[BUDAYAKAN FOLLOW SEBELUM MEMBACA! BUDAYAKAN PULA TINGGALKAN JEJAK!]
[FOLLOW AKUN IG; SUGIATIDAHLAN]
[NO PLAGIAT! SANKSI BERLAKU!]
Kisah tentang;
"Aku akan terus bersabar, bahkan sampai kesabaran itu sendiri mulai lelah dengan kesabaran ku."
@Annisa Az-Zahra
Bagaimana jika seandainya kalian adalah siswi berhijab satu-satunya di sekolah kalian? bagaimana jika seandainya kalian tidak sengaja melakukan tingkah konyol yang menjerumuskan kalian ke dalam masalah?
Hidup Zahra yang mulai di tumbuhi bunga-bunga berwarna-warni kini kembali terlihat hampa saat sebuah RAHASIA BESAR berhasil merubah segalanya.
®picturebypinterest
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sugiatiidhln, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 33. Zahra sayang Audy
"Aku ..."
"FARHAN VERREL KALIAN IKUT BAPAK KE KANTOR!!" Suara bariton itu memotong ucapan Zahra.
Pak Beni, Bu Tini dan Bu Siti berdiri dengan tatapan kecewanya. Mengisyaratkan agar Verrel dan Farhan ikut bersamanya. Pak Beni adalah Wali kelas Farhan, Bu Tini adalah Wali kelas Verrel. Sedangkan, Bu Siti adalah guru kesayangan Daniel.
"KALIAN SEMUAAA BUBAR!!" Suara bariton itu terdengar lagi, menyuruh kerumunan untuk segera bubar. Para siswa dan siswi tapi dominan kebanyakan siswi itu mendesah berat akan kedatangan 3 guru yang entah muncul dari mana.
"Tapi Pak saya ..."
"JELASKAN DI KANTOR!!"potong Pak Beni cepat sebelum Farhan menyelesaikan ucapannya. Pemuda itu menatap tajam ke arah Verrel dengan tatapan yang dapat di artikan. "Ini semua gara-gara lo!"
Verrel hanya mengangkat bahunya acuh, toh! Ini Bukan pertama kalinya Verrel di panggil ke kantor. Jangan kan kantor ke ruang BK saja sudah jadi tempat favoritnya.
Tapi kali ini mungkin beda, karena pemuda itu terlibat masalah dengan Farhan, orang yang tak pernah membuat masalah selama sekolah di sini. Pemuda kepercayaan guru dan kebanggaan para guru-guru.
"KAMU DANIEL DAN DEON! IKUT KE KANTOR SEKARANG!!!" teriak Bu Siti berkacak pinggang dengan ranting kayu di tangannya.
Daniel dan Deon yang memerhatikan dalam diam itu terpelonjak kaget. Kenapa namanya juga di sebut? Daniel berdecak sebal "Bu, saya nggak ngapa-ngapain!! ngapain ke kantor juga?" protesnya tidak terima.
"Bu, saya juga cuman duduk disini, diam nggak ikut debat. Saya nggak salah lah Bu! Ngapain ke kantor," timpal Deon membenarkan ucapan Daniel.
"Bu, saya sama Deon diam salah! Buat ulah salah! Mau ibu apasih hagh?" semprot Daniel pada Bu Siti. Apa karena Daniel adalah siswa langganannya, makanya setiap ada masalah ia juga ikut kecipratan sialnya.
Deon mengangguk setuju akan ucapan Daniel, tumben ucapan pemuda itu benar "Bener Bu!" timpal Deon.
"KARENA KALIAN SAHABATNYA VERREL. KALO VERREL MEMBUAT ULAH ITU ARTINYA KALIAN JUGA SAMA!!" teriak kesal Bu Siti. Hampir saja Bu Siti mengayungkan ranting kayu yang di pegangannya, jika saja Daniel dan Deon tidak segera bangkit dari duduknya.
Deon dan Daniel melongo mendengar ucapan Bu Siti. Kedua pemuda itu hampir saja menjatuhkan bola matanya. "Rugi gue sahabatan ama Verrel," kesal Daniel mendramatis.
"Tapi kan Bu ..."
"IKUT IBU KE KANTOR SEKARANGGG!!" teriak Bu Siti sebelum Deon menyelesaikan kalimat protesnya. Wanita parubaya itu tak henti-hentinya berteriak jika berhadapan dengan dua orang di depannya.
"Serah deh serah ...," pasrah Daniel kemudian berjalan dengan Deon meninggalkan Bu Siti yang menatapnya tajam.
Bu Siti mengelus-ngelus dadanya, menatap punggung 2 pemuda yang berjalan mendahuluinya.
Sedangkan Zahra, setelah kedatangan 3 guru itu Zahra segera di bantu oleh Audy ke UKS.
####
#Perjalanan ke UKS
"Ra lo nggak kenapa-napa kan?" tanya Audy khawatir.
"Nggak kok Dy, aku nggak papa," jawab Zahra menenangkan. Walaupun kadang gadis itu meringis kecil karena lukanya yang mulai terasa perih.
"Makanya gue kan udah bilang ikat tali sepatu lo! Lo sih keras kepala!!" kesal Audy.
Ucapan Audy membuat Zahra tersenyum. Karena di dalam kalimat yang di ucapkan gadis itu terpancar jelas rasa kekhawatirannya. Zahra bersyukur karena Audy tidak marah kepadanya lagi dan Zahra benar-benar tidak ingin jika Audy sampai marah seperti itu lagi.
"Hehehe, iya iya maaf," kekeh Zahra berusaha membujuk Audy.
"Oh, jadi ini yang namanya Zahra?" sinis salah satu siswi yang berjalan bertolak arah dari mereka berdua.
"Iya aku Zahra," sahut Zahra ramah, tersenyum tipis sebagai awal yang baik.
Siswi itu menampilkan senyum miringnya, menatap penampilan Zahra dari ujung kaki hingga ujung kepala gadis itu. "Cantikan gue," sinis gadis itu kemudian berlalu pergi.
Zahra meringis, saat gadis tadi sengaja menyenggol bahunya dengan keras.
Audy yang hanya diam ingin membalas perbuatan gadis tadi. Entah itu adik kelas ataupun kakak kelas Audy tidak peduli. Baru saja Audy melangkah Zahra dengan cepat mencegahnya. Mengisyaratkan bahwa ia tidak apa-apa.
Audy dan Zahra kembali melanjutkan langkah mereka ke arah UKS. Mengabaikan tatapan-tatapan sinis dari beberapa orang yang di lewatinya.
"Masuk ..." titah Audy, menyuruh Zahra masuk terlebih dahulu ke ruang UKS.
Zahra duduk di salah satu brankar di ruang ini, dan Audy yang segera mencari kotak obat untuk ia gunakan mengobati luka Zahra.
"Lo kenapa bisa lari-lari gitu?" tanya Audy penasaran. Pertanyaan itu selalu terngiang-ngiang di Fikirannya setelah kejadian tadi.
"Nggak tau," ucap Zahra polos.
"Audy cemburu?" goda Zahra dengan senyum menyebalkannya.
Wajah Audy memerah malu seketika. "Yaa nggak lah! Ngapain gue cemburu," elak Audy.
"Masa' gue suka ama Verrel. Ya kali," elaknya lagi. Audy mengigit bibir bawahnya, untuk menyembunyikan sedikit kegugupannya. Entahlah, membahas tentang dunia itu membuat Audy tak dapat menyembunyikan sikap menggemaskannya yang jarang ia tunjukkan.
"Siapa yang bilang sama cowok muka datar! Maksud aku itu sama kak Far ... Aww," ringis Zahra saat Audy tidak sengaja menekan lukanya.
"Maaf... Gue nggak sengaja," panik Audy. Menatap ke arah Zahra dengan raut bersalahnya.
Zahra menggeleng kecil pertanda bahwa dia baik-baik saja. Sekarang Zahra semakin yakin bahwa sahabatnya ini jatuh hati pada ketua OSIS di sekolah ini. Tidak salah, mereka berdua memang cocok yang cewek cantik dan pintar, dan yang cowok juga sama tampan dan pintar.
Zahra tersenyum geli mengingat hal itu, membuat Audy semakin berengggut kesal "Zahra ...," melas Audy, menyuruh Zahra untuk menghentikan aksi menggoda dirinya.
"Iya ... Iya," sahut Zahra dengan senyum menenangkannya.
"Audy ... Apa Audy tau? Selain Kak Rai, Audy juga berarti untuk Zahra. Dan Zahra janji bakal jadi sahabat yang baik untuk Audy," batin Zahra.
"Zahra nggak mau yah Audy marah gara-gara Zahra," ujar Zahra dengan nada yang terdengar sendu.
"Zahra minta maaf," tambahnya lagi, namun Audy mengabaikannya.
Setelah Audy selesai mengobati luka Zahra, Audy menaruh kotak itu di tempat semula. Kemudian mengajak Zahra agar segera ke kantin, Audy benar-benar lapar.
"Yuk ke kantin," ajak Audy yang terdengar tidak sabaran.
Zahra masih tak berkutik di tempatnya, ia masih setia menunggu apakah Audy mau memaafkannya atau tidak.
"Ra?" panggil Audy sekali lagi. Ia menoleh ke arah Zahra dan melihat Zahra masih saja duduk tak bergerak sedikitpun dari tempatnya.
"Iya ... Iya ... Gue maafin loh kok. Lagian lo juga nggak ada salah kali Ra," Audy terkekeh saat Zahra dengan sigap memeluk dirinya.