Sekuel (Mommy untuk baby Arsha)
Pricillia Myliarno Ricardo gadis cantik berusia 24 tahun.Dibuang ibu kandung saat kecil dan di rawat oleh wanita yang ia anggap adalah ibu kandungnya.
Dan jatuh cinta pada seorang pria tampan namun semua yang ia rasakan harus sirna setelah kejadian satu malam yang merubah hidupnya.
Yuk simak ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi Zoviza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
"Sayang kamu kenapa?," tanya Yovan melihat Emily diam saja sejak tadi. Bahkan wanita lebih suka menatap jalanan daripada menyahuti ucapan Kafka.
"Apakah ada yang mengganggumu tadi di Kantor?," tanya Yovan. Ia merasa ada yang sedang mengganggu pikiran Emily. Namun Emily bukannya menjawab malah menatap tajam padanya.
Yovan menambah kecepatan mobilnya, ia tidak sabar sampai di rumah dan menanyakan hal yang membuat Emily bersikap seperti ini padanya. Ia akan membuat perhitungan ada orang yang mengganggu Emily di kantor.
Sesampainya di rumah Yovan menurunkan Kafka dari mobil dan meminta anaknya itu untuk masuk terlebih dahulu karena ia harus berbicara dengan Mommynya.
"Emily tunggu!," ucap Yovan menahan pergelangan tangan Emily saat wanita itu akan turun dari mobil.
"Lepas Mas!," jawab Emily.
"Ada apa, Emily?," tanya Yovan berusaha menatap mata wanita itu namun Emily terlihat menghindari tatapannya.
"Sayang...ada apa? jika kamu tidak bicara aku tidak bisa tahu apa yang terjadi padamu karena aku bukan cenayang yang tahu apa yang ada di pikiranmu saat ini," sambung Yovan.
Emily terlihat menghela nafas beratnya." Benar ada wanita yang sering mendatangi kantormu selama ini Mas?," tanya Emily.
Yovan tampak mengumpat pelan, seharusnya ia tahu ini akan terjadi jika Emily bekerja pada perusahaannya karena karena pasti berbicara hal ini pada Emily.
"Kenapa kamu diam saja Mas?," tanya Emily dengan tatapan penuh selidik.
"Iya... dan itu--
Emily menepis genggaman tangan Yovan pada tangannya. Ia benar-benar kesal karena Yovan tidak pernah menceritakan hal ini padanya. Ia kesal karena Yovan membiarkan wanita itu memasuki ruangannya.
Yovan tersenyum tipis melihat sikap Emily yang terlihat kesal tapi mengisyaratkan jika dia sedang cemburu. Yovan benar-benar merasa senang karena Emily yang tengah cemburu tapi ia harus waspada karena wanita yang sedang cemburu itu biasanya sangat menakutkan.
"Sayang...kamu harus mendengarkan penjelasan aku dulu. Iya ada wanita yang sering datang ke kantorku dan itu bukan atas keinginanku atau permintaanku. Dan wanita itu tidak pernah lagi dalam kantor setelah aku meminta security untuk tidak mengizinkannya masuk ke perusahaan aku lagi," ucap Yovan.
"Siapa wanita itu Mas?," tanya Emily dengan ketus.
"Dia Maura, dia memang berusaha mencari celah untuk bisa berdekatan denganku tapi sumpah aku tidak tertarik dengannya sayang. Kamu bisa tanya sama Rendy, aku selalu mengusirnya jika dia datang ke kantor," jawab Yovan.
"Sayang... sudah ya jangan cemburu seperti itu. Aku tidak akan pernah melirik yang lainnya selain kamu," sambung Yovan karena Emily terlihat tidak bergeming.
"Siapa yang cemburu sih Mas?," elak Emily.
Yovan tersenyum tipis karena Emily berusaha untuk mengelak jika ia sedang cemburu. Ingin rasanya ia memeluk Emily saat ini juga tapi urung ia lakukan karena takut Emily semakin marah padanya.
"Baiklah yang tidak cemburu, sekarang masih marah?," tanya Yovan.
"Hmm..."
Yovan menarik sudut bibirnya melihat Emily yang memanyunkan bibirnya kedepan. Yovan mengacak rambut Emily karena gemas dengan ekspresi Emily.
"Ayo turun!, aku ada kejutan untuk kamu," ucap Yovan.
Emily mengerutkan keningnya."Apa?," tanya Emily.
"Makanya ayo turun dulu, jika kamu masih tetap disini kamu tidak akan tahu kejutannya," jawab Yovan membuka kunci mobil secara otomatis untuk Emily lalu turun dari mobil.
Yovan membukakan pintu mobil untuk Emily lalu mengulurkan tangannya pada Emily. Pria itu tersenyum tipis pada Emily yang tampak ragu menyambut uluran tangannya.
"Ayo!," ucap Yovan.
Emily akhirnya menyambut uluran tangan Yovan lalu turun dari mobil. Wanita itu mengikuti langkah Yovan memasuki kediamannya.
"Mas... memangnya kejutannya apa?," tanya Emily.
"Masuk dulu sayang," jawab Yovan membukakan pintu rumah untuk Emily.
Emily memasuki rumah namun saat ia melangkah tiba-tiba saja dia dikejutkan dengan kehadiran dua pria berbeda usia duduk di ruang tamu. Emily hanya mengenali salah satunya saja.
"Dad-dy...," gumam Emily yang tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Emily menoleh pada Yovan yang berdiri di belakang. Tampak Yovan mengangguk pelan sembari tersenyum tipis.
"Emily...," seru Bastian melangkah menghampiri Emily.
"Dad-dy...i-ini benar Daddy?," tanya Emily dengan tatapan berkaca-kaca. Wanita itu tidak kuasa menahan air matanya. Sejujurnya ia begitu merindukan sang ayah selama ini tapi demi memenuhi permintaan Grandmanya ia rela menahan rasa rindunya pada pria paruh baya yang merupakan ayah kandungnya. Emily langsung berhamburan memeluk sang sang ayah."Daddy...," isak Emily.
"Apa kabar sayang. Kemana saja selama ini, hum?," tanya Bastian membalas pelukan Emily tidak kalah erat.
"Baik Daddy....,"jawab Emily dengan suara serak sembari mengurai pelukannya.
Bastian tersenyum tipis menangkup pipi Emily."Kenapa merahasiakan cucu Daddy dari Daddy, hum?. Dan lihatlah putri Daddy ini makin berisi dan juga cantik. Pantas saja Yovan ngotot segara menikahi kamu," ucap Bastian mengusap sisa air mata di pipi Emily.
"Maaf Daddy. Oh ya Daddy sudah bertemu Kafka?," tanya Emily.
"Sudah dan sekarang sepertinya berada di kamarnya," jawab Bastian.
"Oh ya kenalkan dia adalah Kakakmu, namanya Maxime," ucap Bastian menunjuk Maxime yang berdiri tidak jauh dari keduanya.
"Maxime... ini Emily, adik kamu," sambung Bastian memperkenalkan keduanya.
Maxime tampak tersenyum kaku. Pria itu tampak menatap Emily dengan tatapan penuh selidik. Ternyata benar jika Emily begitu mirip dengan Grandmanya.
"Hai Emily, apa kabar?," sapa Maxime tersenyum kaku.
"Baik...Kakak apa kabar?," tanya Emily yang juga terlihat kaku. Meski mereka saudara kandung namun ini adalah pertemuan mereka untuk pertama kalinya dan itu membuat keduanya terlihat canggung.
"Baik...," jawab Maxime.
"Ayo Dad...kita duduk!, Daddy kapan sampai?," tanya Emily.
"Sudah setengah jam yang lalu dan Yovan memberikan alamat ini," jawab Bastian.
"Uncle, Max saya mau ke kamar Kafka dulu. Silahkan kalian mengobrol dulu," ucap Yovan yang ingin memberikan waktu pada Emily melepaskan rindu pada Daddy dan Kakaknya.
"Iya Yovan, sekali lagi terimakasih sudah membawa Emily pulang," jawab Bastian.
"Iya Uncle," angguk Yovan.
***
Emily tengah sibuk memasak makan malam untuk Daddy dan Kakaknya dan juga Yovan. Meski Yovan mempekerjakan pelayan dirumah ini tapi ia tetap membantu. Ia ingin memastikan makanan yang di makan keluarganya itu sehat.
Emily membiarkan Ayah dan Kakaknya berbincang dengan Yovan di ruang tengah. Dan disana juga ada Kafka yang ikut meramaikan dengan celotehan lucunya.
Emily benar-benar bahagia sudah bertemu dengan kedua orangtuanya. Meski Daddynya mengatakan jika Grandmanya belum menerimanya tapi tidak apa yang penting untuknya Mommy dan Daddy-nya.
"Sayang...masak apa?," tanya Yovan menghampiri Emily yang sibuk dengan masakannya.
"Mas...kamu kenapa ke sini?. Daddy dan Kak Max kamu tinggal?," tanya Emily yang fokus pada masakannya.
"Daddy dan Kakak kamu lagi menemani Kafka bermain. Oh ya aku sudah mempekerjakan pelayan tapi kamu masih saja memasak sendiri," jawab Yovan mencomot kentang goreng yang di masak Emily.
"Aku sudah terbiasa memasak Mas," ucap Emily.
"Memang tidak capek?," tanya Yovan.
"Tidak...," geleng Emily.
...****************...
cm ada beberapa bab yang ceritanya agak dipaksakan.jd alur e agak aneh
terus semangat berkarya thor ❤️❤️❤️
padahal aku sangat suka novel mu Krn engga terllu berbelit"
y udah lah cari novel lain yg bacanya engga setenga"
pengen lihat yovan posesif sama anak ceweknya thor
semoga d lapaknya Maxime Emily melahirkan anak cewek 1 ya thor