Katanya kisah cinta masa SMA itu paling sulit dilupakan, apakah mitos itu berlaku untuk Raina?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NRH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sayonara cinta pertama...
Lian memelukku dengan tiba-tiba. Tangannya mengelus rambutku. Aku bisa merasakan "perasaan" Lian disana. Mulutku berkata "aku mau putus" tapi hatiku tidak.
Entah kenapa aku membalas pelukan Lian. Menyambut punggungnya yang akhir-akhir ini terasa jauh.
"Aku sayang Lian, tapi aku takut kedepannya aku gak bisa ngertiin Lian lagi. Ini bahkan baru kasus kecil, tapi aku bahkan gak bisa terima dengan akal sehatku. Apalagi kedepan-depannya? Hubungan ini juga gak akan pernah berjalan baik kalau kita backstreet kan yan? Jadi daripada kita saling menyakiti satu sama lain... Mending kita udahan aja! Kamu bebas ngelakuin apa aja, ngga akan ada larangan dari aku. Begitupun aku... Kita sama-sama kembali ke dunia masing-masing" jelasku.
Tanpa sadar saat aku mengungkapkan keresahanku pada Lian, air mata yang sedari tadi masih kutahan sekarang turun dengan derasnya.
Lian cowok yang kuat, tapi kenapa dia lemah kali ini. Bukannya untuk ukuran Lian diputusin dan mutusin adalah hal biasa? Kenapa bagi Lian rasanya berat?
Lian masih memelukku dan seperti menahan isak tangis.
"Lian, aku mau mikir-mikir dulu... Aku bahkan belum terbiasa dengan banyaknya gosip tentang kamu, kamu sama Linealah kamu sama Mauli lah... Aku masih belum bisa terima" jelasku sambil terisak.
"Jangan nangis Rain... Kalau Lian cuma bisa bikin kamu nangis kaya gini, yaudah kita putus aja!" katanya sambil melepaskan pelukannya.
"Ayo Lian anter kamu pulang! Kamu kan lagi sakit harusnya kamu diem dirumah, Lian yang goblok malah ngajak kamu keluar" tambahnya lagi.
Saat Lian melihat wajahku berantakan dengan tangisan, saat itu aku sadar bahwa Lian bahkan tidak pernah bisa melihat aku menangis....
Belum sempat aku bilang "Tunggu aku yan, sampe hati aku mantep sama kamu..kasih aku waktu" tapi Lian malah melepaskan pelukannya dariku. Dia setuju untuk putus denganku hari itu juga.
"Yaudah rain, kita ambil jalan masing-masing aja" katanya dengan suara serak.
Akupun dihadapkan pada situasi yang sulit, satu sisi aku mau Lian belajar memilih dan merasakan kehilangan terlebih dahulu. Tapi disisi lain, aku juga takut bahwa aku yang tidak kuat kalau harus kehilangan Lian.
Lian kembali bertingkah seperti biasanya, memasangkan helm padaku dan memintaku naik ke motornya.
Sepanjang perjalanan aku hanya diam. Lian memecah kesunyian dengan bilang ...
"Mulai besok anggap aja Lian nggak ada dikelas, tolong Raina jaga diri baik-baik! Karena kalau ada apa-apa, Lian gak ada hak buat nolong Raina lagi!"....
"Jangan terlalu capek dan lupa sama diri sendiri. Tolong makan teratur dan jangan lupa minum" tambahnya...
Aku merasakan "sakit" yang bertubi-tubi saat Lian bilang begitu padaku. "Apa kita beneran putus hari ini?" batinku.
"Oh ya, maaf ya kalau selama Raina sama aku rasanya aku cuma repotin Raina doang hahaha aku emang pacar yang gak berguna... Eh maksudnya mantan" tambahnya.
Rasanya saat itu aku ingin berteriak, "kenapa kamu bisa manggil nama aku? Kenapa kamu memperlakukan aku kaya orang asing? Kamu beneran gak mau mertahanin hubungan kita?"....
Perkataan itu hanya sebatas lewat di pikiranku, tapi belum sempat kuucapkan kami sudah sampai didepan gang menuju rumahku.
Suasana gang sangat sepi, mungkin karena ada acara menjelang hari sumpah pemuda di kantor kelurahan sehingga semua tetanggaku pergi kesana.
"Aku turun disini aja yan" kataku.
"Eh kenapa?"... tanya Lian.
"Nggak papa, biarin jalan kaki dikit kesana"....
Lian tidak menghiraukan permintaanku kali ini, dia tetap mengantarku sampai depan rumah. Entah ada apa dengan perasaanku saat itu, aku enggan turun dari motor Lian. Sekian detik aku hanya berdiam diatas motor dan Lian juga tidak melakukan apapun... Lian juga diam...
"Yaudah aku masuk ya? Makasih juga buat semuanya" kataku sambil melangkah pergi.
Lian hanya tersenyum dan memutar balikan arah motornya.
Sebenarnya aku berharap saat itu Lian akan memintaku untuk tetap memikirkan keinginanku tentang "putus" darinya.
Tapi, nampaknya harapanku gagal. Mungkin Lian sangat menyukai Mauli... Sehingga bahkan aku sendiripun begitu mudahnya diizinkan untuk pergi..
Dengan hati dan perasaan yang hancur saat itu, aku melepas cinta pertamaku pergi secepat tiupan angin.
(Masalah sepele dalam cinta akan menjadi kesalah pahaman yang besar...
Hilangnya kejujuran sedikit saja dalam hubungan...
Akan menjadi jurang pemisah yang sedemikian dalamnya...
Katakanlah ini kali pertamaku jatuh cinta...
Dan semoga ini kali terakhirku patah hati juga....)
Puisi oleh Raina
Malampun tiba....
Aku menelpon Reksa untuk menceritakan semuanya. Rayka juga beberapa kali menelponku untuk memastikan cerita Yogo padanya bukan mengada-ngada.
"Rain...kamu kan udah ambil keputusan untuk minta putus. Harusnya kamu seneng karena bahkan Lian mewujudkan keinginan kamu meskipun egonya dia masih berharap sama kamu" kata Reksa.
Setelah semua pertanyaan dari mereka kujawab satu persatu. Tidak sengaja laman akun sosial mediaku terbuka.
Halaman pertamanya adalah Lian... Lian memposting sebuah tulisan ...
"Aku senang kalau melepas itu menenangkan. Berbahagialah cinta pertama"....
lanjuutttt
ditunggu feedbacknya 😍
ditunggu kunjungannya di :
CAHAYA YANG HILANG
TERJEBAK DALAM PERNIKAHAN SEMU