Di usianya yang sudah genap dua puluh tujuh tahun Sandi Atmojo belum sedikitpun memikirkan tentang pernikahan sehingga kedua orang tuanya jadi khawatir putranya tersebut akan memilih hidup Single seumur hidup. Untuk mencegah hal itu sampai terjadi, sang mamah terus memaksanya untuk mencari calon istri, namun jawaban Sandi tetap sama, yaitu belum berniat menikah sebab belum memiliki calon. "Jika kamu tidak sanggup mencari calon istri, biar mama yang akan mencarikan calon istri untuk kamu." Pada akhirnya sandi tak dapat menolak lagi, dan membiarkan mamah mencarikan calon istri untuknya. Akan tetapi, Sandi tak menyangka jika pilihan mamahnya adalah seorang wanita yang berstatus single Mommy.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27.
"Mas mau ngapain?." Lamunan Vania buyar begitu saja ketika merasakan tangan besar Sandi menariknya ke dalam pelukan pria itu.
"Kalau seperti ini mau apalagi, tentu saja memelukmu." Dengan santainya Sandi menjawab.
"Kalau itu aku juga tahu. Maksudnya, kenapa mas tiba-tiba memelukku seperti ini?." Entah polos atau memang kurang peka hingga Vania melontarkan pertanyaan demikian pada Sandi.
Sandi mengurai pelukannya dan menatap wajah cantik Vania.
"Seperti katamu, aku ini suamimu dan kamu adalah istriku. Kamu berhak atas diriku dan begitu pun sebaliknya. Adil bukan?."
Vania tak dapat menepis karena kenyataannya dirinyalah yang terlebih dahulu melontarkan kalimat serupa, sewaktu mereka berada di apartemen Sandi waktu itu. Ia hanya bisa pasrah saat Sandi menge-cup bibirnya lalu turun pada leher jenjangnya.
"Ini semua salahmu, Vania. Coba saja hari itu kau tidak memulainya, pasti tidak akan berlanjut seperti ini." Sesal Vania dalam hati. Bukannya tidak ikhlas melayani kebutuhan biologis suaminya, namun Vania merasa seperti pemuas has-rat semata, mengingat sepengetahuan wanita itu Sandi tidak memiliki perasaan apapun terhadapnya.
Vania semakin mengkhawatirkan dirinya, lebih tepatnya nasibnya kelak, ketika Sandi mulai mendorongnya ke ranjang lalu mengung-kung tubuhnya, menyentuh bagian manapun yang dinginkan oleh pria itu.
"Apa tidak sebaiknya mas menggunakan pengaman!." Ucapan Vania berhasil memancing atensi Sandi. Pria itu menatapnya dengan tatapan tak terbaca.
"Aku tidak pernah punya benda seperti itu. Lagipula untuk apa harus menggunakan pengaman segala?."
Dengan susah payah Vania menelan ludahnya. Pasalnya, belum pernah sekalipun ia melihat Sandi menunjukkan gurat wajah seperti saat ini.
"Lupakan saja, mas! Aku hanya bercanda." Vania mencoba mengukir senyum senatural mungkin agar Sandi percaya bahwa ucapannya tadi hanyalah sebuah candaan. Vania jadi berpikir, mungkin Sandi enggan menggunakan pengaman karena kata orang-orang benda itu dapat mengurangi sen-sasi bagi para pria.
Beberapa jam berlalu.
Vania nampak mengangguk pelan saat Sandi menge-cup lembut keningnya dan berkata. "Thank you."
Sandi menjatuhkan tubuhnya di samping Vania.
"Tidak perlu terlalu memikirkan masa yang akan datang Vania, Cukup nikmati kehidupan yang kau jalani sekarang!." Batin Vania mencoba menghibur diri sendiri.
Mungkin karena kelelahan pada akhirnya Vania tertidur di dalam dekapan Sandi.
Dret....dret....dret....
Suara getar ponselnya yang berada di atas nakas menarik perhatian Sandi. Dengan hati-hati Sandi menarik lengannya yang menyangga kepala istrinya, dan menggantinya dengan bantal. Sandi turun dari tempat tidur dan meraih ponselnya, melangkah menuju ke balkon dengan berte-lanjang dada.
"Maaf sudah mengganggu waktu istirahat anda, tuan." Terdengar suara asisten Tino dari seberang sana.
"Katakan!." Asisten pribadinya tersebut hampir tidak pernah meneleponnya di waktu istirahat seperti ini, kecuali bila ada hal penting.
"Menurut informasi yang saya dapatkan, Nyonya Vania merupakan anak tunggal. Ayahnya meninggal di saat Nyonya Vania masih berusia lima belas tahun. Tak lama setelah ayahnya meninggal, ibunya nyonya Vania menikah lagi. Dan semenjak ibunya menikah lagi dengan seorang duda beranak satu, nasib nyonya Vania berubah seratus delapan puluh derajat. Jangankan untuk merasakan enak dan nyamannya menjadi anak tunggal, nyonya Vania bahkan harus bekerja keras demi membiayai kuliahnya. Berbeda dengan saudari tirinya yang semua kebutuhannya dipenuhi oleh ibunya nyonya Vania. Hingga tiba suatu hari, nyonya Vania diusir oleh ibu kandungnya sendiri karena dianggap sebagai aib dalam keluarga ketika ketahuan hamil diluar nikah. Nyonya Vania melahirkan dan merawat anaknya seorang diri, beliau tidak pernah menikah dengan pria manapun selain anda, tuan."
Deg
"Jadi benar, sebelum menikah denganku, Vania tidak pernah menikah dengan pria manapun. Berarti, cerita tentang papah kandung Sesil yang katanya sudah meninggal dunia, hanyalah karangan Vania." Batin Sandi. Sungguh, ia begitu penasaran pada sosok Ayah kandung Sesil.
"Terima kasih atas kerja kerasmu." Kata Sandi sebelum mengakhiri obrolannya bersama asisten Tino.
Sandi kembali ke kamar, menatap wajah teduh istrinya yang kini terlelap.
"Apa mungkin kamu sengaja merahasiakan sesuatu dariku, Vania?." Gumam Sandi masih dengan posisi menatap wajah teduh Vania.
Sandi terus diselimuti rasa penasaran hingga tak kunjung dapat memejamkan matanya meskipun waktu telah menunjukkan pukul setengah tiga dini hari.
*
Keesokan paginya, Sandi dan Vania berangkat bersama menuju hotel, setelah terlebih dahulu mengantarkan Sesil ke sekolah. Sejenak, Sandi melupakan informasi yang berhasil didapatkan oleh asisten Tino tentang istrinya, fokus menyambut kesibukannya di hotel. Kalaupun kenyataannya Vania sengaja merahasiakan sesuatu darinya, mungkin karena kisah masa lalunya yang enggan diceritakan oleh wanita itu kepadanya, begitu pikir Sandi.
Sandi mencoba untuk berbesar hati, lagipula dirinya tidak jauh lebih baik dari Vania. Sebelum menikah ia pun pernah secara tidak sengaja tidur dengan wanita lain.
Sandi melirik pada Vania yang kini duduk diam di samping bangku kemudi.
"Apa reaksi kamu jika seandainya aku mengaku pernah tidur dengan wanita lain sebelumnya?." Tiba-tiba saja pertanyaan itu terucap dari mulut Sandi.
Vania tak langsung merespon, ia menatap Sandi dengan tatapan dalam. Apa Sandi tengah membahas tentang kejadian bersamanya malam itu, atau justru sedang membahas tentang kejadian bersama dengan wanita lain?
"Untuk itu, aku tidak bisa menjawabnya karena aku pun tak luput dari kesalahan dan dosa." Balas Vania.
Setelahnya, tak banyak lagi obrolan diantara Sandi dan Vania hingga mobil Sandi tiba di hotel.
*
"Apa kamu yakin jika wanita yang kamu lihat malam itu adalah Vania?." Seorang wanita berusia paruh baya yang nampak masih cantik dengan penampilan modisnya terlihat ragu atas informasi yang disampaikan oleh anak sambungnya.
Natalie berpindah posisi duduk, kini ia menempati sofa kosong di samping ibu sambungnya, menggenggam tangan wanita paruh baya tersebut.
"Natalie yakin banget, mah. Bahkan Natalie berniat mengambil gambar Vania dan pria bersamanya malam itu, tapi sayangnya mereka keburu masuk ke mobil."
"Natalie pikir setelah keluar dari rumah, Vania akan merubah sifat buruknya, tapi kenyataannya dia malah semakin menjadi-jadi." Natalie tersenyum dalam hati saat melihat ibu sambungnya mulai terprovokasi oleh ucapannya.
"Anak itu benar-benar memalukan. Mamah jadi nyesal pernah melahirkannya ke dunia ini." Sejahat-jahatnya seorang ibu, seharusnya tidak mengusir putri kandungnya sendiri demi seorang putri sambung. Namun sayangnya, hal itu tidak berlaku bagi ibu kandung Vania. Bukan hanya tega mengusir anak kandungnya sendiri, wanita itu bahkan berkata menyesal telah melahirkan da-rah dagingnya sendiri.
"Entah masih hidup atau sudah mati anak haramnya itu?." lanjut ibunya Vania saat teringat akan kehamilan Vania dulu.
"Kalau saja Vania itu anak kandungku, mungkin aku sudah menghabisinya. Bukannya membanggakan, malah bikin malu orang tua. Dasar anak tidak tahu diri." Ayah sambung Vania tiba-tiba menimpali obrolan istri dan putrinya.
Semestinya ada rasa sakit dihati seorang ibu saat mendengar anak kandungnya di katai seperti itu, tapi ibu kandung Vania justru terlihat baik-baik saja, seolah Vania tidak berarti apa-apa di dalam hidupnya.
up 2 bab donk kak 😁
bisa gak dia aja yang di pecat 😏
Sandi pasti akan dukung Vania.
lagian apa urusannya sama Atika kalau pun ada kejadian jebak menjebak antara Vania dan Harto.
Atika melabrak seolah dia istri sah Harto 😆😆😆😆