Queensa tak menyukai pernikahannya dengan Anjasmara. Meskipun pria itu dipilih sendiri oleh sang ayah.
Dijodohkan dengan pria yang dibencinya dengan sifat dingin, pendiam dan tegas bukanlah keinginannya. Sayang ia tak diberi pilihan.
Menikah dengan Anjasmara adalah permintaan terakhir sang ayah sebelum tutup usia.
Anjasmara yang protektif, perhatian, diam, dan selalu berusaha melindunginya tak membuat hati Queensa terbuka untuk suaminya.
Queensa terus mencari cara agar Anjasmara mau menceraikannya. Hingga suatu hari ia mengetahui satu rahasia tentang masa lalu mereka yang Anjasmara simpan rapat selama ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Yunus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
"Ini Queensa, Mas... "
Kalimat itu keluar dari bibir Queensa di balik masker biru yang menutup wajahnya.
Anjasmara membisu.
Diluar kamar, tawa dan obrolan keluarga masih bersahutan. Mereka tengah berada di kediaman Ridwan, hari ini, pria yang menjadi wali nikah Queensa itu resmi melepas status lajang panjangnya. Ijab sudah dilaksakan satu jam yang lalu, saat ini mempelai sedang dirias untuk melakukan acara selanjutnya, yaitu resepsi.
Anjasmara baru sampai di ruang keluarga saat tangan lelaki itu di tarik tiba-tiba oleh seseorang.
Suara tawa dan obrolan dari luar terdengar samar-samar.
Namun di dalam kamar ini hanya ada keheningan.
Queensa duduk di tepi ranjang, kamar ini adalah kamar Queensa ketika tinggal di rumah Ridwan. Anjasmara menatap Queensa dengan helaan napas panjang.
"Apa kamu baik-baik saja?"
Queensa menunduk dalam-dalam. Jemari kecilnya saling meremas satu sama lain. Anjasmara tidak bisa melihat wajahnya karena tertutup masker, tapi ia bisa melihat mata perempuan itu berkaca-kaca.
"Mas Anjas... " katanya lirih. "Apa aku salah mencintai pria yang tak lagi menjadi suamiku?"
Tenggorokan pria itu tercekat. Bagaimana mungkin ia mendengar kalimat itu dari perempuan yang selalu di do'akan diam-diam disetiap malam?
Anjasmara menarik napas berat, mencoba meredam gejolak didadanya. "Cinta itu anugrah, dan cinta itu tidak pernah salah."
Queensa mengangkat wajah. "Lalu kenapa mereka menyalahkan ku karena aku berusaha mengejar cintaku yang sedikit terlambat?"
Anjasmara diam.
"Mas Anjas... " panggilnya lagi.
Keduanya saling tatap.
"Tidak bisakah kita merajut kembali tali yang sudah putus ini? Dulu pernikahan kita tidak dilandasi cinta, tidak bisakah kini kita bangun ulang dengan landasan cinta yang kumiliki? Ataukah perasaan mu padaku sudah terkikis seiring waktu? Apakah benar kesempatan itu benar-benar tidak ada?"
Anjasmara membeku, tak sanggup menjawab. Queensa tidak tahu berapa lama ia mengaguminya. Betapa banyak malam ia berdoa agar Allah menjodohkannya dengan Queensa. Walau hatinya pernah sangat kecewa, tapi itu sedikit terobati oleh penjelasan Queensa beberapa minggu lalu.
Queensa membuka maskernya. Wajah itu tampak sembab, hidungnya merah. Queensa menunduk, menatap lantai. "Aku sadar, pernikahan itu bukan sesuatu yang bisa dipermainkan... "
Perempuan itu terdiam cukup lama. Lalu, dengan suara lebih pelan, ia berkata, "Aku yang terlambat menyadari jika aku sudah jatuh cinta padamu."
Anjasmara mendekat, meraih dagu Queensa untuk diangkat. "Kamu sadar dengan apa yang kamu ucapkan?"
"Aku sadar, " jawabnya cepat, hampir seperti bisikan. "Aku nggak mau egois, tapi aku... tersiksa," Queensa menatap pria itu tanpa suara. Dadanya ada sesuatu yang berat, sesuatu yang menyesakkan. Keheningan meliputi mereka. suara-suara samar itu seolah hilang ditelan kesunyian.
"Mas... "
Queensa kembali bersuara, lembut tapi tegas.
"Aku tidak ingin memaksamu menerimaku dengan mudah. Aku sadar, kesalahanku dulu begitu banyak. Jadi aku tidak ingin kamu menerimaku karena terpaksa, apalagi karena kasihan."
Anjasmara diam cukup lama, menatap Queensa dalam-dalam.
Di balik senyum kecil itu, Anjasmara tahu ada luka. Ada hal berat. Tapi ia tidak tahu sebesar apa luka itu sampai membuat perempuan itu sembunyi dalam senyuman.
Akhirnya Anjasmara mengangguk pelan. "Baik, saya akan bicarakan sama Paman,"
*******
Queensa menatap pantulan dirinya yang berbalut gaun merah marun sepanjang lutut di dalam cermin. Wajah cantik itu berpoles riasan sederhana, tetapi tetap menonjolkan kecantikan yang mempesona.
"Paman," lirihnya. Queensa turun dari tangga lalu perempuan itu menghampiri Ridwan yang sudah mengenakan pakaian pengantinnya, perempuan itu turut bahagia melihat Ridwan telah menemukan belahan jiwanya.
"Kemana Anjasmara?" Ridwan bertanya karena tadi sempat melihat pria itu sekilas.
"Oh, dia dikamar tamu, tadi langsung kesini dari BP, jadi belum sempat ganti baju."
Queensa berbalik. Matanya menangkap sosok wanita berwajah keibuan yang menatapnya dengan binar kebahagiaan yang sesungguhnya. Dia bisa melihat wajah itu tersenyum, berseri-seri.
Demi kesuksesan acara mereka... Queensa mengesampingkan urusan pribadinya..
Lubuk hati terdalamnya terus menggemakan kata-kata itu, menyemangati dan meyakinkan dirinya. Lalu tanpa dia sadari, kakinya melangkah perlahan menuju pria yang kini menatapnya tanpa berkedip. Anjasmara.
Queensa berjalan kurang dari sepuluh langkah dari pria itu ketika Anjasmara gegas melepas jasnya dan di lilitkan di pinggang rampingnya.
"Saya nggak iklas pria-pria lain bebas melihat keindahan kamu!" nada itu dingin, tapi hangat sampai di telinga Queensa.
Queensa tersenyum dalam diam, jantungnya tengah berdegup kencang karena sikap yang Anjasmara tunjukkan.
"Aku masih memiliki cintamu, Mas."
akhirnya penantian Anjasmara berbuah manis💓