Novel kali ini mengisahkan tentang seorang pangeran yang dibuang oleh ibunya atas suruhan ayahnya, karena menganggap anaknya yang lahir itu adalah sebuah kutukan dari langit.
Namun siapa sangka pangeran yang dibuang itu ternyata diselamatkan oleh orang-orang baik. Dari orang-orang baik itu dia mempelajari tentang banyak hal.
Sehingga dengan itu dia menjadi seorang pendekar tanpa tanding bermula dari mempelajari sebuah kitab legenda.
Berbagai ragam lika-liku kehidupan dia lalui selama dalam pengembaraannya, baik suka maupun duka, termasuk tentang lika-liku asmaranya dengan beberapa orang gadis.
Jika penasaran tentang kisahnya, yuk ikuti perjalanan Kisah Pangeran Yang Terbuang!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ikri Sa'ati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KPYT 033. Qiangwei, si Gadis Korengan
Tanpa terasa sudah dua bulan telah berlalu. Sudah cukup banyak mengurai kisah kebersamaan Zhao Jinlong dengan Wang Hui Lan yang sudah dianggap adik.
Saat ini pengembaraan telah membawa mereka ke Kota Huang-zhu, dan mereka sudah satu bulan lebih tinggal di kota yang cukup ramai itu.
Kebetulan ada sebuah rumah kecil dan sederhana di pinggir kota yang mau disewakan. Maka tinggallah Zhao Jinlong bersama Hui Lan di rumah itu.
Selama bersama Zhao Jinlong, banyak hal yang sudah Hui Lan pelajari dari bocah sakti yang sudah dianggap kakak itu. Terutama adalah ilmu bela diri.
Hui Lan hampir tidak pernah melewatkan satu waktu pun selain mengasah ilmu bela diri yang diajarkan Zhao Jinlong kepadanya. Dan itu sudah berjalan semenjak mereka meninggalkan Kota Shan-hu Jia.
Terlepas, apakah tekadnya ingin masuk lagi ke akademi militer putri di ibu kota atau tidak, tapi semenjak menyaksikan kehebatan Zhao Jinlong, semangatnya dalam mempelajari ilmu bela diri mulai tumbuh lagi.
Sementara Zhao Jinlong merasa kalau Hui Lan memang memiliki bakat menjadi pendekar hebat. Terbukti bahwa pelajaran ilmu bela diri yang sudah diajarkan kepadanya, Hui Lan cepat sekali menangkapnya.
Hari-hari yang Zhao Jinlong dan Wang Hui Lan lewati selama berada di Kota Huang-zhu, selain Hui Lan terus mengasah pelajaran ilmu bela dirinya, Zhao Jinlong mencoba peruntungannya di kota besar ini sebagai tabib, tabib muda.
Tentu tidak mudah bagi Zhao Jinlong meyakinkan orang-orang kalau dia juga seorang tabib, dapat mengobati orang sakit, bahkan yang terkena racun parah pun dia bisa.
Namun karena dia masih kecil, umurnya masih sangat muda, mesti banyak orang masih meragukan kalau dia bisa menyembuhkan penyakit. Apalagi menyembuhkan racun segala. Apalagi di kota besar itu banyak tabib yang sudah terkenal.
Sedangkan Hui Lan juga tidak bisa berbuat banyak untuk membantu Zhao Jinlong, tidak bisa menyakinkan orang-orang kalau kakaknya bisa menyembuhkan penyakit.
Tapi Zhao Jinlong tak berputus asa, terus berkeliling kota mencari orang sakit agar disembuhkan olehnya. Hui Lan juga terus menyemangati dan membantu perjuangan Zhao Jinlong.
Hingga suatu ketika kehebatan Zhao Jinlong dalam ilmu pengobatan mulai mencuat di Kota Huang-zhu ketika dia mengobati suatu penyakit yang tidak ada seorang pun dari tabib hebat di kota itu yang dapat menyembuhkannya.
Penyakit aneh itu --menurut asumsi para penduduk--, memang sudah beberapa kali terjadi di kota itu. Akan tetapi tidak ada seorang tabib pun di kota itu yang dapat menyembuhkannya.
Sedangkan penderita penyakit tersebut, karena tidak bisa diobati, seakan dibiarkan mati begitu saja.
Penyakit apakah yang para penduduk Kota Huang-zhu menganggapnya aneh?
Penyakit itu bernama Kejang Kaku atau Kaku Kuda (istilah lain dari penyakit tetanus).
Penamaan itu memang masih begitu asing di kalangan para tabib maupun para penduduk kota. Jadi tidak heran kalau para tabib di kota itu tidak bisa menyembuhkannya.
Namun Zhao Jinlong, seorang bocah yang dianggap remeh, bisa dan berhasil menyembuhkan penyakit Kejang Kaku tersebut. Bahkan dengan kesaktiannya Zhao Jinlong dapat mempersingkat penyembuhan penyakit aneh itu.
Maka mulai saat itu kehebatannya dalam ilmu pengobatan mulai diakui, dan namanya sebagai Tabib Muda Zhao mulai dikenal di sebagian wilayah Kota Huang-zhu, terutama di sekitar dia dan Hui Lan tinggal.
Mulailah orang-orang berdatangan kepadanya untuk berobat, mulai dari yang sakit biasa, bahkan orang yang sakit parah juga datang berobat kepadanya. Bahkan yang terkena racun sekalipun, baik yang terkena racun biasa maupun ganas juga berdatangan.
Dan mereka semua itu dapat disembuhkan oleh Zhao Jinlong dengan tanpa kesulitan yang berarti. Sedangkan Hui Lan cukup berperan dalam hal ini. Karena dia sekarang sudah menjadi asisten kakaknya itu.
★☆★☆
Di suatu pagi yang cerah setelah dua bulan berlalu Zhao Jinlong dan Hui Lan tinggal di Kota Huang-zhu.
Pagi itu langit tampak membiru, nyaris tak ada awan yang bergelayut. Sang mentari masih bersinar cerah nan lembut.
Tampak sesosok kecil, tepatnya seorang bocah perempuan tengah berlari kencang, sekencang yang dia bisa. Sesekali kepalanya menengok ke belakang, ke arah empat orang lelaki yang mengejarnya.
Gadis kecil yang wajahnya nyaris dipenuhi luka seperti koreng itu terus saja berlari menuju pinggiran kota seakan tanpa kenal lelah. Entah sadar atau tidak arah larinya menuju sebuah rumah kecil yang sedikit terpisah dari rumah penduduk.
Itulah rumah sewaan Zhao Jinlong dan Hui Lan.
Sementara empat lelaki dewasa terus saja mengejar sambil berteriak-teriak menyuruh gadis kecil nan malang itu berhenti. Bahkan sepertinya gadis itu hendak dibunuh.
Entah kesalahan apa yang diperbuat gadis kecil itu sehingga dikejar-kejar demikian rupa dan hendak dibunuh segala?
Gadis kecil itu, yang bajunya sudah kusam dan dekil serta robek-robek di beberapa bagian, kepalanya berkerudung kain kusam dan lusuh, terus saja berlari dan berlari.
Belum sudah mencapai rumah sewaan Zhao Jinlong, gadis berkoreng itu terus berlari menuju belakang rumah. Sedangkan di belakang rumah yang berhalaman cukup luas ada Zhao Jinlong dan Hui Lan yang tengah berlatih bela diri bersama.
Saat gadis malang itu sudah mencapai belakang rumah, Wang Hui Lan yang kebetulan pertama kali melihat kemunculan gadis itu langsung berhenti berlatih. Lalu diikuti oleh Zhao Jinlong yang juga telah melihat kemunculan gadis itu di halaman belakang rumah ini.
Kemunculan gadis berkoreng yang tiba-tiba itu tentu saja membuat Zhao Jinlong maupun Wang Hui Lan terkejut heran. Namun begitu Hui Lan mengamati secara seksama gadis kecil itu, dia seperti mengenalnya.
"Qiangwei..., kamukah itu?" gumam Hui Lan agak pelan menyebut nama gadis kecil yang sepertinya dia kenal itu.
Belum juga Zhao Jinlong sempat menanggapi gumaman Hui Lan, gadis kecil itu sudah sampai di hadapan Hui Lan dan Zhao Jinlong. Dan langsung berkata meminta tolong kepada keduanya dengan napas yang ngos-ngosan.
"Tolong..., tolong aku...! Aku dikejar orang-orang dan mau dibunuh! Tolong aku...!"
"Iya, kamu tenang dulu!" kata Hui Lan menenangkan, tanpa merasa jijik dengan keadaan gadis kecil itu. "Kamu Qiangwei 'kan?"
"Iya, aku Qiangwei...," sahut gadis kecil yang ternyata bernama Qiangwei bernada heran orang mengenal diri. "Ka-kamu mengenalku?! Kamu siapa?"
"Hui Lan, cepat bawa teman kamu ini masuk!" suruh Zhao Jinlong sebelum Wang Hui Lan menjawab pertanyaan Qiangwei yang sepertinya temannya itu. "Sepertinya orang-orang yang mengejarnya semakin dekat ke sini...."
"O iya. Ayo, Qiangwei!"
Tanpa menunggu persetujuan Qiangwei dan tanpa ragu dan risih, Hui Lan langsung meraih tangan Qiangwei, lalu membawanya masuk ke dalam rumah melalui pintu belakang.
Sedangkan Qiangwei, mau tidak mau, meski masih terkejut heran gadis kecil yang hampir sebaya dengannya itu mengenalnya mengikuti ke mana Hui Lan membawanya.
★☆★☆
Sementara empat lelaki dewasa yang mengejar Qiangwei tadi sudah sampai di depan rumah sewaan Zhao Jinlong.
Namun mereka tidak berhenti sampai di situ, mereka terus saja bergegas mengejar menuju belakang rumah, karena mereka sempat melihat Qiangwei berlari ke arah situ.
Akan tetapi begitu keempat lelaki dewasa itu tiba di belakang rumah, yang mereka lihat hanyalah Zhao Jinlong yang tengah berlatih ilmu bela diri.
Sedangkan Zhao Jinlong, saat menyadari keempat pengejar Qiangwei sudah ada di situ, bocah sakti itu langsung menghentikan latihannya. Terus berdiri diam menghadap ke arah mereka yang kini tengah menghampirinya.
"Hei, bocah! Apa kau melihat bocah perempuan yang korengan lewat sini?" tanya salah seorang dari keempat lelaki itu dengan nada kasar.
Dari gelagatnya, sepertinya keempat lelaki itu belum mengenal Zhao Jinlong. Entah mereka termasuk penduduk kota bagian mana sehingga tidak kenal dengan Zhao Jinlong. Atau jangan-jangan mereka bukan penduduk perkotaan.
"Semenjak saya berdiri di sini, saya belum melihat seorang pun melintas di tempat ini selain kalian," sahut Zhao Jinlong dengan nada dan sikap tenang.
Sejenak keempat lelaki itu saling melempar pandangan. Dari gelagat mereka seperti kurang percaya dengan keterangan Zhao Jinlong barusan.
"Kita geledah rumah bocah itu saja!" saran salah seorang di atara mereka, bukan yang pertama tadi bicara. "Aku tidak percaya bocah tengik ini tidak tahu bocah korengan itu lewat sini."
"Benar, dia pasti menyembunyikannya di dalam rumahnya," kata yang lain.
"Kalau begitu, ayo kita geledah rumah ini!"
Akhirnya keempat lelaki dewasa itu bersepakat hendak menggeledah rumah sewaan Zhao Jinlong, demi mencari buruan mereka, Qiangwei. Sikap mereka sama sekali tidak menghiraukan Zhao Jinlong sebagai pemilik rumah.
Dari sikap keempat lelaki dewasa itu telah jelas kalau mereka amat meremehkan seorang bocah Zhao Jinlong.
Namun baru beberapa langkah kaki mereka bergerak....
"Berhenti!"
Entah kapan bergeraknya, tahu-tahu Zhao Jinlong sudah berada di depan keempat lelaki dewasa itu dengan posisi menghadang. Membuat keempatnya langsung berhenti melangkah seakan mengindahkan peringatan Zhao Jinlong barusan.
Namun tidak lama, setelah mereka saling memberi isyarat mata, keempat lelaki itu kembali melangkah hendak masuk ke dalam rumah. Yang artinya mereka akan menerobos hadangan Zhao Jinlong.
Sikap mereka memang benar-benar meremehkan Zhao Jinlong, sama sekali tidak menganggap bocah sakti itu.
Tapi sayang sekali kalau mereka berbuat kesalahan fatal jika meremehkan Zhao Jinlong, seorang bocah sakti yang sudah memiliki kehebatan yang mengerikan sejak usia kecil.
Dengan cepat dan kuat Zhao Jinlong seketika mendorong kedua telapak tangannya ke depan. Dan tidak butuh waktu lama gelombang angin cukup kencang langsung tercipta, terus menghempas ke depan, ke arah keempat lelaki itu dengan keras.
Karena tidak mengira hal itu akan terjadi, tentu mereka tidak ada persiapan. Di samping itu juga masing-masing mereka tidak punya kehebatan yang bisa diandalkan.
Maka gelombang angin cukup kencang itu langsung menghantam mereka hingga terhempas cukup jauh ke belakang. Lalu jatuh begedebuk ke tanah sambil mengerang-erang kesakitan.
Sementara Zhao Jinlong, selesai membuat empat lelaki tak dikenalnya itu hingga sedemikian rupa, dia lalu melangkah pelan dan ringan. Kejap berikut tubuhnya seketika hilang laksana lenyap.
Tahu-tahu Zhao Jinlong sudah berada di hadapan keempat lelaki yang belum sempat bangkit itu.
Belum juga mereka habis pikir tentang kehebatan bocah itu yang mempecundangi mereka dengan mudah. Kini bocah sakti itu sudah berada di depan mereka. Mana tidak membuat mereka terkejut ngeri bukan main.
Seakan mereka baru tersadar kalau mereka salah telah meremehkan bocah sakti ini.
"Tinggalkan tempat ini sebelum aku membuat kalian lebih parah dari apa yang barusan kalian dapatkan!"
Kalimat itu diucapkan oleh seorang bocah, tapi kenapa kedengarannya begitu mengerikan. Tanpa pikir banyak mereka langsung lari terbirit-birit dari hadapan Zhao Jinlong dengan ketakutan.
"Huh! Dasar orang-orang penakut! Digertak begitu saja sudah ketakutan minta ampun," gumam Zhao Jinlong bagai menggerutu.
Lalu dia berbalik dan hendak masuk ke dalam rumah.
★☆★☆★
Membosankan membacanya.
d tunggu om bro kelanjutannya
d tunggu kelanjutannya om bro