Alya, mahasiswi tingkat akhir yang cerdas dan mandiri, tengah berjuang menyelesaikan skripsinya di tengah tekanan keluarga yang ingin ia segera menikah. Tak disangka, dosen pembimbingnya yang terkenal dingin dan perfeksionis, Dr. Reihan Alfarezi, menawarkan solusi yang mengejutkan: sebuah pernikahan kontrak demi menolong satu sama lain.
Reihan butuh istri untuk menyelamatkan reputasinya dari ancaman perjodohan keluarga, sedangkan Alya butuh waktu agar bisa lulus tanpa terus diburu untuk menikah. Keduanya sepakat menjalani pernikahan semu dengan aturan ketat. Tapi apa jadinya ketika batas-batas profesional mulai terkikis oleh perasaan yang tak terduga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33
" Alya, lu di panggil pak manager tuh" ucap Sisil yang baru saja keluar dari ruangan manager mereka.
Alya menoleh sebentar " ngapain"
"itu, pak bima nyuruh kamu keruangannya. Mungkin mau nganterin berkar ke ruangan CEO kita, kan sekretarisnya lagi cuti" jelas Sisil.
Mendengar itu alya langsung menggeleng cepat " kamu aja deh sil, aku lagi ngga mood kesana"
" aneh kamu Al. Orang mah berlomba-lomba buat bisa masuk ke ruangan CEO kita, lah kamu malah nolak"
" pliss sil, aku lagi ngga mood, belum lagi laporan ini belum selesai dari semalam. Kali ini aja ya" ucap Alya sambil memohon kepada Sisil.
Sisil hanya menghembuskan nafasnya dengan kasar " ya udah, kali ini aja ya. Tapi nanti makan siang kamu yang traktir aku"
" aman kalo itu mah. Udah Sono nanti pak bima marah lagi"
Setelah kepergian Sisil, Alya menghembuskan nafasnya dengan berat. jujur saja ini sudah lewat satu Minggu setelah kejadian malam itu. Tapi dia dan juga Reihan masih tetap canggung.
Sejak malam itu Reihan seolah menghindarinya, meskipun mereka tetap tidur di atas ranjang yang sama, tapi Reihan akhir-akhir ini lebih banyak menghabiskan waktunya di ruang kerjanya.
Alya tak ambil pusing tentang hal itu. Meskipun dia masih sakit hati mengingat malam itu.
..........
Kantin siang itu ramai banget. Suara piring, sendok, dan orang ngobrol nyampur jadi satu. Alya duduk bareng Sisil di pojokan, tapi dari tadi dia cuma ngaduk nasi goreng tanpa niat makan.
“Al, lu kenapa sih? Dari tadi ngelamun aja,” tanya Sisil sambil menyuapkan ayam gorengnya.
“Enggak, kok.Cuma lagi banyak pikiran aja,” jawab Alya cepat.
“Yakin?” Sisil melirik curiga.
Belum sempat Alya jawab, dua staf di meja sebelah mulai ngomong lumayan kencang.
“Eh, lu liat nggak? Ada cewek cakep banget masuk ruang CEO tadi. Siapa sih namanya. itu loh mantan tunangannya bos!” kata salah satunya.
Deg.
' mantan tunangannya bos. Mas Reihan maksud mereka' batin Alya.
" Renata?" ucap temanya itu yang bernama Anya.
" iya, gue liat sendiri dia masuk keruangan nya pak bos."
“Wah… kalo bener mereka balikan, ya fix kantor bakal heboh,” balas yang satu lagi.
Sisil menoleh kearah Alya yang mengaduk-aduk makannya.
" lu belum tau Al, cerita tentang bos kita" tanya Sisil
Alya menggeleng pelan " ngga, emang bos kita kenapa?"
Sisil mulai mendekatkan wajahnya kearah Alya “Jadi gini, Renata itu… mantan tunangan Pak Reihan.”
Alya langsung menatap Sisil dengan ekspresi kaget, meski berusaha terlihat tenang. “Serius?”
“Iya, serius banget. Gue denger cerita ini dari Mbak Tari bagian HR. Katanya dulu mereka udah tunangan resmi, udah kayak pasangan sempurna gitu. Semua orang di kantor heboh waktu itu,” ujar Sisil dengan suara pelan, seperti takut ketahuan staf lain.
Alya terdiam. Jantungnya berdetak pelan tapi berat.
“Tapi… tiba-tiba aja kabar tunangan mereka batal. Nah, setelah beberapa lama, barulah gosipnya nyebar.” Sisil menatap kanan-kiri memastikan nggak ada yang mendengarkan, lalu menunduk sedikit. “Katanya Renata ketahuan tidur sama cowok lain waktu masih tunangan. Dan yang nemuin langsung itu Pak Reihan sendiri.”
Alya membelalakkan mata. “Hah? Gila…”
“Iya. Katanya Pak Reihan sampai murka banget waktu itu. Makanya dia putusin hubungan mereka seketika. Renata sempet keluar negeri setelah kejadian itu, dan baru balik-balik sekarang. Terus nongol di kantor—ya jelas semua orang langsung heboh.”
Alya menatap meja. Tangannya menggenggam sendok dengan erat, seolah itu bisa menahan rasa nggak nyaman yang tiba-tiba muncul. Mendengar fakta itu, ada sesuatu yang berat menekan dadanya. Entah kenapa, bayangan Renata yang datang ke ruangan Reihan tadi siang kini terasa jauh lebih mengusik.
“Makanya, semua orang penasaran banget. Tapi menurut ku ngga mungkin lagi pak Reihan mau Sama si Renata itu sih"
Sisil masih ngoceh tentang rumor kantor, tapi Alya sudah nggak terlalu dengar. Suaranya terdengar sayup-sayup. Yang ada hanya rasa sesak yang tiba-tiba memenuhi dadanya. Seolah fakta tentang masa lalu Reihan dan Renata adalah beban berat yang nggak tahu harus dia letakkan di mana.
Ia tersenyum kecil, tapi senyum itu pahit. Dalam hatinya muncul satu pertanyaan yang diam-diam menusuk:
“Kalau Renata datang kembali… apakah Reihan akan berpaling padanya?”
..........
Setelah makan siang, Alya dan Sisil berjalan santai menyusuri koridor kantor yang mulai ramai lagi. Beberapa pegawai tampak tergesa-gesa kembali ke meja kerja, ada juga yang masih ngobrol sambil membawa kopi. Alya memeluk map laporan di dadanya, mencoba fokus, meski isi kepalanya masih penuh dengan gosip tentang Renata dan Reihan.
“Al, abis ini kita langsung ke ruang meeting lantai dua ya. Pak Bima katanya mau revisi laporan minggu lalu,” kata Sisil sambil mengecek ponsel.
“Iya,” jawab Alya singkat.
Tiba-tiba, suara langkah sepatu hak tinggi terdengar mantap dari ujung koridor. Beberapa staf spontan menoleh, tapi bukan dengan ekspresi kagum—melainkan dengan tatapan sinis dan bisik-bisik yang jelas terdengar.
“Eh… itu Renata ya? Berani banget dia nongol lagi ke kantor,” bisik seorang karyawan perempuan.
“Iya, dasar muka tebel. Udah jelas dulu gara-gara dia bos hampir batal nikah,” timpal yang lain.
“Gue kira dia nggak bakal muncul lagi,” sahut seorang staf pria, nada suaranya setengah mencibir.
Alya otomatis menatap ke depan. Reihan berjalan dengan langkah tegap, mengenakan setelan jas abu gelap, dan tepat di belakangnya Renata muncul dengan dress putih elegan dan hak tinggi.
“Eh, itu Renata beneran… gila, dia masih punya muka muncul di sini,” gumam Sisil pelan, kali ini bukan dengan nada kagum, tapi geli. “Padahal semua orang kantor juga tau kan dulu kenapa mereka putus.”
Alya menunduk cepat, pura-pura sibuk merapikan map di tangannya. Tapi sialnya, saat ia melangkah maju, posisi mereka tepat berpapasan.
“Permisi,” ucap Reihan datar, matanya sekilas menatap Alya. Hanya sepersekian detik, tapi cukup membuat Alya gugup.
Renata ikut melirik Alya, menatap dari ujung kepala sampai kaki seolah menilai. Ia tersenyum kecil—senyum meremehkan—yang bikin Alya makin tidak nyaman.
“Permisi, Pak,” jawab Alya pelan, lalu segera menepi.
Begitu Reihan dan Renata lewat, beberapa staf di sekitar langsung saling berbisik.
“Duh, semoga bos nggak balik lagi ke cewek itu…”
“Setuju. Kantor jadi drama lagi kalo dia balik.”
“Bos tuh pantesnya sama yang lebih tulus, bukan sama orang kayak Renata.”
Sisil melirik Alya sambil berkomentar pelan, “Liat tuh, semua orang aja nggak suka sama dia. Gue heran kenapa dia tiba-tiba nongol lagi sekarang.”
Alya hanya tersenyum kaku, meski di dalam hatinya ada rasa sesak yang nggak bisa ia jelaskan. Sejak kejadian malam itu, hubungannya dengan Reihan masih dingin dan canggung. Dan sekarang, munculnya Renata membuat hatinya makin nggak tenang.
Kecuali dilingkungan kampus berlaku propesional demi menjaga image.