Jaka Sakti, seorang anak yang terlahir dari desa kecil, namun ia dilahirkan dengan takdir yang kuat.
Ia dipilih oleh Dewa Suci untuk meneruskan warisannya. Jaka berkelana ke seluruh dunia untuk menemukan 10 Siluman Dewa Suci yang akan menjadi gurunya dan memberikannya kekuatan yang tiada tara.
Aku, Jaka Sakti, Seseorang yang akan berada di puncak, bukan hanya tanah kelahiranku, melainkan mendominasi seluruh dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kemal costa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 31 - Jaka VS Zhurong.
"Aku akan memberikanmu waktu istirahat sebelum memulai pertarungan kita," ucap Zhurong.
Mendengar perkataan Zhurong, membuat Jaka tertaea kecil. "Aku tidak memerlukannya, karena aku ingin segera mengalahkanmu, aku sudah lama menunggu waktu ini tiba."
Zhurong menyengir mendengar perkataan Jaka yang penuh percaya diri. "Oh, ho ... Kau terlalu percaya diri."
"Apakah kau akan terus menyengir seperti itu tanpa melakukan apapun?" ucap Jaka menggoda Zhurong.
"Baiklah...! Aku tidak akan segan-segan denganmu, karena kau yang memintanya!" seru Zhurong.
Zhurong mengaum dengan keras, lalu mengalirkan energi alam pada kedua kaki bagian depannya dan seketika kedua kaki bagian depan Zhurong mengeluarkan api berwarna biru yang menyelimuti kaki-kakinya.
Zhurong mengambil ancang-ancang, kemudian mulai berlari menyerang Jaka. Zhurong lalu mencakar ke udara dengan kedua kaki depannya secara bergantian, membuat gelombang serangan berwarna biru yang mengarah ke Jaka dengan sangat cepat.
Jaka berhasil menghindari serangan yang dilancarkan oleh Zhurong, sehingga gelombang-gelombang cakaran itu membentur dinding goa dan mengukir enam garis cakaran pada dinding tersebut.
"Hey ... Pak tua, apakah kau pikir aku bodoh? Aku tidak akan menangkis serangan itu, karena aku tahu serangan tersebut sangat mematikan, kau terlalu naif pak tua!" Jaka tertawa menggoda Zhurong.
Mendengar perkataan Jaka, Zhurong menjadi geram. Ia kembali mencakar ke udara dan membuat gelombang serangan, kali ini ia mencakar lebih banyak dan mengarahkan serangannya kepada Jaka.
Zhurong terus menerus mencakar-cakar ke udara, menyerang Jaka dengan gelombang cakarannya. Jaka sedikit kewalahan menghindari serangan-serangan yang datang dengan sangat cepat dan terarah, ia sampai harus menggunakan teknik meringankan badannya untuk menghindari setiap gelombang serangan tersebut.
Jaka sampai menunduk, berlari, melompat dan berguling demi menghindari setiap serangan tersebut. Walaupun sedikit sulit, tetapi ia berhasil menghindari semua serangan yang dilancarkan Zhurong.
"Serangan jarak jauh yang lemah seperti itu tidak akan mempengaruhi ku, apakah kau akan terus bermain-main seperti ini?" ucap Jaka yang sengaja memancing amarah Zhurong, karena ia sudah semakin kewalahan menghindari serangan jarak jauh dari Zhurong.
"Kau semakin lama semakin menyebalkan, baiklah, kau yang memintanya!" seru Zhurong.
Zhurong kembali mengaum, lalu kobaran api yang menyelimuti kedua kaki depan Zhurong bertambah besar, terlihat Zhurong mengalirkan lebih banyak energi alam pada kakinya dan kini kedua bola mata Zhurong juga memancarkan kobaran api biru.
Jaka yang melihat hal itu pun menjadi sedikit tertekan, ia kemudian mengalirkan tenaga dalam yang besar pada pedangnya, membuat pedang tersebut mengeluarkan aura berwarna kuning cerah.
Zhurong berlari dengan cepat ke arah Jaka, lalu melompat sambil mengangkat satu kaki kanan bagian depannya dan bersiap menerkam Jaka. Jaka dengan sigapnya menangkis serangan Zhurong tersebut.
Mereka pun bertukar puluhan hingga ratusan pola serangan. Setiap benturan antara pedang dengan cakaran menghasilkan ledakan gelombang yang mampu menggetarkan dinding-dinding goa itu.
Pertarungan keduanya terbilang berimbang, karena dari pertukaran ratusan pola serangan, tidak ada satu pun dari mereka yang berhasil mendaratkan serangan satu sama lain, keduanya sama-sama menyerang, menangkis dan menghindari setiap serangan yang dilancarkan.
Jaka mampu mengimbangi kekuatan dan kecepatan serangan dari Zhurong berkat lima ratus lapis tenaga dalam yang berhasil ia kumpulkan dan juga berkat tulang serta otot-ototnya yang semakin kuat setelah mengkonsumsi daging siluman.
Melihat Jaka yang mampu mengimbangi kekuatan dan pola serangannya, Zhurong kemudian mencoba cara lain. Ia menyerang Jaka kembali, kali ini Zhurong mengubah sebagian energi alam yang ia miliki menjadi aura petarung.
Aura petarung merupakan aura yang dimiliki petarung tingkat tinggi, yang berguna untuk mengintimidasi lawan, menahan laju pergerakannya dan memberi beban batin terhadap lawannya.
Konsep aura petarung sama dengan nafsu membunuh, yang digunakan untuk mengintimidasi lawan dan memberikan ancaman. Bedanya, aura petarung merupakan aura yang didapat dari energi alam, sedangkan nafsu membunuh didapatkan dari membunuh manusia maupun siluman.
Zhurong berlari menyerang Jaka dengan kecepatan yang tinggi, lalu mengeluarkan aura petarungnya yang berwarna biru cerah. Aura itu menyebar di sekitar area tubuhnya dengan jarak lima meter, kemudian melayangkan cakar kanannya ke arah Jaka.
Saat Jaka ingin menghindari serangan tersebut, ia merasakan hal aneh pada tubuhnya, gerakannya menjadi lambat dan ada sesuatu yang membebani pikiran serta hatinya.
Alhasil serangan kaki kanan bagian depan Zhurong berhasil mengenai lengan kanan Jaka. Tak sampai di situ, Zhurong kemudian kembali menyerang Jaka dengan cakarnya yang sudah ia aliri lebih banyak energi alam dan kali ini serangan Zhurong tepat mengenai dada Jaka. Serangan telak itu membuat Jaka terpental beberapa meter ke belakang, lalu menghantam tanah dengan kerasnya.
Jaka mencoba untuk bangun sambil memegangi dadanya yang terdapat tiga garis luka yang cukup dalam.
"Kau! Ilmu ghaib apa yang kau gunakan?!" tanya Jaka dengan masih memegangi dadanya.
Bukannya menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Jaka, Zhurong justru tertawa dan meledek Jaka. "Kenapa? Apa kau sekarang ingin menangis? "
"Dalam mimpimu!" seru Jaka yang kini berdiri lebih tegak, lalu mengaliri tenaga dalam yang cukup banyak pada pedangnya sambil menatap Zhurong dengan tajam.
"Hey ... Apa kau ingin membunuhku dengan tatapan mu itu?" Zhurong bertanya dengan nada menggoda.
"Bersiaplah!"
Jaka membuat kuda-kudanya lalu mulai menyerang.
"Teknik Pedang Bumi! Tebasan Naga Langit!"
Jaka menebaskan pedangnya ke udara, menebas ke tiga arah, kiri, kanan dan tengah. Tebasan yang dilancarkan oleh Jaka menghasilkan tiga gelombang pedang berwarna kuning cerah, ia menebas ke tiga arah untuk mengunci pergerakan Zhurong. Gelombang tersebut bergerak dengan kecepatan yang sangat tinggi.
Tiga gelombang yang awalnya kecil tersebut, lama kelamaan menjadi besar. Zhurong melihat gelombang yang dihasilkan teknik tersebut sangat berbeda dari sebelumnya, membuat ia menjadi sedikit terkejut.
Zhurong segera berlari ke belakang memunggungi gelombang tersebut. Zhurong tahu ia tak punya pilihan lain, jika ia menangkis atau menghindar ke arah samping, otomatis dia tetap akan terkena serangan tersebut.
Zhurong terus berlari dengan cepat ke arah belakang menuju dinding goa, ia lalu melompat ke arah dinding tersebut dan menjadikan dinding itu sebagai tumpuan ke empat kakinya, lalu kembali melompat dengan tinggi ke arah depan.
Setelah melompat ke depan, Zhurong berputar di udara mengarah pada gelombang serangan Jaka, ia kemudian melewati gelombang tersebut, tepat berada di atas gelombang itu. Jarak antara tubuh Zhurong dan gelombang itu hanya beberapa inchi saja.
Setelah melewati Zhurong, gelombang itu menghantam dinding goa dengan kerasnya, membuat tiga lubang yang besar pada dinding goa dan menyebabkan goa tersebut bergetar hebat membuat bebatuan kecil terjatuh dari langit-langit goa.
Zhurong kemudian mendarat dengan ke empat kakinya, lalu menatap Jaka. Ia melihat Jaka tersenyum lebar. Zhurong menjadi heran, entah apa yang membuat anak itu tersenyum.
Sesaat setelah itu, barulah Zhurong menyadari mengapa Jaka tersenyum lebar, ia merasakan sakit pada pipi kanannya serta darah segar tampak mengalir pada pipinya, meskipun luka sayatan yang ia terima tidak dalam, tetapi bagi Jaka itu sudah pencapaian yang baik, karena dapat melukai kulit Zhurong yang sangat tebal dan keras itu.
zhia kan umi kepala suku bintang