NovelToon NovelToon
CAMELIA

CAMELIA

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:665.5k
Nilai: 4.9
Nama Author: Kimmy reana

Kara,gadis cantik dan baik hati, tapi suatu kejadian mengerikan mengubah hidupnya menjadi gadis liar dan sulit di kendalikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kimmy reana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 33

Camelia pov…

Dari sekian banyak air mata yang keluar dari mataku, hari ini salah satu air mata bahagia, yang tidak bisa aku ungkapkan dengan kata-kata. 

"I love you and i miss u so bad," satu kalimat yang mampu memporak porandakan hatiku. Sekuat apapun aku menghindar, tetap saja hati tidak bisa di bohongi.

Dia lelaki yang kini tengah duduk bersila di depan kandang Jupi, meskipun sesekali bersin, karena ternyata dia masih alergi seperti dulu. Aku masih menatapnya tidak percaya, bagaimana bisa kita dipertemukan kembali, padahal aku sangat menghindarinya selama ini. Jika benar apa yang diucapkannya, jika semestalah yang mempertemukan kita, atau hati kita masih saling terikat, aku tidak tahu. Yang aku tahu, aku bahagia melihatnya berada di dekatku. 

"Tadi mau kemana?" Tanyanya, membuyarkan lamunanku. 

"Mau ajak Jupi jalan-jalan keluar." Jawabku. Dia hanya menganggukan kepalanya, dan kembali mengusap kepala Jupi, walau setelahnya dia bersin.

"Lap tangannya," aku menyodorkan satu pack tisu basah, 

"Aku buatin makanan buat kita makan malam, tangan kamu pasti kotor habis pegang-pegang Jupi. Apalagi kamu alergi," lanjutku. 

Tadi aku sempat memasak spaghetti, karena hanya itu yang ada di dalam kulkas. Aku dan Febian jarang memasak masakan yang berat dan repot, biasanya kita hanya menyediakan beberapa makanan siap saji sebagai menu andalan jika malas pergi keluar. 

"Masak apa?" Jupiter berdiri, mengikutiku menuju meja makan.

"Aku masak ini," aku menyodorkan satu piring spaghetti carbonara padanya. 

"Aku gak tau kamu suka atau enggak," lanjutku. 

"Aku suka apa aja." Balasnya, dan memilih duduk persis di seberangku.

"Enak, kamu jago masak." Pujinya, dengan mulut penuh spagethi. 

"Bumbunya sudah jadi semua, aku tinggal masukin aja." Balasku, karena semua bumbu hanya tinggal di masukan ke dalam pasta, semua serba instan dan cepat.

Tidak ada yang bersuara selama makan, baik aku maupun Jupiter sibuk dengan makanan masing-masing. Entah karena memang benar enak atau karena lapar, Jupiter begitu lah penyantap satu piring spaghetti hanya dalam waktu sekejap. 

"Mau lagi?" Tanyaku, karena Jupiter terlihat begitu lapar.

"Nggak, aku kenyang." Aku hanya mengangguk, dan kembali memasukan satu suap terakhir pasta ke dalam mulutku.  Namun baru saja garpu hendak masuk mulut, tangan Jupiter terlebih dulu menahan tanganku, dan dia mengambil suapan terakhir spaghetti milikku.  

"Aku nunggu kamu nyuapin, tapi ternyata enggak. Jadi,,, aku ambil sendiri." Ucapnya sambil mengelap sisa saus yang menempel di sudut bibirnya. 

"Kenapa?" Tanyanya, karena aku masih diam. Bahkan sondok garpu yang kupegang, masih belum beranjak dan masih kupegang erat. 

Jupiter meraih sendok garpu, dan menaruhnya di piring. Masih dengan kendalinya, kini tanganku digenggam erat, setelah garpu tadi kembali tergeletak di atas piring kosong. 

"Kenapa? Kamu gak kenyang? Mau makan di luar?" Tanyanya.  Aku seperti dihipnotis, tidak menjawab ataupun melawan kendali tangannya, ketika jemari besarnya menggenggam tanganku. 

"Terus, kenapa bengong?" Lanjutnya. 

"Kamu nyata?" Tanyaku.

Jupiter tersenyum, melepas genggaman tangannya, dan berdiri dari kursi menghampiriku. 

"Coba pegang. Aku nyata." Kini ia berjongkok, bertumpu pada satu kakinya. Kepalanya mendongak, karena aku duduk di kursi, sedangkan kedua tangannya menarik kedua tanganku dan menangkupkan di kedua pipinya yang terasa hangat. 

"Nyata kan?" Aku mengelus pipinya dengan kedua ibu jariku. Menyusuri garis wajah dan tulang hidungnya yang selalu aku bayangkan selama ini. Dan sekarang bayangan itu nyata di hadapanku. 

Jupiter menggeser tubuhnya, kini ia benar-benar hanya bertumpu pada kedua lututnya, 

"Meski telat, apa kabar Kara?" Tanyanya. 

Aku tersenyum mendengarnya, meski cairan hangat dan bening secara tiba-tiba mengalir dari pelupuk mataku, tapi aku ingin tersenyum. 

"Baik," jawabku. Kedua tanganku masih memegang kedua pipinya, hingga entah dorongan dari mana aku berani menarik wajahnya hingga mendekat, dan semakin dekat dengan wajahku. 

Hembusan nafasnya terasa hangat menyapu wajahku. Aroma tubuhnya yang selalu harum, menusuk indra penciuman hingga membuatku hilang akal. Aku tidak ingat apapun lagi, karena yang aku tahu ketika bibirnya menyentuh bibirku aliran bertenaga listrik mengalir deras di dalam tubuhku. Sapuan lidahnya, menyusuri setiap inci mulutku, membuatku hilang akal begitu ia semakin memperdalam ciumannya. Aku mendengar lenguhan kecil meluncur dari bibirnya, begitu ia semakin menaikan ritme ciumannya yang awalnya lembut, kini berubah lebih cepat dan bergairah. 

Ciumannya kini beralih menyusuri pipi, telinga dan leher. Jejak basahnya menyusuri setiap inci kulit ku, hingga ia mulai membuka dua kancing kaos yang aku kenakan. 

"Jupiter,,,," aku menahan pundaknya, begitu ia mulai semakin menurunkan kerah bajuku.

"Jupi,,, jangan." Aku semakin menahan pundaknya, dan kali ini aku benar-benar tidak membiarkannya terlalu jauh menjamah tubuhku. 

"Maaf,,," ucapnya. Meski terlihat jelas, kabut gairah begitu menguasai dirinya, tapi untunglah Jupiter masih bisa menahannya. 

"Maaf,," kembali dia mengucapkannya. Kali ini ia juga kembali memasang kedua kancing kaosku yang sempat dibukanya tadi. 

Ciuman panas yang aku lakukan dan benar-benar aku lakukan dalam keadaan sadar, dan dengan dasar cinta. Aku memang sering melakukan ciuman panas, dengan beberapa lelaki, tapi bukan lelaki yang aku cintai. Namun, kali ini aku begitu menikmatinya, karena aku melakukannya dengan orang yang sangat aku cintai. 

"Aku bantu cuci piring." Jupiter ikut menghampiri, membawa piring miliknya. 

"Gak apa-apa. Biar aku aja yang cuci." 

"Bersama, oke?" Dan kini aku yang mencuci piring, sedangkan Jupiter mengeringkan piring dengan kain lap. 

Jam dinding sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Dan Febian belum ada tanda-tanda pulang. Tidak biasanya dia pulang selarut ini, biasanya dia akan sampai rumah pukul delapan malam. Biasanya aku akan mencari tahu keberadaan Febian, jika jam sembilan malam dia belum juga sampai ke apartemen. Tapi, untuk kali ini ada pengecualian. Aku bersyukur Febian tidak sampai rumah seperti biasa, bahkan aku sangat berharap dia tidak pulang malam ini. 

"Rumahmu ada dua kamar. Sati lagi kamar siapa?" Tanya Jupiter, ketika aku dan dia sama-sama sudah berada di kursi, setelah menyelesaikan mencuci piring. 

"Kamar Febian." Jawabku. Aku tidak ingin berbohong, karena akan lebih sulit menjelaskannya jika terus berbohong. 

"Febian?" Ia tampak masih bingung, 

"Febian Wirawan. CEO, Bumi Daya," jelasku.

Entah hanya perasaanku saja, raut wajah Jupiter berubah. 

"Dia kekasihmu?" Tanyanya. Kini ia menggeser duduknya semakin mendekatiku.

"Menurutmu?" Aku balik bertanya dengan nada menggoda. Dan, jelas dia semakin terlihat tidak suka. 

"Aku tanya, apa dia kekasihmu?" Dengan nada kesal Jupiter kembali bertanya. 

"Apa Nadira tunanganmu?" Kini aku balik bertanya.

Jupiter tidak langsung menjawab, dia hanya diam menatapku penuh arti.

"Kara,,, dengarkan aku. Aku dan Nadira itu,,," Jupiter nampak kebingungan, "Aku dan Nadira itu, tidak seperti yang kamu kira. Itu,, terlalu rumit." Lanjutnya.

"Akupun sama. Aku dan Febian itu rumit, aku juga sulit menjelaskannya," seakan tidak mau kalah, aku pun menggambarkan hubunganku dengan Febian begitu rumit. Padahal, hubunganku dan Febian hanya sekedar teman, lagipula Febian tidak menyukai perempuan. 

Jupiter nampak semakin bingung, bahkan dia mengusap wajahnya, menyisir rambut dengan jarinya. 

"Aku tahu kita sama-sama rumit. Tapi, bisakah kita memperjelas hubungan kita terlebih dulu. Aku akan menyelesaikan hubunganku dengan Nadira, begitu juga dengan hubunganmu dan Febian." Ucap Jupiter, nada bicara nya terdengar serius dan sungguh-sungguh. 

"Nadira sahabat baikku, aku tidak ingin menyakitinya." Jawabku. Aku tau Jupiter pasti kecewa mendengar ucapanku, tapi hanya itu yang ada di pikiranku saat ini. 

"Hubunganmu dan dia sudah satu langkah lebih maju dari sekedar hubungan aku dan Febian. Hubungan kalian sudah melibatkan kedua orang tua, akan sulit jika kamu tiba-tiba memutuskan sebelah pihak, hanya karena kehadiranku yang tiba-tiba." 

"Kehadiranmu yang tiba-tiba? Bahkan kamu lebih dulu hadir dibandingkan dengan Nadira." Decak Jupiter, bahkan ia sampai memalingkan wajahnya. 

"Tapi selama ini kamu baik-baik saja bukan, tanpa kehadiranku. Bahkan kamu bisa menjalin hubungan yang serius dengan Nadira, itu suatu kemajuan yang bagus. Dan, kalian akan tetap baik-baik saja, sampai hubungan kalian sah di mata Tuhan dan Negara." Aku menarik dagunya, agar kembali menghadapku. 

"Dengan, atau tanpa diriku, kamu pasti baik-baik saja." Jelasku. 

"Kamu yakin?" Tanya Jupiter.

"Iya, tentu saja. Bahkan kamu bisa menjadi lelaki sukses seperti sekarang, itu karena dukungan dari Nadira. Aku tidak berpengaruh sama sekali!" 

"Kamu salah!" Elak Jupiter. 

"Kamu yang sudah membuatku seperti sekarang, dan hanya kamu alasanku satu-satunya." Jupiter kembali menggenggam tanganku. Aku sangat senang mendengarnya, tapi begitu aku kembali diingatkan dengan cincin emas putih yang melingkar di jari manisnya, aku seakan dipaksa kembali pada kenyataan, jika dia bukan milikku. Meskipun beratus kali dia mengucapkan kata cinta, tetap tidak akan merubah statusnya menjadi kekasihku. 

Aku tidak ingin kembali terjebak dalam hubungan rumit, yang pada akhirnya aku kembali terluka, seperti beberapa tahun silam. Aku masih ingat bagaimana rumitnya hubunganku dan Jupiter, yang berakhir mengenaskan. Bahkan karena kejadian itu pula, kini aku harus menanggung akibatnya seorang diri. 

"Kamu mau berkorban untuk sahabatmu, apa kamu tidak ingin berkorban untukku juga?" Tanya Jupiter. Aku tersenyum samar mendengar ucapannya.  

"Aku sudah banyak berkorban untuk semua orang, bahkan aku berkorban untuk kesalahan yang tidak pernah aku lakukan." 

"Kara,,," Jupiter memotong ucapanku.

"Aku tidak tahu apa yang sudah kamu alami atau kejadian apa yang kamu lewati selama ini. Tapi, aku minta tolong jangan menghilang lagi, kita hadapi semuanya bersama. Kita berjuang bersama, aku dan kamu." Ucap Jupiter sungguh-sungguh, bahkan terdengar putus asa. 

"Walaupun kamu tidak mau, aku bisa mengerti. Tapi aku bisa berusaha sendiri, dan tidak ada yang bisa menghentikanku." Jelasnya. 

"Jangan bahas siapapun ketika bersamaku, karena hanya ada kamu dan aku. Mengerti?" Tambahnya lagi. Aku hanya bisa tersenyum melihatnya possessive seperti itu, karena jauh di dasar hatiku, aku sangat ingin dia seperti saat ini. Aku sangat menginginkan Jupiter dengan segala sifat menyebalkannya, si tukang suruh-suruh dan egois. 

Waktu merangkak dengan pasti, bahkan sudah hampir tengah malam. Tiba-tiba ponselku berdering, dan ada satu pesan masuk, "Kalau dalam waktu lima belas menit itu laki gak balik, gue masuk nih!!!" Ancam Febian. Aku heran, darimana dia tau jika ada Jupiter di dalam rumah, bukankah satu hari ini dia berada di luar. 

"Iyee," balasku singkat. Lagipula tidak mungkin aku mengizinkan Jupiter bermalam di rumahku, meskipun sebenarnya aku tidak ingin dia pergi. 

"Sudah malam, sebaiknya kamu pulang." 

"Aku tidak ingin pulang. Aku mau tinggal di sini." Rajuknya, 

"Kamu tinggal disini bareng Febian, nanti aku cari sewa rumah yang lain." 

"Aku akan ikut kemanapun kamu pindah," decak Jupiter. 

"Ya Sudah nanti aku pikirkan lagi," godaku. 

"Ayo,,,," aku menarik lengan Jupiter, sedikit menyeret tubuhnya supaya berjalan menuju pintu. Meski dia sempat menolak, namun tetap aku paksa. Sebelum Febian benar-benar datang dan masuk kedalam rumah. 

"Oke. Aku pulang, tapi janji dulu," Jupiter mengacungkan jari kelingkingnya.

"Janji apa?" 

"Janji, kalau aku boleh datang ke sini lagi, dan janji kamu gak akan tiba-tiba menghilang lagi." 

"Janji aneh!" Cibirku, dan mengabaikan sumpah kelingking yang diminta Jupiter.

"Ayo janji,,," kini ia menarik tanganku, dan mengaitkan kelingkingnya dengan kelingking ku. 

"Nah,,, kamu sudah janji. Janji gak boleh dilingkari." Serunya, sambil menggoyang-goyangkan jarinya kekanan dan kekiri. Aku tersenyum melihat tingkah konyolnya, namun senyumku hilang begitu ponsel miliknya berdering dan menampilkan sebuah nama yang sangat aku kenali. Raut wajah Jupiter langsung berubah, tapi aku balas dengan senyuman dan anggukan. 

Jupiter menggeser tombol hijau di layar ponselnya, dan menempelkan benda pipih itu di telinganya, namun tak kunjung juga melepaskan tautan jari kelingkingnya denganku, malah kini ia sepenuhnya menggenggam sebelah tanganku. 

"Iya, Nad. Aku lagi ada urusan penting di luar, kenapa?" 

Aku masih mendengarkan, meski sebenarnya aku tidak ingin. Tapi, Jupiter tidak memberiku kesempatan untuk menjauh. 

 

"Apa?! kamu di rumah?" Kini tatapan mataku dan mata Jupiter bertemu, aku masih memberikan senyum terbaikku, memberinya isyarat jika aku baik-baik saja. 

Jupiter segera mengakhiri pembicaraannya, dan kembali memasukan ponsel ke dalam saku celananya. 

"Aku pulang ya,,," pamitnya.

"Iya," tapi tak kunjung juga ia melepaskan genggamannya.

"Katanya mau pulang, lepasin dong tangannya." Aku mengacungkan tautan tangannya, dan Jupiter tersenyum simpul, sambil perlahan melepaskan. 

"Buruan pulang, udah di tungguin. Lagipula Febian juga mau pulang." 

Kini pintu apartemen sudah terbuka, bahkan Jupiter sudah mengenakan kembali sepatunya, namun dia masih diam mematung, tidak beranjak sedikitpun. 

"Kasihan Nadira pasti sudah lama menunggu." Pintaku lagi. 

"Aku pulang ya,,," 

"Iya,,, satu kali lagi. Kamu dapet gelas loh!" Jupiter terkekeh, satu tangannya mengusap puncak kepalaku. 

"Kali ini aku tidak akan membiarkan kamu pergi lagi. Jadi, jangan coba-coba melarikan diri lagi. Mengerti?" 

 Aku tidak menjawab, aku hanya tersenyum menanggapinya. 

Jupiter mendekat satu langkah, semakin lebih dekat. Ia mendekatkan wajahnya, hingga jarak antara kita hanya tinggal beberapa senti. Aku menutup mata, menyambut ciuman darinya. Namun, ternyata bukan ciuman yang aku dapat, tapi justru jitakan kecil di jidatku.

"Aduh,,," aku mengaduh begitu membuka mata.  

"Dasar mesum!" Ejek Jupiter. Dia tertawa puas melihatku meringis kesakitan. 

"Apaan sih,,," jujur aku pun malu, karena awalnya aku kira dia akan menciumku. 

"Sana pulang!" Aku mendorong tubuhnya dengan kuat, 

"Tunggu! Ada yang ketinggalan." Elaknya.

"Apalagi sih,,"

"Ini." Dia menarik daguku dan mencium bibirku sekilas.

"Bye,,,," Jupiter segera pergi, sebelum menerima protes dariku. Aku hanya bisa tersenyum melihat kepergiannya, yang semakin lama semakin hilang dan tidak terlihat lagi. 

*Tuhan,,, bolehkah aku egois untuk kali ini saja.

Aku sangat mencintainya*.

1
Wida
sukaaa
lika16
titip sendal
X'tine
bingung baca cerita ini, di ulang ulang
Doubley
KERENN! Aku udah baca, komen, dan like. Semangat, Kak. Feedback ke novel saya dong, judulnya The Vengeance. Terima kasih.❤
Anisa Shofy
ceritanya bagus kak. aku baca di lapak sbelah, krna ga selesai jadi donlot noveltoon buat baca karyamu. semangat yaa..smoga ga typo lagi dan ga ketuker2 namanya hihi
Anisa Shofy
yaamponn jantungan thorr😣
Anisa Shofy
yaamponn jantungan thorr😣
Just Rara
akhirnya happy ending juga
Just Rara
😄😄😄lucu ayahnya si jupiter
Just Rara
knp tiba2 aksa bisa benci gt sm camelia ya?
Just Rara
wah si kara hamil,semoga bu mala bisa luluh hatinya setelah dpt cucu baru dr kara dan jupiterr☺️☺️
Just Rara
knp si febian gak dijodohin sm si nadira aja
Just Rara
akhirnya mereka nikah juga☺️
Just Rara
lah itu febiannya blm meninggal🤔🤔
Just Rara
yak knp si febiannya dibikin meninggal thor😭😭
Just Rara
mantap febian,ungkap semua penjahat nya👍
Just Rara
pasti tu si jupiter sm nadia deh yg ada diruangan itu
Just Rara
say good bye to jupiter ya kara😁
Just Rara
dasar si jupiter,dia gak tulus cinta sm kara😒😒😒
Just Rara
sama aja jahatnya jupiter dgn para lelaki hidung belang itu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!