Warning!! Adult content, dibawah umur dilarang mampir!
Bijaklah dalam memilih bacaan, novel ini bergenre Adult romance.
Membaca novel ini bisa membuat senyum-senyum, panas dingin dan baper berkepanjangan. Mengandung konten dewasa, pembaca dibawah umur dilarang ngintip, atau nanti akan penasaran.
Sofia Anna harus tercebur kedalam dunia yang tak pernah dibayangkannya. Satu masalah hidup membuat dia menjalani pekerjaan yang tak biasa. Menjadi simpanan pria-pria beristri.
Hingga suatu hari seseorang dari masa lalu menemukannya dan merubah segala yang ada di hidup Sofia.
"Apa kamu adalah kak Niko?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fitTri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamu Milikku
*
*
Kedua orang tua Sofia menatap tak percaya, mereka kehabisan kata-kata ketika Satria tanpa basa-basi mengutarakan niatnya untuk segera menikahi putri mereka.
Mereka bahkan tak pernah mengetahui bahwa putrinya dekat dengan pria manapun. Karena memang Sofia begitu tertutup dengan kehidupan pribadinya selepas perceraian sepihak dengan Firza. Yang perempuan itu lakukan hanya bekerja dan berusaha memenuhi kebutuhan putri semata wayangnya, juga sekuat tenaga membayar hutang yang masih menumpuk di bank tanpa memikirkan kehidupan pribadinya.
Keterkejutan mereka bertambah manakala mengetahui fakta bahwa pria dihadapannya ini merupakan pria beristri. Satria berbicara sejujur mungkin tanpa ada yang dia sembunyikan tentang status nya.
"Kamu yakin?" sang ayah menatap lekat wajah polos putri kesayangannya.
Sofia menoleh sebentar ke arah Satria. Pria itu tampak tak tergoyahkan. Kemudian mengangguk.
"Bagaimana dengan istri kamu nantinya? Anak saya akan kamu jadikan istri simpanan? Nikah siri bukanlah solusi." Ayah mencoba menerangkan.
"Masalah itu, akan saya urus secepat mungkin. Untuk sementara, saya akan menikahi Sofia secara siri. Baru setelah semua urusan dengan istri saya selesai, Saya akan mengurus pernikahan ini agar sah secara hukum negara." jawab Satria, tegas seperti biasa. Kata-katanya pasti tanpa keraguan sedikitpun.
Sang ayah mengusap wajahnya kasar.
"Ayah cuma takut, ..." bibir pria 65 tahun itu bergetar. Banyak hal yang dilalui putri semata wayangnya. Sejak mereka mengadopsinya dari panti asuhan duapuluh tahun yang lalu.
Sofia hidup dalam kesederhanaan. Gadis kecilnya itu bahkan rela bekerja paruh waktu semenjak kelas 1 SMA untuk menambah biaya sekolah yang lumayan besar, karena keuangan keluarga yang morat Marit. kemudian menikah setelah lulus sekolah, namun nasib tak berpihak kepadanya. Dia ditinggalkan suaminya dalam kubangan hutang yang begitu besar untuk ukuran mereka.
Kemudian putrinya itu rela bekerja banting tulang untuk menghidupi putri semata wayangnya dan berusaha membayar hutang ke bank. Yang entah dengan cara apa setiap bulannya Sofia mampu mengadakan uang sebesar 10 juta rupiah untuk membayar cicilannya.
Sofia tak pernah mengeluh sedikitpun. Mungkin perempuan itu pernah menangis karena sudah merasa lelah, tapi tak sekalipun keluhan keluar dari mulutnya.
"Saya hanya tidak bisa meninggalkan dia disini tanpa ikatan. Sementara saya harus bekerja di Jakarta, dan sering keluar kota, sesekali ke Bandung." Satria meraih tangan Sofia dan menautkan jari mereka berdua.
"Tapi untuk saya bawa ke Jakarta pun rasanya tidak mungkin. Saya rasa kalian tidak akan mengijinkannya." sambungnya.
Ibu menggeleng lemah, menatap putri kesayangannya yang kedua pipinya merona.
"Saya hanya ingin bisa menemui dia dengan leluasa, membawa dia kemanapun saya pergi. Dengan status suami istri walaupun secara siri, setidaknya saya akan bertanggung jawab atas semua kehidupan dia kedepannya." Satria meyakinkan.
Ayah menatap dua orang didepannya bergantian. Satria, pria gagah yang usianya terpaut cukup jauh dengan Sofia, tapi dengan tegas ingin menghalalkan putrinya itu dengan alasan yang bisa diterima.
Sementara Sofia, putri angkatnya yang dia besarkan dengan penuh kasih sayang. Dia berhak bahagia dengan pilihannya walau apapun itu. Terlepas dari resiko apapun yang akan mereka hadapi nanti karena status Satria yang masih beristri, ayah yakin mereka, terutama Satria sudah memikirkannya dengan sangat matang.
"Kalau kalian sudah yakin, baiklah. Ayah ijinkan." ujarnya, menatap lekat wajah tegas Satria yang balas menatapnya dengan sumringah.
"Dengan satu syarat, ..." lanjut ayah, seketika membuat tegang suasana.
"A-apa yah?" Sofia memandang wajah serius sang ayah dengan dada berdebar.
"Kalian harus menikah malam ini." katanya, melirik ke arah Satria yang tenang walaupun sedikit terkejut. Dia ingin melihat seperti apa reaksi calon suami putrinya tersebut.
Satria terdiam.
"Mana bisa secepat itu yah?" Sofia menyela,
"Bisa. Kalau hanya nikah siri, kenapa harus menunggu lama? bukankah kamu bersungguh-sungguh, Satria?" tanya ayah yang kembali menoleh ke arah Satria yang masih duduk dengan tenang.
Satria mengangguk, sebuah senyum terbit dari bibirnya. "Saya setuju. Bukankah niat baik harus disegerakan?" pria itu mengubah posisi duduknya, mencondongkan tubuh tegapnya ke arah ayahnya Sofia. Tangannya terulur, mengajak bersalaman, yang kemudian disambut ayah dengan diikuti senyuman pula.
********
Malam itu selepas isya, tanpa diduga sebuah pernikahan pun terjadi antara Sofia dan Satria, walaupun secara siri.
Karena posisi Sofia yang tak mengetahui orangtua kandungnya, maka mereka dinikahkan oleh seorang ustad dari mesjid terdekat, didampingi beberapa orang pengurus lingkungan setempat.
Sementara Satria membawa pak Amir sebagai saksi dari pihak nya.
Tak membutuhkan waktu lama, dalam waktu kurang dari satu jam kini mereka berdua telah resmi sebagai suami istri, secara agama.
Kelegaan tampak jelas di wajah Satria. Kini dia tak lagi merasa takut akan kehilangan Fianya lagi. Pria itu bahkan bisa dengan bebas membawa Sofia yang telah secara sah menjadi istrinya kemanapun dia pergi. Tanpa harus berbohong dan mencari alasan lagi kepada orang tua Sofia.
Dan yang terpenting, sekarang dia bisa memiliki Fia nya sendirian. Hanya dia sendiri. Kini dia telah memiliki hak penuh atas diri Sofia.
Kebahagiaan tentu saja terpancar dari wajah pria tinggi itu dengan status barunya sebagai suami Sofia Anna, si gadis kecil cengeng yang telah memberinya sebotol air mineral duapuluh tahun lalu.
*
*
*
Lara menatap nanar foto-foto yang dia terima pagi tadi. Satria dengan perempuan setinggi pundaknya itu tengah berjalan bergandengan dengan mesra dipantai. Berpelukan, berciuman, macam remaja yang sedang dimabuk cinta.
Perempuan 35 tahun itu menjerit, melemparkan gambar ditangannya hingga berserakan dilantai. Menarik selimut dan melemparkan batal ke sembarang arah. Mengacak meja riasnya yang dipenuhi berbagai macam peralatan kosmetik hingga semuanya berserakan di bawah kakinya.
Lara mengamuk.
Walaupun dirinya telah mengetahui perihal kalakuan suaminya beberapa bulan ini, namun dia tak bisa memungkiri kalau hatinya merasakan sakit yang teramat sangat.
Apakah ini yang Satria rasakan dulu? Tidak!! Ini tidak boleh terjadi! Aku harus berhasil membuatnya tetap bersamaku! apapun caranya! dia tidak boleh berpaling!
Tapi bagaimana?? Oh, mengapa tanda-tandanya belum muncul juga!! cepatlah ...!!! jeritnya dalam hati.
Banyak rencana yang dia pikirkan. Namun tak satupun yang dia yakini keberhasilannya. Suaminya itu merupakan sosok yang tak mudah ditaklukkan. Tak mungkin bisa dikalahkan dengan cara yang keras. Walaupun sejujurnya dia memang orang yang berwatak keras. Hanya satu hal yang mungkin akan membuatnya tetap tinggal disisinya, atau bahkan bisa meninggalkan perempuan di dalam foto tersebut.
Dia takan bertindak bar bar seperti di sinetron-sinetron, atau melabrak perempuan itu seperti di berita viral. Karena hanya akan membuat suaminya berpaling lebih jauh lagi.
Hanya satu cara!! ya, satu cara akan membuat suaminya kembali dan mengalah. Menerima dirinya lagi seperti dulu.
Otaknya berpikir keras, Lara meyakinkan diri caranya kali ini pasti akan berhasil.
Dirinya hanya tinggal menunggu waktu yang tepat.
Tiba-tiba rasa pening yang teramat sangat menyerangnya, Lara limbung dan terjatuh kelantai hingga terdengar bunyi berdebum yang cukup keras. Hal terakhir yang diingatnya sebelum tak sadarkan diri adalah suara teriakan asisten rumah tangga yang panik memanggil namanya.
*
*
*
Bersambung ....
Apakah yang terjadi dengan lara?
Like
koment
vote!!
ya ampun padahal udah 5 tahun lalu tapi masih apal 🤭🤭