NovelToon NovelToon
Signal

Signal

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Diam-Diam Cinta / Transmigrasi ke Dalam Novel / Teen School/College
Popularitas:44.1k
Nilai: 5
Nama Author: Hilnaarifa

Berry Aguelira adalah seorang wanita pembunuh bayaran yang sudah berumur 35 tahun.

Berry ingin pensiun dari pekerjaan gelap nya karena dia ingin menikmati sisa hidup nya untuk kegiatan normal. Seperti mencari kekasih dan menikah lalu hidup bahagia bersama anak-anak nya nanti.

Namun siapa sangka, keinginan sederhana nya itu harus hancur ketika musuh-musuh nya datang dan membunuh nya karena balas dendam.

Berry pun mati di tangan mereka tapi bukan nya mati dengan tenang. Wanita itu malah bertransmigrasi ke tubuh seorang anak SMA. Yang ternyata adalah seorang figuran dalam sebuah novel.

Berry pikir ini adalah kesempatan nya untuk menikmati hidup yang ia mau tapi sekali lagi ternyata dia salah. Tubuh figuran yang ia tempati ternyata memiliki banyak sekali masalah yang tidak dapat Berry bayangkan.

Apa yang harus dilakukan oleh seorang mantan pembunuh bayaran ditubuh seorang gadis SMA? Mampukah Berry menjalani hidup dengan baik atau malah menyerah??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hilnaarifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Bel istirahat berbunyi,

Alice yang sepertinya sudah menghapal waktu pun, terbangun dari tidur nya. Dia melepaskan earphone nya, gadis itu menguap sedikit dan meregangkan otot-otot tubuhnya yang kaku.

Dia lupa kalau dia memiliki teman semeja baru, jadi di cukup terkejut ketika berbalik ke samping dan melihat orang lain di meja nya.

Serena tersenyum tipis, "Udah bangun? Tadi, kaya nya Lo nyenyak banget tidur nya." Ucap gadis itu ramah.

Alice mengangguk canggung, dalam hati dia berkata, buta ya? Dia kan memang sudah bangun. Tapi, Alice hanya menampilkan wajah biasa tanpa ada jejak julid sedikit pun.

Alice membuka ponselnya karena mendapat pesan dari pengajar ekskul nya. Serena ingin mengajak Alice berbisik, namun dia terlihat ragu.

Alice menyadari itu, "Ada apa?"Tanya nya santai, mata nya masih fokus pada ponsel nya. Serena terkekeh, dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Em... Lo nggak ke kantin? Gue mau kesana, tapi nggak tahu jalan nya." Kata Serena malu-malu.

"Mau bareng?"

Alice melirik Serena, dia memasukkan ponsel nya ke dalam saku dan berdiri. Serena pikir, Alice setuju untuk pergi bersama nya ke kantin, tapi...

"Ketua kelas!"Teriak Alice memanggil si gadis berkacamata di depan.

Yang di panggil pun berbalik, "Apa?"Tanya nya datar.

Alice menyengir, dia menunjuk ke arah Serena. "Murid baru kita, mau ke kantin tapi nggak tahu jalan. Sebagai ketua kelas yang baik, Lo bawa di kesana." Kata Alice serampangan, gadis berkacamata itu mendengus.

Serena yang mendengar itu terkejut, dia ingin menghentikan Alice. "Kenapa nggak Lo aja?"Tanya ketua kelas heran.

Alice menyugar rambutnya sombong, "Gue tuh sibuk. Punya banyak urusan, jadi tolong ya, pengertian nya." Balas Alice dengan dagu yang di angkat.

Dia melihat ke arah Serena yang memasang wajah getir. "Pergi sama dia aja ya, gue nggak bisa."

Sebelum Serena bisa berbicara, Alice sudah lebih dulu melarikan diri dengan kecepatan tinggi. Ketua kelas kembali merasakan angin berhembus pelan melewati nya.

Dia berdehem, dan memperbaiki kaca mata nya. "Ayo, katanya mau ke kantin. Gue antarin." Ucap nya pada Serena.

Serena terdiam sesaat, sebelum tersenyum tipis. "Makasih ya." Kata nya dan berjalan mendekati ketua kelas.

"Udah tugas gue." Jawab nya singkat, dalam hati dia melanjutkan kalau buka karena Alice, gue nggak mau.

Kedua gadis itu pun berjalan keluar dari kelas dan pergi menuju kantin.

Di sisi lain,

Alice mendatangi ruang ekskul musik yang ada di lantai 2 pojok. Sekolah ini terlalu luas, terkadang dia akan tersesat jika sedang ingin mencari jalan yang sepi. Tangan nya mengetuk pintu ruangan dengan pelan.

Tok tok tok

Tanpa di suruh masuk, Alice sudah lebih dulu membuka pintu. Dia tidak sabaran, toh diri nya hanya ingin membicarakan tentang dia yang akan keluar dari club musik ini.

Di dalam ada beberapa murid yang sedang bermain alat musik, mereka melihat Alice dengan penuh rasa penasaran namun Alice mengabaikan mereka dan berfokus mencari si pengajar.

"Alice, ternyata kamu masih mau menginjakkan kaki di sini, saya senang melihat nya." Ucap seorang wanita berumur sekitar empat puluhan, pakaiannya terlihat sederhana.

Dengan kemeja di tubuh kurus nya, serta

celana bahan hitam. Rambut yang di sanggul asal, sangat berantakan menurut pendapat Alice.

"Ayo, sayang ku. Kita mulai latihan nya, sudah lama aku tidak mendengar permainan cantik mu itu." Lanjut wanita itu berjalan melewati Alice yang terdiam bodoh.

Entah lah, mungkin dia mendadak trauma melihat bentukan guru pengajar nya. Yang sedikit, yah berlebihan untuk manusia normal.

Alice menggeleng kan kepala nya agar sadar, dia pun mengikuti guru itu cepat. "Permisi madam tapi kedatangan saya disini bukan untuk ikut latihan." Ucap Alice buru-buru.

Wanita itu sedang memperbaiki tangan seorang siswa yang salah memegang alat musik nya, biola.

"Oh, lalu?"Kata nya acuh. Alice menipiskan bibirnya menahan sikap bar-bar nya, dia berusaha terlihat santai.

"Saya ingin keluar." Ucap nya datar, maaf

saja, dia tidak bisa bersikap lembut.

Wanita tersebut berhenti sibuk, dia segera berbalik dan melihat ke arah Alice dengan terkejut.

Dia bahkan menaruh tangan nya di depan mulut, seakan-akan berita yang Alice sampaikan adalah tentang kehancuran dunia.

Alice masih tetap memasang wajah datar nya. Wanita terkekeh geli, "Kamu pasti bercanda, kan? Jika iya, itu tidak lucu, aku hampir saja terkena serangan jantung." Kata guru musik Alice itu, wanita itu kembali sibuk membenarkan murid-murid nya yang masih sering melakukan kesalahan.

Alice ingin membongkar isi otak wanita tua ini, apa dia tidak mengerti apa yang di katakan nya tadi? Dia ingin keluar!! Kurang jelas apa lagi?

Alice kembali mengikuti wanita itu, "Saya tidak bercanda madam Elie, saya memang ingin keluar dari club." Ucap Alice berusaha terlihat serius dan jujur.

Wanita itu menggeleng kan kepala nya, "Kita akan mengikuti perlombaan sebulan lagi, sayang. Jangan bermain-main, okey?"Ucap wanita itu acuh.

Alice berhenti. Dia berdiri diam di tempat nya dan tidak bergerak sama sekali, mata nya mengawasi wanita itu dengan tajam.

Murid-murid yang berada dekat dengan Alice mendadak menciut, mereka berusaha menjauh dari gadis yang sudah memperlihatkan tanduk nya itu.

Tidak mendengar suara Alice lagi, wanita itu pun ikut berhenti. Dia melihat ke arah Alice yang masih saja berdiri diam di tengah-tengah ruangan.

Perasaan nya jadi tidak enak saat menatap mata gadis itu, tajam dan dingin.

"Alice?"Panggil nya ragu. Belum pernah dia melihat tingkah aneh Alice sejak terakhir kali mereka bertemu yang lebih mengherankan nya lagi, kenapa Alice bisa berbicara ya? Dia baru menyadari nya!

Alice menaikan alis nya menatap tajam guru wanita itu, "Saya tidak akan mengulangi nya lagi. Perlombaan atau apapun itu, mulai sekarang bukan urusan saya."

Wanita itu ingin berbicara tapi Alice mengangkat tangan nya dan tidak ingin di potong. "Saya berhenti. Toh juga mau naik kelas sebentar lagi, tidak ada gunanya berlama-lama disini."

Alice melirik ruangan itu, dia melihat banyak piala yang terletak di dalam lemari kaca pojok ruangan.

Dia tersenyum sinis, "Lihat itu semua, piala

maupun piagam itu berasal dari ku. Apa masih kurang? Banyak murid mu di ruangan ini, kenapa tidak meminta nya dari mereka. Jangan malas." Kata Alice datar.

Wanita itu membuka dan menutup mulut nya berkali-kali, dia sangat terkejut dengan sikap kejam Alice padanya.

Gadis lembut yang dia ingat sangat berbeda dari yang sekarang. Alice memutar mata nya malas, "Sudah lah. Kepala sekolah tahu tentang hal ini, dia tidak keberatan jika saya keluar jadi madam, jangan berlebihan."

Tangan nya menepuk pelan kepala murid perempuan kelas sepuluh di samping nya.

Gadis itu bergetar ketakutan namun hanya bisa diam.

"Ajari mereka dengan baik ya, agar bisa hebat seperti ku. Dan kalian bisa memenangkan perlombaan apapun nanti." Kata nya dengan senyuman manis tapi semua orang tahu maksud perkataan Alice dan tidak berani protes.

Alice manarik tangan nya, "Baik lah, segitu dulu pertemuan kita hari ini. Semoga kedepannya, kita tidak bertemu lagi kecuali hanya berpapasan di lorong sekolah, ahahaha..."

Gadis itu berbalik pergi meninggalkan ruangan dengan kepuasan hati. Wanita itu mendadak lemas dan memegang jantung nya, murid lain mendadak panik dan mengerumuni sang guru.

"Madam!"

Dian berjalan mendekati meja di ruang tengah, dia baru saja masuk dan melihat sebuah paper bag berisi banyak sekali cokelat dan cemilan lain nya.

Dalam pikirannya, ini milik Gama yang

ingin mengisi kembali kulkas kecil nya yang telah kosong di ruangan pemuda itu.

Baru saja tangan nya ingin menyentuh paper bag itu, Gama datang entah dari mana dan menepis tangan nya dengan kejam.

"Jangan sentuh." Ucap datar pemuda itu. Dian menarik tangan nya dan mengusap nya pelan, "Sialan Lo, sakit tahu" Kata nya kesal.

Dia heran, kenapa teman nya ini suka sekali menyiksa nya tanpa sebab. "Lebay." Ucap Gama, dia mengambil paper bag itu dan menyimpan nya di dalam laci mejanya.

Mata Dian mengikuti pemuda itu dengan penasaran, "Bukan punya Lo?"Tanya Dian bingung. Gama menggeleng, "Bukan." Jawab nya singkat.

Dian semakin penasaran jarang-jarang dia melihat Gama protektif terhadap sesuatu.

"Jadi, punya siapa? Bagi dong, gue mau cokelat nya, sebatang aja deh." Kata Dian membujuk teman datar nya itu.

Gama tidak menjawab dan memilih sibuk

dengan laptop nya, mengabaikan Dian.

Dian berdecak, dia semakin yakin, tidak akan ada perempuan yang mau berpacaran dengan Gama, bila di lihat dari sikap kejam pemuda ini. Dian ingin kembali berbicara tapi pintu ruang OSIS tiba-tiba di buka dengan kasar dari luar. Dia mengumpat keras karena terkejut.

"Gama sialan!!"Suara teriakkan seseorang gadis pun terdengar memenuhi ruangan. Dian menutup telinganya, masalah apa lagi yang akan menimpa teman nya itu? Hadeh.

"Balikin jajanan gue!"

Alice masuk ke dalam ruangan dengan brutal, dia menyempatkan diri untuk menyapa Dian yang masih menutup telinga nya, pemuda itu tersenyum canggung.

Gama tidak banyak bereaksi, tangan nya membuka laci meja dan mengambil paper bag milik Alice.

Dia memberikan barang itu pada gadis tantrum di depan nya, "Ini." Ucapnya kalem.

Alice segera menyambar paper bag itu dengan tidak sabaran, dia memeriksa isi nya secara teliti.

"Nggak ada yang ambil cokelat-cokelat gue kan?"Tanya Alice penasaran.

Mendengar itu, Gama melirik ke arah Dian yang membulatkan mata nya ketakutan. Pemuda itu menyilang kan tangan dan menggelengkan kepala nya ke arah Gama, mulut nya berkomat kamit, "Bilang nggak ada!"Panik Dian.

Gama tersenyum iblis, melihat itu Dian merasa jantung nya akan copot disaat itu juga. Mulut Gama perlahan terbuka, untuk menjawab pertanyaan Alice tadi. Dian sudah berkeringat dingin.

"Nggak ada." Jawab Gama singkat. Alice menganggukkan kepala nya paham, disana Dian merasa beban nya dengan cepat terangkat.

Tubuhnya lemas dan menyender di meja nya, siapa yang tahu, paper bag itu milik Alice?

Gama tidak berdedikasi untuk menulis nama atau memperingati diri nya kalau ini tidak untuk di pegang. Hampir saja nyawa nya melayang jika dia begitu keras kepala ingin memakan cokelat tadi.

Alice melihat Dian yang sudah seperti ubur-ubur, lembek.

"Dia kenapa?"Tanya Alice heran, Gama pun melihat ke arah Dian, pemuda itu mendengus.

"Abaikan saja, terkadang dia bisa kumat." Ucap Gama sarkas.

Alice mengangkat bahu acuh, dia ingin pergi ke kantin, tidak akan kenyang jika hanya memakan cokelat.

"Gue mau ke kantin dulu." Kata gadis itu santai, Alice ingin berbalik namun Gama segera menahan tangan nya.

"Gue ikut, tunggu sebentar." Ucap pemuda

itu, Alice hanya mengiyakan saja. Dia menyender kan tubuhnya di meja Gama, sambil menunggu pemuda itu mengetik sesuatu laptop nya.

Dian sudah melarikan diri lebih dulu ke kantin, tidak bisa berlama-lama disana bisa mati dia jika Gama mengatakan pada Alice kalau dia ingin mengambil cokelat gadis itu tadi.

Beberapa saat kemudian, Alice dan Gama sampai di kantin, mata gadis itu menatap seluruh kantin untuk mencari keberadaan Karla. Mereka sempat bertukar nomor ponsel dan gadis itu menyuruhnya agar mereka satu meja untuk makan siang.

Alice tidak keberatan jadi, dia mengiyakan nya tanpa berpikir panjang. Karla melambaikan tangan nya ketika melihat Alice di pintu masuk kantin, Alice yang mendapat sinyal itu pun segera menarik Gama yang sibuk membaca buku nya.

Pemuda itu tidak keberatan di tarik brutal

oleh Alice.

"Gue udah pesan makanan lo, siomay kaya kemarin. Mau kan?"Ucap Karla ketika Alice dan Gama sudah sampai dimeja.

Alice mengangguk mantap, "Mau, tapi masih kurang. Gue mau makan nasi goreng juga, hehe." Kata Alice dengan tidak tahu diri nya. Karla terkekeh geli mendengar itu.

Sebelum Alice duduk, dia terkejut ketika melihat ada orang lain di meja Karla. Salah

satu nya Cakra yang sedang bermain game diponsel nya tanpa perduli sekitar kalau itu Alice tidak terkejut. Tapi, yang buat dia heran, ada Serena juga.

"Hai, Alice, kita ketemu lagi. Kok Lo lama banget?"Ucap gadis itu sambil tersenyum tipis, dia sedang memakan salat buah.

Dengan jus alpukat, makanan apa itu? Pikir, Alice tidak suka.

Alice hanya mengangguk kecil, "Biasa, banyak urusan." Jawab nya singkat tanpa penjelasan lain.

Dia pun segera duduk dan menarik tangan Gama lagi, astaga pemuda ini memang aneh. Dia sanggup membaca buku di keramaian kantin tanpa terganggunya sedikit pun.

Serena melihat pemuda tadi pagi yang berdebat dengan Alice, hanya sesaat dia menarik pandangannya.

Ingin berbicara dengan Alice lagi namun gadis itu malah menarik buku Gama. Pemuda itu menatap Alice datar, gadis itu hanya menyengir polos.

"Nggak makan? Gue mau pesan nasi goreng ni, mau sekalian nggak?"Tanya nya baik hati, jarang-jarang dia mau begini.

Mungkin karena sudah mendapatkan hadiah dari para fans baru nya, hati nya sedikit lapang.

"Gue pesan sendiri aja." Kata Gama malas, Alice pun mengangguk dan segera berdiri

lagi, dia menitipkan paper bag nya pada Karla dan meminta gadis itu untuk menjaganya dengan baik.

Karla hanya memutar mata malas sebagai

jawaban, Alice terlalu protektif pada paper bag nya. Namun, dia tidak heran akan hal itu.

Alice kembali menarik Gama, yang sekali lagi hanya bisa pasrah di tarik terus menerus oleh Alice. Padahal dia kan punya kaki dan bisa berjalan sendiri tapi yah, sudah lah.

Tentu saja, Alice menarik Gama ke penjual nasi goreng lebih dulu, baru setelah nya dia akan menemani pemuda itu untuk membeli makanan nya. Gama sekali lagi, hanya pasrah.

Serena terdiam melihat itu, dia pun memilih untuk melanjutkan makan nya. Karla sempat melirik ke arah Serena, namun gadis itu memilih sibuk dengan urusan nya, hanya terkadang dia akan memukul Cakra yang terlalu berisik di samping nya.

^^

1
Ayu Tanya
thor lu kmna thor...
sitiG
udah ngk prnh up lagi Thor 😩
sitiG
up up up
sitiG
makin sedikit
Korean: Maaf ya akhir-akhir ini bab nya sedikit, next bab akan aku perbanyakan
total 1 replies
sitiG
dikit amatt thorrr 😣
Korean: hehe... sabar ya! biar buat penasaran nih
total 1 replies
Ayu Tanya
smngttt thorr slmt THN Bru.👍
Korean: Terimakasih atas supportnya, sukses selalu buat kita ditahun yang baru ini!!
total 1 replies
Ayu Tanya
ktanya Kamis Thor ini udh Jumat.
Nur Anti
aamiin...
Ayu Tanya
lagiii thorrrrr 😭😭
Nur Anti
aduh ko cpet bngt ya Thoorrr..
sampai" aq baca ulang" smbil nunggu yg updte'an ny author hehe
sehat selalu bt kita semuaa aamiinnn
Nur Anti: ashiaaapppp thoorr
sehat selalu untuk mu & para pembaca Signal.. aamiin
total 2 replies
Ayu Tanya
dikit bngttt thorrr blum juga kedip ni mata .. udh abis aja 😫
Korean: 🙄hehehe, iya nanti aku up deh!
total 1 replies
sitiG
Maksih min
Korean: Terimakasih juga karena sudah baca novel ku🙏
total 1 replies
ragnacrimson
luar biasa 👍👍
Siji Bae11
lanjut dong thor kok belum up up../Whimper//Whimper/
Fikarafika
lama sekali thor upnya
Senja
cerita nya sama kayak yg di fizo .........kok bisa persis apa kakak juga buat di fizoo
Ayu Tanya
jgn lma" Up nya Thor aku kn kngen sma Alice
Lestari Andrian
Luar biasa/Good//Good//Good/
Siji Bae11
double up dong thor..
Zhenyaa
lanjut thor, tetap semangat.. sukses selalu💪🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!