“Hidup memang harus berani, berani pergi dari sesuatu yang tak pantas untuk di tinggali”
Ana wanita paruh baya yang terpaksa menjadi tenaga kerja wanita(TKW) demi masa depan Anak-anaknya dan juga perjuangannya terlepas dari suami patriarki.
Ana yang selalu gagal dalam rumah tangga merasa dirinya tak layak dicintai sampai dia bertemu dengan laki-laki bernama Huang Lhi—majikan tempatnya bekerja.
Namun, kisah cinta Ana dan Huang Lhi tak semulus drama perbedaan kasta menjadi penghalang utama. Bisakah Ana mendapatkan cinta sejati? Kemana Akhir akan membawa kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zhang Lucyana
Seminggu sebelumnya.
“Papi tolonglah, kenalkan aku dengan laki-laki yang ada di pabrik tadi.” Gadis manis itu terus mengikuti langkah sang Papi sambil menangkupkan tangan di depan dada.
Namanya Lucyana, Zhang Lucyana, putri tunggal dari keluarga Zhang, salah satu orang terpandang, investor utama di pabrik milik keluarga Huang. Usianya baru 25 tahun. Lucyana adalah gadis cerdas, cantik, ceria, siapapun laki-laki yang memandangnya pasti akan jatuh cinta, namun selama ini belum ada pria yang mampu meluluhkannya sampai ia bertemu Huang Lhi.
Pertemuan pertamanya dengan Huang Lhi di pabrik siang tadi, langsung membuatnya jatuh hati. Lak-laki berwajah dingin, dengan pundak lebar dan perut sedikit buncit, namun memiliki kharisma pada senyumannya, membuat Lucyana tak berhenti mencuri pandang.
Sebagai anak tunggal, tentu keinginan Lucyana selalu dituruti oleh kedua orang tuanya, begitupun saat gadis itu menyatakan ketertarikannya pada Huang Lhi, Tuan Zhang langsung menyampaikannya pada Ny. Huang dan di sambut dengan senang hati dan rasa syukur tentunya, sebab Ny. Huang sendiri telah lama menanti gadis yang cocok untuk putra nya.
Tuan Zhang menatap teduh wajah putri kecilnya, mengusap lembut rambut yang di cat warna merah burgundy. “Kau benar-benar menginginkannya?”
Lucyana mengangguk sambil mengedipkan mata. “Dia tipeku sekali, tak banyak bicara, tak banyak lirik sana-sini, pasti dia laki-laki setia, paling utama … senyumnya, aku suka sekali melihat senyumnya.” Lucyana menggigit bibir bawahnya. “Papi tolong aturkan pertemuan dengannya, aku ingin sekali mengenalnya,” lanjutnya sambil memeluk tubuh tegap sang Papi.
“Tapi, usia nya jauh di atasmu, kau tak mau mengenal si bungsu?” Tuan Zhang coba memberi peringatan. “Keluarga Huang memiliki satu putra lagi, sepertinya usia nya tak jauh beda denganmu, dia juga sedang berkuliah di Amerika.”
Lucyana menggeleng cepat hingga hidungnya menggesek wajah Papinya. “Aku sudah terlanjur jatuh hati pada Huang Lhi, dia tipe idealku.”
Melihat wajah sang putri yang memelas, membuat Tuan Zhang tergelas kecil, lalu mengeratkan pelukan. “Bersiaplah, aku mengundang mereka makan malam.”
Wajah Lucyana berbinar seketika, mulutnya hendak berucap, namun tertahan oleh ucapan Tuan Zhang.
“Tapi ingat. Ini baru pertemuan pertama, kita tetap harus mendengar pendapat Huang Lhi,” tatapannya penuh kasih pada sang putri. “Apakah dia mau menerima putri papi yang manja ini?”
Lucyana mendengus, bibir mengerucut, namun terselip senyum puas di dalamnya. “Memangnya ada yang bisa menolak gadis secantik aku?” Ujung matanya melirik Tuan Zhang, lalu tergelak bersama.
.
.
.
Sudah seminggu sejak makan malam di restoran, malam ini keluarga Zhang akan memenuhi undangan makan malam malam dari Ny. Huang.
Sedari siang Lucyana sudah sibuk di kamar, memilih puluhan gaun yang akan dikenakannya.
“Huh,” dengus gadis itu, menatap malas tumpukan gaun di atas kasur. “Kenapa semua terlihat biasa saja, apa aku harus beli yang baru?” Bibirnya bergumam, lalu mengerucut.
Dari pintu kamar Ny. Zhang masuk dengan tatapan heran, mulut setengah terbuka. “Kau mau jualan rombengan, Nak?”
Lucyana menghempaskan bokongnya ke kasur, tangannya bersedekap di dada. “Tak satupun yang terlihat bagus di badanku, Mam.”
Ny. Zhang tersenyum hangat, satu tangannya mengusap pucuk kepala sang putri. “Semua gaunmu ini, gaun terbaik yang ada di butik kota, bagaimana bisa tak bagus di badan.” Ia menghela napas pelan. “Kau hanya takut tak terlihat cantik dihadapan Huang Lhi, padahal kau begitu mempesona mengenakan apa saja.”
“Tapi semua sudah terlalu lama, Mam, aku sudah beberapa kali mengenakannya,” keluh Lucyana, bibir mengerucut seperti anak kecil yang dibelikan permen gula.
Ny. Zhang mengambil satu gaun, kemudian melebarkannya. “Ini bahkan masih ada label harganya. Kau bilang …,” sudut bibirnya melengkung, tangannya kembali meraih puncak sang putri. “Kenakan pakaian sederhana, kau sudah cantik apa adanya,” lanjutnya, menenangkan sang putri.
Ia kemudian beranjak dari tempatnya, berjalan keluar kamar. “Cepat bersiap, pukul kita akan berangkat.”
Lucyana mengangguk pelan, lalu kembali memilah-milah gaun yang sudah seperti baju rombengan.
Berbeda dengan Lucyana, ketegangan sedang terjadi di kediaman keluarga Huang. Sudah sejak sejam lalu perdebatan antara Huang Lhi dan Ny. Huang berlangsung tanpa titik temu.
“Kenapa harus aku, Ma?” tanya Huang Lhi, mengulang pertanyaan yang entah sudah berapa kali ia layangkan.
“Dia terpikatnya oleh mu,” sahut Ny. Hung, juga berulang.
Wanita dengan rambut berombak dan alis lancip itu beranjak dari kursi kerjanya, berdiri tegak di samping jendela. “Lagi pula,apa kurangnya Lucyana? Dia cantik, berpendidikan tinggi, dari keluarga terpandang. Apalagi yang kurang?!”
Huang Lhi menegakkan punggungnya. “Aku belum ingin menikah, Ma.”
“Kau mau menunggu apa? Usiamu hampir empat puluh tahun, Lhi, bukankah bagus ada gadis muda yang mau denganmu.” Ny. Huang menatap tajam Huang Lhi. “Keluarga kita berhutang budi dengan Tuan Zhang, kalau tak ada dia, mungkin sudah lama pabrik kita gulung tikar, apa kau lupa itu?”
“Tapi kenapa harus melalui perjodohan, bukankah kita bisa membalas itu lewat keuntungan bisnis juga. Aku bisa melakukannya, Ma. Tak harus dengan perjodohan seperti ini!” sahut Huang Lhi.
“Ini adalah kesepakatan mendiang Papamu dan Tuan Zhang, mereka sudah bersahabat lama, pernah berjanji akan menyatukan keluarga. Apa kau juga tak mau mewujudkan keinginan terakhir mendiang Papamu?!”
Huang Lhi menyurai rambut kasar, punggungnya bersandar di kursi, mata terpejam. Bayangan wajah Ana menari di pelupuk mata. Senyum saat menyuguhkan kopi, tatapan sendu saat membalas pesan, sapaan pagi saat mereka berpapasan, seolah enggan pergi dari pikiran.
Ia menghela napas panjang sebelum beranjak dari ruang kerja.
Sementara itu di luar ruangan, Citra mendengarkan sambil membuka mulut—tak percaya, ia buru-buru berlari begitu pintu terbuka.
“Gawat Tuan Lhi mau di jodohkan.”
Bersambung.
awas 👊🏻
semangat thor untuk selalu berkarya. sehat selalu
klu yg kecil pasti anak'a roy kan?