seorang gadis rambutnya dikuncir cepol, memakai kaca mata tebalnya. gadis itu bernama melati atmaja, gadis berusia 25 tahun seorang desainer yang memiliki butik cukup ternama di jakarta. gadis itu adalah putri dari pasangan agung atmaja dan dahlia atmaja..
suatu hari gadis itu terpaksa harus menerima perjodohan yang telah di atur keluarganya untuk menggantikan sang kakak.
jadi bagai mana perasaanmu ketika kamu di jodohkan dengan laki-laki yang sedari dulu menjadi musuhmu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aprilia frahesta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33
"pagi sayang" sapa melati yang baru saja masuk ke kamar sambil membawakan suaminya kopi.
"pagi" ucap varo sambil tersenyum, ia segera membuka lemari pakaiannya dan mengambil baju ganti.
"kamu nggak pergi bekerja yank.?"
"tidak yank, aku ingin di rumah menemanimu. kebetulan semua pekerjaanku sudah kuselesaikan kemarin, lalu kenapa kamu rapi sekali.?"
"aku ingin pergi bekerja"
"tidak, tidak boleh"
"ayolah sayang, aku bosan di rumah terus. sudah hampir 5 bulan aku dirumah terus"
"tapi kamu baru mau sembuh"
"sayang, sudah hampir satu bulan kejadian itu. dan aku sudah tidak kenapa-kenapa, boleh ya.?" ucap melati memohon dengan muka semelas mungkin, agar suaminya itu mengizinkannya bekerja.
"baiklah. dan karna hari ini aku tidak bekerja, maka aku akan menemanimu bekerja"
"tapi nanti kamu bosan kalau menemaniku bekerja"
"tidak usah protes. kamu izinkan aku ikut denganmu atau kamu tidak usah pergi bekerja"
"iya sudah baiklah" melati dengan terpaksa menuruti kemauan suaminya itu, ia malas jika sepagi ini harus adu mulut dengannya.
"istri pintar" ucap varo sembari mengelus pucuk kepala melati.
"iya sudah ayo turun sarapan dulu, mama dan kakek telah menunggu kita"
"pagi ma, pagi kek" sapa varo ketika baru saja sampai di meja makan.
"pagi varo" ucap mama dan kakek bersamaan.
"kamu tidak pergi bekerja sayang.?"
"tidak ma, hari ini varo mau menemani istri varo bekerja"
"akhirnya kamu memperbolehkan melati keluar dari rumah"
"dengan sangat terpaksa kek" ucapnya sembari melahap makanannya.
setelah selesai sarapan varo dan melati langsung berpamitan kepada kakek dan juga mama.
"sayang kamu beneran sudah tidak kenapa-kenapa.?" tanya varo memastikan.
"tidak sayang"
"sayang"
"hmttt"
"yank"
"hmmt"
"sayang ih"
"kamu tuh kenapa sih yank.?" tanya melati dengan kesal.
"lalu sampai kapan aku berpuasa.?"
"lebarankan sudah berlalu, ngapain juga kamu puasa.?" goda melati, padahal dia paham betul apa yang dimaksud suaminya.
"kamu gitu sih yank"
"gitu gimana.?"
"maksudku kapan aku mendapatkan jatahku ?"
"jatah apa.?"
"membuat dedek bayi" jawab varo ketus, dia sangat kesal kepada istrinya yang terus-terusan menggodanya. sedangkan melati hanya bisa terkekeh melihat ekspresi wajah varo yang tampak kesal.
"kamu boleh minta hakmu kapan saja" jawab melati masih dengan terkekeh.
"benarkah yank.?" tanya varo dengan antusias.
"iya sayangku"
"berarti boleh disini dong"
"jangan gila kamu, ini mobil bukan tempat mesum" ucap melati sambil melotot, bukannya takut varo justru gemas dengan tingkah melati.
setelah sekitar 30 menit meraka sampai di butik milik melati. melati segera mengajak varo masuk kedalam ruangannya.
"aku mau bekerja, kamu jangan menggangguku"
"minta jatah enak-enak boleh.?" tanya varo balas menggoda melati.
"varo" teriak melati sembari melotot, sedangkan varo hanya bisa tersenyum puas melihat istrinya kesal.
melati pun melanjutkan niat awalnya dia membuat beberapa desain baju baru, sedangkan varo tampak asik tiduran di sofa sambil nonton tv.
tokk..... tokk.... tokk
"masuk"
"nona melati" sally pun mendekat kearah melati dan mengajaknya cipika, cipiki
"sally, kamu kemari.?"
"iya nona, tadi aku ada urusan dengan nona sarah. dan katanya anda sudah mulai bekerja kembali, jadi ku putuskan kemari"
"apa kamu ada perlu denganku.?"
"tentu nona, aku ingin kau membuatkanku beberapa desain baju untuk bridesmaid"
"oke, akan aku buatkan spesial untukmu"
"ah spesial pakai telur dua dong ya nona" ucap sally dengan genit.
karna tengah asik berbincang-bincang mereka tidak menyadari kalau ada makhluk yang sedari tadi mengawasi mereka.
"ehemmm" varo berdeham agar mereka sadar bahwa ada dirinya disana. sebenarnya varo sangat tidak suka melihat kedekatan istrinya dengan pria melambai itu.
"sayang, apa kamu bosan.?"
"tidak, apa kamu masih lama bekerjanya" varo menghampiri melati dan langsung memeluknya dari belakang.
"masih lumayan, lepasin yank jangan peluk-peluk malu sama sally" ujar melati sembari berusaha melepaskan pelukan varo, namun bukkannya melepaskan pelukannya, varo justru semakin mengeratkan pelukannya.
"apa dia kekasihmu nona melati.?"
"tidak sally, dia adalah suamiku"
"benarkah.? wah suami nona melati sangat tampan, dan aku rasa kalian pasangan yang serasi"
"itu sudah pasti" jawab varo dengan ketus.
"maaf ya sally, suamiku memang sangat dingin dengan orang baru. tetapi sebenarnya dia orang yang baik"
"tidak apa-apa nona melati, aku bisa memakluminya" jawab sally sembari terus mencuri pandang kearah varo.
"oh iya tuan perkenalkan nama saya sally, saya adalah partner kerja nona melati" ucap sally sembari mengulurkan tangannya.
"varo, suaminya melati" dengan terpaksa vari menjabat tangan sally, namun ketika varo hendak menarik tangannya sally menggenggam tangannya dengan erat, bahkan sally juga mengedip-edipkan matanya berusaha menggoda varo, hingga membuat varo geli sendiri dengan tingkah sally.
"oh ya kalau begitu saya permisi dulu ya nona melati, tuan varo" pamit sally yang dengan refleks ingin cipika cipiki dengan melati, namun dengan cepat varo menarik melati kedalam pelukannya.
"jangan pernah kau ulangi cipika cipiki dengan istriku. bagaimana pun kamu, semelambai apapun kamu, tetap saja kamu seorang pria" sarkas varo.
"baiklah tuan, maafkan aku"
"sayang kenapa kamu kasar sekali kepada sally.!"
"biarkan saja" ketus varo.
"tidak masalah nona melati, aku dapat memaklumi sikap tuan varo. bagaimanapun beliau seorang suami"
"maafkan suamiku ya sally"
"tidak apa-apa nona. kalau begitu saya permisi" pamit sally segera meninggalkan ruang kerja melati.
"lain kali aku tidak ingin kamu cipika cipiki dengannya, bagaimanapun juga dia seorang pria"
"iya sayang" melati dengan terpaksa menuruti permintaan suaminya, dari ekspresi wajahnya saja sudah terlihat kalau varo benar-benar kesal terhadap sally.
*"apa varo cemburu.? ah masak iya varo cemburu dengan sally"* gumam melati dalam hati, namun ia tidak ambil pusing, ia kembali mengerjakan pekerjaannya yang menumpuk. sedangkan varo kembali berbaring di sofa.
"akhirnya selesai juga" ucap melati sembari ekor matanya melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 12.30
"astaga dia tidur, dia pasti lelah karna menungguku bekerja. aku akan pesankan makanan untuknya, jadi nanti ketika dia bangun dan lapar sudah ada makanan" melati segera mengambil ponselnya dan memesan makanan secara online.
tokk.... tokk.... tokk
"masuk"
"maaf nona ini makanan yang nona pesan sudah datang"
"taruh meja situ elly" elly segera menaruh makanan itu di atas meja yang di tunjuk melati.
"kalau begitu saya pamit dulu nona"
"iya silahkan elly, terimakasih karna sudah mengantarkan makananku"
"sama-sama nona"
setelah elly keluar dari ruangannya melati bergegas menghampiri suaminya, ia mengangkat kepala varo dan meletakkannya diatas pahanya. dielusnya rambut varo dengan lembut dan penuh dengan kasih sayang.
"mel ayo kita makan siang" tiba-tiba saja liyla masuk tanpa mengetok pintu.
"uppsss apa aku mengganggu kalian.?"
"tidak la. aku sudah pesan makanan, kamu ambillah untukmu dan juga sarah" liyla degera mengambil dua kotak makan untuk dirinya dan sarah.
"terimakasih mel, kalau gitu gue balik keruangan gue dulu ya. sekali lagi maafkan aku yang sudah nyelonong masuk" ucapnya sambil nyengir kuda.
perlahan varo mengerjapkan matanya, dan mulai terbangun dari tidurnya.
"sudah bangun.?" tanya melati sembari mengelus rambut varo.
"iya sayang"
"apa kamu lapar" varo hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan istrinya.
"kalau begitu bangunlah cuci muka, habis itu baru makan"
vari segera bangkit dan menuju kamar mandi yang berada di dalam ruang kerja istrinya. setelah selesia mencuci mukanya ia segera kembali duduk di dekat istrinya.
"mau makan sendiri, apa aku suapin.?"
"suapin" jawabny dengan sangat manja.
"uhh manjanya suamiku" ujar melati sembari mencubit gemas pipi varo.
dengan telaten melati menyuapi varo, saking asyiknya mereka tak menyadari kehadiran dua makhluk yang menatap perbuatan mereka dengan geli.
"sudah selesai belum mesra-mesraannya tuan nona yang terhormat.?" tanya sarah sembari melipat tangannya.
"eh sarah, liyla. kapan kalian datang.?"
"orang asik mesra-mesraan ya nggak bakal sadar kalau kita ada disini"
"iya nggak kasian apa sama jomblo kayak kita" sarkas liyla.
"kita.? loe aja kalik gue nggak" jawab sarah, hingga mengundang gelak tawa melati dan juga varo
"ih jahat banget sih kalian ini" protes liyla
"makanya cari pasangan"
"kak varo enak banget ngomongnya, emang nyari pasangan bisa kayak beli cabai di pasar. gampang dan nggak ribet.!"
"bisa, bima kan nganggur"
"iya bener kata kak varo. loe kan sebenarnya suka kak bima, cuma gara-gara kak bima playboy aja makanya loe nggak mau sama kak bima. tapi paling-paling kalau ditembak kak bima loe nggak bakal nolak"
"ih sarah apaan sih, aku kan malu ada kak varo disini"
"dan aku sudah terlanjur mendengarnya"
"tapi tolong kak varo jangan bilang itu semua sama kak bima ya, mau ditaruh mana mukaku" pinta liyla dengan wajah memelas.
"mukamu ya masih tetap disitu, memangnya bisa pindah di gelora bung karno" sarkas varo, hingga membuat melati dan sarah terkekeh
.
kata "itu" mestinya digunakan sbg petunjuk bhw keadaan/kondisi yg digambar oleh kalimat dimaksud terjadinya sdh lewat(bentuk lampau...)🙏