangka takdir hidupku akan jadi serumit ini
Kisah percintaan seorang gadis cantik idola SMA Nusa Bangsa, bernama Ariana Kamilla dengan seorang cowok cool bernama Eza. menjadi awal mula dilema panjang cinta segi tiga dimasa yang akan datang
Pelecehan, penghianatan dan dendam membawa Ariana pada kehidupan kelam yang menyedihkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon morieta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketemu Calon Kakak Ipar
"saat orang mengenalku sebagai putra papaku, mungkin mereka akan mengira aku hidup dengan bergelimang harta dan kemewahan, dengan sekejap mata mendapatkan apa yg aku mau, seperti dunia dalam genggamanku, walaupun pada kenyataanya hidupku tak semudah itu" berulang kali Arin mendengar Eza menghela nafas, seperti ada beban berat yg di pikulnya
"aku nggak pernah tau tujuan mama, kenapa justru di akhir hayatnya ia memilih menyerahkan aku dan karen pada Mama Sofie, tapi aku justru bersyukur, karena paling tidak aku bisa hidup aman.., seperti yg pernah aku dengar, terkadang tempat yg paling berbahaya sebenarnya adalah tempat yg paling aman"
Arin begitu khusyuk menyimak kisah hidup Eza yg selama ini belum pernah di bukanya. memang semenjak kejadian karenina waktu itu, Eza jauh lebih terbuka tentang banyak hal. termasuk kali ini, begitu gamblangnya ia menceritakan sisi hidupnya yg tidak banyak orang ketahui
Nyatanya segala kemewahan dan fasilitas yg Eza dapatkan sebagai putra dari ayahnya tidak ia nikmati secara cuma cuma, ada harga yg harus ia bayar mahal.
Saat Mama kandung Eza menyerahkan kedua anaknya untuk di rawat oleh papa mereka, ternyata terjadi kesepakatan tertulis antara Handoko Willian dan istrinya, bahwa dalam daftar keluarga, Eza dan adiknya akan di tulis sebagai anak kandung Dari Sofie Amarta ibu tiri Eza, dan menghapuskan nama dan hak ibu kandung Eza atas diri anak anaknya. yg berarti mama kandung Eza akan di hapuskan keberadaanya dan anggap tidak pernah ada.
mendengar cerita Eza, hati Arin terasa begitu ngilu, entah hidup seperti apa yg telah di jalani oleh lelakinya ini, arti kehilangan seorang ibu bagi anak bahkan melebihi kehilangan seluruh dunianya. apa jadinya ketika ia juga harus menganggap ibunya tidak pernah ada. ini sungguh lebih kejam dari pada mengubur manusia hidup hidup.
"apa mama sofie menyayangimu Za..?"
"hahahaha...aku nggak berani meminta lebih sayang, cukup bersedia menampung aku di rumahnya dan nggak lagi memburuku saja aku sudah sangat berterimakasih, masih pengen di sayang sama dia? rasanya itu terlalu tamak sayang..yaahh...aku cukup tau diri"
ketika Eza mengatakan itu rasanya ingin sekali Arin memeluknya, kata kata itu lebih mirip sebuah kiasan, betapa ia sangat merindukan kasih sayang dan belaian dari orang tuanya
"Sayang..."
"hhmm.."
Eza menggenggam jemari Arin erat, senyum tipis tersungging dari bibirnya, tatap matanya menyeritakan keseriusan
"sayang...mungkin saat ini aku nggak punya apa apa yg bisa aku banggakan, tapi maukah kamu bersabar menungguku sampai aku bisa meraih kesuksesanku, tetaplah ada di sampingku sampai saat itu tiba"
Arin tersenyum, di eratkan genggaman tanganya pada jemari Eza
"aku nggak bisa njanjiin kamu apa apa Za...tapi aku yakin suatu saat pasti kamu bisa dapetin apa yg kamu mau, kamu pasti akan bersinar lebih terang dari pada bulan"
"aku nggak minta apa apa sayang, cukup kamu berjanji satu hal sama aku, tetaplah selalu di sampingku dan jangan tinggalin aku, itu saja sudah cukup"
Arin tak kuasa lagi menahan perasaanya, di peluknya pria yg berada di hadapanya itu erat erat, seolah hendak memberi keyakinan bahwa tak ada sedikitpun niat dalam benaknya untuk pergi meninggalkan pria terkasihnya itu walau dalam keadaan sesulit apapun.
"Riinn......"
suara bunda lirih terdengar memanggil, Arin tersentak dan segera melepas pelukannya pada Eza, bergegas mendekati bunda, yg masih terbaring lemah di ranjang
"iya bunda...Arin disini"
"bunda haus nak.."
dengan cepat Arin mengambilkan air mineral dan menuangkannya dalam sebuah gelas. Ezapun turun tangan ikut membantu Bunda sedikit bangun dari tidurnya agar memudahkanya untuk minum.
"bunda masih pusing?"
"sedikit nak.."
tatapan bunda tertuju pada sosok Eza yg kini berdiri di sebelah Arin, sorot matanya seolah mempertanyakan keberadaan Eza disini
"ini Eza bunda.., yg waktu itu jengukin Arin di rumah"
"yg bareng sama Amel?"
"iya bunda"
Eza tersenyum mengangguk seperti memberi salam.
"bunda makan ya...siangkan tadi bundakan belum makan, Arin beli bubur ayam di depan tadi"
dengan lembut dan telaten Arin menyuapi bunda dengan semangkuk bubur ayam yg di belinya tadi di kantin rumah sakit saat makan bersama Eza.
hingga pukul 22.00 malam Eza masih menemani Arin di rumah sakit meski berulang kali Arin memintanya untuk pulang, tapi Eza bersi keras untuk tinggal karena merasa tak tega membiarkan kekasihnya itu seorang diri menjaga bunda. hingga tengah malam akhirnya kak Riopun tiba
Sesaat kak Rio menatap dan memperhatikan bunda yg kembali tertidur lelap. di belainya rambut bunda penuh kelembutan dan perlahan kak Rio beranjak dan melangkahkan kakinya menuju sofa. di jatuhkan bokongnya dengan kasar di atas sofa, sambil meremas kasar rambutnya.
setelah terlihat lebih tenang, sesaat kemudian tatapan mata kak Rio terarah pada Eza, sosok yg sama sekali belum pernah di temuinya. dari sekian banyak teman pria di sekeliling Arin,
"pacarmu dek..?"
"eemmmm....iya kak"
"kok nggak di kenalin?"
tatapan mata jahil kak Rio mulai beraksi, membuat dua sejoli di depanya menjadi salah tingkah dan rada kikuk.
"saya Eza kak.."
dengan gaya gentle Eza memperkenalkan namnya sambil mengulurkan tangananya pada kak Rio
"hhhmmm....kamu yg dari tadi nemenin Arin disini"
Eza mengangguk, meskipun ada sedikit rasa gerogi karena tatapan tajam Kak Rio tak juga lepas darinya, sebisa mungkin Eza berusaha untuk terlihat tenang dan santai
setelah beberapa saat berkenalan dan beramah tamah dengan calon kak Rio Ezapun memutuskan pamit, Arinpun mengikuti langkah untuk mengantarnya hingga pintu depan.
setelah mereka mulai menjauhi ruang perawatan, tiba tiba Eza merangkul pundak Arin
"aahhh..rasanya lega sayaaang.."
"lega kenapa..?"
Arin tampak keheranan melihat ekspresi Eza yg tak biasa
"udah dapet restu dari calon ibu mertua dan calon kakak ipar" Eza tampak sambil menaik turunkan alisnya seolah begitu bangga
"iiihhh....jangan GR ya...."
"lo...., bukannya kalo kita nikah nanti kak Riokan pasti jadi kakak ipar aku sayang"
"belum tentu juga" jawab Arin singkat makin membuat Eza kesal
"kok belum tentu..emang kamu nggak mau nikah sama aku?"
"tergantuuuung"
"oo....gitu...emang harus di kasih hukuman dulu ya biar kamu bilang mau..."
begitu mendengar kata hukuman Arinpun terus berlari menghindari Eza, karena ia mengetahui pasti, Eza akan menghujaninya dengan ciuman yg tiada henti sampai Arin menyerah.
merekapun terus mengurai tawa sepanjang koridor rumah sakit. seolah mereka berdua lupa tengah berada dimana mereka sekarang
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
**maaf ya Readers....dalam beberapa hari ini mungkin aku nggak bisa Up untuk episode berikutnya, karena ada kepentingan yg mendesak sekali,,,,,tapi janji deh.. nggak akan lama kok
tunggu aku yaaa....😘😘😘😘😘😘😘😘**
udh bosan kali erza..si arin ukur 17 thn kaya umur 25 thn keliatan tua,,peyot,suram wajahnya tubuhnya langsung melar, pantatnya langsung turunnnn, buah dada nya langsung kendor kaya udh netein anak.
si arza nanti nikahnya sama yg msh perawan, yg msh suci,tertutup dan tdk liar lagj murahan.